"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
"Kamu pikir kamu siapa, hah?!" bentak Ratna kesal bukan main pada Luki. Mana mungkin seorang tukang ojek bisa seenaknya menyuruh Surya—seorang pemilik Bank Surya—untuk datang melayani panggilannya?
Luki sempat termenung sejenak. Aduh, permainannya jadi tidak menarik kalau aku langsung menjawab 'aku adalah calon investor Bank Surya', batinnya sambil mengernyitkan dahi.
"Oh, Pak Surya itu kan langganan ojol aku, jadi aku sering minta tolong sama dia," jawab Luki santai.
Jawaban itu makin membuat orang-orang di ruangan itu geleng-geleng kepala heran. Hanya karena Pak Surya sering jadi penumpangnya, lantas pria ojol ini merasa bisa berakrab-akrab dan menyuruh-nyuruh pengusaha besar kelas atas datang?
"Luki, hentikanlah... Aku tahu kamu ojol yang baik," bisik Amira pada suaminya, merasa sedikit kecewa karena Luki masih saja suka membual. "Jangan terus-terusan merepotkan Pak Surya. Semalam Pak Surya sudah memberi kita tumpangan menginap... Sekarang jangan kamu suruh-suruh lagi dia. Kita sudah terlalu banyak utang jasa pada Pak Surya."
‘Ah, sepertinya aktingku ini kurang sempurna,’desah Luki dalam hati.
Ratna mengibaskan tangan dengan raut wajah muak. "Amira, sebaiknya kamu bercerai saja dengan Luki! Dia sama sekali tidak serius menghadapi masalah genting ini! Kita ini sedang ditekan habis-habisan oleh keluarga Pak Dani, dan Pak Surya pasti juga sedang mencari keberadaan Pak Dani. Sebelum Pak Surya menyalahkan kamu, lebih baik kamu bercerai dengan Luki. Nanti Mamah atur supaya kamu bisa menikah dengan Pak Surya... Tidak masalah jadi istri simpanan, yang penting perusahaan kita selamat!"
"Mamah! Aku ini sudah menikah dengan Luki, tega sekali Mamah!" protes Amira dengan dada sesak.
"Lalu apa kamu punya solusi, hah?!" repet Ratna.
Sebelum Amira sempat menjawab, suara Luki yang sedang menempelkan ponsel di telinganya tiba-tiba terdengar memotong pembicaraan.
"Pak Surya, saya minta Anda datang ke kantor Marwah Distributor dalam waktu 10 menit."
Setelah bicara singkat, Luki langsung memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Luki! Jangan bercanda, ini masalah serius!" tegur Ratna kian emosi.
"Loh, aku serius. Hanya karena seorang bajingan bernama Dani, kalian sudah panik setengah mati."
"Lihat itu, Amira! Suamimu ini malah berlaga sok hebat di saat genting!" tuduh Ratna geram. "Pak Surya mungkin memang akan datang ke sini, tapi bukan untuk membantu kita, melainkan untuk menuntut kita karena Pak Dani hilang—dan orang terakhir yang bertemu dengannya adalah kamu!"
"Luki, sudahlah... Kamu mendingan diam saja," bisik Amira cemas, memegang lengan Luki.
Angga ikut melangkah maju dan menghina Luki secara terang-terangan. "Pak Surya itu pemilik Bank Surya! Bank besar yang nasabahnya para pengusaha kaya! Sedangkan kamu cuma tukang ojol... Kita boleh makan sembarangan, Luki, tapi tidak boleh bicara sembarangan! Kamu itu cuma ojol, jangan bersikap tidak sopan. Benar kata istri saya, lebih baik kamu ceraikan saja Amira. Selain cuma ojol, ternyata kamu ini memang tidak berguna!"
"Setidaknya aku lebih berguna ketimbang suami yang cuma menumpang hidup di bawah ketiak istri," balas Luki tenang tapi tajam menusuk.
"Kamu!" geram Angga, mukanya mendadak merah padam.
"Luki! Jangan menghina suami saya!" bentak Ratna tak terima.
"Saya tidak menghina. Kalau suami Mamah ini merasa terhina, berarti benar dia cuma lelaki yang dihidupi wanita," jawab Luki enteng. Ia lalu menatap Angga penuh tantangan. "Begini saja, bagaimana kalau kita taruhan? Kalau Pak Surya datang ke sini dan menekan perusahaan ini, aku akan menceraikan Amira."
Luki kemudian melirik Angga dengan tatapan sinis. "Tapi kalau Pak Surya datang dan justru membantu perusahaan ini... kamu harus menceraikan mamah mertuaku!"
"LUKIII!" bentak Ratna dengan suara menggelegar sampai bergema. "Keluar kamu! Beraninya kamu menghina suami saya! Sampai kapan pun saya tidak akan pernah bercerai dengan suami saya!"
Tentu saja Luki tidak gentar sedikit pun. Ia justru tersenyum manis lalu membalas mantap, "Dan dengarkan baik-baik ya, Mamah Mertua... Sampai langit runtuh pun, aku tidak akan pernah menceraikan Amira."
Dada Amira mendadak berdesir hangat mendengar ketegasan kalimat Luki. Meski di sisi lain ia juga sangat pusing karena suaminya selalu memicu keributan. Sepertinya tukang ojek paling sombong di seluruh dunia cuma Luki, batin Amira.
"Keluar kamu, Luki! Keluar!" usir Ratna lagi seraya menunjuk pintu.
Luki baru saja hendak membalikkan badan, namun pintu ruangan tiba-tiba terdorong terbuka lebar. Lusi, sekretaris Ratna, berlari masuk dengan napas terengah-engah.
"I-Ibu Ratna... gawat, Bu! Gawat!" panggil Lusi tersengal.
"Bicara yang benar, Lusi! Ada apa?!" sergah Ratna kesal.
"Pak Surya... Pak Surya sudah ada di lobi bawah, Bu! Beliau mau bertemu dengan Anda! Bagaimana ini, Bu?" lapor Lusi panik.
Seketika raut wajah Angga berubah. "Kamu jangan pergi dulu, Luki!" cegah Angga cepat. "Kamu harus mempertanggungjawabkan masalah ini! Amira tidak boleh menanggungnya sendirian. Kamu harus mengaku bersalah di hadapan Pak Surya bahwa kamulah yang menghilangkan Pak Dani!"
"Benar! Kamu jangan pergi dulu!" Ratna mendadak berubah pikiran dan tidak jadi mengusir Luki. Jika ada orang lain yang bisa dijadikan tumbal di hadapan Pak Surya, kenapa harus Amira? Bagaimanapun juga Amira adalah anak kandungnya.
"Hanya Pak Surya, apa sih yang kalian takutkan?" cetus Luki santai. Tanpa beban, ia langsung menggandeng jemari Amira dan membawanya berjalan keluar ruangan duluan.
Ratna berdiri mematung lalu memegang lengan suaminya. "Bagaimana ini, Sayang?" tanyanya panik.
Angga menghela napas berat. "Sebaiknya kita temui saja... Ah, andai saja Risma belum dijodohkan, aku pasti suruh dia menikah dengan Pak Surya saja untuk menyelamatkan kita."
"Jangan, Sayang!" potong Ratna cepat. "Pak Surya itu kan sudah punya istri dan anak! Aku tidak rela kalau Risma harus jadi istri kedua, apalagi jadi istri simpanan!"
Ratna ternyata jauh lebih mengkhawatirkan nasib anak tirinya ketimbang Amira, anak kandungnya sendiri.
"Terima kasih ya, Sayang," jawab Angga tersenyum tipis. "Sebaiknya kita cepat turun dan temui Pak Surya."
Angga dan Ratna bergegas berlari kecil menuju lobi, takut Luki keburu membuat masalah dan memancing kemarahan Pak Surya.
Setibanya di lobi kantor, tampak Pak Surya sedang duduk tenang di sofa tamu. Luki dan Amira sudah berdiri tak jauh di dekatnya.
Ratna buru-buru menghampiri dan membungkuk hormat. "Pak Surya! Selamat datang di Marwah Distributor... Pak Surya, mohon dimaafkan anak saya, Amira. Soal masalah Pak Dani, Amira benar-benar tidak tahu apa-apa, Pak... Karena semalam, orang yang terakhir bersama Pak Dani adalah Luki!" Ratna langsung menunjuk Luki tanpa ragu. "Dia yang harus bertanggung jawab atas hilangnya Pak Dani, orang kepercayaan Anda!"
"Oh... Pak Dani, ya?" sahut Pak Surya dengan nada amat tenang dan ramah, sama sekali tidak memancarkan aura kemarahan.
"Masalah Pak Dani tidak perlu dipikirkan lagi... Dia sudah ada di tangan saya. Orang itu memang cabul dan tidak tahu diri. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya karena dia sudah bertindak kurang ajar pada putri Anda..." Pak Surya menegaskan kata-katanya. "Saya pastikan, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menemukan Dani lagi. Dan untuk keluarganya, tenang saja—kalau mereka berani macam-macam atau meneror Ibu, akan saya pindahkan mereka semua ke pedalaman Kalimantan!"
Ratna dan Angga seketika tercengang menahan napas. Alih-alih murka karena orang kepercayaannya hilang, Pak Surya justru meminta maaf kepada mereka!
"Dan sebagai bentuk permohonan maaf saya atas ketidaknyamanan ini..." Pak Surya melanjutkan dengan sikap sangat hormat, "saya akan berikan pinjaman modal sebesar 5 miliar rupiah untuk Marwah Distributor, dengan bunga paling rendah dan jangka waktu pengembalian yang disesuaikan sepenuhnya dengan kemampuan perusahaan Ibu."