Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Bu Ratna Datang Membentak
"WATI! Kamu menggedor rumah orang pagi-pagi untuk apa?"
Suara Bu Ratna membuat dua burung di pohon jambu terbang.
Bu Siska membuka jendela seberang. Dua prajurit yang hendak masuk asrama mempercepat langkah, tetapi telinga mereka jelas masih tertinggal di percakapan.
"Bu Ratna, pelankan sedikit," kata Wati. "Ini bisa merusak nama saya."
"Yang merusak namamu adalah tindakanmu. Kalau kamu punya penjelasan benar, sampaikan dengan tenang dan tunjukkan perintahnya."
"Saya tidak harus menunjukkan kepada ibu-ibu."
"Lalu jangan bawa urusan itu ke pintu rumah ibu-ibu."
Bu Siska menutup jendela lagi, kali ini tanpa menyembunyikan senyum.
Wati berbalik. "Bu Ratna, saya sedang menjalankan tugas."
"Tugas dari siapa?"
"Saya membawa surat untuk Kapten Bram."
Bu Ratna berjalan mendekat, masih mengenakan baju olahraga dan sepatu jalan pagi. "Kapten Bram baru berangkat bersama rombongan. Surat dinas masuk melalui piket atau staf. Sejak kapan Kowad mengetuk rumah istri perwira sebelum matahari tinggi?"
"Surat ini rahasia."
"Kalau rahasia, kenapa kamu teriak-teriak tentang isinya di jalan?"
Wati menutup mulut.
Laras keluar ke teras, tetapi pagar tetap terkunci. "Pos jaga sudah memastikan tidak ada pengantaran laporan terjadwal ke rumah ini."
Bu Ratna mengulurkan tangan kepada Wati. "Biar saya lihat sampulnya."
Wati mundur. "Hanya Kapten Bram yang boleh menerima."
"Kalau begitu bawa kembali ke kantor."
"Istrinya bisa menerima. Tadi dia yang menolak."
"Kamu baru bilang hanya Bram yang boleh menerima. Pilih kebohongan yang mau dipakai."
Wajah Wati semakin merah.
Seorang petugas jaga mendekat dengan sepeda. "Ada masalah, Bu?"
"Serda Wati membawa surat tanpa identitas dinas dan menggedor rumah 27B," jawab Bu Ratna. "Tolong catat."
Wati langsung menyelipkan map melalui celah pagar. "Ini. Sudah saya serahkan."
Laras tidak menyentuhnya sebelum memotret bagian depan dan belakang. Setelah itu, ia memakai kantong plastik bening untuk mengambil map tanpa merusak sidik atau tanda yang mungkin ada.
"Saya menerima barang pribadi pukul lima lewat dua puluh tiga, disaksikan Bu Ratna dan petugas jaga," katanya. "Saya tidak mengakui ini dokumen dinas sebelum diverifikasi."
"Kamu berlebihan," desis Wati.
"Setelah pernah diserang orang bayaran, saya memilih berlebihan daripada ceroboh."
Petugas jaga memeriksa buku catatan kecil. "Serda Wati keluar dari barak perempuan sebelum jadwal apel dengan izin mengambil perlengkapan, bukan mengantar dokumen. Saya akan meminta piket memeriksa."
"Kamu mengawasi saya?" tanya Wati.
"Saya mencocokkan catatan keluar masuk setelah ada laporan penghuni," jawab petugas. "Silakan klarifikasi kepada piket."
Laras tidak merasa menang. Ia justru semakin yakin bahwa kesalahan Wati bukan kunjungan spontan. Perempuan itu menunggu sampai kendaraan Bram pergi, lalu datang dengan alasan yang sudah disiapkan setengah matang.
Bu Ratna menunjuk jalan. "Sekarang pergi. Laporkan dirimu ke piket dan jelaskan mengapa meninggalkan jalur tugas."
"Bu Ratna bukan atasan saya."
"Benar. Saya tidak memberi perintah dinas. Saya menyuruh tamu tidak diundang meninggalkan rumah tetangga saya. Petugas jaga yang akan meneruskan catatan ke atasanmu."
Wati menatap Laras penuh benci, lalu pergi dengan langkah keras.
Bu Ratna menunggu sampai ia menghilang di ujung blok.
"Jangan buka map itu sendirian," katanya.
"Saya juga berpikir begitu."
"Simpan. Nanti Pak Darmawan pulang, kita buka di hadapannya."
Laras mengangguk. "Terima kasih sudah datang."
"Saya memang mau mengantar bubur. Tidak menyangka dapat hiburan pagi."
"Hiburannya cukup berisik."
"Di kompleks ini, yang paling berisik biasanya yang paling cepat kehabisan alasan."
Bu Ratna menyerahkan rantang dari balik pagar. "Makan, mandi, lalu tidur sebentar. Jangan biarkan perempuan itu mengambil seluruh pagimu."
"Bu sendiri tidak tidur setelah jalan pagi?"
"Saya punya jadwal rapat Persit, belanja, cek dapur umum, lalu menyiapkan makan malam."
"Kapan Bu melakukan sesuatu untuk diri sendiri?"
Bu Ratna tampak hendak menjawab, lalu hanya mengangkat bahu. "Nanti kalau ada waktu."
Jawaban itulah yang masih teringat Laras ketika undangan makan datang sore hari.
***
Menjelang sore, Bu Ratna kembali dan mengajak Laras makan malam.
"Saya bisa memasak sendiri."
"Saya tahu. Tapi Pak Darmawan pulang terlambat, dan saya tidak suka makan sendirian. Anggap saja kamu menolong saya."
Laras membawa map Wati dalam tas terpisah. Rumah Bu Ratna lebih besar daripada 27B, penuh perabot bagus dan foto kegiatan Persit. Semua tertata sempurna, tetapi tidak ada suara anak atau barang yang diletakkan sembarangan.
Mereka menyiapkan makan bersama. Bu Ratna memotong sayur, Laras menggoreng tempe.
"Sudah berapa lama Bu tinggal di kompleks?"
"Hampir dua belas tahun berpindah-pindah mengikuti tugas suami. Di Malang ini tiga tahun."
"Pasti banyak pengalaman."
"Pengalaman mengemas rumah, menyambut orang, mengurus acara, lalu melepas semuanya lagi."
"Bu pernah bekerja sebelum menikah?"
"Pernah membantu usaha katering kakak. Saya suka menghitung pesanan dan mengatur orang. Setelah ikut suami berpindah, saya berhenti. Awalnya hanya sementara. Tahu-tahu dua belas tahun."
"Kemampuannya tidak hilang."
"Mungkin sudah berkarat."
"Besi berkarat bisa dibersihkan. Yang penting masih ada."
Nada Bu Ratna terdengar ringan, tetapi pisau di tangannya berhenti.
"Maaf kalau saya bertanya terlalu jauh," kata Laras.
"Tidak. Saya hanya kadang bertanya apa yang tersisa kalau suatu hari Pak Darmawan pensiun dan tidak ada lagi acara untuk saya urus."
Laras mematikan api kompor.
Bu Ratna tertawa kecil. "Saya terdengar tidak bersyukur, ya? Rumah ada, suami baik, kebutuhan cukup. Hanya satu yang tidak pernah kami dapat."
Tatapannya jatuh pada meja makan dengan empat kursi kosong.
"Anak?"
Bu Ratna mengangguk. "Sudah mencoba banyak cara. Akhirnya berhenti karena lelah. Orang berhenti bertanya setelah usia saya lewat, tapi saya tidak berhenti merasa ada yang kurang."
"Yang kurang adalah anak di rumah, bukan nilai Bu Ratna sebagai manusia."
Bu Ratna menatapnya.
"Mudah mengatakannya."
"Tidak mudah," kata Laras. "Saya bertahun-tahun merasa nilai saya hanya sebesar uang yang dikeluarkan orang tua angkat. Setelah menikah, saya hampir menggantinya dengan pikiran bahwa nilai saya bergantung pada Mas Bram memilih saya. Dua-duanya salah."
"Lalu nilai kita ada di mana?"
"Di diri kita sendiri. Dalam kemampuan, pilihan, dan kebaikan yang kita lakukan meski tidak ada yang memberi gelar. Bu Ratna melihat saya baru satu hari, tapi langsung membawa makanan, menghentikan orang yang mengganggu, dan tidak memaksa saya menceritakan masa lalu. Itu bukan karena Bu istri kolonel. Itu karena Bu Ratna memang seperti itu."
Mata Bu Ratna berkaca-kaca.
"Kamu pandai membuat orang menangis sebelum makan."
"Maaf. Tempenya bisa jadi dingin."
Bu Ratna tertawa sambil mengusap mata. "Besok kamu ajari saya membaca pola. Saya ingin tahu apakah tangan saya hanya bisa memotong sayur."
"Saya ajari. Tapi saya guru yang cerewet."
"Bagus. Saya murid yang suka membantah."
Mereka membawa makanan ke meja tepat ketika pintu depan terbuka.
Kolonel Darmawan masuk, melepas topi, lalu berhenti melihat map cokelat dalam kantong bening.
"Itu apa?"
Bu Ratna meletakkan sendok.
"Wati dari kompi komunikasi tadi menggedor rumah orang."
Mata Pak Darmawan menyipit.