Indonesia
NovelToon NovelToon
The CEO'S Speed Limit

The CEO'S Speed Limit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Sesampainya di dalam kafe yang terletak tidak jauh dari kampus, Raelyn langsung menjatuhkan diri ke atas sofa. Pikirannya mendadak menjadi sangat kacau. Bukan karena dia masih memiliki perasaan pada Elang, melainkan karena dia merasa sangat kesal dengan kelakuan lancang pria dari masa lalunya itu.

Tisha yang duduk di hadapan Raelyn memperhatikan sahabatnya yang sejak tadi hanya diam melamun menatap cangkir kopi dinginnya.

"Lyn... lo gak apa-apa?" tanya Tisha hati-hati.

"Gak apa-apa," jawab Raelyn singkat dengan nada suara yang ditekuk.

Tisha menghela napas pendek, menopang dagunya dengan tangan.

"Gue tahu kok... lo pasti benci banget sama Elang gara-gara kejadian lima tahun lalu. Gara-gara dia egois, lebih milih mutusin lo secara sepihak daripada kalian harus ngejalanin hubungan LDR pas kuliah."

Mendengar kalimat Tisha, emosi Raelyn yang sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah juga. Dia meletakkan sendok kecilnya dengan bunyi dentingan yang keras.

"Semenjak dia mutusin gue, sampai lima tahun dia kuliah di luar negeri sana, gak pernah tuh sekalipun dia ada niatan buat ngabarin gue, nanya kabar gue, atau apa kek! Masa sekarang... setelah lima tahun menghilang tanpa dosa, tiba-tiba datang di depan muka gue dan bilang kangen? Kan anj*ng!" umpat Raelyn kasar tanpa saringan, meluapkan seluruh kedongkolannya.

Angel yang sedang mengunyah kuenya ikut mengangguk setuju dengan wajah serius.

"Nah, bener kan! Dari dulu juga udah gue bilangin sama lo, Lyn. Elang itu gak beneran sayang sama lo. Kalau dia beneran cinta dan sayang sama lo, gak mungkin dia gampang banget mutusin lo waktu itu. Seenggaknya dia bisa kan nolak tawaran kuliah di luar negeri dan milih kuliah di sini aja bareng lo? Masa tiba-tiba pindah sekolah pas kita udah di tingkat akhir SMA?" cerocos Angel mengingatkan kembali sejarah kelam masa lalu mereka.

Memori kelulusan SMA itu kembali melintas di kepala Raelyn. Elang memang pergi ke luar negeri secara mendadak sebelum pengumuman kelulusan resmi keluar. Dulu, di zaman sekolah, Elang memang terkenal sebagai sosok cowok populer yang sangat dipuja karena ketampanan fisiknya yang luar biasa. Banyak sekali siswi-siswi dari kelas lain yang mencoba mendekatinya.

Bahkan, dulu sempat ada beberapa siswi yang melabrak Raelyn dan mengaku-ngaku bahwa mereka pernah didekati oleh Elang, atau bahkan dengan percaya diri bilang kalau mereka adalah pacar rahasia Elang di luar sekolah.

Namun, di masa-masa remaja yang polos itu, Raelyn yang teramat bucin sama sekali tidak mempercayai omongan miring dari luar. Dia menutup matanya rapat-rapat dan hanya memilih untuk mempercayai setiap untaian kata manis yang keluar dari mulut Elang saja.

Dan akhir dari kepercayaan buta itu adalah sebuah pengkhianatan sepihak yang mengubah watak Raelyn menjadi gadis yang super keras kepala terhadap laki-laki.

Namun, di balik riuhnya obrolan ketiga sahabat itu di dalam kafe, sebuah bahaya tak terlihat kembali mengintai. Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, Alvarez Arran Danadiaksa telah menyuruh orang-orang kepercayaannya tim bodyguard privat berkemeja rapi untuk diam-diam memata-matai, mengawasi, dan mengikuti setiap pergerakan Raelyn dari jarak aman.

Dan insiden pelukan lancang dari Elang di depan gerbang kampus tadi... sudah dipastikan telah terekam sempurna dan dikirimkan langsung ke meja kerja sang CEO muda dalam hitungan detik.

...----------------...

Malam harinya, suasana di dalam tawang mewah terasa sangat sunyi dan mencekam. Raelyn sudah berada di dalam kamar tidurnya sendiri sejak pukul delapan malam.

Dia sedang sibuk membolak-balik lembar revisi skripsinya di atas meja belajar dengan kening berkerut dalam, mencoba mengalihkan pikirannya yang terus-menerus dilanda rasa gelisah.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat ketika pintu utama tawang terdengar dibuka dari luar. Alvarez akhirnya pulang dari kantornya setelah seharian penuh menyelesaikan urusan bisnis yang menumpuk.

Alvarez melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya yang tegas dan beritme konstan tidak menuju ke kamar utamanya sendiri, melainkan lurus mengarah ke lorong sebelah kiri menuju kamar tidur milik Raelyn.

Cklek.

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Alvarez langsung membuka pintu kamar Raelyn dengan satu sentakan tangan tegas.

Raelyn yang sedang fokus mengetik kodingan di laptopnya langsung terlonjak kaget di kursinya. Dia menoleh cepat dengan mata bulat yang membelalak sempurna.

"Astaga, Al! Bisa gak sih kalau masuk itu ketok pintu dulu?! Bikin jantungan tahu gak!" semprot Raelyn galak, memegangi dadanya yang berdegup kencang karena terkejut.

Alvarez berdiri tegak di ambang pintu dengan setelan jas hitamnya yang sudah tidak serapi tadi pagi. Kancing atas kemejanya sudah dibuka dua buah, memancarkan aura maskulin yang sangat mengintimidasi dalam keheningan kamar.

"Iya, maaf," ucap Alvarez pendek, suaranya terdengar sangat berat, tenang, namun memiliki nada dingin yang tidak biasa. Pria itu melangkah masuk, menutup pintu kamar di belakangnya.

"Kenapa?" tanya Raelyn ketus, mencoba kembali fokus pada layar laptopnya demi menyembunyikan kegugupan yang mendadak menyerang sistem sarafnya.

Alvarez berdiri di dekat tepi ranjang, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap lekat-lekat ke arah punggung istrinya.

"Gpp. Kamu sudah makan malam?"

"Udah," jawab Raelyn singkat tanpa menoleh.

"Tadi... setelah pulang dari kampus, kamu kemana?" cecar Alvarez lagi. Pertanyaan kasualnya terdengar seperti sebuah interogasi resmi di ruang sidang bisnis.

Raelyn menelan ludahnya gugup, jemarinya di atas kibor laptop mendadak kaku.

"Ke kafe. Sama temen gue," jawab Raelyn, mencoba terdengar sesantai mungkin.

"Terus?" tanya Alvarez, intonasi suaranya turun satu oktav, menuntut penjelasan lebih.

Raelyn mendengus kesal, memutar tubuhnya di kursi bar untuk menghadap Alvarez dengan melipat tangan menantang.

"Terus apa? Yang jelas dong kalau nanya! Gak usah berbelit-belit!"

Alvarez menyipitkan matanya yang hitam pekat, menatap tepat ke dalam manik mata Raelyn dengan pandangan yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut.

"Terus... ketemu siapa lagi?" tanya Alvarez langsung pada intinya.

Jantung Raelyn langsung melewatkan satu detakan gila. Di dalam benaknya, dia tahu betul apa yang terjadi tadi sore di kampus. Namun, sifat keras kepala dan ketakutannya mengalahkan kejujurannya malam ini.

Raelyn tahu betul bagaimana reputasi kejam dan posesif Alvarez jika menyangkut hak miliknya. Jika dia jujur dan mengatakan bahwa Elang sempat memeluknya tadi sore, Alvarez dipastikan akan mengamuk besar dan bisa saja menghancurkan masa depan Elang dalam sekejap mata. Raelyn tidak mau memicu perang dunia ketiga di rumah ini.

"Gak ada. Cuma ke kafe doang sama Tisha sama Angel, gak ketemu siapa-siapa lagi!" jawab Raelyn berbohong dengan nada bicara yang sengaja dibuat ketus untuk menutupi kepanikannya.

Alvarez menatap wajah istrinya lekat-lekat selama beberapa detik. Keheningan di antara mereka berdua terasa begitu mencekam.

Sebenarnya, Alvarez sudah tahu segalanya. Dia sudah menerima foto dan video rekaman saat Elang dengan lancang memeluk tubuh Raelyn tadi sore dari tim bodyguard-nya.

Dan mendengar istrinya memilih untuk berbohong demi menutupi keberadaan pria dari masa lalu itu membuat hati Alvarez terasa seperti diremas oleh rasa kecewa dan cemburu yang teramat membakar.

Namun, Alvarez memilih untuk menahan seluruh ledakan emosinya di dalam dada. Dia tidak mau bersikap impulsif yang bisa membuat jarak di antara mereka semakin menjauh.

Alvarez menghela napas pendek yang terdengar sangat dingin, lalu memundurkan langkahnya menuju pintu kamar.

"Yaudah. Jangan begadang," ucap Alvarez pendek, lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamar Raelyn, menutup pintunya dengan perlahan.

Raelyn menatap pintu yang sudah tertutup itu dengan pandangan bingung, lalu mendengus pelan sembari memutar kembali kursinya menghadap laptop.

"Ngingetin orang jangan begadang... tapi dia sendiri aja tiap hari begadang kerja sampai subuh. Dasar kulkas berjalan aneh," gerutu Raelyn pelan, mencoba mengabaikan rasa bersalah yang mulai menggelitik hatinya.

Sementara itu, di dalam kamar utamanya yang luas dan sunyi, Alvarez Arran Danadiaksa berdiri diam di depan jendela kaca besar yang langsung menghadap ke arah gemerlap lampu malam kota Jakarta.

Pria itu sudah melepas jas kerjanya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung acak-acakan.

Pikiran Alvarez benar-benar kacau, berantakan, dan dipenuhi oleh luapan emosi kegelapan yang belum pernah dia alami seumur hidupnya yang penuh dengan logika angka.

Genggaman tangannya di pembatas jendela mencengkeram begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna.

Rasanya... rasanya malam ini juga dia ingin sekali memerintahkan seluruh tim kepercayaannya untuk menghabisi dan melenyapkan pria bernama Elang itu dari permukaan bumi ini.

Jiwa kejam seorang Danadiaksa meronta-ronta tidak terima melihat ada laki-laki lain yang berani menyentuh, mendekap, dan memeluk tubuh wanita yang sudah menjadi hak milik sahnya seutuhnya.

Alvarez memiliki segala kekuatan finansial, hukum, dan koneksi gurita untuk membuat kehidupan Elang hancur lebur tanpa sisa dalam hitungan jam tanpa perlu mengotori tangannya sendiri dengan darah.

Namun, di balik seluruh luapan kemarahan dan kecemburuan butanya yang luar biasa itu, ada satu ketakutan terbesar yang mendadak menahan seluruh pergerakan Alvarez.

Alvarez menundukkan kepalanya, memejamkan matanya rapat-rapat sembari mengembuskan napas yang terasa sangat berat.

Dia takut. Seorang CEO muda yang tidak pernah takut pada ancaman kebangkrutan atau persaingan bisnis yang kejam, kini mendadak merasa sangat ketakutan hanya karena satu hal: dia takut jika dia bertindak kejam dan menghancurkan Elang, Raelyn justru akan marah besar kepadanya.

Dia takut Raelyn akan membencinya, menjauhinya, dan yang paling mengerikan... dia takut Raelyn akan meminta cerai dan pergi meninggalkan kehidupannya untuk selamanya.

Alvarez menyadari bahwa selama tiga bulan ini, kehadiran gadis berisik, ngeyel, dan keras kepala itu telah mengubah seluruh ritme hidupnya yang datar menjadi penuh warna.

Dia sudah terlanjur jatuh hati terlalu dalam pada sosok Raelyn Elamora. Dan kehilangan gadis itu adalah satu-satunya skenario kerugian terbesar yang tidak akan pernah bisa diterima oleh seorang Alvarez Arran Danadiaksa seumur hidupnya.

Alvarez membuka matanya kembali, menatap pantulan dirinya di kaca jendela dengan tatapan mata yang dipenuhi tekad yang dingin. Jika dia harus menahan diri dan bermain cantik demi menjaga agar istri kecilnya tetap tinggal di sisinya, maka dia akan melakukannya. Namun, satu hal yang pasti: batas kesabaran sang monster bisnis terhadap kehadiran Elang sudah berada di titik paling krusial.

1
Muchammad Shobris
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!