Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Tersembunyi
Malam makin larut, keheningan menyelimuti seluruh ruangan apartemen itu. Di dalam kamarnya, Yasmin berbaring di atas kasur yang empuk, matanya terpejam namun pikirannya masih berputar-putar. Ia mendesah pelan, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri.
"Rasanya... hari ini sungguh aneh. Tadinya Aku kira hanya mimpi, tapi sekarang... rasanya jadi sedikit nyata. Tapi apakah Pak Baskara benar-benar mulai berubah? Atau hanya aku yang berharap terlalu banyak lagi?"
Ia menggulung selimut lebih rapat, lalu tersenyum kecil. "Tidak apa-apa. Biarpun ini cuma ilusi, aku ingin menikmatinya sebentar saja. Rasanya nyaman sekali..."
Di kamar utama, Baskara berdiri di depan jendela kaca yang luas, menatap tetesan air hujan yang masih mengalir turun dari kaca. Tangannya mengepal pelan, wajahnya terlihat bingung dan gelisah.
"Gila... aku memang benar-benar sudah gila." gumamnya, suaranya terdengar rendah. "Seharusnya aku marah, seharusnya aku kesal. Tapi kenapa rasanya begitu nyaman mendengar dia khawatir padaku? Dia itu istri yang dipaksa oleh keadaan, kondisinya berbeda dari kebanyakan gadis lain, bukan orang yang aku pilih juga... tapi kenapa sekarang rasanya berbeda?"
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, seolah ingin menepis pikiran-pikiran yang mengganggu itu. "Kau tidak boleh seperti ini, Baskara. Kau tidak boleh memberinya ruang. Tapi... kenapa rasanya jantung ini berdebar kencang setiap kali dia menatapku dengan tatapan seperti itu?"
Ia berbalik arah dan berjalan menuju tempat tidur, lalu mengambil handuk kering dan mengusap rambutnya yang sedikit basah. Pikirannya tiba-tiba melayang pada Papa dan Mamanya yang masih berada di luar negeri, entah kapan mereka pulang dan bagaimana tanggapan mereka nantinya jika tahu Baskara menikah siri, bahkan dengan gadis yang begitu unik.
"Semoga saja ini tidak menjadi masalah yang berat saat mereka pulang nanti... Karena jika sampai terjadi, maka jalan satu-satunya adalah menceraikannya." ucapnya seolah berbicara pada diri sendiri.
Setelah memastikan semua lampu sudah padam, ia pun berbaring dan memejamkan mata. "Tidurlah dengan nyenyak, gadis kecil. Besok semuanya akan kembali seperti biasa... kita lihat saja..."
*****>>>{}<<<*****
Hari berganti, matahari terbit menyinari desa dengan cahaya yang terang. Di ruang kerja yang luas dan penuh fasilitas canggih milik Juragan Irwan, dua orang utusan baru saja menyampaikan pesan dari keluarga Surya. Juragan Irwan duduk bersandar di kursi kerjanya, tangannya memutar pena emas dengan santai, namun tatapan matanya tajam dan penuh kekuasaan.
"Jadi begitu... gadis itu sudah ada di kota itu, ya?" tanyanya dengan suara berat namun terdengar tenang, senyum licin terukir di sudut bibirnya.
"Benar, Juragan. Selina melihatnya sendiri, dan Ia yakin Yasmin tinggal disekitar kota tersebut. Pak Surya dan Bu Manda berharap Bapak bisa mengerahkan anak buah untuk melacak keberadaannya. Mereka juga berjanji akan memberikan informasi lebih lanjut jika ada petunjuk tambahan dari Selina," jawab salah satu utusan itu dengan nada hormat.
Juragan Irwan tertawa pelan, suaranya terdengar menggema di ruangan yang sunyi itu. Ia berdiri dan berjalan mendekat ke jendela, menatap keramaian para pekerja diperkebunan dengan tatapan yang penuh ambisi.
"Memang, gadis itu memang unik. Kulitnya yang putih bersih, matanya yang biru muda, usianya yang begitu muda, itu semua membuatnya terlihat berbeda dari gadis lain. Aku sudah memutuskan, dia akan menjadi milikku. Tidak ada yang bisa menghalangi keinginanku, apalagi Ia pasti hanya sendiri di kota besar itu tanpa sanak saudara," ucapnya dengan nada percaya diri yang tinggi.
Ia berbalik menghadap utusannya, lalu memberikan perintah dengan tegas.
"Kembalilah dan sampaikan pada mereka bahwa aku menyetujui kerja sama ini. Katakan pada mereka, begitu mereka mendapatkan informasi lokasi yang pasti, segera kabari aku. Aku akan mengerahkan semua orang-orang kepercayaanku untuk mencarinya. Begitu dia ditemukan, aku akan memastikan dia dibawa ke sini dengan selamat. Dan sebagai imbalannya, semua hutang keluarga Surya akan aku lunasi sepenuhnya, bahkan aku akan memberikan hadiah tambahan sesuai janjiku."
"Baik, Juragan. Kami akan menyampaikan pesan ini segera," jawab kedua orang itu serempak, lalu segera berpamitan dan meninggalkan ruangan.
Setelah mereka pergi, Juragan Irwan kembali duduk di kursinya, tangannya menyentuh foto lama yang tergeletak di meja kerjanya, sebuah foto yang menampilkan sosok gadis muda yang berwajah polos, itulah Yasmin. Tatapannya menjadi semakin tajam dan penuh keinginan memiliki. Foto itu juragan dapatkan dari Pak Surya dan Ibu Manda.
"Tunggu aku, Yasmin. Tidak peduli siapa yang melindungimu, tidak peduli seberapa jauh kau bersembunyi. Aku akan menemukanmu, dan kau akan menjadi milikku sepenuhnya. Tidak ada yang bisa melindungimu dariku..." gumamnya pelan, lalu tertawa kecil, suara yang terdengar menakutkan dan penuh tekad.
*****>>>{}<<<*****
Beberapa hari berlalu, suasana di apartemen itu terasa semakin damai. Setiap pagi, Yasmin selalu bangun lebih awal untuk menyiapkan segala keperluan Baskara, dan meski jawaban suaminya masih sering terdengar ketus, nadanya sudah tidak lagi sekeras dulu. Hari itu, Yasmin hendak keluar untuk membeli beberapa kebutuhan rumah, setelah memastikan semua pesanan sudah dicatat dengan rapi, ia menghampiri ruang kerja Baskara untuk berpamitan.
Ketika ia mengetuk pintu dan masuk, ia melihat Baskara sedang menelpon dengan wajah yang tampak serius. Mendengar langkah kaki, Baskara menoleh sejenak, memberi isyarat agar ia menunggu sebentar.
"...Baik, aku mengerti. Lanjutkan pemantauan. Kalau ada gerakan yang mencurigakan, segera kabari aku. Jangan sampai ada celah yang terlewatkan," ucap Baskara dengan nada tegas, lalu menutup sambungan teleponnya. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu menatap ke arah Yasmin.
"Ada apa? Mau ke mana?" tanyanya.
"Saya mau keluar sebentar, Pak. Membeli barang-barang yang kita butuhkan. Saya sudah catat semuanya, dan saya janji akan berhati-hati seperti yang Bapak pesan. Saya tidak akan berhenti di tempat yang tidak perlu, apa lagi kan Pak Roy sudah bisa mengawasi saya lagi." jawab Yasmin dengan sopan.
Baskara terdiam sejenak, lalu berdiri dari kursinya dan mengambil dompet serta kartu identitasnya.
"Tunggu. Saya ikut," katanya sambil melangkah mendekat.
Yasmin tertegun, matanya terbelalak kaget. "Eh? Tidak perlu, Pak. Bapak kan masih banyak pekerjaan, nanti saya mengganggu saja. Saya bisa pergi dengan Pak Roy kok."
"Siapa bilang Saya ikut karena mau mengantarmu?" bantah Baskara cepat, memalingkan wajah seolah-olah tersinggung. "Saya kebetulan ada keperluan di arah yang sama. Lagipula, Roy ada pekerjaan lain, kalau kau tersesat lagi, Saya yang akan repot nantinya. Lebih baik aku ikut, supaya urusannya cepat selesai dan Saya tidak perlu membuang waktu untuk mencarimu lagi."
Mendengar alasan itu, Yasmin hanya bisa tersenyum kecil. Ia sudah mulai terbiasa dengan cara Baskara yang selalu menyembunyikan perhatiannya di balik alasan-alasan yang masuk akal namun dingin.
"Baiklah, Pak. Terima kasih," ucapnya lembut.
"Sudah, jangan banyak bicara. Ayo berangkat," potong Baskara, lalu berjalan lebih dulu ke arah pintu.
*****>>>{}<<<*****