Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERCOBAAN PEMBUNUHAN
Setelah mengacaukan skenario Tohjaya di Kediri, aku melanjutkan perjalanan menyusuri wilayah yang dikelola oleh Raden Mahisa dan Panji. Suasana di kedua wilayah itu sangat bertolak belakang dengan Kediri. Memang ada sedikit riak adaptasi tata pemerintahan baru, tapi secara keseluruhan rakyat hidup tenang. Tidak ada pemungutan pajak yang membabi buta, apalagi perekrutan prajurit asing besar-besaran.
Saat berada di wilayah Mahisa, aku sempatkan mampir ke kediamannya. Masih dengan wujud pria tua renta bertongkat kayu, aku melangkah memasuki pelataran.
Mahisa yang sedang memeriksa beberapa gulungan tulisan di teras rumahnya menoleh. Ia menatapku sejenak dengan mata tajamnya yang tenang, lalu menghela napas sambil tersenyum tipis.
"Sudahlah, tidak usah menyamar di hadapanku, Kanda Sena," ucapnya santai tanpa ragu sedikit pun.
Aku tertawa kecil mendengarnya, lalu merapalkan mantra untuk melepaskan penyamaranku. Wujud pria tua itu meluruh, mengembalikan penampilanku sebagai Arya Sena.
"Yaah... memang tidak ada yang bisa menipu matamu, Mahisa," ujarku sambil mengibas jubah.
Kami berbincang singkat mengenai kondisi wilayahnya yang stabil serta sedikit membahas riak-riak aneh yang mulai bermunculan di Kediri. Setelah memastikan wilayah Mahisa aman dari infiltrasi, aku segera berpamitan dengannya untuk kembali ke Singhasari.
### Kembali ke Singhasari
Menggunakan *Ajian Saipi Angin*, aku melesat cepat menembus batas wilayah dan tiba di Istana Singhasari saat malam mulai pekat. Tanpa membuang waktu, aku langsung menemui Anusapati di ruang kerjanya yang hanya diterangi beberapa lampu minyak.
Anusapati mendongak begitu aku melangkah masuk. "Bagaimana hasil kunjunganmu, Sena?"
Aku duduk di kursi kayu di hadapannya, lalu membeberkan semua temuan secara terperinci.
"Wilayah Mahisa dan Panji sepenuhnya aman dan terkendali. Hanya ada penyesuaian wajar," buka suara tenangku. "Tapi Kediri... Tohjaya benar-benar bermain licik."
Aku menceritakan bagaimana Tohjaya merekrut ribuan ahli silat bayaran dari luar daerah, serta mengerahkan prajuritnya untuk memeras pajak dari rumah ke rumah warga Kediri—dengan sengaja menuduh bahwa itu adalah perintah dan upeti untuk Raja Anusapati demi merusak nama baiknya.
"Tapi tenang saja," aku menyunggingkan senyum tipis, "aku sudah menyebarkan desas-desus di kalangan rakyat Kediri tentang kebohongan Tohjaya, pembebasan pajak di Singhasari, serta kedamaian di wilayah Mahisa. Sekarang rakyat Kediri mulai sadar kalau mereka sedang diperalat oleh penguasanya sendiri."
Anusapati mengepalkan tangannya di atas meja, matanya berkilat marah mendengar namanya dicemarkan untuk memeras rakyat. Namun di saat yang sama, ia mengagumi langkah cepatku yang berhasil membalikkan propaganda Tohjaya dalam semalam.
"Tohjaya sudah benar-benar menabuh genderang perang," ujar Anusapati dingin. "Apa langkah kita selanjutnya, Sena?"
Peperangan memang sepertinya tidak bisa dielakkan tapi aku punya dua opsi, pertama langsung kita potong sebelum membusuk, kedua kita biarkan kebusukan itu dilihat publik lalu baru kita potong
Anusapati menjawab "aku lebih baik memakai keduanya berusaha memotong itu dan meskipun sudah pasti tidak bisa dipotong sehari baru desas desus tersebar sendiri kalau akar itu busuk"
Aku tersenyum tipis begitu menangkap maksud Anusapati. Langkah politik yang memadukan panggung publik dan aksi militer adalah cara paling bersih untuk meruntuhkan Tohjaya tanpa menyisakan celah propaganda baginya.
"Pilihan yang sangat cerdik," ujarku sambil menyunggingkan senyum dingin. "Kita fasilitasi panggungnya. Kita undang Tohjaya ke Istana Singhasari dengan dalih gelaran sabung ayam—hiburan kegemarannya. Dia pasti mengira ini kesempatan emas yang dihadiahkan langit untuk menghabisi nyawamu di rumahmu sendiri."
Anusapati mengangguk mantap, matanya berkilat paham. "Biarkan dia melangkah masuk membawa belati tersembunyinya. Di hadapan para pejabat, menteri, dan bangsawan keraton, kita beri dia panggung. Begitu dia melancarkan aksi nekatnya untuk membunuhku dan gagal total, seluruh istana akan menyaksikan sendiri kebusukannya secara telanjang. Tidak ada lagi ruang untuk berkilah."
"Dan saat topengnya terbuka di depan umum," sambungku melengkapi rencana, "statusnya runtuh seketika. Dalam keadaan terdesak dan berlabel pengkhianat kerajaan, dia tidak punya pilihan selain melarikan diri bagaikan anjing terpukul kembali ke Kediri."
Aku melipat tangan di dada, menyusun babak akhir skenario ini.
"Begitu tiba di Kediri, Tohjaya yang panik pasti langsung memobilisasi ribuan ahli silat bayaran dan prajurit yang sudah dikumpulkannya untuk menabuh perang terbuka. Saat itulah kebusukannya dilihat oleh publik secara utuh. Kita tinggal membawa pasukan penuh Singhasari, meratakan pasukannya di medan laga, lalu menawan Tohjaya hidup-hidup untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya."
Anusapati berdiri dari duduknya, mengepalkan tangan dengan keyakinan mutlak. "Sempurna. Sebar undangan resmi perjamuan adu ayam istana ke Kediri sekarang juga!"
Pertunjukan sabung ayam berlangsung makin meriah, diselingi gelak tawa para menteri dan sorak-sorai pejabat keraton. Namun di balik keriuhan itu, hawa membunuh yang pekat perlahan menyebar. Dua pengawal setia Tohjaya Lembu Ampal dan Pranaraja mulai menggeser posisi berdiri mereka secara mencurigakan, mengapit posisiku dari kiri dan kanan.
Tiba-tiba, kedua pengawal itu melompat maju berusaha mengunci gerakan dan menahanku. Di saat yang sama, Tohjaya berdiri cepat dari kursinya, menyibak lipatan kain jubahnya, dan menarik sebilah keris berlekuk yang memancarkan kilatan racun mematikan. Dengan tatapan mata kalap, ia melompat menghujamkan keris itu tepat ke dada Anusapati.
"Awas kanda Anusapati!" teriak Mahisa dan Panji serentak, panik melihat serangan mendadak yang begitu dekat.
Namun, semua skenario nekat ini sudah kutebak dan kuhafal di luar kepala.
*BZZZZT!*
Aku melafalkan mantra perlambat waktu dalam hati. Dalam sekejap mata, gelombang energi gaib menyebar, membuat seluruh pergerakan di sekelilingku melambat bagaikan bayangan di dalam air. Hujan debu di udara berhenti berputar, dan mata keris Tohjaya bergerak sangat lambat menuju dada Anusapati.
Tanpa membuang waktu, aku bergerak dengan kecepatan normal di antara dimensi yang membeku.
*TAK! BOK!*
Dua pukulan bertenaga dalam kutotokkan tepat ke dada Lembu Ampal dan Lembu Pranaraja. Tanpa membunuh mereka, seranganku cukup untuk mematahkan tulang rusuk dan melontarkan tubuh kedua pengawal tangguh itu terpental ke belakang dalam keadaan terluka parah.
Melangkah santai mendekati Tohjaya yang masih melayang lambat di udara, aku menyabet pergelangan tangannya dengan kibasan ujung jari.
*PLAK!*
Genggaman Tohjaya terlepas seketika. Keris beracun itu terpelanting, berputar di udara, lalu menancap tegak di atas ubin kayu gelanggang. Saat itulah, aku melepas mantra perlambat waktu.
*SWUUUSH!*
Waktu kembali melaju normal. Lembu Ampal dan Pranaraja baru saja mengerang kesakitan saat tubuh mereka menghantam pilar istana, sementara Tohjaya terperanjat mendapati tangannya sudah kosong dan menggantung di udara.
Anusapati berdiri dari tahtanya, menunjuk Tohjaya dengan wajah merah padam oleh amarah. "Apa yang mau kau lakukan, Tohjaya?!"
Tohjaya menatap Anusapati dengan senyum miring penuh kebencian. "Dasar naif!"
Tohjaya langsung berbalik, menyambar dua pengawalnya yang terluka, lalu melompat kabur melintasi arena. Puluhan prajurit pengawal Singhasari berhamburan dari sudut balairung mencoba mengepung dan menghalangi jalan mereka. Namun, dengan ilmu kesaktiannya yang tinggi, Tohjaya bersama Lembu Ampal dan Pranaraja mengamuk, menerobos barisan prajurit Singhasari hingga tumbang berantakan. Sebelum gerbang utama sempat ditutup rapat, ketiganya sudah melesat keluar, melarikan diri memacu kuda secepat kilat kembali ke Kediri.
Suasana balairung seketika hening mencekam. Di depan mata Mahisa dan Panji serta puluhan pejabat keraton, Tohjaya telah melakukan tindakan makar dan percobaan pembunuhan terang-terangan terhadap Raja Singhasari.
Aku melangkah pelan ke tengah gelanggang yang berantakan, menunduk, lalu mencabut keris beracun milik Tohjaya yang tertancap di lantai. Menatap mata keris yang berkilat dingin itu, aku menyunggingkan senyum tipis. Topengnya sudah terbuka penuh di depan publik, dan jalan menuju perang terbuka kini telah terbentang lebar.
Terima kasih banyak atas dukungannya!
Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!