Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Pengawasan Sang Preman
Debu-debu halus beterbangan melayang di udara remang gudang bagian belakang PT Buana Raya. Cahaya matahari pagi hanya mampu menerobos samar-samar melalui celah atap seng yang berlubang, menciptakan berkas sinar kekuningan yang dipenuhi partikel kotoran melayang.
Bau apek dari tumpukan kardus bekas yang lembap dan jamur kayu dari palet yang menyengat langsung membuat hidung terasa gatal.
Devi membungkuk pelan, mengangkat tumpukan kardus besar yang agak berat dengan kedua tangannya yang kurus. Kemeja putihnya yang mulanya bersih kini sudah teroles noda hitam jelaga dari dinding batako. Peluh dingin membasahi dahinya, mengalir perlahan hingga menetes di atas ujung jilbab birunya.
Setiap kali ia mendengar langkah kaki atau tawa renyah buruh lain dari lorong depan, dada Devi terasa seperti diremas kuat-kuat. Bayangan wajah cemooh Bu Rini dan sindiran tajam kawan-kawannya terus berputar bagaikan kaset rusak di dalam kepalanya.
("Kenapa mereka tega sekali?") batin Devi dengan tenggorokan yang serasa menyempit. ("Kenapa tidak ada satu orang pun yang mau mendengarkan penjelasanku? Kenapa mereka lebih percaya pada tuduhan jahat daripada kenyataan?")
Devi menyandarkan punggungnya di tumpukan palet kayu, menyapu keringat di pelipisnya dengan punggung lengan. Lututnya terasa lemas luar biasa. Beban fisik dari pekerjaan kasar ini sama sekali tidak sebanding dengan hantuman mental yang membakar jiwanya sejak semalam.
Rasa bersalah pada orang tuanya, kehancuran impian masa depannya, dan penyesalan mendalam atas raut luka di wajah Dodi pagi tadi berkecamuk menjadi satu adonan takdir yang teramat pahit untuk ditelan.
Tiba-tiba, suara derit sepatu keselamatan yang menginjak semen terdengar mendekati lorong gelap tempat Devi bekerja.
"Ooh ... di sini toh si pengantin baru berteduh?"
Devi tersentak, refleks berdiri tegak seraya memeluk kardus kosong di dadanya. Bu Rini melangkah masuk ke lorong belakang dengan gaya membusungkan dada, tangannya memegang papan jalan berdada besi. Di belakang Bu Rini, berdiri seorang pria paruh baya berkulit agak gelap dengan perut buncit yang mengenakan kemeja seragam perusahaan warna krem, Pak Hendro, kepala gudang PT Buana Raya.
"Ini dia, Pak Hendro," tunjuk Bu Rini dengan pena hitamnya ke arah Devi, senyum miring terpancar di wajah berias tebalnya. "Ini buruh baru yang saya ceritakan tadi. Baru dua hari kerja di sini, tapi sudah bikin geger satu desa gara-gara digerebek warga semalam."
Pak Hendro memicingkan matanya yang agak sembab, menatap Devi dari ujung jilbab hingga sepatu ketsnya dengan pandangan penuh penilaian yang dingin dan merendahkan.
"Kamu yang namanya Devi?" tanya Pak Hendro dengan suara serak, menyilangkan tangan di atas perutnya yang buncit.
Devi menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengangguk pelan. "I-iya, Pak ... Saya Devi."
"Kamu tahu kan aturan perusahaan kita ini?" cerocos Pak Hendro tanpa basa-basi, nada suaranya tegas dan sama sekali tak menyisakan ruang untuk empati. "PT Buana Raya ini menjaga ketat standar moral dan nama baik pabrik. Kita tidak mau menerima pekerja yang punya cacat hukum, apalagi cacat moral yang diarak dan dinikahkan siri gara-gara kasus kumpul kebo di gubuk!"
"Saya tidak melakukan hal tidak senonoh itu, Pak!" Devi mendongak, mencoba membela dirinya dengan sisa-sisa keberanian yang dimilikinya. Air matanya menggenang di pelupuk mata. "Demi Allah, Pak Hendro ... Saya cuma berteduh dari hujan deras! Saya tidak pernah—"
"Cukup! Jangan ngeles!" potong Bu Rini cepat seraya mendelikkan mata celaknya. "Semua orang di Dukuh Parang sudah tahu ceritanya, Mbak! Mau ditaruh di mana muka pabrik kita kalau orang-orang tahu kita memelihara buruh yang kena sanksi adat desa?!"
Pak Hendro mengetuk-ngetukkan jarinya di atas sabuk kulitnya, menghela napas kasar seolah keberadaan Devi adalah sebuah kemalangan besar bagi perusahaannya.
"Mulai hari ini, masa percobaaanmu dibatalkan," putus Pak Hendro dingin dan tanpa perasaan. "Kamu diputus hubungan kerjanya sekarang juga. Bersihkan barang-barangmu, ambil uang harian dua harimu di kasir depan, lalu keluar dari area pabrik ini!"
Jleg!
Dunia Devi rasanya benar-benar runtuh tak bersisa. Kata diputus hubungan kerjanya bergaung bagaikan suara petir yang menyambar tepat di atas kepalanya.
Dua hari ... baru dua hari ia mengantungkan harapan untuk bisa membeli obat jantung ayahnya dan membantu ekonomi keluarga, dan kini harapan terakhir itu dicabut paksa akibat fitnah yang kejam.
"P-Pak Hendro ... saya mohon, Pak ..." tangis Devi akhirnya pecah, ia melangkah maju satu tapak dengan telapak tangan menyatu di dada. "Tolong jangan pecat saya, Pak ... Ayah saya sedang sakit, kami sangat butuh uang dari pekerjaan ini. Saya rela dikurangi gaji atau dipindahkan ke bagian mana saja, asal jangan dipecat, Pak..."
"Ndak ada mohon-mohonan!" bentak Bu Rini kusam, melangkah memblokir jalan Devi. "Keputusan kepala gudang sudah final! Ayo cepat kemasi barangmu sebelum saya suruh satpam depan yang menyeretmu keluar!"
Devi terpaku kaku di atas semen dingin. Tangisnya tergugu pelan, bahunya meluruh lunglai. Tidak ada lagi kalimat pembelaan yang bisa diucapkannya. Dalam kegelapan lorong gudang itu, Devi merasa benar-benar sendirian, terbuang, dan tak bernilai di mata orang-orang.
Sementara itu, di luar area gudang PT Buana Raya, matahari semakin menyengat kulit. Jalanan aspal kecamatan di depan gerbang pabrik dipenuhi lalu lalang truk tronton dan lalu lintas kendaraan bermotor yang sibuk.
Di bawah naungan pohon trembesi yang rimbun di seberang jalan raya, Devan masih duduk santai di atas jok motor bebek tuanya. Pria itu menyilangkan lengan kemeja denimnya di dada, matanya yang tajam bak elang memantau setiap pergerakan di pos satpam gerbang utama pabrik.
Tiba-tiba, suara getaran dari saku kemeja denimnya berbunyi. Devan merogoh ponsel pintarnya yang tebal, menempelkannya ke telinga tanpa mengalihkan pandangan dari gerbang.
"Bicara, Hendra," ucap Devan pendek.
("Laporan cepat, Komandan!") suara Hendra di ujung telepon terdengar agak terburu-buru namun tetap terkendali. ("Anggota kita yang menyamar sebagai pedagang es di depan area gudang baru saja melihat kepala gudang bernama Hendro dan penyelia bernama Rini masuk ke lorong belakang tempat Mbak Devi bekerja.")
Mata Devan menyipit tajam. Cahaya dingin yang berbahaya mendadak muncul di kedalaman manik matanya. "Apa yang terjadi di dalam?"
("Informasi dari buruh yang baru keluar mandi, Mbak Devi dipojokkan oleh rekan-rekannya dan Bu Rini sejak jam masuk tadi, Komandan. Dan barusan ... Pak Hendro menjatuhkan surat pemecatan sepihak untuk Mbak Devi atas tuduhan merusak nama baik perusahaan.")
Tangan Devan yang memegang stang motor perlahan mencengkeram besi tua itu kuat-kuat, hingga urat-urat di punggung tangannya yang tertutup tato menonjol tegang. Hawa santai yang menyelimutinya sejak pagi seketika menguap tanpa bekas, berganti dengan aura intimidasi yang begitu pekat dan menakutkan.
"Pemecatan sepihak?" bisik Devan dengan suara yang sangat rendah, seperti raungan serigala yang siap berburu.
("Benar, Komandan. Mbak Devi sekarang sedang menyapu air mata di lorong belakang dan disuruh mengambil gaji harian untuk segera angkat kaki.")
Devan tidak langsung menjawab. Ia terdiam selama tiga detik, menatap pagar besi tinggi PT Buana Raya dengan pandangan membunuh.
"Hendra," panggil Devan, suaranya berubah menjadi komando mutlak yang tak bisa dibantah.
("Siap, Komandan!")
"Siapa pemilik saham mayoritas dari PT Buana Raya induk usaha?"
("Berdasarkan data holdings kita... sembilan puluh persen saham PT Buana Raya dipegang oleh Pratama Mega Konstruksi, anak perusahaan utama milik Anda sendiri, Komandan.")
Senyum tipis yang sangat dingin dan penuh misteri terukir di sudut bibir Devan. "Bagus. Hubungi Direktur Utama PT Buana Raya Pusat sekarang juga. Suruh dia melakukan video call darurat ke ponsel Kepala Gudang Hendro dalam waktu lima menit dari sekarang."
("Siap, Komandan! Apa instruksi khusus untuk Dirut?")
Devan menegakkan tubuhnya di atas motor, mengancingkan satu kancing kemeja denim bagian atasnya. "Katakan pada Dirut ... jika dalam waktu sepuluh menit masalah di gudang kecamatan ini tidak selesai dan istrinya Devan Pratama tidak diperlakukan dengan hormat ... seluruh jajaran direksi PT Buana Raya akan saya ganti sore ini juga!"
("Laksanakan, Komandan! Perintah dijalankan sekarang!")
Panggilan terputus. Devan melempar ponsel pintarnya ke dalam saku, lalu memakai helm teropongnya kembali. Dengan satu hentakan keras di engkol selahan motor tuanya, mesin karburator itu meraung nyaring. Devan memutar tuas gas, membawa sepeda motor bebeknya meluncur perlahan menyeberangi jalan raya menuju pos satpam gerbang utama PT Buana Raya
semoga aja Devi mencerna baik baik
ingat loh, anak gadis di arak telanjang
kek manaa coba
rasanya mau bunuh diri saja
devan sudah menyelamatkan anak gadismu
dari pada keliling desa
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja