Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa Gadis Itu?

Sementara kebahagiaan baru mulai menyapa Rania di restoran itu, di rumah besar keluarga Wijaya yang megah namun terasa begitu dingin, suasana siang berjalan dengan langkah yang berbeda. Pintu gerbang besi tinggi itu terbuka perlahan, dan mobil sedan berwarna gelap melaju pelan masuk ke halaman rumah yang luas itu, berhenti tepat di depan teras utama.

Sinar matahari siang yang terang benderang menyinari bangunan kokoh itu, namun cahayanya tak mampu menghangatkan suasana di dalamnya. Pagar besi yang tinggi itu seolah menjadi batas antara dunia luar yang hangat dengan rumah yang penuh aturan dan ketegangan.

Pintu pengemudi terbuka, dan Laras turun dengan gerakan yang tenang namun tergesa. Ia menutup pintu mobil, lalu melangkah menuju pintu utama rumah itu dengan langkah yang mantap, pakaiannya yang rapi dan elegan tampak sempurna, seolah tak satu pun helai rambutnya yang berantakan.

Keringat tipis tampak di pelipisnya, tanda ia baru saja beraktivitas di luar di bawah terik matahari siang. Namun di balik penampilan yang sempurna itu, ada ketegangan halus yang menyelimuti wajahnya lelah yang tak ingin ia tunjukkan, dan beban yang terus ia pikul sendirian. Baginya, penampilan dan nama baik keluarga adalah segalanya, bahkan di atas perasaan anggota keluarganya sendiri.

Belum sempat kakinya melangkah naik ke teras, pintu utama rumah itu terbuka dari dalam. Rian keluar dengan langkah yang terburu-buru, tas punggung tersampir di bahunya, dan wajahnya tampak siap untuk pergi. Begitu melihat Laras, ia berhenti sejenak, lalu menyapa dengan nada yang sopan namun terasa dingin.

"Assalamualaikum, Bu" sapa rian.

Laras berhenti melangkah, menatap putranya sekilas, cahaya matahari memantul tajam di matanya. "Waalaikumsalam, Rian. Mau ke mana siang-siang begini?" tanyanya, suaranya terdengar datar, tanpa banyak perubahan nada, seolah ia sedang menanyakan hal yang tidak terlalu penting namun tetap harus diketahui.

Rian menatap jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap ibunya dengan tatapan yang lembut namun teguh.

"Aku mau pergi menjemput Amira di sekolahnya, Bu. Sudah hampir jam pulang sekolah, dan aku takut putriku menunggu terlalu lama di sana sendirian di bawah panas matahari. Aku sudah berjanji padanya minggu ini aku yang akan menjemputnya setiap hari, dan aku tidak ingin melanggar janji itu"

Laras mengerutkan kening pelan, seolah tak menyukai keputusan itu.

"Tidak perlu kau yang menjemput. Biarkan supir yang pergi. Ayahmu baru saja menelepon, ia memintamu segera ke kantor untuk membantunya menyelesaikan beberapa dokumen penting yang harus selesai siang ini juga. Kau seharusnya berangkat ke kantor sekarang, bukan pergi ke sana kemari di siang hari yang terik begini" ucapnya tegas, nada perintah yang biasa ia gunakan, nada yang tak pernah dibantah selama ini.

Namun kali ini, Rian tidak langsung menurut. Ia berdiri tegak, menatap ibunya dengan tatapan yang tenang namun tak mau diganggu gugat.

"Supir sedang membawa Ayah ke acara pertemuan penting di luar kota, Bu. Dan Amira... putriku itu pasti sudah menunggu di gerbang sekolah sekarang. Dia masih kecil, dan setiap kali aku yang menjemputnya, matanya bersinar begitu bahagia melihatku datang. Aku tidak ingin mengecewainya. Lagipula, Ayah tidak menyebutkan soal itu padaku tadi pagi sebelum berangkat"

Kata-kata itu membuat Laras terdiam sejenak. Ia menatap wajah putranya — wajah yang semakin lama semakin mirip dengan wajah ibunya, dan tatapan yang begitu teguh, sama seperti jihan dulu. Sesuatu berdenyut pelan di dadanya, rasa tidak suka yang bercampur dengan rasa bersalah yang tak pernah ia akui.

Ia tahu Rian adalah ayah yang baik, tapi di matanya, tugas sebagai pewaris keluarga Wijaya harus selalu didahulukan.

"Ayahmu terlalu sibuk untuk mengingatkan setiap hal kecil padamu" ucap Laras pelan, namun nada suaranya tetap tak bisa dibantah.

"Itulah sebabnya aku yang menyampaikannya. Bantuanmu di kantor itu lebih mendesak daripada sekadar menjemput putrimu. Kau adalah putra keluarga Wijaya, dan kewajibanmu membantu ayahmu harus didahulukan di atas segalanya. Itulah tanggung jawab yang kau pikul sejak lahir"

"Amira bukan sekadar putriku, Bu. Dia juga bagian dari keluarga ini, cucu Anda sendiri" jawab Rian lembut namun tegas, suaranya tidak meninggi, tapi setiap kata terdengar jelas dan kuat.

"Bagaimana bisa tugas-tugas kantor lebih penting daripada menemui putriku sendiri? Dan... jika mama jihan ada di sini, aku yakin ia pun akan mengerti bahwa menjaga dan menyayangi anak adalah hal yang paling utama dalam hidup ini"

Nama itu terucap begitu saja dari bibir Rian, dan seketika udara panas siang itu terasa menjadi lebih berat di antara mereka. Laras membuang muka, menatap ke arah taman yang disinari matahari terang, seolah nama itu adalah sesuatu yang tak ingin ia dengar. Selama ini, di rumah besar itu, nama jihan perlahan menjadi sesuatu yang tabu, sesuatu yang seolah tak pernah ada, sesuatu yang dihapus dari percakapan seolah ia tidak pernah ada. Namun Rian tidak pernah berhenti menyebutnya, tidak pernah berhenti mengingat mamanya yang dulu selalu membelanya, yang dulu menjadi satu-satunya tempat ia bersandar saat merasa kesepian di rumah yang penuh aturan ini.

"Sudahlah" ucap Laras akhirnya, suaranya terdengar berat namun tak lagi setegas tadi, seolah nama jihan itu selalu mampu meruntuhkan sedikit pertahanan ketegasannya.

"Pergilah. Tapi pastikan kau langsung ke kantor setelahnya. Jangan terlambat. Dan jangan terlalu lama di sana, cuaca siang ini cukup panas. Jangan sampai Amira kepanasan juga"

Rian mengangguk pelan, sedikit lega mendengar persetujuan itu. "Terima kasih, Bu. Aku akan langsung ke kantor setelah menjemput Amira. Aku tidak akan mengecewakan Ayah, dan aku juga tidak akan mengecewakan putriku"

Ia melangkah melewati ibunya, menuju gerbang rumah itu, namun sesaat sebelum melewati Laras, ia berhenti sejenak dan menoleh. Tatapannya lembut, penuh harap yang tak pernah hilang.

Rian melangkah menuju mobilnya, bersiap untuk berangkat. Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu mobilnya, suara deru mesin motor yang mendekat terdengar membelah keheningan siang yang terik itu. Kendaraan itu meluncur pelan masuk ke gerbang rumah besar itu, lalu berhenti tepat di samping mobil Rian, tak jauh dari tempatnya berdiri. Rian berhenti bergerak seketika, tangannya masih menggenggam gagang pintu, matanya menatap motor itu dengan penuh keheranan siapa yang datang tanpa pemberitahuan di jam seperti ini, saat ia hendak berangkat?

Belum sempat ia melangkah mendekat atau bertanya, sosok kecil yang sudah dikenalnya turun dari motor,Amira! Putri kecilnya itu berlari riang menyeberangi halaman yang luas itu, rambutnya yang dikepang rapi bergerak mengikuti langkah kakinya yang mungil dan cepat, sepatu hitamnya bertepuk-tepuk di atas lantai teras. Matanya bersinar bahagia, wajahnya berseri-seri menyambut sosok yang baru saja turun dari motor itu.

"Ayah!" seru Amira riang, suaranya yang renyah terdengar jelas di siang hari itu. Namun ia tak langsung berlari ke arah ayahnya, melainkan berbalik dan berlari kembali ke arah pengendara motor itu, menggenggam erat ujung baju gadis itu dengan kedua tangannya yang mungil, seolah tak ingin berpisah sedetik pun.

Rian tertegun di tempatnya. Matanya tak lepas dari sosok gadis yang berdiri di samping motor itu gadis yang memegang tangan putrinya, yang telah membawanya pulang dengan selamat. Jantungnya berdegup pelan, seolah ada sesuatu yang akrab namun tak segera dapat ia kenali, sesuatu yang tersimpan jauh di dalam ingatannya namun samar, seperti bayangan yang tak dapat ditangkap.

Gadis itu tampak tenang, mengenakan pakaian sederhana namun rapi dan bersih, dan wajahnya yang lembut tersenyum ramah saat menatapnya, senyum yang begitu tulus dan menenangkan.

Perlahan, dengan gerakan yang luwes dan tenang, gadis itu melepaskan kaitan helmnya, membukanya pelan, lalu meletakkan helm itu dengan hati-hati di atas jok motor. Rambut hitamnya yang panjang dan lurus terurai jatuh ke bahu, dan saat ia menatap lurus ke arah Rian, mata gadis itu berbinar lembut sebuah tatapan yang begitu tulus, begitu hangat, seolah ia mengenal pemuda itu jauh lebih lama dari yang Rian sadari, seolah mereka pernah bertemu di masa lalu yang telah lama ia lupakan.

Gadis itu melangkah maju selangkah, membawa Amira yang masih menggenggam tangannya erat, lalu menyapa dengan suara yang lembut dan merdu, suara yang seolah membawa ketenangan ke seluruh penjuru halaman itu.

"Assalamualaikum, Kak Rian"

Rian terkejut sejenak, mendengar namanya disebut begitu akrab, namun ia segera mengangguk sopan, berusaha menyembunyikan rasa herannya. "Waalaikumsalam..."

"Maaf ya, Kak" ucap gadis itu dengan nada yang penuh permohonan namun tetap ramah dan tulus.

"Tadi Kak naumi yang memintaku menjemput Amira. Beliau tiba-tiba ada urusan mendesak dan tidak sempat memberi tahu Kakak, dan tidak ada orang lain yang bisa dipercaya untuk menjemputnya saat itu juga. Jadi aku yang berangkat ke sekolah untuk menjemput putri Kakak. Semoga Kakak tidak keberatan dengan kehadiranku di sini"

Rian menghela napas lega, tersenyum tipis melihat putrinya yang tampak begitu bahagia dan aman di samping gadis itu. Amira menatap gadis itu dengan kagum, sesekali menyandarkan kepala kecilnya ke lengan gadis itu, seolah sudah sangat akrab dan merasa terlindungi.

"Iya, tidak apa-apa. Terima kasih banyak sudah membawanya pulang dengan selamat. Terima kasih sekali, sungguh. Aku tadi sempat cemas karena hampir terlambat menjemputnya"

"Sama-sama, Kak. Amira anak yang sangat manis dan penurut, tidak sedikit pun rewel di perjalanan"jawab gadis itu sambil mengusap kepala kecil Amira dengan penuh kasih sayang, gerakannya begitu lembut dan tulus, seolah ia sedang mengusap kepala adiknya sendiri. Amira tersenyum lebar, lalu mendekatkan wajahnya ke pipi gadis itu, menempelkan pipinya dengan penuh kasih sayang, seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama sekali.

Dari teras rumah, Laras yang sedari tadi memperhatikan mereka berdiri tegak di tempatnya, bayangannya yang panjang jatuh di lantai teras. Ia melihat segala sesuatu dengan tatapan yang tajam namun sulit diartikan, lalu bersuara dengan nada yang tegas dan dingin, suaranya terdengar jelas hingga ke tempat mereka berdiri.

"Rian, kalau Amira sudah pulang selamat, segeralah berangkat ke kantor, pekerjaan itu tidak bisa ditunda-tunda. Jangan sampai kau terlambat"

Kata-kata itu memotong suasana hangat di antara mereka seketika. Rian menoleh ke arah ibunya, lalu menunduk pelan, merasakan beban yang selalu ada setiap kali mendengar suara ibunya. Ia tahu, di depan ibunya, ia harus selalu menjadi anak yang patuh, yang menuruti setiap perintah tanpa banyak bertanya, yang menempatkan kewajiban keluarga di atas segala hal lain, sekalipun itu keinginannya sendiri. Meski hatinya ingin sekali bermain sejenak dengan putrinya, meski ia ingin berterima kasih lebih lama pada gadis di hadapannya, ia tak bisa menolak.

Ia kembali menatap gadis itu, lalu berkata dengan lembut namun terburu-buru, seolah waktu yang dimilikinya sangat sedikit.

"Maaf, aku harus segera pergi. Bisakah kamu... menemani Amira di dalam rumah sampai naumi pulang? Aku tidak ingin dia sendirian, dan aku takut dia kesepian jika dibiarkan sendiri di sini"

Gadis itu tersenyum paham, mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.

"Tentu saja, Kak. Tenang saja, aku akan menemani Amira di dalam, bermain dengannya, dan menjaganya sampai Kak Zoya pulang. Kakak berangkatlah dengan tenang, urusan di sini biar aku yang jaga"

"Terima kasih" ucap Rian tulus, rasa syukur memenuhi dadanya karena ada orang yang begitu baik dan siap membantu tanpa banyak tanya. Ia lalu berlutut sejenak di hadapan putrinya, menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu.

"Amira sayang, Ayah harus pergi dulu ya. Ayah harus membantu Kakek di kantor. Nanti kalau Ayah pulang, Ayah bawa sesuatu yang manis untukmu, janji"

Amira mengangguk patuh, meski matanya sedikit mendung karena Ayahnya tak bisa menemaninya lebih lama.

"Iya, Ayah. Hati-hati ya. Jangan lupa pulang sore nanti"

"Pasti, Nak" bisik Rian, lalu mengecup kening putrinya sekali, berdiri perlahan, dan melangkah menuju mobilnya.

Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi ke arah gadis itu yang sedang menggenggam tangan Amira dengan penuh kelembutan, menatapnya dengan senyum yang menenangkan dan di dalam hatinya, ada rasa syukur yang bercampur dengan rasa penasaran yang semakin kuat. Siapa gadis itu? Dan mengapa kehadirannya terasa begitu menenangkan, seolah ia adalah bagian dari keluarga ini yang selama ini hilang, yang akhirnya kembali tanpa ia sadari?

Mobil Rian melaju perlahan keluar dari gerbang rumah itu, meninggalkan dua sosok gadis itu dan Amira yang berdiri bersama di bawah sinar matahari siang yang terang, seolah mereka adalah dua orang yang ditakdirkan untuk bertemu dan saling melengkapi. Di dalam mobil, Rian menatap ke depan, namun pikirannya tertinggal di halaman itu, pada wajah gadis yang belum pernah ia lihat sebelumnya, namun yang terasa begitu dekat dan akrab.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!