Indonesia
NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Telepon yang Mengubah Segalanya

Setelah Om dan Tante Kania berpamitan dan meninggalkan rumah, Mellisa kembali masuk ke dalam. Baru beberapa langkah menuju ruang tengah, Kania sudah menyusul dari belakang dengan wajah penuh semangat.

"Bun…”

Mellisa menoleh. “Hm?”

Kania langsung menghampirinya. “Kata Ayah, aku boleh minta honeymoon ke mana aja.”

Mellisa tersenyum kecil. “Wah, asyik dong.”

"Iya, lah!” Kania terkekeh. “Tapi bagusnya ke mana, ya, Bun? Keliling Eropa atau ke Amerika?”

Mellisa tersenyum mendengar antusiasme putrinya. "Kalau masalah honeymoon, sebaiknya kamu obrolkan sama Mas Raka, bukan sama Bunda.”

"Tapi kan setidaknya Bunda bisa kasih masukan.”

"Iya, sih, tapi…” Mellisa menggantung kalimatnya.

Kania langsung menyipitkan mata. “Tapi kenapa, Bun?”

Mellisa hanya tersenyum tipis, seolah ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan.

"Dulu Bunda honeymoon sama Ayah ke mana, sih?” tanya Kania tiba-tiba. “Perasaan Ayah sama Bunda nggak pernah cerita, deh.”

Senyum di wajah Mellisa seketika berubah samar. Pertanyaan sederhana itu justru menyentuh bagian masa lalu yang selama ini berusaha ia simpan rapat-rapat.

"Nanti aja kapan-kapan Bunda cerita, ya.”

"Yaaa…” Kania langsung manyun. “Bunda selalu menghindar gitu, deh.”

Mellisa hendak menjawab, tetapi tiba-tiba terdengar suara ponselnya berdering dari dalam kamar.

"Bun, HP-nya bunyi terus!” seru Kania.

Mellisa menoleh ke arah kamarnya. Benar saja, suara dering ponsel terdengar beberapa kali tanpa henti.

"Tuh, ada yang telepon.” Mellisa segera melangkah. “Kapan-kapan aja ceritanya, ya.”

Kania masih memasang wajah penasaran.

"Tapi kalau kamu tanya Bunda, mending keliling Eropa atau ke Amerika…” Mellisa berhenti sebentar, lalu tersenyum. “Bunda pilih keliling Eropa. Negara yang bisa dikunjunginya lebih banyak.”

Setelah mengatakan itu, Mellisa langsung bergegas menuju kamarnya untuk mengangkat telepon.

"Okay deh, makasih, Bunda!” teriak Kania dari ruang tengah.

Namun, Mellisa sudah semakin jauh dan tak lagi menoleh. Kania mengembuskan napas, lalu kembali duduk sambil menopang dagunya.

"Pasti ada cerita yang disembunyiin Bunda,” gumamnya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

Sementara itu, di dalam kamar, Mellisa meraih ponselnya yang masih berdering. Sesaat sebelum mengangkatnya, deringnya berhenti. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Mellisa langsung duduk di tepi ranjang, pikirannya kembali terlempar pada pertanyaan Kania tadi.

*Dulu Bunda honeymoon sama Ayah ke mana?*

Pertanyaan yang bagi Kania mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi Mellisa, jawabannya menyimpan terlalu banyak kenangan yang belum tentu sanggup ia ceritakan.

Syahriza

Tentu, Kak. Aku buat adegannya lebih hidup dengan menonjolkan bahwa Mellisa sebenarnya sangat mencintai Handoko dan yakin hubungan mereka akan berakhir di pernikahan, sementara orang tuanya melihat Riza sebagai lelaki yang jauh lebih mapan dan serius.

Liburan semester kali itu seharusnya menjadi waktu yang menyenangkan bagi Mellisa. Namun, sejak hari pertama kepulangannya dari Yogyakarta, ada satu pembicaraan yang terus mengusik pikirannya.

Riza.

Lelaki kaya yang beberapa kali datang ke rumahnya untuk menyampaikan niat serius kepada kedua orang tuanya. Bukan sekadar bertamu, melainkan datang untuk meminangnya.

Namun, berkali-kali pula Mellisa menolak.

Bukan karena Riza lelaki yang buruk. Justru sebaliknya. Riza dikenal sebagai lelaki mapan, baik, dan sangat menyayangi Mellisa. Hanya saja, hati Mellisa sudah lebih dulu diberikan kepada orang lain.

Handoko.

Kakak tingkatnya di kampus.

Hubungan mereka memang belum sampai pada pernikahan, tetapi bagi Mellisa, Handoko adalah lelaki yang ingin dia jadikan suaminya kelak. Mereka sudah membicarakan masa depan, tentang pekerjaan, rumah kecil yang ingin mereka bangun, bahkan tentang keluarga yang suatu hari ingin mereka miliki.

Karena itulah setiap kali Riza datang melamar, Mellisa selalu menolaknya.

Hingga sore itu, kedua orang tuanya akhirnya meminta Mellisa duduk bersama mereka di ruang keluarga.

Ayahnya menatap putrinya cukup lama sebelum akhirnya membuka suara.

"Mel, ayah dan ibu harus bagaimana?”

Mellisa yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat wajah.

"Ada apa, Yah?”

"Itu Nak Riza datang lagi. Katanya dia serius mau meminang kamu.”

Mellisa menarik napas panjang. Dia sudah menduga pembicaraan ini akan kembali muncul.

"Masalahnya, saya sudah punya calon, Yah, Bu.”

Ibunya yang duduk di samping ayahnya langsung menatapnya. "Calon?”

Mellisa mengangguk. "Mas Handoko.”

Nama itu terucap dengan mantap, meskipun ada sedikit kegugupan yang tersembunyi di balik suaranya.

Ayahnya bersandar di sofa. "Kalau begitu, bawa dia ke sini!”

Mellisa terdiam.

"Biar ayah dan ibu kenalan.”

"Tapi, Yah...”

"Tidak ada tapi-tapian.”

Nada suara ayahnya tegas, tetapi tidak terdengar marah. Justru ada kesungguhan yang membuat Mellisa tidak bisa menghindar.

"Kalau memang kamu sudah punya calon suami, kenapa selama ini tidak pernah kamu bawa ke rumah?”

Mellisa menunduk. "Karena kami masih kuliah, Yah.”

"Lalu?”

"Kami belum siap membicarakan pernikahan.”

Ayahnya menghela napas pelan. "Mel, ayah dan ibu tidak pernah memaksa kamu menikah dengan siapa pun. Termasuk Nak Riza.”

Mellisa mendongak.

"Tapi kalau kamu memang sudah punya pilihan, ayah ingin mengenal lelaki itu. Ayah ingin tahu siapa orang yang membuat kamu begitu yakin menolak Nak Riza berkali-kali.”

Ibunya kemudian menggenggam tangan Mellisa.

"Bawa Handoko ke sini!”

"Tapi bagaimana kalau Ayah tidak menyukainya?”

Ayahnya tersenyum tipis. "Kalau dia memang lelaki yang baik dan benar-benar mencintai kamu, ayah akan pertimbangkan.”

"Benarkah?”

"Tentu.”

Ayahnya menatap Mellisa lekat-lekat. "Bahkan ayah dan ibu bisa menolak lamaran Nak Riza kalau alasannya masuk akal. Kamu sudah memiliki calon suami. Kami hanya perlu tahu, apakah calonmu itu benar-benar serius atau tidak.”

Mellisa terdiam. Ada kelegaan yang perlahan memenuhi dadanya. Kali ini, jalan menuju hubungan yang selama ini dia perjuangkan bersama Handoko terasa terbuka.

Mellisa menarik nafas, sebuah masa lalu yang seharusnya sudah terkubur, perlahan akan kembali ke permukaan.

Setelah pembicaraan dengan kedua orang tuanya selesai, Mellisa segera bangkit dan menuju kamarnya.

Ada perasaan lega yang memenuhi dadanya. Untuk pertama kalinya, dia merasa tidak perlu lagi bersembunyi tentang hubungannya dengan Handoko. Ayah dan ibunya bahkan meminta dia membawa Handoko pulang dan memperkenalkannya kepada mereka.

Mellisa ingin segera mengabarkan kabar itu kepada lelaki yang selama ini dia cintai.

Begitu sampai di kamar, dia mengambil ponselnya lalu mencari nama Handoko. Panggilan pertama tidak tersambung. Mellisa mencoba lagi. Tidak tersambung. Sekali lagi. Tetap tidak ada jawaban.

"Ke mana sih, Mas?” gumamnya pelan.

Dia mencoba beberapa kali, tetapi hasilnya sama. Tak satu pun panggilannya berhasil tersambung.

Perasaan tidak enak mulai muncul. Mellisa kemudian mencoba menghubungi beberapa teman Handoko di kampus. Namun, tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan Handoko.

"Enggak tahu, Mel. Dari kemarin aku juga enggak ketemu Handoko.”

Jawaban itu justru membuat Mellisa semakin gelisah.

Akhirnya, setelah cukup lama berpikir, dia memberanikan diri menelepon ke rumah Handoko.

Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.“Assalamualaikum, bisa bicara dengan Mas Handoko?”

"Wa'alaikumsalam. Maaf, Mbak. Mas Handoko dan keluarga sedang keluar.”

Mellisa langsung duduk di tepi ranjang.“Oh... sedang keluar ke mana, ya?”

"Ke Solo, Mbak.”

"Ke Solo?”

"Iya.”

Mellisa terdiam sejenak. "Untuk urusan apa?”

Suara perempuan di seberang terdengar santai, seolah jawaban yang akan diberikannya bukan sesuatu yang mampu menghancurkan hati seseorang. "Lagi ke Solo, melamar kekasih hatinya.”

Mellisa membeku. Untuk beberapa detik, dia bahkan seperti lupa bagaimana caranya bernapas.

"Apa?”

"Mas Handoko melamar kekasihnya, Mbak.”

Tangan Mellisa yang memegang ponsel mulai gemetar. "Melamar... kekasihnya?”

"Iya, Mbak. Melamar anak sultan di Solo.”

Kalimat itu terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Anak sultan. Kekasih hati.

Melamar. Semua kata itu berputar-putar di dalam pikirannya.

Padahal baru beberapa menit lalu dia begitu bahagia. Dia bahkan sudah membayangkan bagaimana nanti Handoko duduk di hadapan ayah dan ibunya, memperkenalkan diri sebagai lelaki yang ingin menikahinya.

Ternyata lelaki itu sedang berada di tempat lain.

Melamar perempuan lain.

"Mbak? Ini dengan siapa, ya? Biar nanti saya sampaikan kepada Mas Handoko kalau sudah pulang.”

Mellisa tidak menjawab. Air matanya tiba-tiba jatuh. Dia buru-buru memutus sambungan telepon. Ponsel itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke atas kasur.

"Enggak...”

Suara Mellisa bergetar. "Enggak mungkin...”

Dia menggeleng berkali-kali, seolah dengan begitu semua yang baru saja didengarnya bisa berubah menjadi kebohongan. "Mas Handoko enggak mungkin...”

Namun, semakin dia berusaha menyangkal, semakin jelas pula suara perempuan tadi terngiang di kepalanya.

*Mas Handoko melamar kekasih hatinya.*

Mellisa menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.

Dia meraung-raung di atas ranjang, seolah seluruh kebahagiaan yang baru saja tumbuh di dadanya direnggut paksa dalam sekejap.

"Mas Handoko...”

Namanya keluar bersama isak tangis yang semakin menjadi. "Kenapa, Mas?”

Mellisa memeluk bantal erat-erat. Padahal selama ini dia percaya. Dia percaya bahwa Handoko adalah masa depannya. Dia percaya bahwa lelaki itu mencintainya sama seperti dirinya mencintai Handoko.

Bahkan demi lelaki itu, berkali-kali dia menolak lamaran Riza. Namun hari itu, Mellisa mulai menyadari bahwa mungkin hanya dirinya yang selama ini menganggap hubungan mereka sebagai sebuah masa depan. Dan kesadaran itulah yang membuat tangisnya semakin pecah.

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!