Indonesia
NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Ketajaman dalam Ketenangan

Langkah kaki Bayu dan Dimas bergaung pelan di sepanjang koridor lantai dua yang mulai lengang. Di depan pintu kaca ruang perawatan intensif, keduanya kembali menduduki kursi besi tempat mereka menghabiskan jam-jam paling mencekam pagi tadi. Namun, suasana di antara mereka kini terasa jauh berbeda. Rasa cemas berlebihan yang sempat memenuhui udara di lorong tersebut telah menguap seutuhnya.

Dimas menyandarkan punggungnya ke dinding tile yang dingin, lalu memutar kepalanya menatap Bayu dari samping. Ia memperhatikan setiap detail kecil pada ekspresi sahabatnya itu.

"Bay," panggil Dimas pelan.

"Iya, Dim? Ada apa?" jawab Bayu seraya memasukkan ponsel Android-nya ke dalam saku jaket lusuhnya.

"Lu... kerasa beda banget sekarang," kata Dimas, matanya memicing meneliti.

Bayu mengerutkan dahi tipis, membetulkan letak kacamatanya. "Beda bagaimana maksudmu?"

"Tadi pagi, waktu dokter keluar dari UGD dan bilang biaya deposit rumah sakit, muka lu pucat pasi. Tangan lu gemetaran parah, bahu lu bungkuk kayak orang yang ketimpa beban seisi bumi," urai Dimas panjang lebar. "Tapi sekarang... lu beda total, Bay."

"Bedanya di mana?" tanya Bayu santai.

"Gaya bicara lu, tatapan mata lu, bahkan cara lu duduk sekarang," jelas Dimas sambil menunjuk dada Bayu. "Lu tenang banget. Tenang yang bukan pasrah, tapi tenang kayak jenderal perang yang sudah tahu pasti bakalan menang sebelum pertempuran dimulai. Lu kelihatan fokus banget."

Bayu menghembuskan napas perlahan melalui hidung, menatap pintu kaca ruang ICU tempat ibunya berbaring. "Mungkin karena ketakutan terbesarku hari ini sudah terlewati, Dim."

"Bukan cuma itu," sanggah Dimas cepat. "Gue kenal lu dari awal masuk kuliah. Lu memang pintar, tapi biasanya lu selalu ragu-ragu dan defensif karena kepikiran kondisi finansial dan penyakit Tante. Sekarang, pas masalah rumah sakit lunas dan lu punya Jarvis... aura lu berubah total. Ketampanan yang biasanya lu sembunyikan di balik sikap minder lu itu malah mulai kelihatan."

Bayu tersenyum tipis. "Aku tidak merasa berubah, Dim. Aku hanya merasa... pandanganku jadi jauh lebih jernih."

Ponsel di saku Bayu bergetar pelan. Suara Jarvis terdengar halus melalui pengeras suara ponsel yang volumenya sudah disesuaikan agar tidak mengganggu ketenangan lorong.

"Analisis biometrik mengonfirmasi observasi Dimas," panggil Jarvis jernih. "Frekuensi detak jantung Bayu saat ini berada pada angka enam puluh delapan ketukan per menit, turun empat puluh dua persen dari kondisi puncak stres pagi tadi. Gelombang fokus kognitif menunjukkan stabilitas penuh."

Dimas terkekeh bangga mendengar konfirmasi dari Jarvis. "Tuh kan! Jarvis saja setuju sama analisis gue! Lu beneran berubah, Bay."

"Jarvis, terima kasih atas datanya," sahut Bayu pelan. Ia lalu kembali memandang Dimas. "Jujur saja, Dim. Selama ini kemiskinan dan rasa takut kehilangan Ibu membuat otakku selalu berada dalam mode bertahan hidup. Aku selalu bertindak responsif atas tekanan dari luar."

"Dan sekarang?" pancing Dimas antusias.

"Sekarang, dengan keberadaan Jarvis dan kepastian bahwa aku bisa menghasilkan pendapatan yang layak secara terukur, aku tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan," urai Bayu tegas, matanya berbinar di balik kacamata tebalnya. "Aku bisa mengalihkan seluruh kapasitas otakku untuk merencanakan masa depan. Bukan cuma bertahan hidup, tapi mengambil alih kendali."

"Gokil..." bisik Dimas terperangah. "Kalimat 'mengambil alih kendali' itu terdengar keren banget keluar dari mulut lu, Bay. Jadi, apa rencana lu setelah ini?"

Bayu memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke depan. "Fokus utamaku tetap Ibu. Begitu kondisi Ibu benar-benar stabil dan dipindahkan ke ruang perawatan biasa, aku akan minta izin dokter untuk menyewa kamar perawatan yang jauh lebih layak daripada kontrakan kita sekarang."

"Soal biaya?" tanya Dimas. "Lu mau pakai Jarvis buat transaksi saham lagi?"

"Iya, tapi secara terukur dan berhati-hati," jawab Bayu mendetail. "Kita tidak boleh serakah. Transaksi saham dengan keuntungan melonjak tajam dalam waktu singkat bisa memicu kecurigaan otoritas pasar jika dilakukan tanpa pola yang rapi. Jarvis akan merancang portofolio investasi yang tersebar di beberapa instrumen agar arus kas kita terlihat alami."

"Strategi efisien," timpal Jarvis dari balik saku. "Saya telah menyusun algoritma diversifikasi modal dengan tingkat risiko di bawah nol koma satu persen. Transaksi akan dilakukan secara bertahap untuk menjaga profil finansial Anda tetap berisiko rendah dari pengawasan regulator."

Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya penuh rasa takjub. "Gue bener-bener berasa lagi ngobrol sama pengusaha sukses dan asisten pribadi kelas dunianya. Beda banget sama waktu kita nongkrong di kantin kampus kemarin lusa."

"Di kampus, semuanya harus tetap berjalan seperti biasa, Dim," potong Bayu dengan nada memperingatkan.

Dimas menaikkan alisnya. "Maksud lu? Lu masih mau berpenampilan begini?"

"Tepat," tegas Bayu. "Perubahan status finansial kita yang mendadak bisa memancing perhatian yang tidak perlu. Terutama dari orang seperti Nadeo."

Mendengar nama Nadeo, wajah Dimas langsung menyipit gusar. "Ah, si bajingan itu. Besok kita ada kelas praktikum lagi kan? Lu yakin bisa tahan kalau dia mulai mengganggu lu lagi seperti kemarin?"

Bayu menatap Dimas dengan raut wajah yang sangat tenang, tanpa ada sedikit pun kilatan amarah atau sakit hati di matanya.

"Nadeo bukan lagi ancaman buatku, Dim," kata Bayu datar namun sarat keyakinan. "Dulu tindakannya bisa menyakitiku karena aku merasa rendah diri dan terdesak oleh keadaan. Tapi sekarang? Cemoohannya hanyalah kebisingan kecil yang tidak berdampak apa pun pada hidupku. Aku tidak akan membuang energi untuk melayani kesombongannya."

Dimas menatap sahabatnya cukup lama, lalu menghembuskan napas kagum. "Lu beneran sudah naik kelas secara mental, Bay. Dulu gue yang selalu berantem buat lindungi lu. Tapi sekarang, gue rasa lu sendiri sudah punya perisai yang tidak bisa ditembus sama siapa pun."

"Kamu tetap sahabat terbaikku yang selalu ada di saat paling sulit, Dim," ujar Bayu tulus seraya menepuk bahu Dimas. "Tanpa bantuan dan ketulusanmu pagi tadi, aku dan Jarvis mungkin tidak akan sampai di titik ini."

Dimas tersenyum lebar, merangkul leher Bayu santai. "Sudah, jangan bikin gue terharu lagi. Yang penting sekarang lu sudah tenang, Tante aman, dan kita punya Jarvis."

"Iya, Dim," sahut Bayu tersenyum hangat.

Keduanya kembali duduk berdampingan di lorong rumah sakit. Di balik penampilannya yang masih sangat sederhana, Bayu Anggara kini berdiri di atas fondasi mental dan ketenangan baru yang kokoh. Pandangannya tajam menatap masa depan, siap melangkah dengan kepastian penuh bersama kecerdasan buatan di genggamannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!