Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"MaafkanMas, Kin... Maafkan Mas," bisik Arka dengan suara yang sarat akan rasa sakit dan penyesalan mendalam.
Kinanti menunduk, menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. "Mas... tolong katakan yang sebenarnya."
Arka mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Kinanti. Matanya sendiri kini memerah menahan emosi yang selama berkat-tahun ia pendam rapat-rapat.
"Dulu... sebelum Mas ketemu kamu, hidup Mas sangat kelam," kata Arka dengan nada suara lirih. "Mas tumbuh di dunia keras, terlibat sama orang-orang berbahaya, dan ngelakuin hal-hal yang nggak seharusnya Mas lakukan. Dulu Mas punya kekuasaan, Mas dipanggil dengan sebutan itu... tapi hidup Mas kosong dan penuh ketakutan."
Kinanti menahan napas, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut suaminya.
"Sampai akhirnya Mas ketemu kamu," lanjut Arka, air mata tipis menggenang di sudut matanya. "Saat pertama kali melihat kamu tersenyum di warung makan kecil itu, Mas tahu Mas ingin berubah. Mas Ninggalin semua dunia kelam itu, Mas lepas semua kekayaan dan kekuasaan itu, hanya untuk bisa hidup sederhana jadi orang biasa sama kamu."
Arka menggenggam kedua tangan Kinanti, mengecupnya berkali-kali penuh rasa takut akan kehilangan. "Mas jualan cilok bukan cuma buat kedok, Kin. Mas ingin memberikan rezeki yang benar-benar bersih buat kamu. Semua luka di tubuh Mas adalah sisa dari masa lalu kelam itu. Mas sengaja bohong karena Mas takut kamu jijik... Mas takut kamu meninggalkan Mas kalau tahu betapa kotornya masa lalu Mas."
Isak tangis Kinanti pecah mendengar pengakuan tulus itu. Hatinya luluh seketika. Rasa Takut dan marahnya menguap, berganti menjadi rasa haru dan kepedihan mendalam membayangkan penderitaan yang harus ditanggung suaminya sendirian demi bisa bersamanya.
Kinanti ikut berlutut, merengkuh kepala Arka dan memeluknya erat-erat. "Mas Arka... kenapa nggak cerita dari awal? Aku nggak peduli masa lalu Mas kayak apa... yang aku tau Mas Arka itu suami yang sangat baik buat aku..."
Arka membalas pelukan itu dengan sangat erat, menghirup aroma tubuh istrinya yang menjadi satu-satunya tempat perhentian dan kedamaian dalam hidupnya. "Terima kasih, Kin... Terima kasih."
Namun, momen haru dan emosional di antara mereka mendadak terputus.
Brak!
Suara ketukan keras bergema dari pintu depan rumah mereka, diikuti suara deru mesin mobil berkapasitas besar yang berhenti tepat di halaman depan.
Seseorang dari luar berteriak dengan nada mengancam yang amat dingin: "Tuan Arka! Keluar lu! lu pikir lu bisa ngancurin Red Dragon gitu aja tanpa bayar harganya?!"
Arka langsung melepaskan pelukannya. Wajah hangat penuh penyesalan itu berubah seketika menjadi dingin, tajam, dan siap membunuh dalam hitungan milidetik. Pria itu bangkit berdiri, menyembunyikan Kinanti di belakang tubuh tegapnya.
Suara ketukan kasar di pintu depan bergetar makin heboh, diselingi gedoran kaki yang nyaris merobohkan kayu pintu yang rapuh. Kinanti menyergap lengan baju Arka, tubuhnya gemetar hebat ketakutan.
"Mas... siapa orang-orang itu? Mereka bawa senjata?" bisik Kinanti dengan suara tercekat, air matanya menetes lagi.
Arka memegang bahu Kinanti dengan kedua tangannya, menatap tepat ke dalam mata istrinya. Sorot matanya sangat hangat, tenang, dan meyakinkan seolah-olah kepungan musuh di luar tidak ada artinya sama sekali.
"Kin, dengerin Mas," bisik Arka sangat lembut. "Masuk ke dalam kamar, kunci pintunya dari dalam. Jangan keluar sampai Mas yang mengetuk pintu tiga kali. Oke?"
"Tapi Mas Arka gimana?!" tangis Kinanti pecah. "Aku nggak mau Mas kenapa-napa!"
"Mas nggak akan kenapa-napa, Sayang. Percaya sama Mas," ucap Arka penuh keyakinan. Ia mengecup dahi Kinanti hangat, lalu mendorong pelan tubuh istrinya ke arah kamar.
Begitu pintu kamar terkunci dari dalam, kehangatan di wajah Arka menguap sepenuhnya. Pria itu berbalik arah. Dengan langkah tenang yang sangat presisi, ia merogoh bagian bawah meja tamu, menarik sebuah tombol tersembunyi yang melepaskan dinding kayu tipis. Di sana, tersimpan senapan mesin taktis berperedam suara dan sepasang pisau sangkur.
CRACK!
Pintu depan rumah akhirnya hancur dihantam tendangan keras dari luar.
Tiga pria berbadan tegap mengenakan pakaian serba hitam dan rompi anti-peluru melangkah masuk dengan senjata api terkokang di tangan. Di belakang mereka, berdiri seorang pria paruh baya berwajah bengis dengan bekas luka bakar di lehernya pemimpin tertinggi klan Red Dragon yang tersisa.
"Akhirnya kita kita ketemu secara langsung, Orang yang disebut sebut sebagai Tuan," desis pria berbekas luka itu dengan senyum culas. "lu pikir dengan ngebantai anak buah gue di pelabuhan, lu bisa idup tenang jadi rakyat jelata sama istri manja lu itu?"
Arka berdiri tegak di tengah ruang tamu sempitnya. Tangannya menggenggam senapan taktis dengan santai, namun posisi tubuhnya begitu sempurna untuk mengesekusi musuh dalam hitungan milidetik.
"Kalian udah ngelanggar aturan utama," kata Arka dengan suara yang begitu dingin, gema suaranya seperti merambat di ubin semen yang basah. "Siapa pun yang ngusik rumah ini... ngga akan pernah keluar dalam keadaan bernapas."
Pria berbekas luka itu tertawa mengejek. "emang lu setara ama gua hah,"
" BUNUH DIA"Teriaknya.
Pftt! Pftt! Pftt!
Sebelum tiga anak buah Red Dragon sempat menarik pelatuk senjata mereka, Arka melompat ke samping, menggunakan meja kayu tebal sebagai pelindung, lalu membalas tembakan dengan kecepatan kilat. Tiga peluru presisi menembus dada ketiga pria tegap itu sekaligus.
Brukk Brukk Brukk
Mereka roboh seketika, darah mereka mengalir membanjiri lantai ruang tamu.
Pria berbekas luka itu terperanjat, matanya membelalak tak percaya melihat anak buah terhebatnya tumbang dalam hitungan detik.
"Hebat juga lu" Puji pria itu sambil menjilat pisau ditangan nya.
Tanpa berpikir panjang, ia mengayunkan pisau dan menyerbu Arka secara membabi buta.
Sring! Sring! Sring!
"Bwahahahah mati lu baj*ng*n"
Di balik pintu kamar yang terkunci, Kinanti membekap mulutnya rapat-rapat. Suara benturan keras, dentuman tembakan teredam, dan erangan kesakitan di ruang tamu membuat dadanya bergemuruh hebat karena rasa takut yang membakar.
"Mas Arka.. "batinnya khawatir, ia takut kehilangan suaminya.
Pria berbekas luka bakar itu menerjang maju dengan raungan penuh dendam." lu udah bunuh anak buah gua anj*ng,sekarang nyawalu sebagai bayarannya "
Pisau kecil di tangannya ditebas berkali-kali ke arah leher dan dada Arka secara membabi buta.
Namun, Arka bergerak jauh lebih cepat. Bagaikan bayangan, ia memiringkan tubuhnya presisi, membiarkan mata pisau musuh hanya menyabet udara kosong. Dengan satu cengkeraman cepat, Arka memutar pergelangan tangan musuh hingga terdengar bunyi krek yang ngilu. Pisau komando itu terlepas dan jatuh berdenting di lantai.
Bersambung...