Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Sang Ophelia

Takdir Sang Ophelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Ashe Lepidoptera

Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.

Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.

Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.

Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Ophelia memandang cermin. Bengkak di pipinya mulai menjadi kehijauan, artinya sebentar lagi hilang. Sedangkan di lengan... sepertinya masih agak lama. 

Dia masih beruntung sebenarnya, sampai sekarang pembullyan yang terjadi tidak dilakukan langsung oleh Reine. Jika dengan iblis satu itu, mungkin sekarang Ophelia tidak akan bisa bangun dari tempat tidur. 

Tapi yang aneh adalah Chelsea.

Dulu ketika pulang ke rumah dia akan melakukan berbagai cara untuk membuat Ophelia menderita. Saat ini dia seakan tidak menganggap Ophelia ada. 

Itu bagus. Jadi ia tidak tersiksa dua kali.

Sekarang kembali ke kecelakaan Airin.

Ophelia memandang kertas di depannya sembari memutar pulpen seperti biasa. Ini sudah minggu kedua di semester baru, tapi tidak ada tanda-tanda apapun.

Airin masih berangkat dan pulang bersama dengan Kaiser. Bawahan Reine yang biasanya sering keceplosan juga tidak mengatakan apa-apa. 

Kondisinya terlalu tenang. 

Terlalu tenang sampai terasa mencurigakan. 

Ophelia membuka ponsel, melihat kontaknya yang hanya berisi Airin, Kaiser dan Reine. Dulu ia meminta nomor iblis itu pada Chelsea untuk mendekatinya, tapi pesannya sama sekali tidak dibalas. 

Ia bahkan diblokir. 

“Tidak ada kesempatan sama sekali ya?” gumamnya. 

Padahal Reine belum muncul untuk membully-nya langsung jadi Ophelia kira dia akan sama dengan Chelsea. 

Sekarang ia mesti bagaimana? Kecelakaan Airin tidak bisa dicegah jika dia tidak tahu kapan terjadinya. 

Atau jangan-jangan, dia memang tidak bisa diselamatkan?

Ophelia berdecak kesal dan berjalan keluar kamar. Lebih baik dia mengambil es dan mengompres bengkaknya lalu tidur. Kepala dan tubuhnya sama-sama sakit—

Hm? Macaron?

Di dalam kulkas kecil itu ada beberapa macaron warna-warni. Kalau tidak salah ini dessert kesukaan Chelsea. Sepertinya Randi memberinya hadiah atas sesuatu. 

Ophelia hanya melihat makanan itu sekilas dan mengambil dua kantung es.

“Kenapa lama sekali? Minggir.” 

Oh, orangnya datang.

Ophelia tidak mengatakan apapun dan memberikan jalan agar kakak angkatnya ini bisa mengambil apa yang dia mau. Tapi sudah bergeser pun, Chelsea tetap menabraknya hingga es yang ia pegang terjatuh. 

Ah, jangan bilang penyiksaannya dimulai dari sekarang? 

“Makanya hati-hati kalau jalan, macaronku jadi jatuh ‘kan!” 

Ophelia berjongkok, berniat mengambil es ketika Chelsea ikut berjongkok juga.

Eh? 

Dengan cepat, Chelsea menyelipkan bungkusan macaron itu di tangan Ophelia.

“Anggap saja ini bayaran lemon tart waktu itu,” bisiknya cepat sebelum berdiri dan langsung pergi. 

Ophelia terdiam. Chelsea bahkan menumpuk es di tangannya agar macaron itu tidak kelihatan. Apa barusan juga dia menabrak untuk menghalangi CCTV? 

Ketika kembali ke kamar, ia melihat beberapa macaron warna-warni itu dalam diam. 

“Hm,” gumam Ophelia. 

Bayaran atas lemon tart katanya. 

Ophelia duduk di atas kasur kemudian mengompres lengan dan pipinya. Ia juga memakan macaron itu satu persatu, mencoba membedakan setiap rasa yang masuk ke mulutnya.

...manis. 

Ia menghela nafas. 

Dessert yang terlalu manis begini, sama sekali tidak cocok untuknya. 

...****************...

“Ketua sama wakil ketua kelas dipanggil ke ruang guru tuh!”

Ophelia yang menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan menguap kecil. Jam istirahat baru akan dimulai. Jika dia dipanggil guru begini, mungkin saja hari ini tidak akan ada pembullyan apa-apa. 

Semoga begitu. 

Seorang laki-laki yang berdiri dari bangkunya menghampiri Ophelia. Dia menaikkan kacamata sembari berkata, “Ayo.”

Ophelia sendiri tidak tahu bagaimana bisa dia terpilih menjadi wakil ketua kelas. Di kehidupan dia sebelumnya dia cuma jadi murid biasa. 

Kenapa perubahannya banyak sekali? 

Pertama sikap Chelsea, kedua ini. Ophelia merasa belum mengubah apapun agar itu semua terjadi. 

“Ibu nggak akan bisa masuk di jam selanjutnya, kerjakan lembar soal ini dan kumpulkan di meja Ibu begitu jamnya beres. Mengerti?” 

Si laki-laki berkacamata itu mengangguk dan menerima tumpukan kertas itu. Ketika Ophelia mau mengambil setengahnya, ia hanya diberi beberapa lembar. 

“Lenganmu masih sakit ‘kan?” ujarnya. 

Ophelia menyipitkan mata. Kenapa dia tahu? 

“Oh, kita lewat sini aja. Agak memutar, tapi aku ada urusan dulu sebentar.” 

“Kalau begitu aku duluan.” Ophelia berjalan ke lorong yang seharusnya ketika ujung jasnya ditarik pelan. 

Si ketua kelas terlihat tersenyum. “Urusannya berkaitan juga denganmu.” 

Kok bisa?

Dia bawahannya Reine kah? Ini pembullyan jenis baru? 

Pemuda itu berjalan lambat, ia seperti anak TK yang baru pertama kali diajak ke taman safari karena berkomentar tentang apapun yang mereka lewati. Tangga yang mau di cat, gedung yang terlihat tidak tau apa fungsinya sampai tempat sampah baru pun dia tunjuk. 

Orang ini kenapa? 

Kalau mereka berjalan selambat ini dan tetap berkeliling sekolah bisa-bisa jam istirahat selesai. 

Ophelia jadi dibully atau tidak?

“Oh, kantin. Kamu mau beli sesuatu dulu?” tanyanya. 

Ophelia menjawab singkat. “Aku bawa bekal.” 

“Tapi kayaknya nggak akan bisa kamu makan. Waktu kita sampai ke kelas mungkin jam istirahat udah selesai. Tunggu bentar ya?” 

Pemuda itu membuat Ophelia duduk dan menyimpan tumpukan lembar soal di kursi sebelahnya. Dia berlari masuk ke kantin, kemudian keluar lagi membawa dua sandwich ayam dan dua minuman lalu memberikannya masing-masing satu pada Ophelia. 

“Berapa?” tanyanya sembari mengeluarkan dompet. 

“Tidak usah, aku yang traktir.” 

Ophelia langsung menghitung roti dan minuman itu kemudian mengeluarkan uang yang pas dari dompetnya. “Ini.” 

“Nggak usah.” 

“Aku memaksa.” Ia menyimpan uang itu langsung di tangan si ketua kelas. “Terima kasih rotinya.” 

Pemuda di sebelahnya menghela nafas dan bergumam. “Sama-sama.” 

Mereka memakan roti itu dalam diam. Ophelia mencoba menerka berapa banyak kalori di dalam sandwich itu sebelum memakannya perlahan. Semoga berat badannya tidak naik cuma karena makanan cepat saji begini. 

Setiap hari dia diberi bekal salad dan dada ayam seperti biasa. Ophelia tetap diberi uang jajan sih, walaupun Randi menegaskan kalau mereka dilarang membeli makanan apapun diluar rumah.

Tapi persetan. Asalkan berat badannya tidak naik mungkin tidak apa-apa.

Ketika memakan roti itu, ia teringat sesuatu. Hari ini dia tidak melihat Airin. 

Ophelia pergi begitu jam istirahat dimulai, mungkin gadis itu sedang mencarinya sekarang. Membuka ponsel, ia melihat beberapa notifikasi di aplikasi chatnya. Spam dari Airin terlihat ada disana. 

Kata-kata seperti, “Kaiser nyebelin!” dan beberapa ocehan yang dilontarkan anak itu pada Kaiser memenuhi pesan Ophelia. Ia hanya bisa tersenyum kecil sampai membaca pesan terakhir yang ada disana. 

Airinnn^^

Dia ada urusan keluarga sih, jadi aku nggak pulang bareng dia hari ini. Aku juga diajak temanku buat pergi ke toko buku. Kamu mau ikut? 

Ophelia menatap ponsel di tangannya dengan tatapan tajam. 

Inikah saatnya? 

1
aku
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!