Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Kehebohan di Acara Syukuran Batalyon

BAB 9: Kehebohan di Acara Syukuran Batalyon

Sabtu malam, suasana di Aula Utama Batalyon mendadak riuh dan bercahaya. Setelah sukses menyelesaikan latihan taktis di hutan tanpa kendala berarti, markas mengadakan acara syukuran dan panggung prajurit sederhana. Banner besar bertuliskan

"Syukuran & Silaturahmi Keluarga Besar Batalyon" terbentang anggun di panggung utama, diapit oleh bendera-bendera petaka yang berdiri megah.

Seluruh anggota Batalyon hadir bersama keluarga mereka.

Para perwira tampil gagah mengenakan seragam Pakaian Dinas Harian (PDH) yang rapi, sementara para istri pejabat Persit tampak anggun dengan pakaian seragam merah muda khas organisasi militer tersebut.

Di antara deretan tamu undangan sipil dari lingkungan kompleks, Mayang hadir bersama Mbak Rina. Malam ini, Mayang tampil cukup beda.

Ia mengenakan gaun kasual berwarna biru muda yang dipadu dengan kacamata tebal berbingkai hitam favoritnya. Ukiran kayu bunga kemuning pemberian Mayor Aris beberapa hari lalu tersimpan rapi di dalam tas kecilnya, dijadikan jimat keberuntungan.

"Mayang, Mbak minta tolong dengan sangat," bisik Mbak Rina setengah memohon saat mereka baru saja melewati pintu masuk aula.

"Malam ini ada Komandan Korem dan pejabat-pejabat senior. Tolong rem sedikit kelakuan ajaibmu itu. Jangan sampai Pak Mayor Aris kena tegur atasan gara-gara kamu."

Mayang menepuk dadanya mantap.

"Tenang, Mbak Rina Ku Sayang! Mayang malam ini bakal anggun seperti putri kerajaan. Tidak akan ada aksi loncat-loncat, janji!"

Namun, baru saja janji manis itu diucapkan, mata Mayang langsung menangkap sosok pria bertubuh tegap di dekat panggung utama. Mayor Aris berdiri gagah di sana, tengah mengobrol bersama Kolonel Hendra—Komandan Korem yang datang sebagai tamu kehormatan—dan Ibu Komandan Korem. Seragam PDH yang dikenakan Aris membuat dadanya yang bidang dan bahunya yang tegap makin terpancar jelas.

Rambut rapinya yang klimis dipadu wajah tegas maskulin sukses membuat dada Mayang berdesir hebat.

"Astaga... Mas Mayor malam ini kegantengannya tidak berkemanusiaan sekali," batin Mayang histeris sambil memegangi dadanya.

Tidak tahan hanya melihat dari kejauhan, Mayang pelan-pelan menggeser langkah kakinya mendekati area meja prasmanan perwira, membiarkan Mbak Rina yang sedang keasyikan mengobrol dengan tetangga sebelah.

Di dekat panggung, Kolonel Hendra tertawa tebal sambil menepuk bahu Mayor Aris.

"Aris, pimpinan sangat puas dengan hasil latihan taktis pasukanmu kemarin. Disiplin Batalyon ini memang tidak perlu diragukan lagi."

Mayor Aris memberikan hormat singkat dan sopan.

"Siap, Terima kasih, Komandan. Ini semua berkat kerja keras seluruh prajurit di lapangan."

"Tapi ya, Aris..." sela Ibu Kolonel dengan senyum menggoda, "...kamu ini Komandan muda, prestasi cemerlang, wajah tampan, tapi kok sampai sekarang masih betah membujang?

Kapan Batalyon ini punya Ibu Ketua Persit baru?"

Mayor Aris berdeham pelan. Wajahnya yang kaku mendadak canggung.

"Anu, Ibu... saat ini fokus saya masih penuh untuk pengabdian dan tugas Batalyon."

"Ah, alasan klasik perwira Bujang!" gelak Kolonel Hendra.

Tepat di saat situasi pembicaraan perjodohan kaku itu terjadi, Mayang yang sedang berjalan memutari meja prasmanan membawa piring berisi buah segar mendadak kehilangan keseimbangan. Salah satu tumit sepatu flat-nya tersangkut lipatan kain taplak meja prasmanan yang menjuntai ke lantai!

"Aaa... aduh!" jerit Mayang refleks.

Tubuh Mayang limbung ke depan, meluncur deras tepat ke arah rombongan Komandan Korem dan Mayor Aris!

Dengan refleks militer tingkat tinggi yang luar biasa cepat, Mayor Aris yang mendengar jeritan itu langsung berbalik badan, pasang badan, dan menangkap tubuh Mayang sebelum gadis itu menghantam lantai dingin aula!

Sreeek!

Tangan kanan kekar Mayor Aris merengkuh pinggang Mayang dengan kokoh, sementara tangan kirinya secara refleks menahan piring buah Mayang agar tidak tumpah mengenai seragam dinas seniornya. Kacamata tebal Mayang meluncur turun di pangkal hidungnya, membuat pandangan mereka bertemu secara intim dari jarak yang sangat dekat.

Suasana di area sekitar panggung mendadak hening seketika. Musik latar panggung seolah-olah mendadak meredup.

Mayang berkedip beberapa kali di balik kaca lensanya, menatap rahang tegas dan mata hitam pekat Mayor Aris yang menatapnya dengan raut pusing bercampur kaget.

"Mas Mayor..." bisik Mayang polos, wajahnya berjarak tak sampai lima sentimeter dari dada Aris.

"Penangkapannya keren banget! Bintang lima buat pertolongan pertamanya!"

Mayor Aris menarik napas panjang, berdeham keras-keras, lalu segera menegakkan kembali tubuh Mayang hingga gadis itu berdiri tegak di atas kedua kakinya.

Rona merah di ujung telinga Aris seketika menjalar panas hingga ke pipi dan lehernya.

"Mayang..." suara bass Aris terdengar sangat dalam dan pelan, menahan malu yang amat sangat.

"Sudah saya katakan, berjalan itu pakai mata dan fokus."

Kolonel Hendra dan istrinya yang menyaksikan adegan romatis nan dramatis itu terperangah sejenak, sebelum akhirnya tertawa lepas dengan sangat renyah.

"Oh! Jadi ini alasannya kenapa Mayor Aris tidak mau dijodoh-jodohkan?" goda Kolonel Hendra sambil tertawa berkacak pinggang.

"Siapa gadis berkacamata yang lincah ini, Aris?"

Wajah Mayor Aris makin memerah padam. Beliau merapikan seragam PDH-nya yang sedikit tersingkap, lalu bermaksud menjelaskan status Mayang secara formal.

"Lapor, Komandan. Ini... warga kompleks, tetangga di depan rumah dinas saya. Namanya Mayang."

Mayang yang tidak punya urat malu seketika melangkah maju satu tapak, merapikan letak kacamatanya, lalu memberikan hormat kaku yang asal-asalan namun menggemaskan ke arah Kolonel Hendra.

"Selamat malam, Bapak Komandan Korem yang terhormat!" sapa Mayang penuh semangat.

"Saya Mayang! Lebih tepatnya: Calon Ibu Ketua Persit Batalyon di masa depan yang sedang dalam tahap pendekatan intensif!"

Uhuk!

Kapten Yoga yang berdiri lima langkah di belakang Aris langsung tersedak es sirup yang sedang diminumnya hingga terbatuk-batuk hebat.

Mbak Rina di ujung ruangan menutup wajahnya dengan kedua tangan, pasrah total melihat tingkah adik sepupunya.

Sementara itu, Mayor Aris rasanya ingin meminjam alat berat Batalyon sekarang juga untuk menggali lubang di lantai aula dan melompat ke dalamnya!

Tingkat rasa salah tingkah dan malunya sudah melebihi batas kemampuan manusia biasa.

"Mayang! Jaga bicaramu di depan Komandan Korem!" bisik Aris menahan desakan napasnya yang tidak beraturan.

Ibu Kolonel justru tertawa gembira, melangkah mendekati Mayang dan mengelus pundaknya ramah.

"Wah, percaya diri sekali!

Lucu dan manis sekali kamu, Mayang. Aris ini memang butuh pendamping yang rame seperti kamu biar rumah dinasnya tidak sepi seperti kuburan!"

"Tuh kan, Mas Mayor! Ibu Komandan Korem saja setuju seratus persen!" celoteh Mayang gembira sambil melirik Aris dengan sudut mata jahil.

Kolonel Hendra menepuk bahu Aris dengan keras, terkekeh-kekeh.

"Bagus, Aris! Pertahankan gadis ini! Jarang-jarang ada gadis ceria yang berani 'menembak' seorang Komandan Batalyon di depan atasannya langsung!"

"Siap, Komandan..." jawab Aris singkat, suaranya terdengar sangat pasrah.

Setelah rombongan Komandan Korem berpindah ke meja VIP untuk menikmati sajian utama, Mayor Aris langsung menarik pelan lengan gaun Mayang menuju sudut aula yang agak sepi dari jangkauan kerumunan orang.

Aris menyandarkan punggungnya di tiang aula, menatap Mayang dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara pusing, gemas, dan rasa hangat yang tak tertahan.

"Mayang, kamu ini benar-benar tidak punya rasa takut ya?" gumam Aris pelan, menundukkan kepalanya agar sejajar dengan tinggi badan Mayang.

Mayang tersenyum tipis, menatap mata hitam Aris dengan kejujuran yang polos.

"Takut buat apa, Mas Mayor? Kan ada Mas Mayor yang selalu siap menangkap kalau aku jatuh."

Kata-kata sederhana itu seketika membuat Mayor Aris bungkam.

Tatapan matanya yang biasanya keras dan tajam melunak sepenuhnya. Jantung di balik seragam PDH-nya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Aris merogoh saku kemeja dinasnya, meraba sebuah benda kecil yang disiapkannya sejak tadi sore.

Beliau menarik tangan kanan Mayang, lalu meletakkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hijau di telapak tangan gadis itu.

Mayang tertegun. Matanya melebar di balik kacamata tebal.

"Mas Mayor... ini... jangan bilang ini cincin pelamar?!"

Aris refleks memejamkan mata, memijat pelipisnya.

"Bukan! Buka dulu, jangan langsung mengarang cerita."

Dengan rasa penasaran yang membuncah, Mayang membuka kotak beludru itu. Di dalamnya terbaring sebuah bros ukiran perak berbentuk pita anggun yang sangat halus dan indah.

"Itu... bros buatan pengerajin perak di dekat posko hutan kemarin," terang Aris pelan, mengalihkan pandangannya ke arah panggung panggung prajurit dengan canggung.

"Untuk dipakai di gaunmu. Supaya... kamu tidak usah pakai bunga plastik lagi."

Mayang menatap bros perak di tangannya, lalu menatap Mayor Aris yang pura-pura sibuk melihat panggung padahal ujung telinganya sudah merah membara.

Kehangatan luar biasa seketika membuncah di dalam dada Mayang. Pria tegas ini mungkin kaku dan irit bicara, tetapi perhatian-perhatian kecilnya selalu berhasil meluluhkan hati.

Mayang menyunggingkan senyum paling manis yang pernah ia miliki. Ia mendekatkan dirinya, berbisik pelan di samping bahu tegap sang Mayor.

"Terima kasih banyak ya, Mas Mayor Gantengku... Brosnya cantik banget. Bakal Mayang pakai terus tiap kali mendampingi Mas Mayor."

Mayor Aris melirik gadis di sampingnya, lalu sebuah senyuman tipis yang sangat tampan terukir indah di bibirnya.

"Sama-sama, Mayang," jawab Aris lembut.

Acara panggung prajurit malam itu pun berlanjut dengan meriah.

Dan di antara gemerlap lampu aula, benteng pertahanan sang Komandan Batalyon kini tidak hanya sekadar runtuh tetapi telah sepenuhnya dikuasai oleh cinta dan kehebohan gadis berkacamata tebal itu.

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!