Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 - APA ITU KOSONG DAN PERINTAH PEMBURUAN KAISAR
Gunung Song, Kuil Shaolin.
Pagi buta. Kabut masih tebal seperti susu. Lonceng besar Shaolin belum dipukul. 500 biksu masih tertidur di asrama kayu.
Tapi di halaman belakang, di depan Aula Dharma yang pintunya tidak pernah dibuka untuk umum selama 100 tahun, seorang pemuda 18 tahun duduk bersila.
Jubah saffron sederhana, kepala plontos dengan 6 titik luka bakaran, wajah bulat dan jujur. Di depannya hanya ada sebuah mangkuk air yang sudah beku karena dinginnya pagi Songshan. Tongkat pendeknya diletakkan di samping.
Hui Chen, murid inti termuda Kuil Shaolin, murid langsung Bhiksu Jueyuan, jenius yang 5 tahun lalu datang ke Shaolin hanya untuk meminta semangkuk nasi karena lapar, tapi saat diberi kitab Xin Jing — Kitab Hati — ia menghafalnya hanya dengan mendengar sekali.
Kemarin, ia baru kembali dari Puncak Teratai Emas, Gunung Huashan. Ia melihat 18 naga emas Pengemis Utara, ia melihat bunga persik yang jatuh dari langit kosong, ia melihat racun yang membuat rumput menghitam, ia melihat matahari 9 Yang di dalam tubuh Yang Lie, ia melihat kitab emas Tai Chu yang membuat langit terbelah, dan ia melihat Pangeran Mahkota yang seharusnya mati 15 tahun lalu.
Ia melihat terlalu banyak dalam satu hari. Dan bagi seorang biksu kecil yang selama 5 tahun hanya tahu cara menyapu halaman dan menghafal kitab, terlalu banyak melihat adalah racun.
Di dalam Aula Dharma, pintu kayu tua berderak dibuka dari dalam.
Keluar seorang biksu tua kurus kering, jubah abu-abu tambal-tambalan, alis putih panjang sampai ke dagu. Bhiksu Jueyuan, guru Hui Chen, salah satu dari 3 biksu tertinggi Shaolin yang menguasai Jiu Yang versi Shaolin yang tidak sempurna.
Jueyuan menatap murid jeniusnya yang duduk di depan mangkuk air beku, menghela napas.
"Kau tidak tidur semalam?"
Hui Chen tidak menoleh. Ia menatap mangkuk air beku itu dengan tatapan tenang. Sangat tenang, seperti danau yang sudah mati.
"Guru," suaranya pelan, seperti anak kecil yang bertanya mengapa langit biru, "apa itu kosong?"
Jueyuan terdiam.
"Di Huashan kemarin, saya melihat Ketua Hong Wei Jun mengeluarkan 18 naga. Naga itu terlihat ada, suaranya mengaum, tapi saat saya sentuh, tangan saya lewat. Jadi naga itu kosong. Tapi saat naga itu mengaum, 300 pendekar jatuh pingsan. Jadi kosong itu... tidak kosong."
Hui Chen mengambil kerikil kecil, menjatuhkannya ke dalam mangkuk air beku. Air beku itu tidak pecah.
"Lalu, apa itu benar dan salah?"
Ia masih menatap mangkuk itu.
"Di Huashan, Pangeran Zhuo Long mengepung arena dengan pasukan. Menurut kitab Istana, itu benar, karena ia menjalankan perintah Kaisar. Menurut kitab Wulin, itu salah, karena ia melanggar perjanjian 100 tahun. Jadi yang sama bisa benar dan salah. Lalu, mana yang benar, Guru?"
Bhiksu Jueyuan duduk di samping muridnya. Ia tahu, muridnya ini sedang mengalami Mo Zhang — Rintangan Iblis Hati — yang dialami semua jenius Shaolin sebelum mencapai pencerahan. Jika gagal melewatinya, jenius akan menjadi gila.
"Lalu, apa itu keinginan?" Hui Chen melanjutkan, tatapannya masih tenang, tapi di kedalaman matanya ada kebingungan yang sangat dalam. "Semua orang di Huashan kemarin menginginkan Kitab Tai Chu. Pengemis Utara menginginkannya untuk muridnya, Pulau Bunga Persik menginginkannya untuk formasinya, Racun Barat menginginkannya untuk racunnya, Quanzhen menginginkannya untuk Tao-nya. Saya... saya juga menginginkannya kemarin. Saat saya melihat kitab itu, saya ingin menyentuhnya. Apakah keinginan itu salah? Jika saya tidak punya keinginan, mengapa saya berlatih kungfu? Jika saya punya keinginan, mengapa kitab Xin Jing bilang keinginan adalah sumber penderitaan?"
Tiga pertanyaan. Tiga pertanyaan yang bahkan Bhiksu Jueyuan yang sudah membaca 7.000 kitab Buddha selama 60 tahun tidak bisa menjawab dengan satu kalimat.
Jueyuan tersenyum. Senyum yang pahit tapi bangga.
"Hui Chen, 5 tahun lalu kau datang ke Shaolin karena lapar. Kau bilang, 'Biksu, beri aku nasi, aku lapar.' Itu adalah keinginan. Dan keinginan itu membuatmu hidup sampai hari ini. Jadi keinginan tidak selalu salah."
Ia mengambil mangkuk air beku itu, meletakkannya di telapak tangan Hui Chen. Mangkuk itu dingin menusuk tulang.
"Kosong bukan berarti tidak ada. Kosong berarti... mangkuk ini. Mangkuk ini kosong, makanya bisa diisi air. Jika mangkuk ini penuh dengan batu, ia tidak bisa diisi air lagi. Hatimu kemarin penuh dengan 18 naga, bunga persik, dan racun, makanya kau bingung. Kosongkan dulu."
Ia menunjuk ke arah kaki Gunung Song, ke arah ibu kota Beijing yang jauh di utara.
"Benar dan salah... itu seperti utara dan selatan. Jika kau berdiri di Shaolin, Beijing ada di utara. Tapi jika kau berdiri di Beijing, Shaolin ada di selatan. Jadi benar dan salah tergantung di mana kau berdiri. Jangan berdiri di tempat orang lain. Berdirilah di tempatmu sendiri, lalu lihat."
Jueyuan berdiri, jubahnya berkibar.
"7 tahun, Hui Chen. Kau punya 7 tahun untuk menjawab tiga pertanyaanmu sendiri. Jika kau bisa menjawabnya, kau akan menjadi biksu pertama dalam 100 tahun yang bisa membuka Aula Dharma ini dari luar tanpa kunci. Jika tidak... kau akan tetap menjadi tukang sapu halaman yang jenius."
Hui Chen masih duduk bersila, memegang mangkuk air beku itu dengan dua tangan. Air beku itu perlahan-lahan mencair karena hawa panas dari telapak tangannya — hawa 9 Yang Shaolin yang belum sempurna.
"Guru... saya akan pergi ke mana?"
"Ke tempat paling kotor di dunia," kata Jueyuan sambil berjalan kembali ke Aula Dharma. "Ke pasar. Ke rumah bordil. Ke penjara. Ke tempat orang lapar dan orang kenyang. Karena jawaban dari kosong, benar-salah, dan keinginan tidak ada di dalam kitab. Jawabannya ada di dalam manusia. Pergilah, Hui Chen. 7 tahun lagi, bawalah jawabanmu ke Huashan. Dan bawalah Kitab Tai Chu itu kembali ke Shaolin jika memang itu takdirnya."
Hui Chen mengangguk pelan. Ia meletakkan mangkuk itu, berdiri, mengambil tongkat pendeknya. Untuk pertama kalinya dalam 5 tahun, ia tidak menyapu halaman. Ia berjalan menuruni tangga batu Shaolin yang panjangnya 1.000 anak tangga, menuju dunia yang kotor, untuk mencari apa itu kosong.
Sementara itu, jauh di utara.
Ibu Kota Beijing, Kota Terlarang.
Di dalam Balai Naga, di mana hanya Kaisar yang boleh duduk, seorang pria tua berumur 60 tahun dengan jubah naga emas duduk di singgasana. Wajahnya mirip dengan Zhuo Fan dan Zhuo Long, tapi lebih tua, lebih kurus, dan matanya... matanya penuh dengan ketakutan.
Kaisar Zhuo Tian, Kaisar Dinasti saat ini. Ayah dari Zhuo Fan dan Zhuo Long.
Di bawah singgasana, Pangeran Zhuo Long berlutut, dahinya masih merah bekas labu arak Hong Wei Jun, jubahnya masih kotor debu Huashan. Di sampingnya, Tie Mian Yu dengan topeng besi setengah juga berlutut, tidak berani mengangkat kepala.
"Kau bilang... kau bilang kakakmu... Zhuo Fan... masih hidup?" suara Kaisar Zhuo Tian gemetar. Cangkir giok di tangannya bergetar sampai tehnya tumpah.
Zhuo Long mengangguk ketakutan. "Ayahanda... semua orang melihatnya... Topeng Perunggu retak... Pedang Kayu Hitam... Qian Kun Da Nuo Yi... murid-murid Shaolin, Wudang, Quanzhen, Pengemis Utara, Pulau Bunga Persik, 7 Bintang Jiangnan... semua melihatnya... Dia... dia mengatakan 15 tahun lalu..."
"DIAM!"
Kaisar Zhuo Tian melempar cangkir gioknya, pecah berkeping-keping di depan wajah Zhuo Long.
"15 tahun! 15 tahun aku tidak bisa tidur nyenyak! Setiap malam aku bermimpi Lembah Pedang berdarah! Aku sudah membunuh 10 Tetua Sekte Iblis untuk membungkam mulut mereka! Aku sudah membunuh 300 pendekar bayaran! Aku sudah mengangkatmu menjadi Pangeran Mahkota! Dan sekarang kau bilang dia masih hidup! Dan menjadi guru dari pemilik Kitab 9 Yang!"
Kaisar terbatuk keras, darah keluar dari mulutnya. Seorang kasim tua segera maju.
"Yang Mulia, tenang..."
"Tenang bagaimana?! Jika Zhuo Fan kembali ke Beijing, semua jenderal yang dulu setia padanya akan berbalik! Hong Wei Jun, Huang Yuchen, Qiu Mingyu, mereka semua adalah saudara angkatnya! Jika mereka tahu aku yang menyuruh membunuh anakku sendiri... takhtaku akan runtuh!"
Kaisar Zhuo Tian berdiri, matanya merah seperti binatang buas yang terpojok.
"Perintahkan! Perintahkan sekarang juga!"
Seorang pria berbaju hitam yang sejak tadi berdiri di bayangan pilar naga keluar. Wajahnya ditutup kain hitam, hanya matanya yang terlihat, matanya tanpa putih, hitam semua.
"Bayangan Hitam, dengarkan titahku!"
"Bayangan Hitam ada, Yang Mulia."
"Kerahkan semua Pembunuh Bayaran Istana! Kerahkan 36 Aliran Hitam yang mendukung Istana! Kerahkan Tang Men, kerahkan Sekte Ular Hitam, kerahkan Gunung Bela Diri Hitam!"
Kaisar mengangkat jarinya yang gemetar, menghitung satu per satu.
"Pertama! Cari Zhuo Fan! Pangeran Mahkota palsu yang memakai topeng perunggu! Bawa kepalanya! Jika tidak bisa, bawa topengnya!"
"Kedua! Cari pemilik Kitab 9 Yang! Anak bernama Yang Lie! 17 tahun! Tubuhnya memancarkan matahari! Kitab 9 Yang adalah penawar dari racun yang kuberikan pada Permaisuri 15 tahun lalu! Jika ia hidup, Permaisuri akan tahu aku yang meracuni ibunya Zhuo Fan! Bunuh dia!"
"Ketiga! Cari pemilik Kitab 9 Yin! Aku mendengar kabar dari mata-mata di Jiangnan, Kitab 9 Yin yang hilang 100 tahun lalu muncul kembali di tangan seorang gadis! Gadis yang bisa menghilang di dalam bayangan! Cari dia! Kitab 9 Yin dan 9 Yang tidak boleh bersatu! Jika bersatu, akan lahir... akan lahir sesuatu yang bahkan Kaisar pun tidak bisa lawan!"
"Keempat! Dan yang paling penting! Cari pemilik Kitab Tai Chu! Bocah goni bernama Mu Chen! 17 tahun! Yang sekarang menjadi murid Pengemis Utara Hong Wei Jun! Kitab Tai Chu Hun Yuan Jing adalah kunci dari Gudang Naga di bawah Kota Terlarang! Di dalam gudang itu ada... ada rahasia kenapa Dinasti kita bisa berdiri 300 tahun! Jika kitab itu jatuh ke tangan Zhuo Fan, dia akan tahu rahasia itu dan dia akan... dia akan..."
Kaisar tidak melanjutkan. Ia jatuh terduduk di singgasananya, napasnya sesak.
Bayangan Hitam berlutut.
"Yang Mulia, 36 Aliran Hitam sudah lama ingin menghancurkan Wulin Putih. Jika kita umumkan bahwa pemilik 9 Yang, 9 Yin, dan Tai Chu akan berkumpul 7 tahun lagi di Huashan, mereka pasti akan datang. Kita bisa... membunuh mereka semua sekaligus di Huashan 7 tahun lagi."
Kaisar Zhuo Tian tersenyum. Senyum yang lebih menyeramkan daripada racun Ouyang Lie.
"Bagus. 7 tahun. Beri mereka 7 tahun untuk menjadi kuat. Semakin kuat mereka, semakin banyak Wulin Putih yang akan datang mendukung mereka. Dan 7 tahun lagi, di Puncak Teratai Emas, kita akan... membakar Huashan. Membakar semua legenda. Membakar bahkan 7 Bintang Jiangnan. Dan aku akan tetap menjadi Kaisar."
Di luar Balai Naga, lonceng istana berdentang 9 kali. Tanda perintah pemburuan Kaisar telah dikeluarkan.
Dan di seluruh Wulin, dari Gurun Gobi sampai Danau Tai, dari Gunung Zhongnan sampai Pulau Bunga Persik, dari Lembah Api Kunlun sampai pasar Suzhou tempat Tao Yaoyao masih berteriak memanggil gurunya, bayangan-bayangan hitam mulai bergerak.
Perburuan besar telah dimulai.