Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu momen yang tepat
Suatu sore, ketika Baska datang untuk kelas privat rutinnya seperti biasa, dia mendapati suasana meja resepsionis sedikit berbeda dari biasanya. Seorang pria berpenampilan necis, mengenakan pakaian olahraga bermerek yang terlihat cukup mahal, sedang mengobrol dengan Zia sambil sesekali tertawa, sebuah pemandangan yang entah kenapa langsung membuat perasaan Baska menjadi tidak nyaman.
"Zia, kapan-kapan kita main bareng lagi ya. Kamu emang jago banget ngajarin pemula kayak saya," ujar pria tersebut dengan nada yang terdengar cukup akrab, membuat Baska yang kebetulan mendengar percakapan tersebut dari kejauhan merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Zia, yang memang selalu ramah kepada semua pelanggan tanpa terkecuali, menjawab dengan senyum khasnya. "Boleh banget, Pak Reno. Nanti saya kabarin kalau ada jadwal kosong ya."
Baska, yang berdiri agak jauh menunggu giliran kelas privatnya, merasakan sensasi asing yang menjalar di dadanya menyaksikan interaksi tersebut, sebuah perasaan yang setelah dia renungkan sejenak, dia sadari sebagai rasa cemburu. Ini adalah pertama kalinya dia merasakan emosi tersebut terhadap seseorang, mengingat sepanjang hidupnya dia hampir tidak pernah cukup peduli dengan hal-hal semacam itu.
"Kenapa gue jadi kesel gini ya liat dia ngobrol sama cowok lain," gumam Baska pelan pada dirinya sendiri, mencoba memahami perasaan yang tiba-tiba muncul tersebut.
Ketika pria bernama Pak Reno tersebut akhirnya pergi setelah menyelesaikan urusannya, Zia menoleh dan menyapa Baska yang baru saja tiba di meja resepsionis tersebut. "Eh, Mas Baska, udah dateng. Sebentar lagi ya, saya panggilin Coach Yudha dulu."
"Iya, Mbak," jawab Baska singkat, berusaha menyembunyikan perasaan yang baru saja dia alami tersebut, meski nada suaranya sendiri terdengar sedikit berbeda dari biasanya.
Zia, yang cukup peka terhadap perubahan sikap orang-orang di sekitarnya, langsung menyadari ada yang aneh dengan Baska tersebut. "Mas Baska kenapa? Kok kayaknya beda dari biasanya?"
"Nggak apa-apa kok, Mbak," jawab Baska mencoba mengelak, meski dia sendiri tahu betul bahwa jawabannya tersebut tidak sepenuhnya jujur.
Setelah sesi latihan tersebut selesai, Baska yang masih dipenuhi perasaan campur aduk memutuskan untuk sedikit lebih terbuka mengenai apa yang sebenarnya dia rasakan, meski dengan cara yang tidak terlalu terang-terangan. "Mbak, tadi yang ngobrol sama Mbak itu siapa? Kayaknya deket banget."
"Oh, itu Pak Reno, pelanggan tetap juga. Dia baik banget orangnya, sering ngajak main bareng," jawab Zia dengan santai, tidak menyadari bahwa penjelasan tersebut justru membuat perasaan Baska semakin campur aduk.
"Oh gitu," jawab Baska singkat, berusaha menyembunyikan rasa tidak nyamannya, meski dari nada suaranya yang sedikit berbeda, Zia mulai curiga ada sesuatu yang mengganjal dalam diri pemuda tersebut.
"Mas Baska kenapa sih? Dari tadi kok agak ketus gitu," tanya Zia langsung, memutuskan untuk tidak berbasa-basi lagi dan menanyakan langsung penyebab perubahan sikap tersebut.
Baska terdiam sejenak, mempertimbangkan apakah harus jujur mengenai perasaannya atau terus menyembunyikannya seperti biasa. Setelah menghela napas panjang, dia akhirnya memutuskan untuk sedikit terbuka, meski belum sepenuhnya mengungkapkan seluruh perasaannya tersebut. "Jujur aja, Mbak, tadi pas liat Mbak ngobrol sama Pak Reno, saya jadi ngerasa nggak nyaman. Aneh ya perasaan kayak gitu."
Pengakuan tersebut, meski masih terkesan samar, membuat Zia tersenyum kecil, menyadari bahwa perasaan yang dia curigai selama ini mungkin memang benar adanya. "Mas Baska cemburu ya?"
Wajah Baska langsung memerah mendengar pertanyaan langsung tersebut, tidak menyangka Zia akan seberani itu mengonfrontasi perasaannya secara terbuka. "Mungkin... iya, Mbak. Saya sendiri juga bingung kenapa bisa gitu."
Zia tersenyum lebar mendengar pengakuan tersebut, merasakan kelegaan yang begitu besar mengetahui bahwa perasaannya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. "Nggak usah bingung, Mas. Itu wajar kok, kalau emang beneran suka sama seseorang."
Kata-kata tersebut, meski sederhana, memberikan keberanian baru bagi Baska untuk akhirnya mulai lebih terbuka mengenai perasaan yang selama ini dia pendam, menandai langkah penting menuju pengakuan cinta yang telah lama mereka berdua nantikan namun belum berani diungkapkan secara gamblang tersebut.
"Kalau gitu, Mbak Zia sendiri gimana? Ada perasaan yang sama nggak?" tanya Baska dengan suara yang sedikit bergetar, mengumpulkan keberanian untuk bertanya secara langsung mengenai perasaan Zia terhadap dirinya.
Zia terdiam sejenak, wajahnya memerah menahan malu, namun akhirnya memutuskan untuk jujur mengenai perasaannya sendiri. "Iya, Mas. Aku juga udah mulai suka sama Mas Baska. Cuma aku nunggu Mas Baska yang ngomong duluan."
Pengakuan tersebut membuat hati Baska dipenuhi kebahagiaan yang meluap-luap, namun sebelum dia sempat melanjutkan percakapan tersebut menjadi pernyataan yang lebih resmi, Coach Yudha tiba-tiba muncul memanggil Zia untuk urusan mendesak terkait jadwal lapangan yang harus segera dikonfirmasi.
"Zia, ada pelanggan yang komplain soal booking ganda, tolong dibantu sebentar," ujar Coach Yudha, memaksa momen penting tersebut terpotong di tengah jalan.
"Iya, Coach, sebentar," jawab Zia sambil menoleh ke arah Baska dengan senyum yang menyiratkan permintaan maaf. "Maaf ya, Mas, nanti kita lanjutin lagi obrolannya."
Baska mengangguk, meski dalam hatinya dia merasa sedikit kecewa karena momen yang sudah begitu dekat dengan pengakuan resmi tersebut harus tertunda, sebuah penundaan yang membuatnya semakin bertekad untuk segera menyelesaikan apa yang telah dimulai tersebut di kesempatan berikutnya.