Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Sore itu, matahari mulai condong ke barat, menyisakan semburat jingga yang hangat di langit. Di dalam kamar, Miska berdiri di depan cermin sambil merapikan kerah baju barunya — baju berwarna krem yang lembut, ia beli tadi pagi dengan uang hasil jualannya sendiri. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, melainkan karena harapan yang masih tersisa sedikit di sudut hatinya. Ia ingin memberi kejutan. Ia ingin sekali lagi mencoba, berharap hubungan mereka masih bisa diperbaiki.
"Mas Askar pasti akan kaget," gumamnya pelan sambil tersenyum tipis. Ia juga sedikit merias wajahnya, sederhana namun terlihat segar. Setelah memastikan semuanya rapi, ia berangkat — sengaja naik ojek dan turun agak jauh dari kantor Askar, agar suaminya tidak malu jika dilihat rekan kerjanya.
Langkah kakinya ringan di aspal jalan, namun tiba-tiba terhenti. Darah seakan berdesir kencang di pelipis. Matanya membelalak.
Di depan gerbang kantor, terlihat sosok pria yang ia tunggu-tunggu. Askar sedang berdiri di samping mobilnya, tangan kanannya erat menggenggam tangan Rara. Keduanya tertawa lepas, begitu akrab, begitu mesra — senyum yang tak pernah lagi ia lihat di rumah. Lalu mereka masuk ke dalam mobil bersamaan. Pintu tertutup, dan mobil itu melaju perlahan, melewati tempat Miska berdiri terpaku, seakan dunia di sekelilingnya berhenti berputar.
Hati Miska perih, seperti ditusuk jarum berkali-kali lipat. Tapi ia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Kakinya bergerak sendiri. Di sampingnya, sebuah mobil mewah baru saja menyalakan mesin. Tanpa berpikir panjang, Miska membukanya dan masuk ke kursi belakang sebelum sopir sempat keluar.
"Pak, tolong ikuti mobil biru yang baru lewat itu! Cepat, jangan sampai ketinggalan!" ucap Miska dengan napas memburu, matanya tak lepas dari jendela menatap mobil suaminya yang makin menjauh.
Di sebelahnya, duduklah Arfan — pria berpengaruh yang dulu pernah berpapasan dengan Miska di kantor Askar. Ia terkejut setengah mati melihat seseorang tiba-tiba masuk ke mobilnya begitu saja. Alisnya terangkat, mulutnya sedikit terbuka menahan keterkejutan, lalu perlahan berubah menjadi senyum tipis yang tak kalah heran.
Sopir itu menoleh ke belakang, menatap Arfan seakan meminta keputusan. Arfan mengangguk pelan, menahan tawa kecil. "Ikuti,Jangan sampai hilang dari pandangan," ucapnya tenang, lalu melirik Miska yang sedang menatap ke luar jendela dengan wajah tegang. "Permisi... mbak? mbak salah naik,ini bukan mobil taksi ?"
Miska tersadar sedikit, menoleh malu namun tak menyesal. "Maaf Pak... saya sangat butuh. Suami saya... dia di mobil itu. Saya harus tahu ke mana mereka pergi."
Arfan tidak menambah tanya lagi. Ia hanya menopang dagu, menatap wanita di sampingnya itu dengan tatapan penuh arti. "Baiklah. Tenang saja, kita tidak akan ketinggalan."
Mobil itu melaju mengikuti dari jarak aman. Miska menatap lurus ke depan, tangannya saling meremas di pangkuan. Setiap detik terasa seperti abadi. Arfan di sampingnya sesekali melirik, diam saja, seakan mengerti beban berat yang sedang dibawa wanita itu.
Tak butuh waktu lama. Mobil biru itu berhenti tepat di depan pintu masuk hotel yang sama — hotel berbintang yang mewah. Miska melihat Askar dan Rara turun, berjalan beriringan masuk ke lobi tanpa ragu sedikit pun.
"Berhenti di sini!" seru Miska. Ia merogoh saku, mengeluarkan uang 50 ribu dan menyodorkannya ke sopir. "Terima kasih Pak, ini bayarannya!" Tanpa menunggu jawaban, ia langsung membuka pintu dan berlari masuk ke dalam hotel, meninggalkan Arfan yang menatap punggungnya sambil tersenyum geli.
"Dia... benar-benar orang yang menarik," gumam Arfan pelan, lalu menyuruh sopirnya berhenti sebentar.
Di lobi hotel, Miska berlari menuju lift, namun ia terlambat. Askar dan Rara sudah menghilang di balik pintu lift yang tertutup. Ia langsung menuju meja resepsionis.
"Permisi! Saya mau ke kamar yang baru saja dinaiki pasangan tadi! Saya istrinya! Itu suami saya!" ucap Miska tergesa-gesa, napasnya memburu.
Petugas resepsionis itu menatapnya ragu-ragu. "Maaf Bu, kami tidak bisa memberikan informasi atau mengizinkan orang naik ke kamar tamu tanpa izin. Itu aturan kami."
"Tapi itu suami saya! Saya harus menemui dia! Tolonglah, saya mohon!" Miska hampir menangis, tangannya mencengkeram meja depan.
"Maaf Bu, silakan keluar. Atau hubungi dulu suaminya," ucap petugas itu tegas, lalu memberi isyarat kepada pelayan yang berdiri tak jauh dari sana untuk mengantar Miska keluar.
"Saya tidak mau pergi! Itu suami saya!" Miska menolak, berusaha melewati meja resepsionis namun dihalangi oleh pelayan itu.
Tiba-tiba, suara berat dan tenang terdengar dari belakang punggungnya. "Biarkan dia naik."
Semua orang menoleh. Arfan berdiri di sana, tatapannya tegas namun tenang. Pelayan dan petugas resepsionis itu langsung membungkuk hormat.
"Pak Arfan..." gumam petugas itu kaget. "Tapi aturannya..."
"Aturan itu dibuat untuk tamu yang tidak berhak. Dia berhak," ucap Arfan mantap, matanya menatap Miska dengan penuh dukungan.
"ini Bu. Kamar nomor 305."
Miska menatap Arfan dengan mata berkaca-kaca, tak percaya ada orang asing yang justru membantunya saat semua pintu tertutup rapat. "Terima kasih... terima kasih banyak, Pak."
"Semoga apa yang kau cari, membuatmu lebih kuat," jawab Arfan lembut.
Tanpa menunggu lagi, Miska berlari menuju lift. Pintu tertutup, dan angkanya naik perlahan — 10... 15... 20... 30. Setiap angka yang bertambah, jantungnya berdegup semakin kencang. Ia tahu, saat pintu lift itu terbuka, kejutan yang ingin ia berikan sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Tapi ia tidak bisa mundur. Ia harus tahu pasti.
Pintu lift terbuka di lantai 3. Kamar 305 ada di ujung lorong. Miska melangkah pelan, langkah demi langkah, seakan kakinya berat sekali. Di depan pintu itu, ia berhenti. Tangan kanannya terangkat, menggenggam erat... lalu mengetuk.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪