Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Bab 17: Pengembaraan ke Cakrawala Baru, Penyatuan Jiwa, dan Jejak Takdir
Di dalam istana kaca yang melayang di tengah lautan bintang buatan, hawa dingin nan menenangkan menyelimuti setiap sudut ruangan. Wiliam berdiri di tepi balkon berpilar kristal, menatap hamparan nebula buatan yang berputar lambat di bawah kakinya. Tubuh tegapnya yang kini dibalut jubah longgar berwarna keperakan terasa jauh lebih padat dan kokoh. Bekas luka bakar akibat tebasan Petir Petaka Dewa telah memudar, meninggalkan garis-garis keemasan tipis yang justru menambah kesan agung pada kulitnya.
Di ruang tengah istana dimensi, Alistair, Trigger, dan Solaria duduk melingkari meja batu purba. Anastasia berdiri tak jauh dari mereka, bersandarkan pilar kristal dengan sepasang tangan terlipat di dada. Pandangan mata perak-kebiruannya tak pernah lepas dari sosok Wiliam yang berada di balkon.
Alistair mengelus janggut putih panjangnya, memecah keheningan ruangan dengan suara beratnya yang bijaksana. "Proses pemulihannya telah selesai sempurna. Tubuh Demigod dan Hati Iblis di dalam dirinya telah menyatu tanpa ada gesekan lagi. Namun, justru karena itulah kita harus mengambil keputusan besar mengenai masa depannya."
Trigger mengangguk setuju, menepukkan telapak tangannya yang berbulu tebal ke atas meja. "Anak itu telah menarik perhatian langsung dari para Dewa di Dimensi Atas. Sambaran Petir Petaka tempo hari adalah bukti nyata bahwa para Penghuni Singgasana melihatnya sebagai anomali yang harus dimusnahkan. Jika dia tetap berada di benua ini, kehadirannya hanya akan memicu bencana yang lebih besar bagi orang-orang di sekitarnya."
Solaria menyunggingkan senyuman tipis, matanya yang berwarna emas menyala memancarkan binar ketertarikan. "Dunia ini jauh lebih luas daripada sekadar benua manusia tempat kita berdiri sekarang. Di luar batas samudra purba, terdapat benua-benua tersembunyi, wilayah kekuasaan ras kuno, dan tempat-tempat penempaan yang belum tersentuh oleh mata hukum Dewa. Wiliam membutuhkan ruang untuk bertumbuh tanpa harus terus-menerus diawasi oleh mata-mata langit."
"Aku menyarankan..." Alistair menatap ke arah Anastasia secara khusus, "...agar Wiliam berkelana meninggalkan benua ini. Menjelajahi dunia luas, menempa kembali wawasannya, dan mencari cara untuk mencapai Kesempurnaan Absolut dari dua jalan yang ia tapaki."
"Tidak!"
Suara dingin dan penuh penegasan memotong ucapan Alistair seketika. Anastasia melangkah maju, pendar es murni meletus dari bawah telapak kakinya, membekukan lantai kristal di sekeliling meja batu.
"Aku baru saja mendapatkannya kembali!" kata Anya dengan nada bersitegang, matanya berkilat oleh rasa cemas dan protektif yang amat sangat. "Dia baru saja lepas dari Penjara Kehampaan, hampir mati disambar petir Dewa, dan sekarang kalian ingin mengirimnya sendirian ke wilayah tak dikenal di luar benua?! Aku tidak akan membiarkannya pergi sendirian!"
Trigger menghela napas panjang. "Nona Anastasia, dengarkan dulu—"
"Aku tidak peduli!" tegas Anya, dadanya turun naik menahan gelombang emosi. "Jika dia harus pergi, aku akan ikut dengannya!"
Alistair mengangkat tangannya pelan, memancarkan aura kehangatan yang lembut untuk meredakan ketegangan sihir es di ruangan itu. "Nona Suci Anastasia... kami sangat memahami rasa cinta dan ketakutan di dalam hatimu. Namun, pikirkanlah dengan bijak. Kau adalah salah satu dari Empat Pilar yang menopang tatanan benua ini. Kehadiranmu di sisi Wiliam justru akan memancarkan pendar sihir tingkat tinggi yang sangat mudah dilacak oleh para Dewa dan Sekte Pemuja Iblis."
Alistair menatap mata Anastasia dengan penuh kearifan. "Wiliam perlu terbang dengan sayapnya sendiri. Jika kau terus berada di sisinya sebagai pelindung, dia tidak akan pernah sanggup melampaui batasan jalurnya untuk menjadi sosok yang sanggup berdiri sejajar dengan para Dewa. Biarkan dia menempa dirinya di dunia luar sebagai seorang pengembara tanpa beban nama besar. Bukankah kau percaya pada kemampuan calon suamimu?"
Kata-kata Alistair merayap masuk ke dalam sanubari Anastasia. Pendar es di sekeliling kakinya perlahan meredup. Anya menundukkan kepalanya, memejamkan mata rapat-rapat seraya mengepalkan jemarinya kencang-kencang. Rasa sakit akan perpisahan beradu keras dengan kesadarannya akan kebaikan masa depan Wiliam.
Setelah keheningan panjang yang menyayat hati, Anastasia menghela napas pasrah. "Baiklah..." bisiknya pelan, suaranya bergetar tipis. "...aku menyetujuinya."
Trigger tersenyum lega, lalu menepuk paha raksasanya. "Lantas, bagaimana dengan Raja Kerajaan manusia dan para bangsawan di luar sana? Wiliam menghancurkan Penjara Kehampaan dan terbang ke langit di depan ribuan mata. Mereka tidak akan tinggal diam."
Alistair menyunggingkan senyuman tenang yang penuh arti. "Biarkan hal itu menjadi urusanku. Aku akan melangkah langsung ke istana dan memalsukan kabar kematiannya. Kita akan memberitahu dunia bahwa Wiliam Pendragon telah hancur dan tewas akibat sambaran Petir Petaka Dewa. Dengan begitu, namanya akan terhapus dari daftar buronan, dan dia bisa berkelana dengan identitas yang sepenuhnya baru."
Solaria dan Trigger mengangguk setuju. Rencana itu adalah jalan terbaik untuk memberi perlindungan mutlak bagi Wiliam dari kejaran faksi politik maupun ancaman tersembunyi.
Malam harinya, di ruang peraduan bagian dalam istana dimensi.
Cahaya rembulan buatan dan pendar lembut kristal bintang meretas masuk melalui jendela kaca raksasa, menyinari pembaringan empuk berhiaskan kain sutra putih.
Wiliam berdiri di dekat jendela, memandangi hamparan bintang. Langkah kaki tanpa suara mendekatinya dari belakang. Dua lengan mulus berwarna keperakan melingkari pinggang tegap Wiliam, dan sebuah kepala bersandarkan lembut di antara dua tulang belikatnya.
Wiliam tersenyum halus, mengelus jemari lentik Anastasia yang bertaut di perutnya. "Kau sudah berbicara dengan Tuan Alistair dan yang lainnya?"
Anya tidak langsung menjawab. Ia hanya makin mempererat pelukannya, merapatkan tubuh hangatnya pada punggung Wiliam. "Kau benar-benar harus pergi, ya...?" bisik Anya sangat pelan, suaranya sarat akan kerinduan yang telah menumpuk sebelum perpisahan bahkan dimulai.
Wiliam memutar tubuhnya perlahan, merengkuh pinggang ramping Anastasia dan menatap paras cantik sang Elf yang memancarkan pendar keanggunan abadi di bawah cahaya rembulan.
"Ini adalah jalan yang harus kutempuh, Anya," kata Wiliam dengan nada lembut namun mantap, menatap lurus ke dalam sepasang mata perak-kebiruan milik gadis itu. "Aku harus menjadi cukup kuat. Cukup kuat hingga tidak ada satu pun Dewa, Iblis, atau Raja yang sanggup memisahkan kita lagi. Aku berkelana bukan untuk meninggalkanmu... tapi untuk membangun masa depan di mana aku bisa melindungimu dengan tanganku sendiri."
Anya menatap wajah tampan Wiliam yang kini dihiasi guratan emas di bawah matanya. Air bening menggenang tipis di sudut matanya. "Aku tahu... Aku tahu betul hal itu. Tapi rasanya begitu sesak, Wiliam. Seribu tahun aku menunggu ketibaanmu di dunia ini... dan setelah kita baru saja menyatu, aku harus melepasmu pergi lagi ke ujung dunia."
"Seribu tahun penantianmu tidak akan sia-sia, Sayang," bisik Wiliam seraya menangkup kedua pipi halus Anya dengan telapak tangannya yang hangat. "Di mana pun aku berada, di bawah langit benua mana pun aku melangkah, jiwaku akan selalu terikat padamu."
Anya mengulas senyuman paling hangat dan indah yang pernah ada. Ia menyandarkan dahinya pada dahi Wiliam, menghirup aroma napas pemuda itu yang hangat.
"Malam ini..." bisik Anya pelan, suaranya bagaikan desiran angin malam yang membawa kehangatan surga, "...aku ingin memberikan seluruh diriku padamu. Biarkan jiwa, raga, dan cinta kita menyatu secara abadi, sehingga tidak ada jarak atau waktu yang sanggup memisahkan kita."
Wiliam menatap Anya dengan kedalaman rasa cinta yang tak terukur. Tanpa sepatah kata pun lagi, Wiliam menundukkan kepalanya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Anastasia dalam ciuman yang begitu dalam, hangat, dan sarat akan gairah murni.
Di bawah naungan pendar lautan bintang dimensi, Wiliam merengkuh tubuh molek Anastasia dan membawanya ke atas pembaringan sutra. Pakaian halus mereka terlepas perlahan, menyisakan dua raga yang sempurna tanpa cela di bawah pendar rembulan.
Penyatuan malam itu berlangsung begitu hangat, indah, dan emosional. Dua jiwa dari rentang waktu yang berbeda—seorang pemuda yang menapaki jalan keberanian dan seorang gadis Elf yang menyimpan rindu seribu tahun—saling mengikatkan takdir mereka dalam jalinan cinta yang abadi. Tidak ada rasa sakit, tidak ada ketakutan; yang ada hanyalah bisikan cinta, kehangatan sentuhan kulit, dan desah napas yang menyatu harmonis hingga fajar menyingsing di ufuk dimensi.
Keesokan harinya saat fajar menyinari jendela istana kaca, Wiliam duduk bersila di atas bangku pualam di balkon. Rambut perak murninya yang memanjang hingga melewati pinggang terurai halus diterpa angin pagi.
Di belakangnya, Anastasia berdiri anggun dengan gaun putih tipis. Di tangannya, ia memegang sebuah belati sihir perak berukir runik pemotong khusus.
Anya menyisir rambut perak Wiliam dengan jemari lentiknya yang lembut, menciumi puncak kepala pemuda itu seraya tersenyum manis. "Rambutmu sudah sangat panjang, Pahlawanku. Biarkan aku merapikannya untuk perjalanan barumu."
"Lakukanlah sesukamu, Nona Suci," jawab Wiliam santai seraya memejamkan matanya, menikmati jemari hangat Anya yang menari di sela-sela rambutnya.
Dengan gerakan yang sangat halus dan penuh kehati-hatian, Anya mulai memotong helai demi helai rambut perak murni milik Wiliam. Ia memotongnya dengan rapi, membiarkan panjang rambut perak Wiliam kini hanya sebatas pundaknya—memberikan kesan yang jauh lebih segar, maskulin, dan perkasa, namun tetap memancarkan aura keagungan yang misterius.
Setelah selesai, Anya membersihkan sisa-sisa helai rambut perak di bahu Wiliam, lalu memeluk leher Wiliam dari belakang dan melihat pantulan mereka di cermin kristal.
"Kau terlihat sangat tampan, Wiliam..." puji Anya dengan rona merah tipis di pipinya.
Wiliam memegang tangan Anya, memandangi rambut perak barunya sebatas pundak di dalam cermin. "Terima kasih, Anya. Ini sempurna."
Beberapa saat kemudian, keempat Pilar Terkuat berkumpul di batas gerbang dimensi yang terhubung langsung ke Ujung Samudra Purba—perbatasan terluar dari benua manusia.
Di tepi tebing batu raksasa yang menghadap ke arah lautan lepas tanpa batas, angin samudra bertiup kencang mengibarkan jubah para penguasa.
Alistair melangkah maju, menyerahkan sebuah cincin ruang berwarna hitam pekat dan selembar perkamen identitas baru kepada Wiliam.
"Di dalam cincin ini terdapat peta samudra kuno, beberapa batu sihir tingkat tinggi, dan pakaian pengembara," terang Alistair. "Mulai hari ini, nama Wiliam Pendragon telah mati di benua ini. Identitas barumu di dunia luar adalah Ren, seorang pengembara pedang dari klan terasing."
Trigger menepuk bahu Wiliam dengan tangannya yang kuat hingga mengeluarkan suara gema pelan. "Jaga dirimu baik-baik di luar sana, Ren! Di luar samudra ini, monster dan praktisi sihirnya jauh lebih buas daripada apa yang ada di benua kecil ini. Jangan ragu untuk membantai siapa pun yang menghalangi jalanmu!"
"Ingatlah untuk selalu menyeimbangkan kekuatan Inti Demigod dan Hati Iblis-mu," pesan Solaria seraya mengedipkan sebelah mata emasnya dengan penuh pesona.
Wiliam menerima cincin dan kartu identitas tersebut, menyimpannya dengan rapi. Ia kemudian berbalik menatap Anastasia yang berdiri beberapa langkah darinya dengan raut wajah yang menahan tangis.
Wiliam melangkah mendekat, merengkuh pinggang Anya dan menariknya ke dalam pelukan erat. Di hadapan ketiga Pilar Terkuat, Wiliam menundukkan kepalanya dan mencium bibir Anastasia dengan sangat hangat dan mesra sebagai salam perpisahan.
Melihat pemandangan romantis yang penuh kehangatan itu, Solaria yang berdiri di samping Trigger mendadak menggigit bibir bawahnya pelan. Mata emas Ratu Naga itu berbinar-binar penuh iri.
"Aduh, aduh..." gumam Solaria seraya menyilangkan tangan di bawah dadanya yang membusung, mendesah pelan. "Melihat pemuda setampan dan sekuat dia begitu manis pada pasangannya... sepertinya aku juga mulai jatuh cinta pada Wiliam."
Mendengar ucapan Solaria, Anastasia seketika melepaskan ciumannya dari Wiliam. Ia berbalik menatap Solaria dengan wajah memerah hebat, sepasang matanya memancarkan pendar cemburu yang sangat imut seraya mempoutkan bibirnya!
"Solaria!" bentak Anya dengan nada marah yang menggemaskan, pendar es murni meletus tipis dari tangannya. "Jangan berani-berani mencoba merayu calon suamiku!"
Solaria tertawa terbahak-bahak melihat reaksi cemburu dari sang Nona Suci Elf, sementara Trigger dan Alistair hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Ratu Naga tersebut.
Wiliam terkekeh pelan, mengelus rambut emas Solaria sejenak sebagai perpisahan canggung, lalu kembali mengusap pipi Anastasia. "Tunggulah aku, Anya. Aku pasti kembali."
"Aku akan selalu menunggumu, Ren..." bisik Anya seraya tersenyum manis.
Dengan satu kepakan empat sayap hitamnya yang mekar kembali dalam wujud baru, Wiliam melompat melintasi tebing raksasa, melesat bagaikan kilat perak menembus awan samudra menuju benua dan cakrawala baru yang tak terbatas!
Sementara Wiliam mulai menapaki jalan pengembaraannya di luar samudra, Alistair melangkah menembus gerbang ruang dan muncul secara langsung di dalam Ruang Sidang Keagungan Istana Kerajaan.
Kehadiran mendadak Penyihir Terkuat di dunia itu membuat Raja Kerajaan, Lord Vane, Duke Cassian, dan puluhan jenderal militer terperanjat kaku!
"T-Tuan Alistair...!" panggil sang Raja seraya berdiri tergesa-gesa dari takhtanya, memberi penghormatan tertinggi. "Ada gerangan apa Penyihir Terkuat berkenan hadir di istana kami?"
Alistair berdiri di tengah aula dengan wajah penuh kedukaan yang direkayasa secara sempurna. Ia menggelengkan kepalanya pelan dengan nada suara yang sangat berat.
"Aku datang membawa kabar duka bagi Kerajaan ini," ucap Alistair, suaranya menggema ke seluruh sudut aula. "Mengenai pemuda bernama Wiliam Pendragon..."
Raja dan para bangsawan menahan napas mereka. "Bagaimana dengan Wiliam, Tuan Alistair?"
"Siksaan Petir Petaka Dewa yang menyambar ibu kota tempo hari... adalah bentuk eksekusi absolut dari Dimensi Atas," terang Alistair dengan wajah serius. "Aku telah berusaha menyelamatkan jiwanya, namun kekuatan hukum Dewa terlalu kuat. Tubuh dan jiwa Wiliam Pendragon... telah hancur sepenuhnya menjadi abuk di dalam dimensi pengasinganku. Pemuda itu telah tewas."
GASPS!
Gema keheningan yang mencekam merayap di seluruh aula sidang.
Sang Raja menyandarkan tubuhnya kembali ke takhta dengan raut wajah penuh penyesalan mendalam. "Jadi... Petir Petaka itu benar-benar menewaskannya? Sungguh amat disayangkan... Kerajaan ini telah kehilangan seorang pahlawan paling berbakat yang pernah lahir dalam sejarah."
Duke Cassian dan para bangsawan konservatif menghela napas lega di dalam hati mereka, merasa ancaman sosok iblis telah musnah.
Sang Raja mengangkat hand-sign keagungan, lalu memerintahkan Lord Vane dengan suara tegas: "Sebarkan berita ini ke seluruh pelosok negeri! Umumkan bahwa Wiliam Pendragon telah gugur sebagai pahlawan akibat Hukuman Dewa. Kirimkan utusan resmi Kerajaan ke mansion Pendragon untuk menyampaikan duka cita mendalam dan berikan penghormatan tertinggi bagi keluarganya!"
Hari itu, seluruh ibu kota dan Kerajaan kembali berkabung atas gugurnya sang Hantu Topeng—tanpa mengetahui bahwa jauh di luar sana, di atas lautan samudra luas, sesosok legenda baru bertangan besi dan berambut perak sedang lahir menantang dunia.