Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Tanpa Nama
Sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai kaca di ruang kerja utama Wibowo Group. Suasana di lantai atas gedung perkantoran tersebut terasa sangat berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya. Para karyawan yang biasanya bersikap dingin dan acuh tak acuh kini mendadak membungkuk hormat setiap kali Maya melintas di koridor.
Maya duduk di kursi kebesaran mendiang ayahnya, mengamati tumpukan dokumen yang baru saja diserahkan oleh tim sekretariat. Di seberang meja marmer yang luas itu, Pak Gunawan duduk dengan wajah muram dan kedua tangan terkepal di atas paha. Sementara itu, Sisca berdiri di sudut ruangan sambil memegang cangkir kopi dengan jemari yang masih gemetar.
Arka sendiri memilih duduk di sofa kulit yang terletak di sudut ruang kerja. Pria itu mengenakan kaus polos berwarna abu-abu gelap dan celana kain sederhana. Ia tampak santai menyesap teh hangat, seolah-olah tidak peduli dengan ketegangan hebat yang menyelimuti ruangan tersebut.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" bentak Pak Gunawan tiba-tiba, mengebrak meja kerja hingga cangkir kopi di atasnya bergoyang keras. "Siapa sebenarnya orang di balik Nusantara Group yang sudi membuang uang ratusan miliar rupiah cuma untuk membeli empat puluh persen saham atas nama wanita muda seperti kamu?!"
Maya tidak tersentak sedikit pun. Ia menutup map dokumen di hadapannya dengan gerakan yang sangat tenang, lalu menatap pamannya dengan pandangan dingin.
"Apakah itu penting, Paman?" balas Maya dengan suara datar. "Yang jelas, transaksi itu sah secara hukum. Dengan kepemilikan lima puluh persen saham di tanganku, seluruh keputusan strategis operasional Wibowo Group mulai hari ini harus melewati persetujuan resmiku."
Pak Gunawan menggeram rendah, dadanya naik turun menahan amarah yang membakar. "Kamu jangan berlagak sombong, Maya! Tanpa sokongan modal dari pimpinan misterius itu, kamu cuma anak kemarin sore yang tidak tahu cara mengelola bisnis besar!"
Sisca yang sejak tadi menahan diri akhirnya melangkah maju. Wajah cantiknya tertekuk sinis saat melirik ke arah Arka yang sedang duduk di sofa.
"Maya, jangan bangga dulu!" celeduk Sisca dengan nada mengejek yang tajam. "Di dunia bisnis ini tidak ada makan siang gratis. Mana ada pengusaha raksasa yang mau menghibahkan saham ratusan miliar tanpa meminta imbalan? Jangan-jangan di balik layar kamu sudah jadi simpanan pimpinan Nusantara Group itu!"
Maya berdiri secara mendadak dari kursinya, matanya menyala oleh amarah. "Jaga mulutmu, Sisca! Jangan samakan aku dengan dirimu yang rela menjual harga diri demi uang!"
"Lalu bagaimana kamu menjelaskan semua kebetulan ini?!" cercas Sisca tidak mau kalah. "Kamu menikah dengan gembel jalanan ini cuma buat formalitas, tapi mendadak ada konglomerat yang menyirammu dengan harta! Mau ditaruh di mana muka suamimu itu kalau tahu istrinya punya penyokong rahasia?"
Suasana ruangan mendadak hening. Maya hendak membalas ucapan sepupunya, namun suara langkah kaki yang tenang mendadak memotong ketegangan tersebut.
Arka meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kaca tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Pria itu berdiri dari sofa, merapikan kaus polosnya, lalu melangkah santai menghampiri meja kerja utama. Aura ketenangan yang memancar dari dirinya seketika membuat Sisca mendadak menahan napas dan melangkah mundur satu titik.
Arka berhenti tepat di samping Maya, menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap Sisca dari atas ke bawah dengan pandangan yang sangat datar.
"Nona Sisca," ucap Arka dengan suara beratnya yang menenangkan namun sarat akan nada menusuk. "Daripada sibuk mengurus rumah tangga orang lain dan mereka-reka cerita bohong, bukankah lebih baik kamu memikirkan cara membayar cicilan mobil mewahmu yang sudah menunggak tiga bulan?"
Sisca terperanjat hebat, matanya membelalak lebar. "Ka-kamu! Tahu dari mana kamu soal cicilan mobilku?!"
Pak Gunawan ikut menoleh kaget ke arah anaknya. "Sisca! Mobil yang baru kamu beli bulan lalu itu menunggak?!"
"Bukan cuma mobil," lanjut Arka santai tanpa mengalihkan pandangannya dari Sisca. "Kartu kredit atas namamu di tiga bank swasta juga sudah diblokir sejak minggu lalu karena melampaui batas penarikan. Kalau sampai pihak bank melakukan penyitaan aset esok hari, nama baik keluarga Bapak Gunawan pasti akan makin harum di media."
Wajah Sisca seketika berubah pucat pasi bagai kertas hVS. Ia menunjuk Arka dengan jari gemetar. "Kamu... kamu pasti memata-matai keluargaku! Dasar pria licik!"
Arka hanya mengulas senyum tipis yang teramat dingin di bibirnya. "Aku tidak perlu memata-matai siapa pun. Orang yang hidup dari hasil memamerkan kemewahan palsu biasanya selalu meninggalkan jejak yang sangat mudah dibaca."
Pak Gunawan mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa dipermalukan di hadapan keponakannya oleh seorang pria yang ia anggap buruh serabutan.
"Cukup!" bentak Pak Gunawan dengan wajah merah padam. "Kalian berdua jangan senang dulu! Rapat Umum Pemegang Saham minggu depan akan menentukan siapa yang pantas duduk di kursi Direktur Utama! Kita lihat saja apakah sokongan saham itu bisa menyelamatkanmu dari tuduhan kelalaian manajemen!"
Pak Gunawan menyambar tas dokumennya lalu berjalan cepat keluar dari ruangan, diikuti oleh Sisca yang berlari kecil di belakangnya dengan raut wajah penuh kekesalan dan malu.
Pintu ruang kerja tertutup rapat. Keheningan kembali melingkupi ruangan yang luas tersebut.
Maya bernapas lega, mendudukkan kembali tubuhnya di kursi kerja. Namun, pandangannya tidak bergeser sedikit pun dari sosok Arka yang kini sedang merapikan beberapa kertas di sudut meja.
"Arka," panggil Maya pelan.
Arka menoleh dengan raut wajah polosnya yang biasa. "Ya, Maya?"
"Soal cicilan mobil dan kartu kredit Sisca tadi," Maya menyipitkan matanya, mengamati reaksi suaminya dengan cermat. "Kamu benar-benar tahu dari mana? Informasi seperti itu sifatnya sangat rahasia dari pihak perbankan."
Arka memiringkan kepalanya sedikit, lalu terkekeh pelan sambil menggaruk belakang telinganya.
"Oh, itu?" jawab Arka ringan dengan nada santai. "Kemarin waktu aku pergi ke bengkel untuk memperbaiki rantai motor bebekku, ada dua orang petugas penagih utang yang sedang makan di warung sebelah. Mereka sedang membicarakan pelat nomor mobil mewah milik Sisca dan mengeluhkan betapa susahnya menagih utang ke keluarga kaya. Aku cuma mengingat nomor pelat mobilnya saja."
Maya mengernyitkan alisnya. Penjelasan itu terdengar sangat logis dan serba kebetulan, namun intuisinya terus berbisik bahwa ada sesuatu yang tidak pas.
"Lalu soal pengangkatan saham kemarin malam," lanjut Maya sambil bersandar pada kursinya, menatap lurus ke mata Arka. "Kamu tidak merasa aneh? Kenapa perusahaan raksasa seperti Nusantara Group mendadak menginvestasikan uang ratusan miliar hanya untuk melindungiku? Kita bahkan tidak pernah kenal siapa CEO mereka."
Arka berjalan mendekati meja kerja, menyandarkan kedua tangannya di pinggir meja kayu tersebut sambil menatap balik mata Maya dengan kehangatan yang tenang.
"Mungkin CEO Nusantara Group itu adalah orang bijaksana yang suka membantu wanita jujur sepertimu," sahut Arka ringan. "Dunia ini tidak selamanya dipenuhi orang jahat, Maya."
Maya menggelengkan kepala, tersenyum kecele mendengar jawaban polos suaminya. "Mana ada pebisnis kelas atas yang bertindak atas dasar belas kasihan tanpa motif keuntungan? Di dunia ini tidak ada makan siang gratis, Arka. Semua hal pasti punya harga yang harus dibayar."
"Kalau begitu," Arka mengulas senyum tipis yang sangat menawan, "bagaimana kalau kita anggap saja bantuan itu sebagai keberuntungan atas pernikahan kita?"
Maya menghela napas panjang, memutuskan untuk menghentikan perdebatan tersebut karena kepalanya sudah cukup pusing memikirkan berkas audit. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, benih kecurigaan telah tertanam makin dalam.
Pria berkaus oblong yang duduk di depannya ini memiliki terlalu banyak kebetulan yang sempurna. Dan Maya bertekad untuk mencari tahu rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan oleh suami serabutannya tersebut.
itu.