Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Pagi menyingsing menyapu sisi sisa hujan semalam, Aroma tahan basah dan embun dan dingin menusuk ke dalam tulang, Namun di dalam ruangan panggung, suasana terasa begitu hangat, Kinanti sudah berdiri di depan kompor, membolak balik adonan cilok goreng dan menyiapkan bumbu kacang aroma jeruk, Aroma bumbu kacang tercium sedap apabila dihirup hidung.

"Mas Arka, Tolong ambilin kacang dirak atas dong" Panggil Kinanti tampa menoleh, tangannya lincah mengocok telur.

Arka yang sedang merapikan taplak meja langsung menghampiri, Dengan tubuh tegapnya, Ia merengkuh tubuh Kinanti, Dari belakang menggapai toples yang berisi butiran kacang tanah dirak paling atas, lalu meletakannya disamping kompor.

"Ini kacangnya, Cintaku sayangku, manisku. "gombal Arka tepat, disamping telinga Kinanti, Keduanya tangganya tetap bertengger dipinggang ramping Kinanti.

" ih mas Arka, Bau minyak tau, nanti bajunya kotor"Omel Kinanti manja, walau pipinya merona seraya menyandarkan kepalanya,didada bidang Arka.

"Nggak apa apa , aroma masakan kamu itu, Aroma paling enak didunia"Goda Arka seraya mendaratkan ciuman singkat dipipi halus Kinanti.

"Biasa aja gombalan nya ya! Ya udah mepet mepet nya nanti lagi. Aku mau ngirim pesenan cilok ke Warung bu Asih dulu sebelum kita siap siap buat festival panen raya besok"kata Kinanti sambil tersenyum manis.

"Mas yang anter ya? " Tawar Arka.

"Ngga usah Mas, Cuma Kedepan gang KoK,Bi Asih yang mau ambil kesini, Sekalian jalan kepasar, Mas Arka mendingan istirahat dulu aja,Dari semalem kayaknya Mas kurang tidur"

Setelah membantu mengemas pesanan, Arka memastikan istrinya aman Menyambut bu Asih di teras depan.

"Dadah Mas, Arka aku pergi dulu ya" Kinanti melambaikan tangan pada suaminya ceria sambil berjalan bersama Bu Asih.

"Iya.. hati hati dijalan" sahut Arka.

Beberapa menit kemudian Arka melangkahkan kali menuju halaman belakang pekarangan, Ia memasuki pohon tersembunyi dibalik rimbunnya pohon bambu, sekitar seratus kilometer dari rumahnya.

Didalam pondok Lingga sedang duduk, bersandar pada tumpukan karung berisi kayu bakar, Ia merintih pelan sambil memegang bagian perutnya yang sudah diperban rapi. Wajahnya sedikit pucat, Namun, sudah kembali tajam.

"Aduh bos.. Obat racikan Lu Kerasa benget, Berasa ditusuk tusuk jarum sebadan"ringgis Lingga kemudian ia menyisir rambut mulletnya.

"Masih mampu buat bertahan hidupkan? "Balas Arka dingin duduk diatas tumpukan karung putih.

"Ya, Masih Lah bos, Gue belum mau mati"

sebelum liat Lu punya anak"kekeh Lingga pelan.

" Gue mau ngecek enkripsi dihp Apek hunter yang lu sikat pas malem, Sialan banget Bos".

Arka menaikan sebelah Alisnya. "Berapa banyak yang mereka kirim? "

"Tim yang Malem Nyerang cuma eksekutor lokal, buat ngelacak rute" kata Lingga setengah berisik.

"The Apex hunter, ngirim tiga tim utama tim satu berisi, ahli jarak jauh dari Eropa, Tim dua peracik racun dan bahan peledak dan tim... tiga Vanguard yang isinya veteran perang"

Arka menyilangkan tangannya didada, tidak ada raut gentar sedikitpun diwajahnya, Hanya aurat dingin yang begitu pekat. "Target Mereka? "

"Lu sama Mbak Kinanti. Tapi Strateginya Bajingan banget, Bos, Mereka tau. Mereka nggak bakal menang lawan Lu secara Langsung di Area terbuka, Jadi mereka ngerencanain penyanderaan Mbak Kinanti Pas Acara Festival Panen Raya besok"

Mata Arka menyipit tajam. Kilatan membunuh yang sangat menakutkan mencuat seketika di bola matanya, membuat suhu didalam pondok seolah merosot drastis.

"Mereka mau memanfaatkan keramaian desa"Bisik Arka.

Lingga meringis pelan menggeser dudukannya, Agar perban diperutnya tak makin tertekan.

" Rencananya, Tim dua bakal masang peledak asap sama pengacau sinyal di area sekitar panggung Festival, Saat warga panik, tim tiga bakal masuk nyulik Mba Kinanti, sementara Seniper mereka Ngunci pergerakan Lu, dibatas bukit Pinus "

Arka memandang keluar celah dinding bambu,Angin pagi menepis daun-daun, memancarkan kedamaian palsu yang sebentar lagi akan dinodai darah.

"Mereka piki keramaian adalah perisai mereka, Mereka tidak tau kalau keramaian adalah tempat terbaik untuk melenyapkan mereka satu persatu tampa ada yang tau ada warga yang sadar" Ujar Arka Tenang.

"Jadi, Rencana kita gimana, Bos? "tanya Lingga, matanya berbinar menantikan perintah sang legenda"Gua udah kontak anak anak the white Dragon buat siap Lu perintah"

"Tahan mereka, Jangan ada pergerakan mencolok yang bikin warga dan Kinanti curiga, biarkan mereka merasa rencananya berjalan dengan lancar"Arka melanjutkan kalimatnya." Aku punya Strategi yang bagus"

Lingga membuka matanya. "Gimana bos Strategi nya.

Wajah lingga serius, seketika suasana di pondok begitu dingin.

"Pertama, Aku akan menetralisir Tim penembak Jitu dibukit pinus sejam sebelum Festival dimulai, Kau dan White Dragon tukar bahan peledaknya pake petasan biasa" kata Arka.

Lingga tersenyum dengan Rencana Bos nya"Rencana Bagus Bos"

"Dan untuk eksekutor utama, Aku akan memancing, ke area belakang panggung yang sepi"ucap Arka, sorot matanya tajam." Satu Aturan mutlak, Kinanti tidak boleh melihat setetes darahpun dimatanya, Besok adalah hari Festival yang membahagiakan "

"Paham bos, Serahkan urusan peledak ke gua"Sahut Lingga dengan senyuman miring Khas nya.

Setelah menyelesaikan pembagian tugas dengan Lingga, Arka bergegas pulang. Kilatan dingin di matanya meluruh seketika, berganti dengan binar lembut saat langkah kakinya mendekati pintu rumah sederhana mereka.

​Di teras, Kinanti sedang sibuk merapikan apron dan beberapa wadah cilok yang sudah dibersihkan. Melihat suaminya berjalan mendekat, senyum manis Kinanti mengembang sempurna.

​"Dari mana aja, Mas? Pagi-pagi kok udah ngga ada di tempat tidur?" tanya Kinanti seraya menyambut Arka dan mencium tangannya.

​Arka tersenyum tipis, merengkuh pinggang istrinya lembut lalu mengecup dahi Kinanti hangat sebuah gerakan refleks yang selalu berhasil menenangkan gejolak membunuh di dalam dadanya.

​"Tadi Mas jalan sebentar ke pasar depan, Mba dini bilang tepung tapioka langganan kita baru masuk stok bagus. Jadi Mas pesan duluan buat dagang besok," alibi Arka mulus tanpa ragu sedikit pun.

​"Oalah, pantesan..." Kinanti mengangguk-angguk percaya, lalu mengusap bahu Arka yang terasa agak dingin terkena embun pagi. "Ya sudah, Mas mandi dulu gih. Ini kue basah pemberian Bu RT tadi udah Aku siapkan di meja."

​"Siap, Istriku," jawab Arka terkekeh pelan.

​Arka memandangi punggung Kinanti yang berjalan menuju dapur. Jemari Arka terkepal perlahan di dalam saku celananya, menahan gemuruh emosi yang membakar dadanya.

​Besok di Festival Desa, mereka pikir bisa menyentuhmu, Kinanti? batin Arka dingin. Mereka belum tahu saja kalau mereka sedang melangkah masuk ke dalam neraka yang sudah Kusiapkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!