Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — Dosa Pertama
Klek.
Suara kaset yang berhenti berputar itu menggema jauh lebih keras daripada suara rolling door yang berkarat.
Di dalam ruko tua Glodok yang setengah tertutup, yang hanya diterangi cahaya matahari pagi yang masuk dari celah rolling door, tidak ada yang bergerak.
Di tape recorder kecil Sony Walkman tua di tangan Dilla, suara Larasati — suara yang lembut, yang 30 tahun tidak didengar Dilla — baru saja mengucapkan kalimat yang menghancurkan semua yang baru saja dibangun dalam 24 jam terakhir.
"...karena Mahendra yang kasih racun ke minuman Ayahanda Wiratama 28 tahun lalu... Mahendra yang mulai semua dosa ini..."
Dilla yang masih memeluk Arif, perlahan mengangkat wajahnya yang penuh air mata dan menatap Mahendra yang berdiri di sudut ruko, di dekat foto Larasati.
Mahendra pucat pasi. Tidak ada lagi air mata haru seperti saat ia memeluk Dilla lima menit lalu. Wajahnya yang keriput kini putih seperti kertas, tangannya yang memegang meja kayu tua itu gemetar hebat.
Jatmiko yang berdiri di samping Mahendra, yang 28 tahun lalu menganggap Mahendra adalah korban, kini menatap sahabat lamanya itu dengan tatapan yang berbeda — tatapan kecewa, marah, dan tidak percaya.
"Mah..." suara Jatmiko serak dan hampir tidak keluar. "Apa... apa maksud Larasati? Kamu... kamu racun Ayahku? Ayahanda Wiratama?"
Pranoto yang sejak tadi diam di belakang, memejamkan mata. Ia tahu cerita ini. Ia ada di sana malam itu.
Azam dan Fadil saling pandang. Fadil langsung menarik Dilla dan Arif sedikit mundur, melindungi mereka. Bukan dari Mahendra secara fisik, tapi dari kenyataan yang baru saja terungkap.
Dilla menatap Mahendra dengan mata yang berkaca-kaca. Baru lima menit lalu ia memanggil pria ini Ayah untuk pertama kalinya seumur hidup. Baru lima menit lalu ia merasa utuh.
"Ayah..." bisik Dilla, suaranya pecah. "Ibu bohong, ya? Ibu salah ingat, ya? Ayah tidak mungkin..."
Mahendra tidak langsung menjawab. Ia terduduk pelan di kursi kayu tua itu, kursi yang 28 tahun lalu adalah kursinya sebagai direktur. Punggungnya yang tadi sudah bungkuk kini terlihat semakin bungkuk, seolah menahan beban 28 tahun yang baru saja dijatuhkan kembali di pundaknya.
Ia menatap foto Larasati di atas meja. Foto Larasati yang tersenyum bahagia di pelukannya, foto yang sama dengan yang ditemukan Dilla di sawah.
"Larasati tidak bohong, Dilla," kata Mahendra akhirnya, dengan suara yang sangat pelan dan hancur. "Ibumu tidak pernah bohong seumur hidupnya. Makanya dia dibunuh."
Satu kalimat itu membuat semua orang di ruko itu membeku.
Mahendra melanjutkan, matanya menatap kosong ke arah debu yang beterbangan di sinar matahari.
"Tahun 1988. Ruko ini masih baru. Kita baru dapat proyek pertama. Ayahanda Wiratama — ayah Jatmiko — cuma investor 30%. Tapi dia ingin 70% milikku. Dia bilang aku anak muda bodoh yang tidak bisa kelola uang. Dia bilang Larasati — yang saat itu sudah jadi pacarku dan kasir di sini — cuma perempuan kampung yang mengincar hartaku."
Mahendra menatap Jatmiko. "Ayahmu bilang begitu, Jatmiko. Di depan Larasati. Dia bilang Larasati hamil anakku untuk jebak aku."
Jatmiko mengepalkan tangannya. Ia ingat ayahnya memang keras dan rasis. Ia ingat ayahnya tidak pernah setuju ia berteman dengan Mahendra yang dianggap orang miskin dari Glodok.
"Malam itu, Larasati menangis semalaman di ruko ini. Dia bilang dia malu. Dia bilang dia tidak mau anaknya lahir dihina. Aku marah, Jatmiko. Aku marah sekali sama ayahmu. Aku buat teh untuk ayahmu malam itu. Ayahmu datang ke ruko untuk minta laporan keuangan."
Mahendra menarik napas panjang yang bergetar.
"Aku masukkan obat tidur dosis tinggi ke tehnya. Bukan racun tikus. Bukan racun mematikan. Obat tidur milik ibuku yang sudah lama tidak terpakai. Aku hanya ingin dia tidur di ruko ini semalaman, agar dia tidak pulang dan memaki Larasati lagi. Aku hanya ingin dia diam satu malam."
Air mata Mahendra jatuh.
"Tapi Larasati melihat. Larasati melihat aku masukkan obat itu ke teh. Larasati merebut cangkir itu dan membuangnya ke wastafel. Dia marah padaku. Dia bilang, 'Mahendra, jangan jadi seperti mereka. Jangan balas kejahatan dengan kejahatan. Kalau kamu racun ayahnya Jatmiko, kamu sama jahatnya dengan mereka.'"
Dilla memegang mulutnya. Ia bisa membayangkan ibunya yang lembut tapi tegas itu.
"Larasati yang selamatkan ayahmu malam itu, Jatmiko," kata Mahendra sambil menatap Jatmiko yang sudah menangis tanpa suara. "Tapi ayahmu tidak tahu. Ayahmu melihat cangkir teh yang sudah tumpah di wastafel dan mengira aku memang mau meracuninya. Sejak malam itu, ayahmu menganggap aku mau membunuhnya. Sejak malam itu, ayahmu mulai rencanakan untuk menyingkirkan aku selamanya. Dia buat skenario kecelakaan tol Jagorawi. Dia buat Larasati percaya aku mati. Dia jodohkan Larasati dengan kamu, Jatmiko."
Pranoto mengangguk pelan, membenarkan cerita itu. "Itu benar. Aku yang disuruh Ayahanda Wiratama buat laporan kecelakaan palsu Mahendra. Aku yang disuruh bilang ke Larasati Mahendra mati."
Jadi, Mahendra memang memasukkan obat tidur — bukan racun mematikan — dan Larasati yang menggagalkannya. Tapi fitnah bahwa Mahendra mau meracuni Ayahanda Wiratama terlanjur menjadi alasan bagi keluarga Wiratama untuk menghabisi Mahendra dan merebut 70% sahamnya.
Dilla yang mendengar semua itu, perlahan berjalan mendekati Mahendra lagi. Kali ini bukan dengan ragu, tapi dengan pemahaman baru.
"Jadi... Ibu tidak benci Ayah karena Ayah mau meracuni kakek Wiratama... Ibu marah karena Ayah hampir jadi orang jahat seperti mereka..." bisik Dilla.
Mahendra mengangguk sambil menangis. "Ibumu... ibumu selamatkan aku dari jadi pembunuh, Dilla. Tapi aku tidak bisa selamatkan ibumu dari dibunuh ayah Jatmiko 3 tahun kemudian, saat ibumu menemukan bukti bahwa ayah Jatmiko yang palsukan akta perusahaan."
Jatmiko yang mendengar ayahnya disebut lagi sebagai pembunuh Larasati, terduduk lemas di lantai berdebu. Selama 28 tahun ia mengira ayahnya adalah korban Mahendra. Ternyata ayahnya adalah pelaku utama.
"Ayahku... bunuh Larasati...?" bisik Jatmiko dengan suara yang hancur.
Di luar ruko, suara teriakan dua pria bermasker dan Suryanto semakin keras. Mereka bertengkar di depan rolling door yang setengah tertutup.
"Kalian disuruh siapa?!" teriak Suryanto pada dua pria bermasker itu.
"Kita disuruh Bagaskara! Ambil buku dan kaset! Bawa Dilla!" jawab salah satu pria bermasker.
"Bodoh! Bagaskara sudah tidak pegang kendali! Bos besar yang di atas Bagaskara yang pegang kendali sekarang! Perempuan itu!" Suryanto menunjuk ke arah mobil Avanza hitam yang masih parkir dengan mesin menyala.
Dari dalam Avanza hitam itu, pintu belakang terbuka pelan.
Seorang perempuan tua dengan kebaya cokelat dan rambut disanggul rapi turun dengan tongkat. Wajahnya sangat mirip dengan Bu Ratih, tapi jauh lebih tua dan jauh lebih dingin.
Azam yang mengintip dari celah rolling door langsung membeku. Darahnya berhenti mengalir.
"Nenek Suri...?" bisiknya.
Pranoto yang mendengar nama itu langsung pucat pasi. "Raden Ayu Suryowati... ibu kandung Ayahanda Wiratama... nenek buyut Jatmiko... yang dikira sudah meninggal 15 tahun lalu di Solo..."
Nenek Suri, perempuan 85 tahun yang seharusnya sudah meninggal, kini berdiri di depan ruko tua Glodok, menatap rolling door yang setengah tertutup itu dengan mata yang tajam.
"Mahendra," suaranya serak tapi berwibawa, terdengar jelas sampai ke dalam ruko. "Keluar. Sudah 28 tahun kamu sembunyi di sawah. Sudah waktunya kamu pulang dan kembalikan apa yang kamu curi dari anakku."
Dilla yang mendengar suara itu langsung memeluk Arif lebih erat. Fadil berdiri di depan mereka.
Mahendra yang mendengar suara Nenek Suri, tubuh tuanya gemetar hebat, bukan karena takut, tapi karena marah yang tertahan 28 tahun.
"Dia... dia yang suruh Ayahanda Wiratama palsukan akta..." bisik Mahendra pada Jatmiko. "Nenekmu, Jatmiko... dia yang paling serakah..."
Di dalam ruko, kaset Larasati yang tadi berhenti, tiba-tiba berputar lagi sendiri karena tape recorder tua itu tersenggol kaki Arif.
Krek...
Suara Larasati kembali terdengar, melanjutkan kalimat yang tadi terpotong, kalimat yang belum sempat mereka dengar karena sibuk dengan penyadap:
"...Mahendra yang mulai semua dosa ini... tapi Nak... kalau kamu dengar ini... jangan benci ayahmu... karena ayahmu lakukan itu untuk Ibu... untuk kamu yang ada di perut Ibu... Maafkan ayahmu, Dilla... Maafkan Ibu juga yang tidak bisa jaga kalian... Jaga buku ini baik-baik... di halaman terakhir yang Ibu robek... ada alamat rumah kontrakan Ibu di Karangrejo yang asli... di bawah lantainya... ada surat asli kepemilikan 70% itu yang belum sempat Ibu kasih ke Mahendra... ambil itu, Nak... dan bawa ke notaris... bukan ke polisi... ke notaris Pranoto..."
Kaset itu berhenti lagi.
Semua orang di dalam ruko menatap Pranoto.
Pranoto — notaris.
Pranoto yang selama ini dianggap pengkhianat, ternyata adalah notaris yang dimaksud Larasati untuk mengembalikan 70% saham Mahendra secara hukum.
Pranoto menangis. Untuk pertama kalinya, notaris tua itu menangis.
"Larasati... masih percaya sama saya... setelah 28 tahun..."
Di luar, Nenek Suri mengetuk tongkatnya ke aspal dengan keras.
"Mahendra! Dilla! Keluar! Atau saya bakar ruko ini dengan kalian di dalamnya seperti 28 tahun lalu saya mau bakar Larasati!"
Azam yang mendengar ancaman itu langsung menarik Dilla, Fadil, Arif, Jatmiko, Mahendra, Pranoto, dan Laras ke pintu belakang ruko — pintu kecil yang menuju gang tikus Glodok yang hanya diketahui Mahendra dan Pranoto.
"Kita keluar lewat belakang! Sekarang!" bisik Azam.
Mahendra yang dituntun Jatmiko, sempat menoleh ke arah foto Larasati di atas meja yang tertinggal.
"Larasati... maafkan aku..." bisiknya.
Dilla yang melihat foto ibunya tertinggal, ingin kembali mengambilnya, tapi Fadil menariknya.
"Biar Mas yang ambil!" Fadil berlari kembali, mengambil bingkai foto Larasati itu di tengah ancaman Nenek Suri yang sudah menyuruh dua pria bermasker mendobrak rolling door dengan linggis.
BRAK! BRAK!
Rolling door bergetar hebat.
Fadil berhasil mengambil foto itu dan berlari kembali ke pintu belakang.
Mereka semua keluar lewat gang tikus yang gelap dan bau, meninggalkan ruko tua yang menjadi saksi awal dan hampir menjadi akhir dari segalanya.
Di depan ruko, Nenek Suri berhasil mendobrak rolling door. Ia masuk dan melihat ruko kosong. Hanya ada tape recorder tua yang masih menyala tanpa kaset, dan penyadap tua yang masih berkedip merah di bawah meja.
Nenek Suri mengambil tape recorder itu dan membantingnya ke lantai dengan marah.
PRANG!
"MAHENDRA! KAMU TIDAK BISA LARI LAGI! 70% ITU MILIK KELUARGAKU!"
Teriakannya menggema di ruko kosong Glodok pagi itu, didengar oleh debu-debu yang beterbangan.
Sementara di ujung gang tikus, Dilla, Fadil yang menggendong Arif, Jatmiko yang menuntun Mahendra, Azam, Pranoto, dan Laras berlari pelan menembus pasar Glodok yang mulai ramai, membawa foto Larasati, buku hitam, dan kaset pita — tiga benda yang kini menjadi satu-satunya bukti untuk mengembalikan 70% yang direbut 28 tahun lalu.
Bersambung...