Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Kok aneh ya? Kaya pacaran
Malam harinya, gerimis tipis menyiram jalanan kota. Mobil sedan hitam milik Fadil terparkir di pelataran sebuah supermarket besar.
Aura mendorong troli belanjaan dengan langkah santai, sementara Fadil berjalan di sampingnya dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celana kainnya.
Penampilan Fadil yang tetap terkesan rapi dan maskulin meski dalam suasana santai menarik perhatian beberapa pengunjung supermarket, namun pandangan pria itu fokus mendampingi wanita di sebelahnya.
"Mama suka sekali dengan olahan ikan gurame asam manis dan sup iga," tutur Aura seraya memilih sayuran segar di rak supermarket. "Kalau Farah suka camilan manis, jadi aku mau buatkan pudding cokelat dan pastel kering."
Fadil memperhatikan jemari Aura yang teliti memilih bahan makanan. "Kamu ingat betul kesukaan mereka."
"Tentu saja, Mas. Dulu sewaktu persiapan... maksudku, waktu acara keluarga, Farah pernah cerita soal makanan favoritnya," jawab Aura jujur, meski sempat agak canggung ketika menyebut masa lalu.
Fadil pun mengangguk pelan. Ia lalu mengambil alih kemudi troli dari tangan Aura. "Biarkan aku yang dorong. Kamu tinggal pilih apa saja yang dibutuhkan."
Sentuhan tak sengaja di gagang troli membuat jemari mereka sempat bertautan selama beberapa detik sebelum Aura menarik tangannya dengan pelan. Keduanya saling berpandangan dengan canggung yang manis, lalu tersenyum tipis bersamaan.
Saat melewati lorong bahan makanan olahan, Aura menjinjitkan kakinya dan berusaha meraih kotak bumbu impor yang terletak di rak paling atas.
Melihat Aura yang kesusahan, Fadil langsung melangkah mendekat dari belakang. Pria itu mengulurkan tangannya yang panjang, dan meraih kotak bumbu tersebut dengan mudah dari atas rak.
Posisi itu membuat tubuh Fadil berada tepat di belakang Aura, hingga memagari wanita itu selama sepersekian detik.
Aura reflek berbalik dan tersentak kaget karena jarak mereka yang kini sangat dekat. Dadanya bertabrakan halus dengan dada bidang Fadil.
Aroma wangi maskulin campuran sandalwood dan kesegaran malam dari tubuh Fadil menguar kuat, hingga membuat Aura terpaku dan tak bisa berkutik.
Fadil menatap manik mata Aura yang bulat dari jarak beberapa sentimeter. Tatapannya begitu dalam, seolah mengunci seluruh perhatiannya hanya pada wanita di hadapannya.
"Ini yang kamu cari?" bisik Fadil, lalu menyerahkan kotak bumbu itu ke tangan Aura.
"I-iya, Mas... Terima kasih," jawab Aura, sementara jantungnya bertabuh hebat di dalam rongga dada.
Fadil tidak langsung mundur. Tangannya yang bebas justru terulur melingkar di pinggang Aura dengan lembut, lalu menarik tubuh wanita itu sedikit lebih mendekat agar tidak tersenggol oleh pengunjung lain yang melintas membawa troli.
"Hati-hati," gumam Fadil tepat di depan wajah Aura.
Desiran hangat melingkupi hati mereka berdua di tengah riuk rendah pengunjung supermarket.
_____
Fadil tidak segera melepaskan lingkar tangannya di pinggang Aura, bahkan setelah troli pengunjung lain berlalu melewati mereka. Jarak yang memangkas napas itu membiarkan kehangatan tubuh mereka menyatu di tengah dinginnya pendingin udara supermarket.
Aura terpaku, sambil memegang erat kotak bumbu di dadanya. Manik matanya yang bening beradu langsung dengan iris mata Fadil yang menatapnya begitu dalam.
"Mas... orang-orang melihat kita," bisik Aura, yang berusaha menetralkan degupan jantungnya yang meledak-ledak. Pipinya pun sudah bersemu merah sempurna.
Namun, Fadil justru mengulas senyum tipis yang menawan. Bukannya menjauh, ia malah memiringkan kepalanya sedikit, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Aura. "Biarkan saja. Memangnya salah kalau aku merangkul istriku sendiri?"
Bisikan berbariton rendah itu mengirimkan sengatan halus yang membuat bulu kuduk Aura meremang.
Fadil kemudian menurunkan tangannya dari pinggang Aura, namun jarinya secara alami meluncur turun dan menggenggam jemari Aura, hingga menyatukan sela-sela jari mereka dengan erat.
Genggaman tangan itu begitu hangat dan kokoh. Fadil lalu menarik pelan tangan Aura, dan membimbingnya berjalan menyusuri lorong buah-buahan seraya sebelah tangannya yang lain mendorong troli.
"Mas Fadil... nanti susah dorong trolinya kalau sambil pegangan tangan," ujar Aura pelan, meski di dalam hati ia sama sekali tak ingin genggaman itu terlepas.
"Siapa bilang? Aku bisa melakukannya," jawab Fadil santai tanpa melepas cengkraman jarinya. Tak lama, ia berhenti di depan deretan buah apel merah yang segar. "Kamu mau apel yang mana? Biar aku yang ambilkan."
Aura menatap jemari mereka yang bertautan, lalu menengadah menatap profil wajah Fadil dari samping, dan melihat rahang tegas suaminya yang tampak lebih rileks malam ini.
"Yang itu, Mas... yang ukurannya sedang dan warnanya merah merata," tunjuk Aura dengan tangan kirinya.
Fadil pun menurut. Dengan lihai, meski hanya menggunakan satu tangan karena tangan kanannya masih mengunci jemari Aura, ia memilih beberapa buah apel terbaik dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.
Setiap kali ia selesai memilih, Fadil akan menunjukkannya pada Aura untuk meminta persetujuan.
"Yang ini bagus?" tanya Fadil.
"Bagus, Mas. Pilihan Mas Fadil selalu pas," puji Aura.
Fadil menoleh, dan menatap Aura dengan binar jahil di matanya. "Tentu saja. Pilihanku selalu pas... termasuk saat memilih istri."
Kalimat godaan yang meluncur tanpa beban itu membuat Aura tersentak. Ia lantas menepuk pelan lengan Fadil dengan wajah yang kian memerah. "Mas Fadil! Sejak kapan jadi pinter gombal begini?"
Tawa renyah Fadil pun memecah keheningan di sekitar rak buah. Tawa lepas yang begitu merdu di telinga Aura, yang membuktikan betapa bahagianya pria itu saat ini.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke area produk olahan susu dan camilan. Di sepanjang jalan, perlakuan Fadil benar-benar menyerupai seorang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Pria yang biasanya tampil kaku dan penuh wibawa itu kini tak segan memanjakan Aura.
Saat Aura menunjuk sebuah es krim rasa stroberi di dalam freezer, Fadil langsung mengambil dua kemasan besar.
"Mas, satu saja cukup! Nanti tidak habis," cegah Aura.
"Satu untukmu, satu lagi untuk dinikmati bersama sambil nonton film nanti malam," potong Fadil cepat seraya mengacak pelan puncak kepala Aura dengan gemas.
"Apa? Mas Fadil kok aneh banget ya makam ini," batin Aura.
Setelah semua kebutuhan belanjaan lengkap, mereka melangkah menuju kasir. Saat antre, Fadil berdiri tepat di belakang Aura, merapatkan tubuhnya dan mengistirahatkan dagunya tipis di bahu Aura selama beberapa detik untuk melihat barang-barang di troli, hingga membuat wanita itu makin salah tingkah.
Ketika kasir menyebutkan total pembayaran, Fadil dengan sigap mengeluarkan dompet kulitnya dan menyerahkan kartunya. Namun sebelum petugas kasir menyerahkan kantong belanjaan, Fadil sudah lebih dulu menyambar seluruh kantong belanjaan yang berat dengan kedua tangannya.
"Eh, Mas... biar aku bantu bawa yang ringan," pinta Aura seraya mengulurkan tangan.
Tapi Fadil menggeleng tegas. Ia meraih kembali jemari Aura yang bebas dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menenteng dua kantong plastik besar.
"Tugasmu malam ini cuma satu," ujar Fadil seraya menggandeng Aura melangkah keluar menuju pelataran parkir.
"Apa?" tanya Aura bingung.
Fadil menoleh, dan menatap Aura dengan sorot mata penuh kehangatan di bawah temaram lampu jalanan dan rinai gerimis yang menyejukkan.
"Menggenggam tanganku terus sampai kita tiba di rumah."
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣