Ann hanyalah mahasiswi seni biasa di Kota Meksiko—sampai satu malam yang salah mengubah segalanya. Diculik, dilelang, dan dijual kepada dunia hitam, ia terbangun sebagai milik seorang pria yang namanya saja mampu membuat seantero dunia bawah tanah bergidik: salah satu dari empat bos Mafia Rusia.
Mereka berempat berbagi lebih dari sekadar kerajaan bisnis gelap—sang Singa, sang Serigala, sang Beruang Hitam, dan sang Elang adalah sahabat sejak kecil. Dan kini keempatnya mengincar gadis yang sama.
Terkurung dalam sangkar emas seorang pria berbahaya, Ann bersumpah takkan menyerah. Tapi di balik tatapan dingin sang penguasa tersembunyi sesuatu yang tak ia duga—dan garis antara tawanan dan yang dipuja mulai kabur. Di dunia tempa cinta ditempa dengan darah, kesetiaan bisa berujung maut, dan masa lalu tak pernah benar-benar terkubur, satu pertanyaan menggantung: mungkinkah menemukan cinta sejati di tangan orang yang membelimu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin C, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta
Saat fajar menyingsing, aku terbangun dengan Ann dalam pelukanku. Aku senang sekali melihatnya. Kukirim pesan ke Satu agar ia membawakan pakaian untuk Ann; ia harus siap untuk pergi jalan-jalan. Aku tahu sahabat-sahabatku sedang dalam perjalanan. Mereka terbang malam hari agar tak menimbulkan kecurigaan, dan kalau perhitunganku benar, dalam waktu kurang dari dua jam ketiganya akan tiba di sini.
Ann membuka matanya yang indah dan memandangku. Ia menghadiahiku senyum yang cantik lalu bangkit. Ia mengenakan kimono di atas kausku, dan sebelum keluar kamar, ia mengatakan sesuatu.
"Aku akan menyiapkan sarapan. Kalau sudah siap, turunlah, sayang."
Aku mengangguk, terkejut, dan wajahku memanas. Apakah aku sedang bermimpi? Ia memanggilku "sayang", dan tak ada setitik pun sarkasme dalam suaranya. Itu menghangatkan hatiku. Setidaknya sepertinya perasaanku terbalas; ia peduli padaku.
Beberapa saat kemudian aku bangkit dan ke kamar mandi. Saat kembali, aku duduk di ranjang, mengambil ponselku, dan ada dua pesan.
Kami tiba dalam tiga jam. Semoga kau sudah siap. Kami sudah menyusun rencana perang.
Bos, tadi malam saya sudah mengurus lebih dulu pakaian untuk Nona. Kantong-kantongnya ada di ruang tengah. Selain itu, para pelayan yang Anda minta sudah saya dapatkan; mereka tiba dalam satu jam.
Kutaruh ponsel dan turun mencari Ann. Ketika masuk ke dapur, aroma lezat memenuhi rongga hidungku. Ia sedang membuat panekuk dan kopi. Kulihat ia membelakangiku, rambutnya diikat asal ke dalam sanggul, dan ia menyenandungkan sebuah lagu. Diam-diam aku berhenti untuk memandanginya, cara ia membuat panekuk, posturnya. Ia tampak begitu cantik hingga tanpa sadar aku mendekat dan memeluknya dari belakang, melingkarkan tangan di pinggangnya dan mencium lehernya.
Tawa kecil lolos dari bibirnya. Ia berbalik menatapku dan menciumku dengan lembut, manis, dan kurasakan kupu-kupu beterbangan di perutku. Gadis ini telah mencuri hatiku.
Ia menyelesaikan sarapan lalu menyajikan dua piring dan dua cangkir kopi. Kami duduk di meja dapur dan mulai makan dalam diam. Kucicipi panekuknya, dan menurutku sangat lezat. Ia terus mengamatiku, dan aku hanya tersenyum tanda menyukainya.
Setelah beberapa saat kami ke ruang tengah. Kutunjukkan pada Ann barang-barang yang dibeli untuknya. Ia mengambil pakaian dalam hitam, celana jins, dan kaus lengan panjang.
POV Ann
Aku sangat menyukai barang-barang yang Alan pilihkan untukku. Kukecup bibirnya lalu naik ke kamar. Kulepas kimono dan kaus, kukenakan pakaian dalam hitam, lalu berpakaian dengan sisanya. Kurapikan rambutku dan turun dengan riang. Kutemukan Alan duduk di ruang tengah, masih mengenakan kimono, dan ia menatapku sambil tersenyum.
"Kau cantik sekali," kata Alan. "Sini, duduk denganku."
"Kenapa kau masih berpakaian begitu? Kukira kau akan naik untuk ganti baju."
"Baik, sayang, ayo."
Aku naik bersamanya ke kamar. Ia menanggalkan pakaian di hadapanku, dan hasrat memenuhi tatapanku. Aku menikmati tubuhnya yang indah. Ia mulai berpakaian dengan celana hitam dan kaus putih, lalu sweter merah di atasnya. Ia tampak begitu memikat. Ia berbalik menatapku, dan kupu-kupu di perutku beterbangan lagi. Meski dalam benakku aku menyangkalnya, aku telah jatuh cinta pada Bos Mafia itu.
"Sayang, hari ini kau bisa berjalan-jalan di jalanan Tokyo," kata Alan. "Aku akan menyusulmu nanti, ada urusan yang harus kuselesaikan, tapi para pengawalku akan menemanimu."
"Tapi aku lebih ingin kau ikut denganku. Aku ingin kita menikmati waktu di sini bersama."
"Sayang, ini hanya untuk hari ini. Sebagai gantinya akan kuberi kau hadiah, apa pun yang kau mau, asal jangan pergi jauh dariku."
"Baiklah, tapi kau tak boleh menolak satu pun permintaanku."
Ia mengangguk dan menciumku. Rasanya seperti menyentuh surga; setiap ciuman membuatku sadar betapa aku mencintainya.
"Satu hal terakhir, ini penting," katanya. "Akan kuberi kau sebuah kartu, demi keamanan. Di mana pun kau menunjukkannya, apa pun yang kau minta akan diberikan. Tapi yang lebih penting, kalau kau sampai tersesat, cukup tunjukkan kartu ini, dan mereka akan membawamu kepadaku. Katakan saja pada mereka bahwa kau wanita Bos Mafia."
Kuamati kartu itu. Ada empat gambar: seekor serigala, seekor elang, seekor beruang, dan sejenis singa. Aku tak paham kenapa, tapi kusimpan kartu itu di saku depan celanaku.
"Baik, sayang, aku mengerti. Jadi aku wanita Bos Mafia," kataku menggoda.
"Jangan begitu, atau kau akan membuatku memilikimu saat ini juga. Pergilah, aku akan menemuimu nanti."
Aku mengangguk dan menciumnya. Kukeluar dari kamar dan dari rumah. Kutemui dua pengawal. Mereka menyapaku sambil membuka pintu.
"Nyonya, kami Empat dan Enam, pengawal Anda. Kami akan melindungi Anda dengan nyawa kami. Silakan."
Aku hanya tersenyum. Aku terkejut mereka memanggilku Nyonya. Mereka memandangku sebagai wanita Alan, dan itu membuatku sangat bahagia.
Mobil melaju. Setelah beberapa saat kami tiba di pusat kota Tokyo. Indah sekali.
Aku turun dari mobil, Empat dan Enam mengikuti. Aku belum pernah berada di tempat seperti ini, apalagi dijaga oleh seseorang. Kami masuk ke sebuah pusat perbelanjaan. Aku harus membeli bahan-bahan yang kubutuhkan untuk memasak bagi priaku. Terdengar begitu indah: priaku, ia milikku.
Kami masuk ke supermarket. Empat mengambil troli, dan Enam berjalan di sisiku. Kami menuju bagian minuman. Kuambil beberapa botol cola, minuman favoritku di Meksiko. Begitu seterusnya sampai troli penuh. Aku begitu bahagia; aku bisa memanjakan Alan dengan makanan lezat.
Kami keluar dan menyusuri lorong. Empat dan Enam mengikuti sambil membawa semua barang. Langkahku terhenti di depan sebuah toko serba ada. Ada sweter pasangan yang cantik. Tanpa pikir panjang aku masuk dan membelinya, lalu keluar dengan gembira. Semoga Alan suka.
Kami kembali ke mobil dan kusimpan barang-barang di bagasi. Aku bahagia. Empat dan Enam memandangku lalu bicara.
"Nyonya, kami akan mengajak Anda mengunjungi Kuil Sensoji yang indah," kata Empat.
Aku mengangguk, tapi sebuah firasat buruk menyergapku. Tak kuhiraukan, dan kami pun melanjutkan perjalanan.
"Sejauh ini semua berjalan baik. Ann telah menerima cintanya untuk Alan."