Indonesia
NovelToon NovelToon
Melarikan Diri Dari Raja

Melarikan Diri Dari Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Time Travel
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.

Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.

Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.

Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.

Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.

Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.

Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan Sang Raja

"Makanan itu dibuat dengan sepenuh hati oleh para pelayan, tetapi kau hanya meliriknya dengan tatapan sinismu, tanpa menyentuhnya sama sekali. Alangkah kasihannya para pelayan itu," cibir Edris.

Nada suaranya terdengar santai, tetapi cukup untuk membuat Esmera semakin memasang wajah kesal. Tangannya yang semula berada di atas meja perlahan mengepal.

Itu semua karena kau! Selera makanku langsung hilang begitu melihat wajahmu!

Tentu saja, kata-kata itu hanya mampu dia ucapkan dalam hati. Tidak mungkin dia benar-benar mengatakannya di hadapan pria yang selama ini menjadi sumber penderitaannya.

Esmera menarik napas pelan, berusaha menyingkirkan kekesalannya."Ini sangat enak Yang Mulia, hanya saja aku sedang tidak berselera makan," jawab Esmera dengan suara pelan.

Melihat wajahmu itu membuat rasa laparku hilang begitu saja, rasanya dulu dia sangat sibuk?

Esmera langsung mengingat masa itu, dimana dia menangis sendirian sembari menahan lapar, karena Edris terus saja menolak undangannya untuk makan malam bersama.

Alhasil wajah gadis itu terlihat semakin jutek. Dasar suami berengsek.

Edris menatapnya beberapa saat. Tatapannya seolah sedang mencoba mencari tahu sesuatu.

Untuk sesaat, suasana menjadi hening.

Namun, bukannya melanjutkan pembicaraan mengenai makanan, Edris justru mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak diduga Esmera.

"Apa di masa depan, kita menikah?"

Kedua mata Esmera langsung melebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Dia bahkan sempat mengira dirinya salah dengar.

"Katanya Yang Mulia tidak percaya jika aku bisa melihat masa depan. Kenapa malah menanyakan hal seperti itu? Apa Anda sudah mempercayaiku?"

Edris tidak langsung menjawab. Dia hanya menyandarkan tubuhnya dengan tenang, lalu menatap Esmera seolah pertanyaan tadi hanyalah sebuah rasa penasaran sederhana.

"Aku hanya penasaran." Dia berhenti sejenak sebelum kembali berbicara."Seingatku, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Tetapi entah kenapa, aku merasa kau begitu membenciku."

Esmera terdiam, namun dalam hati berisik.

Baguslah kalau kau sadar. Ya, aku sangat membencimu, rasanya ingin sekali memukul wajah kurang ajarmu itu. Sekali saja, mungkin bisa membuatku sedikit puas.

"Aku bisa memahami jika kebencian itu muncul karena kau adalah keturunan Mitrandir," lanjut Edris."Tetapi rasanya terlalu sederhana jika hanya karena itu. Pasti ada hal lain."

Tatapan Edris semakin tajam."Benarkan?"

Esmera mengalihkan pandangannya. Dia tidak menyangka pria itu bisa menyadari kebenciannya sedalam itu."Aku tidak pernah mengatakan benci kepada Anda, Yang Mulia," sanggah Esmera. Dia melirik Edris dari sudut matanya.

Edris justru mengangkat sebelah alisnya."Tanpa dikatakan pun, aku bisa mengendus aura kebencianmu yang sangat pekat itu, Esmera."

"Itu hanya perasaan Yang Mulia saja," balas Esmera, berusaha terdengar setenang mungkin. Dia tidak boleh kehilangan kendali.

Esmera menarik napas pelan sebelum akhirnya kembali menatap pria di hadapannya."Tetapi aku akan menjawab pertanyaan Anda tadi."

Edris diam, menunggu jawabannya.

"Di masa depan, kita memang menjadi sepasang suami istri."

Edris tetap memasang wajah tenang. Anehnya tidak ada keterkejutan yang berlebihan di wajahnya, seolah jawaban tersebut sudah bisa dia tebak sejak awal. Itu membuat Esmera sedikit bingung.

"Lalu apa yang sudah kulakukan padamu..." Edris bertanya, suaranya kali ini terdengar lebih serius."Sampai kau menolak untuk kembali menjadi pasanganku?"

Esmera tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Edris dalam diam. Tidak pernah sekalipun dia membayangkan akan mendapatkan kesempatan emas seperti ini. Tanpa perlu menjelaskan panjang lebar, Edris sendiri yang menanyakannya.

Selama ini dia selalu takut harus menjelaskan semuanya sendiri. Takut jika Edris tidak akan mempercayainya. Takut jika setiap perkataannya justru akan dianggap sebagai kebohongan.

Namun sekarang, pria itu sendiri yang membuka jalan.

Esmera menundukkan pandangannya. Kalau begitu, dia tidak perlu menjelaskan terlalu banyak. Dia hanya perlu mengatakan bagian yang bisa membuat pria ini melepaskannya.

Semoga setelah pria itu mengetahui semuanya, dia benar-benar bisa terbebas dari takdir yang selama ini menjeratnya.

"Aku gagal memberikan keturunan kepada Anda, Yang Mulia." Suara Esmera terdengar pelan, tetapi jelas.

Edris yang sejak tadi terlihat tenang akhirnya sedikit berubah ekspresinya.

Esmera melanjutkan."Karena itu, Anda memanggil Lyra untuk menggantikan posisiku." Tangannya kembali mengepal di bawah meja."Dan menyingkirkanku sebagai ratu."

"Itu sangat tidak masuk akal," sanggah Edris.

Esmera yang sejak tadi berusaha mempertahankan wajah tenangnya langsung menoleh kepadanya.

"Bagian mana yang tidak masuk akal, Yang Mulia?" tanyanya, seolah benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Edris. Tetap tenang Esmera, jika kau berhasil meyakinkan pria dingin ini, kau akan bebas.

Edris menatapnya datar. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam sorot matanya, seolah sedang berusaha mencari celah dari perkataan Esmera.

"Kau tentu tahu jika aku hanya bisa mendapatkan penerus dari keturunan keluarga Mitrandir," katanya tenang, tetapi tegas."Dan bukan tanpa alasan kenapa kau dipilih untuk menjadi ratuku."

Esmera terdiam.

"Tidak mungkin mereka memilih seorang gadis yang tidak mampu hamil untuk menjadi pengantinku."

Kalimat itu membuat Esmera sejenak kehilangan kata-kata.

Astaga, dia memang sangat pintar.

Esmera sudah menduga Edris tidak akan semudah itu mempercayai alasannya. Bagaimanapun juga, lelaki itu adalah seorang raja. Tidak mungkin dia menerima begitu saja alasan yang terdengar terlalu sederhana, terlebih jika menyangkut pewaris takhta.

Esmera kemudian mengalihkan pandangannya.

"Mungkin saja ada yang salah dari tubuhku sendiri. Aku tidak tahu," jawab Esmera, asal.

Suaranya terdengar cukup meyakinkan, bahkan seolah ia sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.

Edris lagi-lagi terdiam.

Tatapannya masih tertuju kepada Esmera. Perkataan gadis itu memang mungkin saja benar. Namun, ada terlalu banyak hal yang terasa janggal.

Apa benar dia bisa melihat masa depan? Dan pasti ada alasan dibalik sorot matanya yang penuh dengan kebencian itu.

Tapi yang paling mengganggu dari semuanya adalah, dia tidak takut padaku? Sangat berani, sangat kurang ajar, juga sangat lancang.

Sangat cocok jika dijadikan sebagai pasangannya. Namun jika benar Esmera tidak bisa memiliki keturunan, maka keadaan itu akan menjadi masalah besar bagi Edris dan bagi kelangsungan keluarga kerajaan.

Selama ini, pernikahannya dengan Esmera bukan sekadar hubungan antara seorang raja dan ratunya. Ada alasan lain yang jauh lebih penting di balik pemilihan Esmera sebagai pendampingnya.

Keturunan.

Penerus takhta.

Dan jika Esmera benar-benar tidak mampu memberinya seorang anak, maka kedudukannya sebagai ratu akan menjadi sesuatu yang sulit dipertahankan. Sangat masuk akal jika dirinya memanggil gadis lain dari keturunan Mitrandir.

Namun, Edris tentu tidak akan langsung mempercayai perkataan Esmera. Bisa saja gadis itu sedang membual. Atau mungkin dia hanya sedang berusaha menghindari pernikahan?

Edris menyipitkan matanya, masih mengamati wajah Esmera yang terlihat tenang. Sementara Esmera hanya bisa menahan napas dalam hati.

1
Yuliana Hakim
jangan lama2 up'nya thor..
Saasaa: siap, aku usahain ya...
total 1 replies
Natasya
👌
cleona
lanjut
cleona
lanjut please..
Saasaa: Sudah di up ya, makasih udah baca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!