Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Ardi memutar tubuhnya dengan sangat lincah dan menangkap lengan pengawal kedua itu di udara.
Krak!
Suara tulang bergeser terdengar sangat mengerikan saat Ardi mengunci dan mematahkan lengan pengawal itu dengan teknik kuncian mematikan.
"Arghhh! Tanganku putus!"
Jerit pengawal itu berguling-guling di lantai menahan rasa sakit yang luar biasa.
Hanya butuh waktu kurang dari lima detik bagi Ardi untuk melumpuhkan dua pengawal profesional tersebut tanpa mengeluarkan setetes keringat pun.
Seluruh pengunjung kelab malam itu seketika menahan napas mereka saking terkejutnya melihat kekuatan fisik Ardi yang gila.
"Ini tidak mungkin, siapa sebenarnya kau ini bajingan!" teriak Bastian yang kini mulai gemetar hebat melihat kedua pengawal andalannya dikalahkan telak.
Ardi menepuk-nepuk tangannya seolah sedang membersihkan debu lalu melangkah semakin dekat menghampiri Bastian.
"Aku hanya seorang tamu yang ingin menikmati minuman dengan tenang, tapi kau sangat mengganggu pemandanganku hari ini," jawab Ardi dengan nada sedingin es.
Bastian mundur beberapa langkah ketakutan hingga punggungnya menabrak pinggiran meja VIP.
"Jangan berani macam-macam padaku, ayahku adalah salah satu donatur terbesar di kelab ini!" ancam Bastian menggunakan sisa-sisa kekuasaan ayahnya.
"Manajer! Panggil manajer kelab ini sekarang juga ke sini!" teriak Bastian dengan panik ke arah para pelayan yang bersembunyi.
Seorang pria paruh baya bertuksedo rapi segera berlari tergopoh-gopoh dari lantai dua menghampiri keributan itu.
"Ada apa ini Tuan Bastian? Astaga, apa yang terjadi pada kedua pengawal Anda ini?" tanya manajer kelab itu dengan wajah terkejut melihat kekacauan di lantai.
"Manajer bodoh, cepat panggil seluruh penjaga keamananmu dan usir pria gila ini dari wilayahku sekarang!" perintah Bastian menunjuk tepat ke hidung Ardi.
Manajer itu menatap Ardi dari atas ke bawah dan menyadari bahwa pemuda ini datang sendirian tanpa didampingi pengawal sama sekali.
Di mata manajer yang gila harta dan penjilat itu, membela pewaris Grup Rajawali adalah pilihan yang paling aman dan menguntungkan.
"Maaf Tuan, Anda telah membuat keributan parah dan melukai tamu VVIP kami di sini," ucap manajer itu dengan nada memusuhi ke arah Ardi.
"Saya minta Anda segera berlutut meminta maaf pada Tuan Bastian atau kami terpaksa menyerahkan Anda ke kantor polisi," ancam manajer itu tanpa tahu malu membela yang salah.
Ardi tertawa keras dan lepas mendengar ancaman konyol dari manajer kelab malam tersebut.
"Kalian berdua benar-benar kombinasi sampah daur ulang yang sangat cocok," ucap Ardi sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Pada detik yang sama, layar emas transparan Sistem tiba-tiba muncul melayang di depan pandangan Ardi.
[Notifikasi Sistem Flash Sale Rp1]
[Mendeteksi adanya diskriminasi status dari manajemen tingkat atas Klub Olympus terhadap Tuan Rumah.]
[Apakah Anda ingin membeli kepemilikan penuh Klub Olympus dan menyingkirkan manajer rendahan ini?]
[Harga Spesial: Rp1.]
Senyum di wajah Ardi semakin lebar dan kini memancarkan aura dominasi mutlak yang sangat menakutkan bagi siapa pun yang melihatnya.
"Sistem ini memang paling tahu apa yang sedang aku butuhkan," batin Ardi dengan penuh rasa kepuasan.
"Tentu saja aku akan membelinya, proses sekarang juga," perintah Ardi di dalam hatinya tanpa ragu sedikit pun.
[Memproses transaksi eksklusif...]
[Pembelian Berhasil. Saldo rekening Anda telah terpotong Rp1.]
[Selamat, Anda kini adalah pemilik tunggal dan pemegang saham mutlak dari Klub Olympus.]
Ardi melipat tangannya di dada dan menatap lurus ke arah manajer kelab yang masih memasang wajah sombong di depannya itu.
"Berlutut dan meminta maaf katamu?" tanya Ardi memecah keheningan dengan nada mengejek yang kental.
"Apakah kau sama sekali tidak tahu siapa pemilik asli tempat kau mencari makan ini manajer?" lanjut Ardi membuat manajer itu sedikit kebingungan.
"Pemilik sah kelab ini adalah Tuan Wijaya yang sedang berada di luar negeri, jangan berani menggertakku anak muda!" balas manajer itu mencoba menutupi rasa gugupnya.
Namun belum sempat manajer itu menyelesaikan ucapan sombongnya, ponsel pintar di saku jasnya mendadak berdering dengan keras.
Manajer itu melihat nama penelepon di layarnya dan wajah arogannya seketika berubah menjadi sangat patuh dan hormat.
"Halo Tuan Wijaya yang terhormat, selamat malam Pak," sapa manajer itu mengangkat teleponnya dengan membungkukkan badan.
"Kau manajer tolol tidak berguna! Dengarkan perintahku baik-baik sekarang juga!" bentak suara dari seberang telepon yang saking kerasnya bisa terdengar oleh Ardi dan Bastian.
"Aku baru saja menjual seluruh kepemilikan kelab ini pada seorang pria bernama Tuan Ardi detik ini juga!"
"Jika kau sampai membuat masalah sekecil apa pun dengan bos besarmu yang baru itu, aku sendiri yang akan memotong lehermu besok pagi!"
Tut.
Sambungan telepon dimatikan secara sepihak dari luar negeri meninggalkan manajer itu dalam keadaan mematung kaku tanpa nyawa.
Wajah manajer itu kini menjadi sepucat kertas putih dan matanya menatap ke arah Ardi dengan penuh rasa ketakutan yang luar biasa.
"A-Ardi? Apakah Anda benar-benar Tuan Ardi yang disebutkan tadi?" tanya manajer itu dengan suara bergetar dan kedua lutut yang mulai lemas.
"Bagaimana manajer? Apakah aku masih perlu berlutut meminta maaf pada anak manja di sebelahmu itu?" jawab Ardi memamerkan senyum iblisnya.
Manajer itu langsung menjatuhkan dirinya dan berlutut di lantai dengan suara gedebuk yang keras tanpa mempedulikan harga dirinya lagi di depan semua pengunjung.
"Saya mohon ampun beribu ampun Tuan Ardi, saya sama sekali tidak tahu bahwa Anda adalah bos besar saya yang baru!" tangis manajer itu memohon belas kasihan dengan menyedihkan.
Bastian yang sedari tadi bersembunyi di balik tubuh manajer itu kini rahangnya seakan terkunci dan tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kau... kau baru saja membeli seluruh kelab malam elit ini hanya karena kesal padaku?" tanya Bastian dengan suara terbata-bata menahan rasa malu dan panik yang luar biasa.
"Harganya sangat murah, aku membelinya semudah membeli permen di warung pinggir jalan," jawab Ardi merendahkan mental Bastian hingga ke dasar bumi lapis ketujuh.
Ardi menendang bahu manajer yang sedang bersujud memohon itu hingga pria paruh baya tersebut terjengkang ke belakang.
"Manajer, karena kau sangat suka menjilat sepatu Tuan Muda Bastian ini, kau resmi kupecat dengan tidak hormat hari ini juga," vonis Ardi dengan suara mutlak tanpa ampun.
"Tim keamanan, buang dua tumpukan sampah ini keluar dari kelabku sekarang juga ke jalan raya!" perintah Ardi dengan suara menggelegar ke penjuru ruangan.
Puluhan petugas keamanan kelab yang sedari tadi hanya diam menonton langsung bergerak maju serempak tanpa ragu mematuhi bos besar baru mereka.
"Lepaskan aku sialan! Ayahku akan memastikan kelab ini rata dengan tanah besok pagi!" teriak Bastian meronta-ronta saat kedua lengannya diseret paksa oleh petugas keamanan berbadan besar.
"Aku akan duduk manis menunggu ayahmu datang kemari besok pagi agar aku bisa membeli seluruh perusahaannya juga," balas Ardi tersenyum sinis melihat Bastian diseret keluar dari pintu utama kelab.
Manajer kelab yang menangis histeris juga ikut diseret keluar menyusul mantan Tuan Muda andalannya itu ke tempat parkir.
Suasana kelab mendadak menjadi sangat sunyi dan hening, tidak ada satu pun pengunjung elit yang berani berbicara setelah melihat aksi gila dari sang miliarder misterius tersebut.
Ardi menoleh ke arah Lidya yang masih duduk di lantai dengan wajah penuh air mata dan tubuh yang bergetar hebat.
Dia berjalan mendekat lalu mengulurkan tangannya yang besar dan hangat untuk membantu wanita muda itu berdiri.
"Kau tidak apa-apa Lidya?" tanya Ardi dengan nada suara yang seketika berubah menjadi sangat lembut dan menenangkan.
Lidya menyambut tangan Ardi dengan ragu-ragu dan perlahan berdiri dengan sisa tenaganya.
"S-saya tidak apa-apa Tuan, terima kasih banyak karena Anda sudah menyelamatkan nyawa dan kehormatan saya malam ini," isak Lidya menundukkan kepalanya dalam-dalam karena rasa syukur.
"Mulai malam ini, kau bukan lagi seorang pelayan rendahan di tempat ini Lidya," ucap Ardi sambil melepaskan jas mewahnya dan memakaikannya menutupi bahu Lidya yang kedinginan.
"Saya... saya dipecat dari pekerjaan ini Tuan?" tanya Lidya dengan wajah sangat sedih karena dia sangat butuh uang untuk biaya kuliahnya bulan depan.
"Tidak, kau baru saja naik jabatan menjadi manajer utama yang baru di kelab malam ini mulai detik ini juga," jawab Ardi tersenyum manis menghapus sisa air mata di pipi Lidya.
Seluruh pengunjung kelab malam dan barisan para staf kembali dibuat menahan napas saking terkejutnya oleh keputusan yang super mendadak dari bos besar mereka.
Hanya dengan waktu satu malam, Ardi kembali membuktikan bahwa uang mutlak miliknya bisa membalikkan roda nasib siapa saja di dunia ini dengan sangat mudah.