Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 28: Bayangan Sang Raja dan Kebebasan yang Semu

​Pintu kamar utama itu terbuka lebar, memperlihatkan lorong mansion yang sunyi dan remang-remang. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada bayangan pengawal. Kebebasan yang dipinta oleh Senja Kirana akhirnya benar-benar diberikan oleh Arga Danendra.

​Namun, di balik kebebasan mutlak itu, tersimpan sebuah badai yang tak kasat mata.

​Senja Kirana melangkah keluar dari kamar mewah tersebut dengan hati yang masih bergemuruh. Kakinya terasa sangat berat menuruni tangga pualam melingkar yang megah. Sepanjang ia berjalan melewati lobi utama menuju pintu keluar utama Danendra Private Estate, tidak ada satu pun orang yang menahannya. Para pengawal berdiri tegak di posisinya masing-masing dengan pandangan lurus ke depan, seolah mereka tidak melihat kehadiran gadis yang berjalan melewatinya.

​Gerbang besi raksasa mansion itu terbuka otomatis begitu Senja mendekat.

​Ia melangkah keluar dari kawasan elit tersebut, menembus dinginnya udara malam ibu kota. Senja tidak membawa apa-apa, hanya pakaian yang melekat di tubuhnya—pakaian yang dibelikan oleh pelayan mansion kemarin, karena pakaian lamanya yang kusam telah hancur.

​Sesampainya di jalan raya utama, Senja menghentikan sebuah taksi kosong. Ia menyebutkan alamat kamar kos sempitnya di pinggiran rel kereta api kepada sang sopir.

​Selama di dalam taksi, Senja terus menatap ke luar jendela. Pemandangan kota yang berkilauan oleh lampu neon terasa begitu buram. Di dalam dadanya, tidak ada rasa senang atau kelegaan seperti yang ia bayangkan saat berteriak meminta kebebasan. Yang ada hanyalah rasa hampa yang luar biasa menusuk.

​Dia benar-benar melepaskanku... batin Senja, air matanya menetes pelan membasahi pipinya. Pria itu membiarkanku pergi tanpa berjuang menahanku lagi.

​Malam itu, Senja kembali menginjakkan kakinya di kamar kos sempit berukuran dua kali dua meter tersebut. Kamar yang pengap, berbau lembap, dengan dinding tripleks tipis yang bergetar setiap kali kereta api melintas.

​Ia menjatuhkan dirinya di atas kasur lipatnya yang tipis. Tidak ada lampu kristal. Tidak ada seprai sutra. Tempat ini adalah dunianya yang dulu. Dunia yang penuh dengan keterbatasan dan perjuangan keras.

​Senja meringkuk di sudut kasur, menarik selimut tipisnya, dan menangis dalam kesunyian hingga pagi menjelang. Ia mendapatkan kembali kebebasannya, namun ia merasa telah kehilangan separuh jiwanya di mansion megah itu.

​Keesokan paginya, matahari bersinar terang, namun suasana di lantai teratas penthouse Danendra Group terasa bagaikan kuburan es.

​Arga Danendra duduk di balik meja kerja marmer hitamnya. Wajahnya pucat pasi, matanya merah menyala dengan lingkaran hitam pekat di sekelilingnya. Pria itu tidak tidur semalaman. Di hadapannya, berserakan dokumen-dokumen akuisisi bernilai triliunan rupiah yang tak tersentuh.

​Pintu ruang kerja terbuka pelan, dan Raka Narendra masuk membawa secangkir hitam pekat. Raka meletakkan cangkir itu di atas meja, lalu menatap sahabat sekaligus bosnya dengan sorot mata penuh keprihatinan.

​"Dia sudah kembali ke kos sempitnya di pinggiran rel kereta," lapor Raka dengan suara rendah. "Tim bayangan melaporkan bahwa Nyonya Senja tiba di sana pukul dua belas malam tadi, dan sejak itu ia tidak keluar kamar sama sekali. Ia terus menangis."

​Mendengar kata menangis, tangan Arga yang memegang pena mencengkeram benda itu begitu kuat hingga batangnya patah menjadi dua. Darah segar menetes dari telapak tangannya yang tertusuk pecahan plastik pena, namun Arga tidak menarik tangannya. Ia seolah mati rasa terhadap rasa sakit fisik.

​"Bagus," jawab Arga datar, suaranya terdengar seperti bisikan kematian dari dasar bumi. "Itu artinya dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Kebebasan."

​"Ga, sampai kapan kau akan bermain-main dengan siksaan psikologis ini?" tanya Raka hati-hati, tidak tahan melihat kondisi Arga yang hancur lebur. "Kau membiarkannya pergi, tapi kau tidak benar-benar melepaskannya, kan? Apa rencana selanjutnya?"

​Arga mendongak. Mata elangnya menatap Raka dengan tatapan posesif yang sangat mengerikan—tatapan dari seekor singa yang terluka namun tetap menolak membiarkan mangsanya lepas dari teritorialnya.

​"Aku menepati janjiku pada, Raka," ucap Arga dingin. "Aku tidak mengurung tubuhnya di mansion. Aku membiarkannya menghirup udara bebas di dunianya yang miskin itu. Aku tidak akan memenjarakannya secara fisik."

​Raka mengerutkan kening. "Lalu?"

​"Tapi aku tidak pernah berjanji untuk tidak melindunginya," lanjut Arga, suaranya berubah menjadi geraman predator. "Dunia luar terlalu kejam untuk bidadari ceroboh itu. Kemarin dia ditabrak oleh wanita sombong, besok mungkin dia akan diinjak-injak oleh hal lain yang lebih buruk. Aku tidak akan membiarkan goresan luka sedikit pun menyentuh kulitnya lagi."

​Raka menelan ludah. Ia tahu persis ke arah mana pembicaraan ini akan bermuara. "Apa yang harus kulakukan, Bos?"

​"Aktifkan Mode Posesif tingkat maksimum," perintah Arga mutlak, tanpa ruang untuk bantahan.

​"Kerahkan dua puluh agen elit dari Tim Bayangan. Buat mereka menyamar sebagai tetangga kos, tukang kebersihan jalanan, penjaga warung sembako, dan pengemudi ojek online di sekitar tempat tinggal Senja. Lakukan sistem shift 24 jam penuh tanpa pernah terputus."

​"Dimengerti," catat Raka dalam kepalanya.

​"Pastikan tidak ada satu pun pria hidung belang, preman pasar, atau orang asing yang berani menatapnya dengan pandangan tidak senonoh dalam radius lima puluh meter darinya. Jika ada yang berani mendekatinya dengan niat buruk..." Arga mengepalkan tangannya yang berdarah di atas meja, "...patahkan kakinya sebelum dia sempat menyapa."

​"Baik. Bagaimana dengan kebutuhan hidupnya? Dia sudah keluar dari kedai roti, dan gajinya ditahan oleh mandor kemarin. Dia tidak punya uang."

​"Masukkan uang secara anonim ke dalam rekening bank lamanya setiap minggu dengan nominal yang masuk akal—cukup untuk membuatnya hidup layak sebagai rakyat biasa, jangan terlalu besar agar dia tidak curiga," atur Arga sangat teliti. "Dan pastikan pemilik kos tempatnya tinggal adalah agen kita, sehingga kita tahu persis apa yang dia makan, kapan dia tidur, dan apa yang dia keluhkan setiap hari."

​Raka menghela napas panjang, setengah ngeri dan setengah kagum pada tingkat obsesi sahabatnya ini. Arga memang membiarkan Senja pergi secara fisik, namun secara psikologis, gadis itu kini berada di dalam sangkar tak kasat mata yang jaringnya merentang seluas kota ini.

​"Kau benar-benar tidak ingin menemuinya, Ga?" tanya Raka pelan. "Hanya untuk memastikan dia baik-baik saja dari jarak jauh?"

​Arga memejamkan mata, membayangkan tatapan penuh kebencian dan air mata Senja saat meneriakinya 'monster' malam tadi. Rasa sakit kembali meremas dadanya.

​"Tidak," jawab Arga lirih. "Biarkan dia membenciku. Biarkan dia menikmati kebebasannya dari sosok Arga Danendra. Asalkan aku bisa memastikan ia bernapas dengan aman setiap detiknya di bawah bayang-bayangku... itu sudah lebih dari cukup untuk menjaga kewarasanku tetap utuh."

​Sementara itu, di kawasan kos sempit pinggiran rel kereta api.

​Senja Kirana terbangun menjelang siang hari. Kepalanya terasa berat dan pusing. Tenggorokannya kering karena ia menangis sepanjang malam tanpa setetes pun air.

​Dengan sempoyongan, Senja bangkit dari kasurnya. Ia membuka pintu kamarnya yang menghadap langsung ke lorong sempit tempat kos tersebut. Ia berniat pergi ke warung kelontong di ujung gang untuk membeli sebotol air mineral dan mi instan.

​Begitu ia melangkah keluar ke teras kos, ia mendapati suasana sekitar terasa sangat aneh.

​Biasanya, lorong kos ini selalu ramai oleh anak-anak yang berlarian, suara televisi tetangga yang berisik, atau para pemuda pengangguran yang nongkrong sambil merokok di pos ronda. Namun hari ini, suasananya sangat bersih, tenang, dan tertib.

​Di depan gerbang kos, seorang ibu paruh baya yang merupakan tetangga baru yang baru pindah minggu lalu, sedang menyapu halaman dengan rajin.

​"Eh, Neng Senja! Sudah bangun?" sapa ibu itu dengan senyum ramah yang berlebihan.

​Senja mengerjap bingung, memaksakan senyum sopan. "Iya, Bu... Pagi."

​"Duh, Neng kelihatan pucat banget mukanya. Kurang tidur ya?" perhatian ibu itu sangat intens. Sebelum Senja sempat menjawab, ibu itu langsung menyodorkan sekotak vitamin C dan termos kecil berisi air hangat. "Ini, minum dulu. Kemarin suami saya beli vitamin ini kebanyakan. Daripada mubazir, buat Neng Senja saja ya."

​Senja semakin bingung. Ia bahkan belum pernah mengobrol panjang lebar dengan ibu tetangga baru ini, namun mengapa wanita itu bersikap sangat baik dan perhatian padanya?

​"Aduh, terima kasih banyak, Bu... Tapi saya tidak enak menerimanya..." tolak Senja halus.

​"Sudah, terima saja! Jangan sungkan-sungkan sama tetangga!" paksa ibu itu ramah, lalu langsung kembali sibuk menyapu, memastikan pandangannya tak pernah lepas dari Senja hingga gadis itu keluar gerbang kos.

​Senja berjalan menyusuri gang sempit menuju warung kelontong.

​Di sepanjang jalan, ia merasa ada sesuatu yang ganjil. Tukang bubur ayam langganannya yang biasanya galak dan pelit, hari ini memberikan porsi ayam yang jauh lebih banyak dari biasanya tanpa menaikkan harga, sambil berkata, "Lagi kurus ya, Neng? Makan yang banyak biar sehat!"

​Saat Senja melewati pos ronda, dua orang pemuda yang biasanya suka bersiul menggoda wanita yang lewat, mendadak menundukkan kepala dan memasang wajah sangat sopan saat Senja melintas di depan mereka.

​Bahkan, saat Senja menyeberang jalan raya, seorang pengemudi ojek online secara refleks mengerem motornya dengan kasar, lalu berteriak memperingatkan, "Hati-hati, Neng! Jalanan licin!" padahal jalanan itu kering kerontang.

​Senja berhenti di pinggir jalan. Ia mengerutkan keningnya, memegang kepalanya yang pening.

​Ada apa dengan orang-orang ini? batin Senja merasa tidak nyaman. Kenapa hari ini semua orang di lingkungan ini bersikap sangat baik dan memperlakukanku seperti seorang putri raja yang rapuh? Apakah aku bermimpi?

​Namun, betapapun anehnya perubahan sikap orang-orang di sekitarnya, Senja tidak memiliki energi untuk memikirkannya lebih jauh. Perutnya yang kelaparan membawanya kembali ke kamar kos.

​Ia meminum vitamin dari tetangganya, memakan bubur yang dibelinya, lalu kembali merebahkan diri di atas kasur lipat.

​Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama.

​Senja mencoba melamar pekerjaan ke berbagai tempat—mulai dari toko kelontong, pabrik garmen, hingga menjadi tukang cuci piring di restoran cepat saji. Namun, hal-hal ajaib yang tidak masuk akal terus terjadi.

​Setiap kali Senja datang untuk melamar kerja, pemilik toko atau manajer restoran akan menatap berkas lamarannya sebentar, lalu tersenyum ramah dan berkata: [Wah, kebetulan sekali posisi pelayan baru saja terisi kemarin sore. Tapi jangan khawatir, kami tetap akan memberikan dana bantuan sosial pencari kerja untuk Neng Senja sebesar dua juta rupiah setiap bulan, silakan ambil di kasir.]

​Senja menolak uang bantuan sosial itu dengan harga diri yang masih tersisa. Ia tidak ingin menjadi pengemis. Ia ingin bekerja dengan keringatnya sendiri.

​Namun, fenomena aneh itu terus berulang. Uang misterius selalu masuk ke rekening bank lamanya setiap minggu—jumlah yang cukup untuk membayar sewa kos dan makan sederhana. Pemilik kos mendadak membebaskan biaya sewanya selama tiga bulan karena alasan "promo undian beruntung" yang sangat tidak masuk akal.

​Senja merasa hidup di dalam sebuah dimensi ilusi. Ia bebas secara fisik, ia tidak lagi dikurung di sangkar emas mansion Arga Danendra. Namun, ia merasa seluruh dunia di sekitarnya sedang memperlakukannya dengan sangat hati-hati, seolah ia adalah kaca rapuh yang bisa pecah kapan saja jika tersenggol sedikit saja.

​Suatu sore, saat Senja sedang duduk di teras kosnya sambil melamun menatap langit sore yang berwarna jingga, ia menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan.

​Ia melihat seorang pemuda berjaket ojek online sedang duduk di atas motornya di ujung gang, menatap lurus ke arah kamar kos Senja selama berjam-jam tanpa memesan apa pun atau mengambil orderan. Kemarin, ia melihat pria yang sama menyapu jalanan dengan mengenakan pakaian petugas kebersihan. Dan lusa kemarin, ia melihat pria itu berdiri di depan warung sembako dengan gaya siaga militer.

​Mata Senja membelalak perlahan. Sebuah kesadaran yang sangat telak menghantam kepalanya.

​Mereka bukan warga sekitar yang kebetulan berbuat baik. Mereka adalah pengawal. Mata-mata.

​Arga...

​Nama itu meluncur begitu saja dari bibir Senja.

​Gadis itu berdiri dari duduknya, tangannya mencengkeram erat tiang teras kos. Napasnya memburu. Kemarahan yang sempat mereda kini kembali membuncah di dalam dadanya.

​Pria itu benar-benar menepati kata-katanya—ia membiarkan Senja pergi secara fisik, namun ia menempatkan seluruh kota ini untuk menjadi penjara tak kasat mata bagi Senja.

​"Arga Danendra... sialan kau..." bisik Senja dengan gigi berkatup rapat, air mata kekesalan menetes membasahi pipinya. "Kau pikir dengan cara ini aku akan merasa aman?! Kau sedang mempermainkanku! Kau tidak benar-benar melepaskanku!"

​Senja berlari ke tepi jalan gang, menunjuk ke arah pemuda berjaket ojek online yang sedang mengawasi dari jauh.

​"Hei! Kau!" jerit Senja penuh amarah. "Katakan pada bosmu! Katakan pada Arga Danendra untuk berhenti memperlakukanku seperti anak kecil yang tidak bisa hidup mandiri! Suruh dia menarik semua anjing-anjing penjaganya dari sini!"

​Pemuda berjaket ojek online itu sempat terkejut karena kedoknya terbongkar, namun ia dengan cepat memasang ekspresi bingung, menyalakan motornya, dan kabur meninggalkan gang tersebut.

​Senja jatuh berlutut di pinggir jalan, menangis frustrasi di bawah langit senja. Ia menyadari, melarikan diri dari mansion mewah itu sama sekali tidak mengubah apa-apa. Ia tetap berada di dalam cengkeraman sang tiran. Arga Danendra telah merasuki setiap jengkal ruang hidupnya, membuat Senja merasa bahwa di dunia yang sangat luas ini, ia tidak akan pernah bisa benar-benar bebas dari bayang-bayang pria tersebut.

​[Pesan Author:]

(Ada sebuah bentuk cinta yang sangat menakutkan ketika ia berubah menjadi obsesi pelindung. Kita sering mengira bahwa kebebasan adalah tentang diizinkan melangkah keluar dari pintu yang terkunci. Namun Senja baru saja belajar sebuah pelajaran pahit: kebebasan yang sejati tidak akan pernah ada selama seseorang masih memegang kendali atas bayang-bayangmu.

​Arga telah memilih jalan kompromi yang paling menyiksa. Ia mengalah pada egonya dengan tidak mengurung Senja di mansion, namun ia menolak untuk kehilangan kendali atas keselamatan gadis itu. Mode posesif Danendra Group diaktifkan bukan untuk menyakiti Senja, melainkan untuk memastikan bahwa tidak ada monster lain di dunia ini yang berani melukai apa yang ia anggap miliknya. Di sinilah letak ironi terbesar dari kisah cinta mereka; Senja merasa dirinya dipenjara oleh perhatian yang berlebihan, sementara Arga merasa dirinya sedang sekarat di atas singgasananya, hanya karena ia harus menahan diri untuk tidak berlari merengkuh gadis itu kembali ke dalam pelukannya.)

​Malam itu, di dalam kamar kos sempitnya, Senja menolak untuk menyalakan lampu. Ia duduk memeluk lututnya dalam gelap.

​Ia tahu, jika ia terus bersikap keras kepala seperti ini, Arga mungkin akan semakin memperketat pengawasannya. Tapi Senja Kirana bukanlah wanita yang bisa diatur oleh ancaman atau perlindungan yang mencekam.

​Sebuah rencana nekat mulai terbentuk di dalam kepalanya. Jika Arga ingin bermain kucing-kucingan dengan mengerahkan seluruh pasukan bayangannya untuk mengawasi Senja, maka Senja akan membuktikan pada pria itu bahwa ia sanggup melarikan diri ke tempat yang bahkan tidak bisa dijangkau oleh kekuasaan Danendra Group.

​Pertarungan psikologis antara Sang Raja yang posesif dan Sang Ratu yang mendambakan kebebasan mutlak baru saja memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!