Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. DSKKR

Keesokan harinya..

Pada Senin pagi. Udara Jakarta masih terasa dingin diselimuti asap tipis perkotaan, tapi di dalam mobil taksi yang kutumpangi, dadaku bergemuruh hangat.

"Deg deg an sekali aku ini" ucap ku dalam hati.

Aku menatap pantulan diriku di kaca jendela. Rambut hitamku kini sudah ku potong rapi sebatas bahu, diberi sedikit sentuhan layer yang bikin wajah kusam ku kelihatan lebih segar. Kemeja blazer warna krem yang ku beli minggu lalu membungkus tubuhku dengan pas. Sederhana, tapi rapi dan berkelas.

"Sudah sampai, Bu," kata sopir taksi.

"Iya pak, terimakasih" jawab ku sembari membayar.

Aku bergegas berjalan kaki menuju Gedung VANE Tower berdiri kokoh di hadapanku. Begitu menjejakkan kaki di lobi utama yang berlantai marmer mengilap, beberapa staf yang melintas sempat menoleh padaku. Bukan lagi dengan pandangan meremehkan, melainkan penuh rasa penasaran.

Pintu lift khusus eksekutif terbuka.

"Eee Ayam ee Ayam" ucap ku latah karena kaget.

Rupanya aku kaget bukan karena apa melainkan karena Arch sudah berdiri di dalam lift. Pria bule berkulit segar dengan setelan jas itu menatapku yang baru saja melangkah mendekat. Mata cokelat terangnya menyapu penampilanku dari ujung rambut sampai sepatu hak tinggi empat sentimeter yang kupakai.

"Wah kamu lebih cepat lima menit dari jadwal," ujar Arch datar saat aku masuk ke dalam lift. Pintu kaca menutup, membawa kami meluncur naik ke lantai teratas.

"Aku gak suka terlambat, Mas Arch," balasku tenang.

Arch tersenyum tipis amat tipis hingga hampir tak terlihat. "Bagus begitu, disini banyak sekali karyawan yang masuk pas jadwal masuk. Ngomong-omong rambut barumu bagus. Kelihatan jauh lebih tegas. Awal perubahan yang bagus itu" ucap mas Arch

"Terima kasih mas Arch, Aku hanya ingin awal yang baru dan fresh" jawabku tersipu.

"Tapi ingat, Maya," potong Arch cepat, nadanya mendadak serius saat lift bertingkat tinggi itu denting berdenting pelan. "Tim kreatif di lantai 18 itu isinya orang-orang berambisi tinggi. Mereka tahu kamu mantan model, tapi mereka belum tahu seberapa tajam otakmu. Hari ini kamu harus buktikan kalau posisi Head Creative Director ini bukan karena 'kasihan' dariku."

Aku mengepalkan tangan di samping paha, menyerap setiap kata-kata pria itu. "Aku tahu mas.. dan aku siap."

Pintu lift terbuka. Lantai 18 menyajikan pemandangan ruang kerja terbuka yang super modern. Puluhan konseptor, desainer, dan pengarah gaya muda sibuk mondar-mandir dengan papan sketsa dan kain sample.

Arch melangkah lebih dulu, membuat suasana ruangan yang bising mendadak hening seketika. Semua mata tertuju pada kami lebih tepatnya, tertuju padaku.

"Semuanya, perhatian sebentar," suara berat Arch menggema penuh wibawa. "Ini Maya. Mulai hari ini, dia resmi menjabat sebagai Head Creative Director untuk lini busana utama VANE dan peluncuran project 'Summer Royalty' bulan depan. Semua konsep akhir harus lewat persetujuan Maya."

Desas-desus langsung terdengar kasak-kusuk di antara para staf.

Seorang wanita muda berambut pirang dengan gaya pakaian eksentrik melangkah maju. Dia menatapku dari atas ke bawah dengan pandangan tidak puas.

"Maaf, Mr. Arch," potong wanita itu berani. "Bukannya Mbak Maya ini mantan model yang udah vakum bertahun-tahun? Kenapa bukan senior dari tim internal yang naik posisi? Apa dia paham tren pasar sekarang?"

Suasana ruangan mendadak tegang. Arch hendak membuka suara untuk memasang badan, tapi aku menyentuh lengan jasnya pelan, memberinya kode bahwa ini bagianku.

Aku maju satu langkah, menatap wanita muda itu dengan senyuman tenang dan mata yang memancarkan aura dingin seorang Ratu runway.

"Pertanyaan yang bagus," kataku dengan suara yang renyah tapi menohok. "Nama kamu siapa?"

"Karin. Senior Stylist," jawabnya dagu terangkat.

"Oke, Karin," aku berjalan mendekati meja kerjanya yang penuh dengan papan konsep busana 'Summer Royalty'. Aku melirik salah satu sketsa utama di mejanya. "Konsep Summer Royalty yang kamu buat ini... pakai tema pantai tropis dengan dominasi warna kuning dan bunga-bunga, kan?"

"Iya. Itu tren yang paling aman buat pasar anak muda sekarang," jawab Karin bangga.

Aku tersenyum tipis, merogoh spidol hitam di mejanya, lalu tanpa ragu mencoret silang besar di atas sketsa utama Karin.

Seluruh ruangan mendadak menahan napas kaget.

Suasana ruangan seketika hening. Beban udara di lantai 18 VANE Tower serasa memadat. Karin terbelalak menatap lembar sketsa utamanya yang kini ternoda garis silang hitam tebal dari tanganku.

"Mbak Maya! Apa-apaan ini?!" Karin berteriak, suaranya meninggi penuh emosi. "Itu hasil kerja keras timku selama dua minggu! Mbak gak bisa main silang sembarangan begitu aja!"

Aku tidak panik. Ku pasang senyum tenang, meletakkan spidol di meja, lalu menatap Karin dan seluruh staf yang mulai berkumpul di sekeliling kami.

"Karin, konsep mu ini bagus... kalau buat brand pakaian kasual kelas menengah," kataku santai tapi tajam. "Tapi ini VANE. Kita gak cuma jual baju untuk liburan ke pantai, kita jual prestise. Tema tropis dengan bunga-bunga kuning itu udah dipakai belasan brand lokal tahun lalu. Pasar udah bosan."

Karin mengepalkan tangan, dadanya kempas-kempis. "Terus Mbak mau konsep apa? Mau balik ke gaya klasik zaman Mbak masih jadi model lima tahun lalu? Dunia fashion udah berubah, Mbak!"

"Justru karena dunia fashion berubah, kita harus bikin tren baru, bukan ngekor tren basi," balasku dingin.

Aku membalik kertas sketsa Karin, menggunakan bagian belakangnya yang kosong. Mengambil spidol kembali, jari-jariku menari cepat di atas kertas. Dalam hitungan detik, terlukis siluet gaun resort-wear dengan potongan asymmetric halter neck, menggunakan aksen kain serat alam bertekstur dan warna terracotta bercampur emas redup.

"Ini yang aku sebut Summer Royalty, jelasku seraya mengangkat kertas itu ke udara. "Bukan cuma warna kuning gembira yang kekanak-kanakan, tapi warna bumi yang hangat, mewah, dan memperlihatkan kekuatan wanita dewasa. Potongan ini nutupin area yang perlu ditutup tapi tetap kelihatan seksi dan elegan saat kena angin pantai."

Para staf lain yang tadinya memandangku sebelah mata kini mulai saling berbisik. Beberapa desainer muda di barisan belakang bahkan memajukan badan, terpesona melihat kepiawaian jemariku menggores sketsa instan yang begitu mahal.

Karin terpaku. Matanya menatap gambar di tanganku, tak sanggup menyembunyikan rasa takjub meski gengsi nya masih setinggi langit.

"Gimana, Karin?" tanyaku penuh penekanan. "Masih mikir aku gak paham tren pasar sekarang?"

Dari belakang kerumunan, Arch melangkah mendekat. Pria itu tidak bersuara, tapi mata cokelat terangnya memancarkan binar puas yang amat sangat jelas.

"Karin," suara Arch menggelegar tenang. "Mulai hari ini, kamu dan timmu eksekusi konsep *terracotta* dari Maya. Buat *sample* pertamanya dalam tiga hari."

"Ba Baik, Mr. Arch," jawab Karin pasrah, menundukkan kepala.

Arch menoleh padaku, memberi isyarat dengan dagunya. "Ikut ke ruanganku, May. Kita harus bahas jajaran model untuk runway pertama project itu."

Ruangan kerja Arch di sudut lantai top sangat luas, berdinding kaca transparan yang memperlihatkan lanskap pencakar langit Jakarta. Di atas meja kerjanya, menumpuk puluhan map portofolio model dari berbagai agensi.

"Kamu menangani Karin dengan sangat bagus," puji Arch seraya menghempaskan tubuh di kursi kerjanya. "Dia memang butuh disentil sedikit biar gak jemawa."

"Aku cuma ngelakuin pekerjaanku, Mas Arch," jawabku seraya duduk di hadapannya.

"Oke, sekarang kita pilih muse utama buat project kita ini," Arch mendorong seberkas portofolio ke arahku. "Aku butuh wajah baru yang punya aura mahal, tapi juga cukup viral di media sosial buat naikin engagement produk kita."

Aku membuka berkas itu. Lembar demi lembar berisi foto model-model papan atas. Namun, saat membalik halaman kelima, mataku tertahan.

Foto Siska.

Di bawah fotonya tertera tulisan: Siska Amelia - Main Model of Fandi Photography Studio. Ada surat rekomendasi bernada memohon yang ditandatangani langsung oleh Fandi di lembar berikutnya, meminta VANE Agency menyewa Siska sebagai model utama.

"Kebetulan sekali. Aku rasa aku punya ide buat dia tidak meremehkan ku lagi." Gumam ku.

Sebuah kekehan kecil lolos dari bibirku. Fandi rupanya sengaja memasukkan portofolio Siska ke VANE demi menaikkan level selingkuhannya di industri papan atas. Dia sama sekali tidak tahu kalau wanita yang dibuangnya kini adalah pimpinan yang memegang keputusan akhir di gedung ini.

"Kenapa, Maya?" tanya Arch memperhatikan perubahanku. "Kamu kenal model itu?"

Aku mendongak, menatap Arch dengan tatapan berbinar dingin. Rasa percaya diri yang sempat hilang bertahun-tahun kini sepenuhnya menguasai jiwaku.

"Aku sangat kenal, Mas," kataku pelan seraya melempar berkas Siska kembali ke meja Arch. "Ini Dia wanita itu mas. Dan aku punya rencana yang sangat menarik buat model satu ini."

Arch menyandarkan punggungnya ke kursi eksekutif, memutar cangkir kopinya pelan seraya menatapku dengan tatapan penasaran. Guratan tipis di sudut matanya yang menajam memberi kesan makin karismatik.

"Rencana apa, Maya?" tanyanya datar, tapi ada binar ketertarikan di mata cokelat terangnya.

Aku menggeser berkas portofolio Siska kembali ke hadapan Arch. "Panggil dia untuk audisi tertutup project Summer Royalty kita mas."

Arch mengerutkan dahi. "Kamu mau pakai dia? Bukannya dia wanita yang..."

"Bukan buat meloloskan dia, Mas," potongku cepat dengan senyuman miring. "Fandi pasti mikir rekomendasi dan pengaruhnya cukup kuat buat bikin Siska keterima di VANE. Kalau kita undang Siska audisi, Fandi bakal merasa di atas angin. Dia bakal mengira aku gak punya kekuatan apa-apa di sini. Kalau di perbolehkan mas" Ucapku pada Arch.

"Tentu saja boleh may. Orang yang sama juga adalah orang yang buat perusahaan ku kehilangan kamu selama bertahun-tahun. Aku sangat setuju kalau kamu mau bikin mereka berdua terbang tinggi dulu sebelum jatuh?" Arch menebak arah pikiranku, sebuah senyuman tipis muncul di bibirnya.

"Terimakasih banyak mas.. terimakasih sudah membantu aku. Ekspektasi tinggi itu bahan bakar terbaik buat kehancuran yang menyakitkan, Mas Arch," balasku tenang. "Biar Siska datang besok. Aku sendiri yang bakal jadi penguji utamanya."

Arch terkekeh pelan suara berat yang sangat menyenangkan di telinga. "Bagus. Aku suka caramu berpikir. Aku minta sekretarisku kirim surat panggilan audisi resmi ke studio Fandi sore ini."

Bersambung..

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!