JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: REAKSI DAN INTAIAN
Matahari pagi mulai merangkak naik, menembus dinding kaca raksasa di lantai tiga puluh penthouse mewah milik Eksan. Sinar keemasan itu menyiram permukaan lantai marmer yang mengilat, namun kehangatan fajar sama sekali tidak mampu mencairkan atmosfer ketegangan yang masih mengendap pekat di dalam ruangan tersebut. Nasya duduk diam di tepi ranjang king-size di dalam kamar utama yang beraroma kayu cendana. Matanya menatap kosong ke arah deretan gaun dan pakaian kasual baru yang telah tergantung rapi di dalam lemari semuanya disediakan oleh anak buah Black Cobra dalam waktu singkat sebelum fajar tiba.
Di ruang tengah, Eksan duduk bersandar di sofa beludru dengan kemeja hitamnya yang sengaja dibiarkan terbuka setengah, memperlihatkan balutan perban putih di perut kirinya yang mulai sedikit ternoda oleh rembesan cairan antiseptik baru. Di hadapannya, Rangga berdiri dengan posisi tegak, menggenggam sebuah komputer tablet yang terus menampilkan pembaruan informasi dari jaringan intelijen jalanan mereka. Wajah Rangga yang biasanya keras kini tampak jauh lebih serius dan tegang dari biasanya.
"Laporkan semuanya, Rangga. Jangan ada satu pun detail kecil yang kau sembunyikan dariku," perintah Eksan dengan suara rendah yang berat, serak, namun sarat akan nada intimidasi mutlak yang tidak bisa didebat. Mata elangnya yang pekat menatap lurus ke arah tangan kanannya, mengabaikan denyut nyeri yang sesekali masih menghantam dinding perutnya akibat duel maut semalam.
Rangga menghela napas panjang, lalu melangkah satu langkah lebih dekat. "Situasi di bawah mulai bergeser ke arah yang rumit, Bos. Seperti yang kau duga, hilangnya Nasya dari lingkungan rumahnya tidak berjalan mulus begitu saja. Dua jam yang lalu, seorang informan kita di kepolisian sektor barat melaporkan bahwa ibu Nasya telah mendatangi markas komando mereka. Wanita itu tidak memercayai pesan singkat yang dikirimkan oleh sistem kita tentang tugas luar kota."
Mendengar kata 'ibu Nasya', sepasang mata elang Eksan seketika terbuka lebar dengan kilatan tajam yang sangat dingin. Aura haus darah yang pekat mendadak kembali memancar kuat dari tubuh tegapnya, menekan seluruh atmosfer udara di ruang penthouse yang luas itu hingga terasa mencekam. "Apa yang dilakukan wanita tua itu di sana? Apakah dia membawa bukti?"
"Dia membuat laporan kehilangan anak secara resmi, Bos. Dan yang lebih buruk, pihak kepolisian mulai bergerak melakukan penyelidikan di sekitar area perumahan lama Nasya. Beberapa tetangga mengaku melihat sebuah mobil van hitam milik faksi kita sempat berputar-putar di sekitar gang rumahnya pada sore hari sebelum pertempuran gudang kontainer pecah. Polisi kini sedang berusaha mengumpulkan rekaman kamera pengawas dari beberapa toko kelontong di sekitar sana untuk melacak nomor pelat kendaraan kita," jelas Rangga dengan urat leher yang menegang tegang.
Eksan mendengus dingin, sebuah seringai kejam merayap di sudut bibirnya yang terluka. "Biarkan saja polisi-polisi sialan itu membuang waktu mereka dengan melacak pelat nomor palsu yang sudah dibakar oleh Bara di tempat pembuangan sampah. Mereka tidak akan pernah bisa melacak keberadaan gedung ini karena seluruh sistem keamanan penthouse ini menggunakan jaringan satelit pribadi yang terenkripsi. Tapi... bagaimana dengan sisa-sisa bajingan faksi utara?"
Rangga menggeser layar tabletnya sebelum kembali berbicara. "Ini yang paling harus kita waspadai, Bos. Sub-faksi White Tiger yang dipimpin oleh **Kobra Hitam palsu** atau yang biasa dikenal sebagai **Rian si Belut Jalanan**, tidak ikut menyerah malam tadi. Intel kita melaporkan bahwa Rian sedang mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang tercerai-berai di wilayah utara. Dia tahu bahwa posisi ketua tertinggi White Tiger kosong, dan dia berniat mengambil alih takhta itu dengan cara melakukan sebuah manuver besar untuk menjatuhkan."
"Manuver apa?" tanya Eksan dingin, matanya menyipit tajam membentuk garis lurus yang mematikan.
"Rian tampaknya sudah mencium desas-desus bahwa kau menyembunyikan seorang gadis sekolah yang menjadi kelemahan terbesarmu, Bos. Anak buah Rian saat ini sedang melakukan intaian rahasia di sekitar sekolah Nasya dan rumah lamanya. Mereka tidak tahu bahwa Nasya sudah berada di penthouse ini, tapi mereka berasumsi bahwa gadis itu masih berada di bawah perlindungan Black Cobra di sekitar markas sektor barat. Mereka sedang mencari celah untuk menculik Nasya demi menjadikannya sandera politik jalanan untuk memaksamu menyerahkan jalur distribusi pelabuhan," jawab Rangga dengan nada suara yang bergetar penuh kekhawatiran.
*BRAKKK!*
Eksan menghantam meja kaca di hadapannya menggunakan kepalan tangan kanannya hingga permukaan kaca tebal itu retak seribu. Rasa sakit di perut kirinya seketika mencuat hebat, membuat jahitan barunya terasa panas, namun kegilaan posesif dan protektif di dalam dada sang pemimpin berandal telah membakar habis seluruh rasa sakit fisiknya. Urat-urat di pelipis dan leher tegapnya menegang keras, memancarkan amarah murni seorang monster jalanan yang harga dirinya diusik.
"Berani sekali tikus-tikus utara itu mencoba mengendus milikku!" raung Eksan dengan suara bariton yang menggelegar pekat, menggema mematikan di setiap sudut ruangan mewah tersebut. "Rangga! Perintahkan Bara untuk membawa dua puluh orang pasukan inti Black Cobra. Bersihkan setiap tikus intaian milik Rian yang berani berkeliaran di dekat sekolah dan rumah Nasya dalam waktu tiga jam! Patahkan kaki mereka, dan gantung jaket putih mereka di tiang listrik jalanan sebagai peringatan mutlak bagi siapa pun yang berani mengusik ketenangan miliknya Eksan Prasetya!"
"Siap, Bos! Akan segera aku laksanakan!" jawab Rangga dengan anggukan tegas, lalu dengan cepat berbalik dan melangkah pergi keluar dari penthouse untuk mengeksekusi perintah berdarah tersebut.
Di ambang pintu kamar utama, Nasya berdiri mematung dengan tubuh yang gemetar hebat. Ia telah mendengar seluruh pembicaraan keras di ruang tengah sejak awal. Mendengar ibunya yang menangis di kantor polisi dan ancaman dari berandal bernama Rian membuat air mata baru kembali menetes deras membasahi pipinya yang pucat. Ia merasa seperti sebuah kutukan, sebuah beban mengerikan yang membawa kehancuran bagi semua orang di sekitarnya.
Eksan yang menyadari kehadiran Nasya langsung menolehkan kepalanya. Tatapan matanya yang semula dipenuhi amarah haus darah murni seketika melunak menjadi sebuah pandangan posesif yang teduh namun luar biasa pekat saat menatap sosok mungil gadis itu. Ia bangkit dari sofa dengan perlahan, melangkah lebar menghampiri Nasya meskipun kain perbannya mulai kembali merembeskan cairan merah setitik demi setitik.
Sebelum Nasya sempat mundur ketakutan, Eksan sudah lebih dulu menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapan dada bidangnya yang hangat. Lengan kekarnya mengunci pinggang Nasya dengan cengkeraman mutlak yang protektif, seolah tidak akan pernah membiarkan bahaya apa pun di dunia ini menembus benteng pertahanannya.
"Kau mendengar semuanya, kan, Nasya?" bisik Eksan dengan suara yang sangat rendah, berat, dan parau di atas puncak kepala gadis itu. "Jangan menangis untuk ibumu, dan jangan pernah merasa bersalah. Aku sudah berjanji padamu, di duniaku, sekali kau terlibat denganku, kau adalah milikku selamanya. Tempatmu ada di sini, di atas ketinggian ini, aman bersamaku. Siapa pun yang berani berencana menyentuh seujung rambutmu di bawah sana... mereka semua hanya memiliki satu jalur tunggal untuk pulang malam ini, yaitu di dalam keranda mayat."
Nasya hanya bisa menangis sesenggukan di dalam dada bidang Eksan, meremas erat kemeja hitam pemuda itu dengan jemari yang bergetar, menyerahkan seluruh sisa kebebasan hidupnya ke dalam belenggu emas sang penguasa tertinggi aspal kota yang tidak akan pernah melepaskannya hingga akhir hayat.