Lantunan ayat suci dan isak haru mengiringi momen Nabila Azra Humaira menyematkan mahkota kehormatan di kepala ibunya. Hari itu, ia resmi diwisuda sebagai Hafizhah 30 Juz di Pesantren Nurul Hasanah. Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap.
Sore harinya, kabar kecelakaan tragis orang tuanya membuat Nabila panik dan tergesa-gesa mengendarai motor. Naas, nasib buruk beruntun menimpanya. Nabila mengalami kecelakaan hebat yang merenggut penglihatannya secara permanen, bersamaan dengan kabar duka bahwa kedua orang tuanya telah berpulang.
Satu bulan Nabila mengurung diri dalam duka. Di tengah sunyinya masa keputusasaan itu. Seorang pria datang membawa pengakuan yang menghentakkan jiwanya. Pria itu menyebut dirinya Hafiz Habib Zafar, dan yang paling mengejutkan pengakuannya bahwa ia adalah suami sah Nabila.
Dibalik kegelapan yang menyelimuti hidupnya, Nabila terus bertanya-tanya. Siapakah sosok Hafiz Habib Zafar sebenarnya? Mengapa seorang pria asing tiba-tiba mengaku sebagai suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH BARU UNTUK HARAPAN BARU
Umi Salamah menyapu air mata bahagianya yang masih menggenang di sudut mata. Dengan penuh kasih sayang, beliau memegang kedua bahu Hafiz dan menatap menantunya itu lekat-lekat.
"Nak... Segera bawa Nabila ke rumah sakit atau dokter kandungan terdekat," ujar Umi Salamah memberikan arahan dengan nada yang begitu lembut namun mantap. "Kita harus memastikan kondisi janin dan kandungan Nabila secara medis. Supaya kita tahu pasti berapa usianya dan apa saja nutrisi yang dibutuhkan Nabila sekarang."
"Baik, Umi. Hafiz akan langsung membawa Billa sekarang," jawab Hafiz cepat tanpa ragu sedikit pun.
Tanpa membuang waktu, Hafiz membimbing Nabila menuju mobil. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, jemari Hafiz tak pernah melepaskan genggamannya dari tangan Nabila. Senyum tak henti-hentinya terukir di paras tampannya. Setiap kali lampu merah menyala, ia menoleh ke arah istrinya, menatap Nabila dengan binar mata yang sarat akan rasa cinta dan haru yang tak terhingga.
Sesampainya di rumah sakit, setelah melewati beberapa rangkaian pemeriksaan oleh dokter spesialis kandungan, kebahagiaan mereka akhirnya terkonfirmasi secara mutlak. Dokter menyatakan bahwa Nabila memang positif hamil, dan kondisi rahim serta janin mungil di dalamnya berada dalam keadaan sehat dan kuat.
Suara detak jantung janin yang terdengar samar dari layar ultrasonografi (USG) membuat dada Hafiz bergetar hebat. Pria itu menundukkan kepala, mengusap wajahnya seraya tak henti membisikkan doa dan rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Setelah mendengarkan semua nasehat medis dan menerima resep vitamin kehamilan dari dokter, mereka pun segera kembali ke rumah.
Namun, kepulangan mereka ke rumah lama Jakarta kali ini juga menandai akhir dari persinggahan sementara mereka. Hafiz sadar betul akan tanggung jawab besar yang mengikat pundaknya. Sebagai putra tunggal Kyai Yahya sekaligus penerus utama kepemimpinan Pondok Pesantren di Yogyakarta, Hafiz tidak bisa berlama-lama meninggalkan para santri dan mengabaikan tugas pengasuhan pondok.
Siang itu juga, persiapan untuk kembali ke Yogyakarta segera dilakukan.
Di halaman depan rumah, suasana mendadak diliputi rasa haru. Ardhana berdiri bersandar di pintu mobil dengan raut wajah yang muram. Ada kesedihan mendalam yang memancar dari matanya karena harus kembali berpisah dengan adik bungsunya, satu-satunya ikatan darah yang sangat ia cintai dan baru saja ia rasakan kembali kehangatannya.
Melihat ekspresi sang kakak yang diliputi rasa berat hati, Nabila melangkah mendekat. Ia menatap Ardhana dari balik kacamata pelindungnya seraya bersedekah senyum manis.
"Mas Dhana..." panggil Nabila dengan nada manja namun tegas. "Billa punya satu syarat kalau Mas tidak mau Billa kepikiran terus di Jogja."
Ardhana menunduk, menatap adiknya lekat-lehat. "Syarat apa, Dek?"
"Mas Dhana wajib hukumnya datang berkunjung ke pondok di Jogja setiap akhir pekan! Tidak boleh ada alasan sibuk kerja atau urusan bisnis. Pokoknya akhir pekan wajib ke Jogja!" tegas Nabila dengan polosnya.
Kyai Yahya dan Umi Salamah yang menyaksikan interaksi kakak beradik itu tak sanggup menahan tawa renyah mereka. Mereka paham betul betapa Ardhana yang biasanya bersikap dingin dan tegas di luar, selalu bertekuk lutut dan tak berdaya jika sudah berhadapan dengan permintaan adik kesayangannya.
Umi Salamah menyela seraya mengusap bahu Ardhana hangat. "Iya, Dhana... Lagipula, kalau kamu memang menganggap Umi ini sebagai ibu kandungmu sendiri, kamu harus sering-sering menjenguk Umi di pondok. Siapa tahu nanti di sana... ada jodoh santriwati atau ustadzah yang mampir untukmu."
Seketika wajah Ardhana memerah. Pria jangkung itu menjadi salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya memutar pandangan ke arah lain untuk menutupi rasa malunya. Tawa bahagia pun kembali pecah di halaman rumah itu, melepas kepergian mereka dengan suasana yang hangat dan manis.
Setelah berpamitan dan saling memeluk erat, rombongan akhirnya berangkat. Kali ini, susunan penumpang berubah. Kyai Yahya dan Umi Salamah duduk nyaman di kursi belakang mobil Hafiz, sementara Nabila duduk di samping Hafiz di kursi depan, menemani suaminya yang mengemudikan kendaraan.
Perjalanan menempuh jarak ratusan kilometer menuju Yogyakarta terasa begitu menenangkan. Sepanjang jalan, Nabila menikmati pemandangan alam dari balik jendela, sesekali tertidur lelap akibat efek rasa kantuk alami dari kehamilannya. Hafiz mengemudikan mobilnya dengan sangat hati-hati, memastikan perjalanan terasa selancar mungkin untuk sang istri dan calon buah hati mereka.
Beberapa jam berlalu, roda-roda mobil akhirnya memasuki kawasan pesisir dan perbukitan Yogyakarta. Aroma tanah dan udara segar pedesaan menyambut kepulangan mereka. Senja mulai membayang di ufuk barat ketika kendaraan Hafiz memelankan lajunya, berbelok memasuki gapura utama kompleks pesantren.
Saat mobil melewati jalur setapak menuju kediaman, Nabila mengerutkan dahi bingung. Ia menoleh ke arah Hafiz yang tersenyum penuh rahasia.
"Mas Hafiz..." bisik Nabila ragu. "Apakah... apakah setelah ini kita akan tinggal di pondok utama bersama Abi dan Umi?"
Hafiz menggeleng pelan dengan senyum lembut yang mengembang di bibirnya. "Tidak, Sayang. Rumah panggung itu kediaman utama Abi dan Umi. Kita punya rumah sendiri."
Hafiz memutar kemudi, mengarahkan mobil ke jalur samping yang membelah pepohonan rindang menuju area khusus di sudut kompleks pondok pesantren. Nabila menatap ke luar jendela dengan saksama.
Meskipun dulu matanya tidak bisa melihat, ingatan inderawi Nabila sangat tajam. Ia bisa merasakan lekukan jalan, hembusan angin, dan rimbunnya pepohonan yang pernah ia lalui dengan bantuan tongkat dan tuntunan Hafiz saat matanya masih terbalut kegelapan.
"Lho... bukankah jalan ini menuju ke..." Nabila menghentikan kalimatnya seketika.
Mata Nabila membelalak lebar dari balik kacamata pelindungnya. Mulutnya sedikit terbuka karena takjub saat mobil Hafiz berhenti tepat di depan sebuah pelataran asri.
Di hadapannya kini, tidak ada lagi bayangan bangunan lama yang lapuk dan rusak akibat hantaman badai serta musibah waktu itu. Sebagai gantinya, berdiri megah sebuah rumah bernuansa panggung namun sangat kokoh dan indah. Bangunan itu mengusung paduan arsitektur modern tropis dengan sentuhan kayu jati alami, dilengkapi beranda luas dan taman bunga yang tertata sangat rapi di sekelilingnya.
"Bukannya... bukannya rumah panggung kecil kita dulu rusak parah terkena musibah, Mas?" tanya Nabila terbata-bata, menatap bangunan indah itu seolah tak percaya pada penglihatannya.
Hafiz mematikan mesin mobil, lalu menoleh menatap Nabila dengan sorot mata yang sarat akan kehangatan dan kebanggaan.
"Memang benar, rumah lama kita dulu sempat rusak, Billa..." jawab Hafiz pelan, meraih jemari Nabila dan mengecupnya lembut. "Tapi selama kamu dirawat di rumah sakit dan melewati masa-masa sulit pemulihan matamu, Mas diam-diam meminta bantuan para pekerja dan santri untuk membangunnya kembali. Mas merenovasinya total dari fondasi terdasar."
Hafiz tersenyum manis seraya menunjuk ke arah pintu utama rumah baru mereka yang tampak begitu anggun di bawah pendar sinar mentari senja.
"Rumah ini Mas bangun khusus untukmu. Bangunan baru yang lebih kokoh, lebih aman, dan lebih indah... untuk menyambut kembali cahaya penglihatan istriku, dan untuk membesarkan calon buah hati kita di sini."
Nabila menatap bangunan itu, lalu beralih menatap wajah suaminya. Air mata haru kembali menetes di pipinya, bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur yang tak terhingga atas cinta dan pengorbanan luar biasa dari pria yang berdiri di sampingnya.
cus lanjut kak author semangat 💪💪💪
lanjut kak