Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.
Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.
Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.
Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.
Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?
Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Untuk Pulang
Anjani mengangkat panggilan dari Mama. "Ya, Ma?"
Sementara itu, Eve sudah pergi menuju para pekerja, menyuruh untuk membuka kembali restoran, sekaligus membayar denda kerugian menggunakan kartu hitam tanpa limit miliknya.
"Hanya sepuluh juta? Kalian yakin?" Eve tercengang mendengar angka nominal yang dikatakan kasir untuk menutup biaya kerugian.
"Kita di sini dua jam, kalian nggak rugi banget?" Eve kembali mencoba meyakinkan mereka.
Kasir itu menggeleng, dia tersenyum sambil menggesek kartu kredit Eve. "Tidak, Nona. Nominal itu juga sudah terlalu besar. Biasanya dalam dua jam pemasukan restoran rata-rata empat sampai enam juta saja."
"Kalian udah untung itu? Tambahin lagi dua puluh juta deh," tawar Eve sambil memohon supaya kasir itu tidak memberikan kartu kreditnya begitu saja.
Kasir perempuan itu tetap menggeleng, memaksa Eve untuk menerima kartunya lagi, "Terimakasih Nona, saya berharap Nyonya Anjani segera baik-baik saja."
Kasir itu langsung berlari ke belakang setelah menaruh kartu di dalam baju Eve, tepat di belahan dada gadis kaya itu.
Eve hanya terdiam, tangannya mengambil kartunya di balik pakaiannya, dan mengomel, "Jujur sekali mereka ini. Aku sudah merengek minta naik harga mereka malah nggak mau, biasanya beberapa oknum malah nyari kesempatan."
Anjani melihat dari kejauhan, ia masih memegang ponselnya, "Papa sudah sadar, Ma?" tanyanya kemudian.
Mama Anjani di dalam layar mengangguk, menunjukkan seorang pria yang terbaring di atas kasur dengan berbagai alat bantuan medis yang terpasang.
"Bangun-bangun langsung minta ketemu kamu, nih, Papamu," ujar Mama.
Anjani mengusap sudut matanya yang mulai basah. Papa-nya masuk rumah sakit beberapa waktu lalu, mengalami kritis, ia bahkan jarang menjenguk karena terlalu sibuk.
"Aku akan ke sana setelah ini," ucap Anjani sambil tersenyum.
"Bawa Syahrul, ya? Kalian berdua jarang banget nginep di rumah ini, jadi sepi tahu!" Di sebrang sana perempuan berusia lebih dari enam puluh tahun terlihat sedih, karena terlalu merindukan anaknya yang jarang pulang.
Anjani terdiam beberapa saat, tak bisa membalas sang Mama. Mengajak Syahrul dalam kondisi seperti ini? Namun, ia juga tidak bisa berbohong dan mengabaikan dari permintaan orang tuanya. Lebih baik tetap berpura-pura tidak terjadi apa-apa, mereka berdua tidak boleh tahu tentang retaknya hubungan mereka.
"Iya, Ma," balas Anjani lesu.
Panggilan berakhir. Anjani seketika menaruh kepalanya di atas meja dan menatap pada para pelayan yang mulai membuka pintu restoran.
"Kamu kenapa lagi?" Eve duduk dengan membawa dua irisan cheesecake dengan lava stroberi. Salah satu ia taruh di depan Anjani. "Untuk hilangkan stres, makan itu," lanjutnya.
Anjani menatap roti dengan baluran keju lembut dan beberapa potongan stroberi, belum lava merah yang katanya dari stroberi juga. Ia enggan memakan itu, tetapi perutnya juga butuh diisi setelah diajak pusing bersama.
"Mama telepon, disuruh pulang, tapi harus bersama Syahrul," beritahu Anjani, lalu ia menghela napas panjang sebelum memakan sedikit potongan roti di depannya.
"Bilang aja kalau Syahrul lagi sibuk," perintah Eve dengan begitu mudahnya. Mulutnya sibuk mengunyah cheesecake hingga sudut bibirnya penuh dengan sisa lava.
"Mama pasti tahu aku berbohong." Anjani kembali membuka ponselnya, mencari kontak Syahrul dari beberapa teman yang ia simpan, setelah itu dipencetnya tombol panggil.
"Speaker dong," bisik Eve. Ia mendekatkan kepala ke ujung ponsel Anjani, tangannya masih sibuk mengarahkan potongan roti masuk ke dalam mulutnya, dan bola matanya terlihat sedang mengerling.
Dering ponsel terus berbunyi, menunggu Syahrul untuk menerima panggilan, tetapi tidak terhubung. Anjai mengerut, menatap ponselnya lama, lalu kembali memanggil pria itu, dan berujung tidak dapat dihubungi. Jari Anjani tidak lelah, ia terus menelepon hingga kali ke delapan belas, baru panggilan diterima.
"Halo?!" suara berat sedikit terengah-engah muncul dari sebrang telepon, dari nada suaranya dia terlihat sedang jengkel.
"Masih di kantor?" tanya Anjani.
"Masih"
"Masih lama? Aku harus pulang ke rumah orang tuaku, Mama meminta kamu datang." Anjani memasukkan secuil kue ke mulutnya, lalu mengunyahnya secara perlahan, menikmati rasa manis dan gurih yang terasa nikmat di setiap sisi lidahnya.
Eve masih setia menguping.
Syahrul tidak kunjung membalas, justru terdengar suara erangan samar serta bunyi derit.
Anjani dan Eve saling berpandangan, sama-sama ingin tahu apa yang terjadi di balik ponsel, sehingga Anjani dengan iseng meninggikan suara ponselnya hingga full power.
"Ahh."
Suara desahan perempuan lolos terdengar dengan sangat jelas. Seketika Anjani mematikan ponselnya, Eve menjauh dari telepon, dan beberapa pengunjung melotot menatap kepada dua perempuan yang bertingkah aneh di ujung restoran.
Meski Anjani sudah mematikan teleponnya, ternyata panggilan mereka masih terhubung, suara desahan itu masih terdengar tetapi sudah sangat pelan. Anjani langsung meraih ponselnya dan mematikan panggilan.
"Ya Tuhan." Mulut Anjani tak berhenti komat-kamit hanya karena ulah Syahrul.
"Apa yang dilakukan suamimu itu?!!" Pekik Eve histeris sambil menatap sinis pada benda pipih yang dipegang Anjani. "Itu tadi suara Yeshika, kan?" lanjutnya.
Anjani mengangguk ragu, tetapi ia juga yakin kalau suara desahan tadi berasal dari Yeshika.
"Gila. Mereka melakukan itu di kantor?" Eve tidak percaya.
"Bisa saja Syahrul bohong padaku, kan? Kalau aslinya ada di hotel dekat kantornya gimana?" Seingat Anjani, di sisi kanan kantor Syahrul ada satu hotel mewah, dan melihat situasinya mungkin juga mereka melakukan itu di salah satu kamar di sana.
Anjani mengirimkan pesan singkat ke Syahrul, entah dibaca atau tidak, ia tidak peduli. Justru ia mulai menelpon Abbas, "Jadwalku besok seperti apa?"
Abbas terdiam di sisi lain. Membuka beberapa berkas hingga menemukan satu kertas tulisan acak. "Saya belum mencatatnya dalam schedule resmi, tetapi sepertinya hanya penandatanganan kontrak biasa dan agak siang ada kunjungan langsung ke kota sebelah untuk melihat proyek pembangunan. Apa ada jadwal yang harus saya undur?"
"Nggak perlu. Sepertinya besok aku agak siangan datangnya. Hari ini ada acara keluarga sampai besok," ujar Anjani sambil meminum kopinya yang tinggal sedikit.
"Ah, Nyonya, apa setelah ini masih bisa ke kantor?"
"Ada apa?"
"Direktur Keuangan memberikan beberapa laporan lewat e-mail, sepertinya butuh segera Nyonya lihat untuk didiskusikan bersama," balas Abbas dari sebrang. Dia menatap layar komputernya yang penuh dengan urutan pesan elektronik yang masuk ke e-mail kantor.
"Kirim saja ke nomorku salinannya, nanti aku baca dan balasannya akan segera aku kirim kepadamu," sahut Anjani.
Abbas mengangguk. Lalu panggilan berakhir begitu saja. Anjani memutus hubungan sepihak.
"Kamu sibuk banget, aku jadi iri, deh," celetuk Eve sambil menopang dagu, bibirnya agak maju, dan wajahnya terlihat kusut.
"Makannya kerja," peringat Anjani.
Eve langsung terkekeh. "Aku hanya diciptakan untuk menguras harta keluargaku saja."
Anjani mengerlingkan mata malas dan segera berdiri dari kursinya. Ia menuju ke kasir untuk membeli minuman kaleng yang ada di belakang kasir, setelah membayar baru kakinya melangkah pergi bersama Eve.
Di sisi lain, Syahrul menatap perempuan yang berada di bawahnya yang tanpa mengenakan satu pun helai pakaian. Kaki perempuan itu berada di atas bahunya, lalu ia kembali menggerakan pinggul, membuat sofa di bawah mereka berderit kencang.
Suara erotis Yeshika masih terdengar, padahal Syahrul sudah menutup sebagian besar kepala perempuan itu menggunakan jas kerjanya. Dengan gemas ia berbisik, "Rendahkan suaramu!"
Ia khawatir Anjani mendengarnya, tetapi ketika ia melihat ponselnya, panggilan sudah terputus. Seketika Syahrul menghela napas panjang dan kian menghentakkan tubuhnya semakin keras hingga Yeshika nyaris tidak terkontrol di bawahnya.
Lalu pesan masuk. Syahrul membuka pesan itu, pergerakannya menurun.
Aku ke sana, sekarang.
Anjani membalas melalui pesan. Syahrul langsung menjauh dari Yeshika, berjalan menuju kamar mandi dengan begitu cepat dan membiarkan Yeshika yang terbaring kecewa di atas sofa ruang kerja pribadinya di kantor.
"Anjaniiiiiii!!!!" pekik Yeshika sambil mengambil satu persatu pakaiannya yang tercerai berai di atas lantai dan di meja.