Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Beberapa saat, ruang tamu keluarga Halvar hanya dipenuhi keheningan.
Tidak ada yang langsung menjawab ucapan Vanessa.
Livia kembali mengepalkan tangannya erat. Sementara Lionel menatap Vanessa dengan jijik. Sejak tadi pemuda itu bahkan tidak berhenti menggumamkan berbagai makian untuk wanita itu.
Danendra yang sebelumnya hanya diam pun mulai menunjukkan amarah yang jelas di wajahnya.
Lucas sendiri akhirnya tidak mampu menahan emosinya.
“Anak itu hampir mati, Vanessa!” bentaknya. “Dan kamu masih bisa bilang tidak menyesal?”
Vanessa hanya menatapnya tanpa rasa takut. “Tapi kenyataannya dia tidak mati, kan?”
Jawaban itu membuat Lucas terdiam. Begitu pula dengan yang lainnya.
Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang mampu berkata-kata.
Mereka benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir wanita di hadapan mereka.
Seolah selama korbannya masih hidup, maka apa pun yang sudah dilakukannya bukanlah sebuah kesalahan.
“Benar-benar wanita gila,” gerutu Lionel. “Untung saja Kak Lucas tidak mau sama kamu. Kalau sampai orang seperti kamu jadi kakak iparku, mungkin keluarga Halvar sudah habis di tanganmu.”
“Kali ini aku setuju denganmu, Lio,” sahut Leonard sambil mengangguk kecil.
Faresta yang sejak tadi diam ikut angkat bicara. “Sepertinya dia lebih cocok di rumah sakit jiwa daripada di penjara.”
Lionel langsung menggeleng. “Salah, Kak.”
Faresta menoleh.
“Orang seperti dia seharusnya diisolasi di pulau tidak berpenghuni.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan wajah serius. “Sendirian.”
“Lio...” Leonard langsung menegur.
“Apa?” Lionel menoleh santai. “Aku serius.”
Ia bahkan menunjuk Vanessa tanpa sedikit pun merasa takut.
“Biar dia punya banyak waktu untuk memikirkan kenapa Kak Lucas menolaknya.”
Lionel kemudian mendengus pelan. “Wajah saja cantik, tapi hatinya busuk.”
Leonard hanya bisa menggeleng melihat tingkah saudara kembarnya.
Sementara itu, Elara yang sejak tadi diam justru menarik sudut bibirnya.
Gadis itu mengangkat satu jempol ke arah Lionel.
“Setuju.”
Lionel langsung tersenyum puas. “Nah, lihat? Elara saja setuju.”
“Jangan malah bangga,” tegur Leonard.
“Kenapa? Aku kan benar.”
Elara kembali menatap Vanessa tanpa mengatakan apa-apa.
Sementara Vanessa hanya bisa menatap mereka satu per satu dengan wajah penuh amarah.
Tak lama kemudian, suara sirene terdengar dari luar kediaman Halvar.
Lionel langsung menoleh ke arah pintu depan. Keningnya berkerut sebelum pandangannya beralih kepada Faresta.
“Kakak yang lapor polisi kalau pelakunya ada di rumah kita?” tanyanya penasaran.
“Bukan.” Faresta menggeleng. “Kakak bahkan tidak pegang ponsel.”
Lionel mengangguk kecil, lalu menoleh kepada Danendra.
“Kalau begitu... Papa?”
“Ponsel Papa masih di meja makan, Lio.”
Lionel kembali mengalihkan pandangannya.
Kali ini tatapannya jatuh kepada Leonard.
“Bukan,” jawab Leonard cepat bahkan sebelum Lionel sempat membuka mulut.
Lionel langsung menyipitkan mata.
“Ck. Padahal aku belum bertanya.”
Leonard terkekeh kecil.
“Lagi pula, ingatanmu memang pendek sekali. Tadi Elara sudah bilang kalau polisi sedang dalam perjalanan.”
Ia menunjuk Elara dengan dagunya. “Berarti jelas dia yang melaporkannya.”
Lionel terdiam beberapa detik.
“Oh iya. Lupa.” Ia mengangguk santai.
Leonard hanya bisa menggeleng melihat saudaranya.
Sementara itu, suara sirene semakin mendekat hingga akhirnya berhenti tepat di depan kediaman Halvar.
Tatapan semua orang pun beralih ke arah pintu utama.
Tak lama kemudian, beberapa petugas kepolisian memasuki rumah.
Mereka langsung menghampiri Vanessa yang masih berada di lantai.
“Vanessa Mahesa, kami akan membawa Anda untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.”
Vanessa tidak lagi melawan.
Tatapannya justru tertuju pada Lucas. Sorot matanya masih dipenuhi kebencian dan rasa tidak rela, seolah semua yang terjadi hari ini tetap menjadi kesalahan pria itu.
Namun kali ini, tidak ada yang peduli. Semua bukti sudah ditemukan dan rencananya juga telah terbongkar.
Petugas segera membawa Vanessa keluar dari rumah.
Begitu pintu utama kembali tertutup, suasana ruang tamu perlahan kembali tenang.
Lionel langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Syukurlah. Aku sudah muak melihat wajahnya.”
“Iya, aku juga,” sahut Leonard sambil mengambil bantal yang tergeletak di sampingnya.
“Oh iya...” Lionel tiba-tiba seperti teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah Leonard dengan senyum jahil. “Aku jadi ingat Bianca.”
Leonard langsung meliriknya. “Kenapa tiba-tiba ngomongin Bianca?”
“Jangan-jangan dia bakal jadi Vanessa kedua gara-gara kamu tolak.”
“Ngaco.” Leonard langsung meraih bantal di sampingnya lalu melemparkannya ke arah Lionel.
“Eh!”
Lionel buru-buru menangkap bantal itu. Bukannya kesal, ia malah tertawa.
“Wah, kok kena.”
“Memang sengaja.”
“Berarti tersinggung.”
“Berisik, Lio.”
Lionel masih terkekeh sambil meletakkan bantal itu kembali.
Livia yang melihat tingkah kedua putranya hanya bisa menghela napas. Ia sudah terlalu terbiasa melihat mereka saling mengganggu seperti itu.
Akhirnya, ia memilih mengabaikannya dan kembali menatap Lucas.
“Yang penting sekarang semuanya sudah selesai. Namamu juga sudah bersih.”
Lucas mengangguk kecil. “Terima kasih, Ma.”
Livia justru menggeleng.
“Kenapa berterima kasih sama Mama?”
Lucas terdiam sebentar. “Karena Mama sudah—”
“Bukan Mama yang harus kamu beri terima kasih.”
Livia melirik ke arah Elara.
Lucas pun mengikuti arah pandang ibunya.
Elara masih berdiri di tempatnya dengan tenang, seolah sejak tadi tidak terjadi apa-apa.
Lucas tersenyum kecil. “Kalau begitu... terima kasih, Elara.”
Elara menatapnya sebentar, lalu mengangguk.
Lionel yang sejak tadi ikut memperhatikan tiba-tiba kembali teringat sesuatu. Ia langsung menegakkan tubuh.
“Elara.”
“Ya?”
Lionel sedikit mendekat. “Bagaimana kamu bisa menemukan Vanessa?”
“Itu mudah.”
Lionel mengerutkan kening. “Mudah bagaimana?”
ELara tidak langsung menjawab. Gadis itu justru memandangnya beberapa detik.
“Aku lapar.”
Setelah mengatakan itu, Elara langsung berbalik dan berjalan menuju ruang makan.
Lionel terdiam.
Ia menatap Elara yang semakin menjauh, lalu menoleh kepada Leonard.
“Dia... serius?”
Leonard hanya mengangkat bahu.
Lionel kembali menatap Elara.
“Elara!”
Gadis itu tetap berjalan, tanpa memperdulikan seruan yang memanggil namanya.
“Hei, tunggu dulu!”
Lionel langsung bangkit dan mengejarnya.
“Aku belum selesai bertanya!”
Elara yang sudah hampir sampai ruang makan akhirnya berhenti. Ia menoleh dan mendapati Lionel berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil mengatur napas.
“Apa?” tanyanya singkat.
Lionel segera menghampiri. “Aku mau tahu bagaimana kamu bisa menemukan Vanessa.”
Elara hanya memandangnya sebentar, kemudian menarik kursi dan duduk.
“Setelah makan saja.”
Lionel mengerutkan kening. “Setelah makan?”
Elara mengangguk sambil mengambil sendok. “Iya.”
“Kenapa harus setelah makan?” Lionel masih berdiri di samping meja, jelas belum puas dengan jawaban itu.
“Karena aku lapar, Lio.”
Lionel menghela napas panjang lalu mengusap wajahnya. “Dari tadi jawabannya cuma itu.”
Elara mulai makan dengan tenang, seolah pertanyaan Lionel bukan sesuatu yang penting.
“Aku serius, Elara,” lanjut Lionel sambil menarik kursi di depannya. “Aku penasaran bagaimana kamu bisa tahu Vanessa ada di sana, lalu membawanya sampai ke rumah.”
Elara berhenti menyendok makanan dan menatapnya.
“Aku akan cerita. Tapi nanti.”
Lionel terdiam beberapa detik. “Kenapa nanti?”
“Apa kamu tidak melihat aku sedang makan?"
Leonard yang baru saja masuk ke ruang makan langsung menahan tawa melihat wajah adiknya.
“Sudahlah, Lio. Tunggu dia selesai makan.”
Lionel menoleh kesal. “Kalian kompak sekali."
Leonard hanya mengangkat bahu lalu duduk.
Sementara itu, Elara kembali menyantap makanannya dengan tenang.
Lionel akhirnya ikut duduk sambil terus memperhatikannya.
“Pokoknya setelah makan, kamu harus cerita,” katanya memastikan.
Elara mengangguk kecil. “Iya.”
Lionel baru saja tersenyum lega ketika Elara menambahkan dengan santai,
“Kalau aku tidak lupa.”
Senyum Lionel langsung menghilang.
“...ELARA!”
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔