Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
...
Sore mulai berganti malam ketika mobil Evelyn memasuki halaman mansion keluarga Danesha.
Gerbang besi terbuka perlahan, memperlihatkan bangunan megah yang beberapa hari terakhir ia tinggalkan.
Lampu-lampu taman menyala hangat di sepanjang jalan setapak, membuat rumah itu tampak tenang.
Entah kenapa setiap kali melihat mansion ini, Evelyn selalu punya perasaan aneh.
Seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengawasinya. Atau mungkin hanya karena otaknya sudah terlalu dipenuhi teori konspirasi akibat novel psikopat sialan itu.
"Halah... tenang, Ev." Ia menepuk pipinya sendiri.
"Rumah sendiri, bukan rumah hantu."
Meski begitu, langkahnya tetap sedikit lebih cepat ketika masuk ke dalam. Interior mansion masih terlihat rapi seperti biasa.
Tidak ada debu. Tidak ada barang berantakan. Bahkan bunga-bunga segar di vas ruang tamu masih diganti secara rutin oleh para staf rumah.
Evelyn berjalan menuju ruang tamu utama. Dan di sanalah seseorang sudah menunggu. Seorang pria berusia sekitar pertengahan tiga puluhan mengenakan setelan jas abu-abu gelap berdiri saat melihat dirinya datang. Rapi.
Tegas. Berwibawa.
Aura pekerja profesional tingkat dewa. "Selamat sore, Nona Evelyn."
Pria itu sedikit
membungkukkan badan. "Saya senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda."
Evelyn langsung membalas senyum canggung. "Eh... sore juga, Pak Reon."
Pria itu adalah Reon Hartmann. Manajer utama Grup Danesha. Orang kepercayaan ayah dan ibunya. Kalau diingat-ingat, di memori Evelyn Adreena, pria ini termasuk salah satu orang yang paling sering membantu keluarga Danesha mengurus perusahaan.
"Bapak udah lama nunggu?"
"Tidak terlalu lama."
Jawaban diplomatis.
Yang biasanya berarti sudah menunggu cukup lama.
"Ehehe..." Evelyn pura-pura tidak paham. "Silakan duduk, Pak."
Keduanya lalu duduk berhadapan di sofa ruang tamu.
Tak lama seorang staf menghidangkan teh dan makanan ringan sebelum pergi kembali.
Begitu suasana cukup tenang, Reon membuka tas dokumennya. Matanya terlihat jauh lebih bersemangat daripada biasanya.
"Sebelumnya, izinkan saya mengucapkan selamat, Nona."
"Hm?"
"Atas penunjukan Anda sebagai pemegang kendali sementara salah satu divisi utama Grup Danesha." Ucapnya sambil tersenyum.
Evelyn berkedip. "... makasih?"
Jawabannya terdengar seperti orang yang bahkan tidak tahu harus bangga atau takut.
Reon tersenyum tipis. "Dan satu lagi."
Ia mengeluarkan map hitam. "Selamat karena proposal kerja sama kita akhirnya diterima oleh perusahaan Aurelius Consortium."
Evelyn langsung teringat reaksi heboh Celine pagi tadi. "Oh iya..."
Katanya sambil
mengangguk pelan. Sedangkan Reon tampak jauh lebih antusias. "Bagi dunia bisnis, ini pencapaian yang sangat besar."
"Sebesar itu ya?" Reon terlihat sedikit kaget. "Lebih besar dari yang Anda bayangkan, Nona."
Ia mendorong map hitam itu ke arah Evelyn. "Aurelius Consortium hampir tidak pernah menerima kerja sama sembarangan."
"Banyak perusahaan besar mengajukan proposal setiap tahun. Sebagian besar ditolak." Termasuk perusahaan-perusahaan dengan nilai aset puluhan triliun."
Evelyn yang awalnya santai perlahan mulai duduk tegak. "Oh..."
Lumayan serem juga ternyata. "Kalau gitu kenapa kita diterima?"
"Itu yang juga membuat saya terkejut." Reon tersenyum tipis.
"Namun apa pun alasannya, ini kesempatan yang sangat baik."
Evelyn membuka berkas itu perlahan. Lembar demi lembar. Tabel. Grafik. Laporan. Angka. Banyak sekali angka. Lima menit kemudian... Matanya mulai berkunang-kunang.
Sepuluh menit kemudian... Jiwanya hampir meninggalkan raga. Lima belas menit kemudian...
"Ehehe..." Senyum Evelyn mulai kosong."Pak Reon..."
"Ya?"
"Kalau saya pura-pura pingsan sekarang apa rapatnya bisa dibatalkan?"
" "
Reon terdiam. Lalu menghela napas panjang. "Tidak bisa, Nona."
"Hiks." Evelyn kembali menatap berkas itu dengan penderitaan.
Ia yang di kehidupan sebelumnya cuma pegawai kantoran biasa sekarang tiba-tiba disuruh membaca dokumen bernilai miliaran.
'Ini lompatan karier yang terlalu ekstrem.'Batinnya.
Untungnya Reon cukup sabar. Setiap kali Evelyn tidak mengerti sesuatu, pria itu langsung menjelaskan dengan rinci.
Mulai dari struktur perusahaan. Anak perusahaan. Divisi yang akan dikelola Evelyn.
Sampai proyek-proyek yang sedang berjalan.
"Jadi tugas saya sebenarnya apa?" Tanya Evelyn akhirnya.
"Sederhananya." Reon melipat kedua tangannya. "Anda akan belajar menjadi pengambil keputusan."
"Hah?"
"Bukannya itu tugas CEO?"
"Betul."
"Nah, saya belum siap jadi CEO."
Reon hampir kehilangan ekspresi profesionalnya. "Karena itulah Anda sedang belajar."
Evelyn langsung menutup wajahnya. Masuk akal. Tapi tetap menyeramkan.
Hampir satu jam berlalu.
Setumpuk berkas kini sudah berpindah ke tangan Evelyn.
Kepalanya terasa sedikit penuh.
Namun setidaknya sekarang ia mulai memahami gambaran besar bisnis keluarga Danesha.
Sebelum pergi, Reon berdiri dari kursinya. "Malam ini ada satu agenda penting lagi, Nona."
Evelyn langsung waspada.
"Apa?"
"Pertemuan perdana dengan perwakilan Aurelius Consortium."
"..."
"..."
"..."
"Malam ini?"
"Ya."
"Kenapa nggak besok aja?"
Reon tersenyum sopan.
"Karena jadwal mereka sangat sulit didapat."
Evelyn ingin menangis.Dalam satu hari ia harus menjadi mahasiswi. Calon pebisnis. Dan sekarang menghadiri pertemuan perusahaan raksasa yang bahkan membuat Celine hampir tersedak air minum.
"Baiklah..." Ia menyerah. "Aku ikut."
Reon mengangguk puas.
"Nanti saya kirim lokasi dan detail acaranya."
"...Dan kalau ada yang ingin Anda tanyakan mengenai perusahaan, jangan ragu menghubungi saya kapan saja."
"Siap, Pak."
Setelah berpamitan, Reon akhirnya meninggalkan mansion. Pintu utama tertutup kembali.
Dan rumah itu kembali sunyi. Evelyn memandangi tumpukan dokumen di meja. Lalu memandangi langit-langit. Lalu memandangi dokumen lagi.
Beberapa detik hening.
Kemudian "Ya Tuhan..."
Ia menjatuhkan dirinya ke sofa. "Kenapa hidup gue berubah dari cari kucing hilang jadi rapat sama konglomerat misterius dalam waktu seminggu?"
Dan entah kenapa... Saat mendengar nama Aurelius Consortium lagi, perasaan tidak nyaman kembali muncul di dadanya.
Sore perlahan berubah menjadi petang. Sinar matahari yang masuk dari jendela kamar mulai meredup, meninggalkan semburat jingga yang memantul di lantai marmer dan dinding kamar luas milik Evelyn.
Di atas meja kerja, beberapa map dokumen terbuka berantakan. Laptop menyala. Ponsel tergeletak di samping secangkir kopi yang sudah hampir dingin.
Evelyn menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Jujur saja... Sampai sekarang semuanya masih terasa tidak nyata.
Beberapa minggu lalu ia hanyalah seorang karyawan kantoran biasa yang setiap pagi harus berebut lift dan mengeluh soal deadline. Sekarang? Ia tiba-tiba menjadi putri keluarga konglomerat.
Calon pemimpin perusahaan. Dan malam nanti bahkan akan menghadiri pertemuan bisnis pertamanya.
"Kalau Raya lihat gue sekarang pasti dia ngakak tiga hari tiga malam..." gumamnya pelan.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup keluarga.
Mommy:
[Semangat sayang...]
Daddy:
[Daddy bangga padamu. Tidak semua orang bisa mendapatkan kepercayaan dari Aurelius Consortium.]
Mommy:
[Kamu pasti bisa. Jangan terlalu gugup ya.]
Evelyn menatap layar cukup lama. Senyum kecil muncul di wajahnya. Namun senyum itu terasa pahit.
"Entah gue harus seneng atau mulai nyiapin surat wasiat..." gumamnya.
Meski begitu, kehangatan yang ia rasakan dari pesan tersebut cukup membuat dadanya sedikit lebih ringan. Setidaknya... Ada orang yang percaya padanya.
Walaupun mereka tidak tahu kalau putri yang mereka kenal sebenarnya sudah bukan orang yang sama. Perlahan Evelyn kembali fokus pada dokumen di depannya.
Kali ini ia membaca lebih serius. Lembar demi lembar. Baris demi baris.
Awalnya semuanya tampak normal. Kerja sama antara Danesha Group dan Aurelius Consortium berpusat pada proyek pengembangan kawasan bisnis dan hunian premium di pusat kota.
Aurelius Consortium akan menyediakan sebagian pendanaan, akses jaringan investor, serta teknologi manajemen proyek.
Sementara Danesha Group menyediakan lahan, pengelolaan operasional, serta tenaga pelaksana proyek.
Secara garis besar... Kerja sama yang sangat menguntungkan. Bahkan terlalu menguntungkan. "Hm..."
Evelyn menyipitkan mata.
Naluri lamanya sebagai pekerja kantoran tiba-tiba aktif. Ia membuka kembali beberapa halaman sebelumnya.
Membandingkan poin-poin tertentu. Lalu membuka lampiran tambahan. Dan di situlah ia mulai menemukan sesuatu yang mengganggunya.
"...nah kan."
Tangannya mengetuk meja perlahan. Di salah satu klausul tertulis bahwa apabila terjadi keterlambatan proyek akibat kesalahan operasional, maka pihak Danesha Group wajib menanggung biaya percepatan proyek terlebih dahulu.
Kalimatnya terdengar wajar. Sangat profesional. Namun masalahnya... Tidak dijelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan "kesalahan operasional".
Artinya definisinya bisa sangat luas. Bahkan bisa ditafsirkan berbeda di kemudian hari. Evelyn terus membaca. Beberapa halaman berikutnya membuat alisnya semakin berkerut.
Ada klausul lain yang menyebutkan bahwa Aurelius Consortium berhak menunjuk konsultan tambahan apabila
menjelang HUT RI
Gunakan untuk proyek dianggap tidak berjalan sesuai target.
Masalahnya... Biaya konsultan tersebut dibebankan kepada Danesha Group.
"Licik juga..." gumamnya.
Bukan penipuan. Bukan klausul ilegal. Bahkan semuanya masih masuk akal secara bisnis. Justru itulah yang membuatnya berbahaya.
Karena kalau seseorang tidak benar-benar teliti membaca dokumen ini, mereka hanya akan melihat keuntungan besar di permukaan.
Padahal sebagian risiko perlahan diarahkan ke pihak Danesha. Evelyn memutar pulpen di tangannya. Berpikir.
Lalu tersenyum tipis. "Untung gue mantan budak korporat."
Ia mengambil sticky note.
Mulai menempelkan catatan kecil di beberapa halaman. Poin yang perlu ditanyakan. Poin yang perlu diperjelas. Dan beberapa klausul yang menurutnya perlu dinegosiasikan ulang. Meski tidak memiliki pengalaman sebagai CEO...Ia cukup tahu satu hal.
Kalau ada sesuatu yang terasa terlalu bagus untuk menjadi kenyataan... Biasanya memang ada harga yang harus dibayar.
Setelah hampir satu jam membaca, Evelyn akhirnya menutup map tersebut. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap langit-langit.
Rasa gugup masih ada.
Namun kini bercampur dengan tekad.
"Oke..." gumamnya pelan.
"Mungkin gue belum ngerti dunia bisnis sepenuhnya."
"Mungkin gue masih sering panik."
"Dan mungkin gue lagi hidup di novel psikopat yang tokoh utamanya bisa muncul kapan aja buat bikin hidup gue sengsara."
Ia berhenti sejenak. Lalu mengangkat map kerja sama itu. "Tapi kalau ini tanggung jawab keluarga Danesha... Maka minimal gue nggak bakal tanda tangan kayak orang bego."
Untuk pertama kalinya hari itu, Evelyn benar-benar merasa sedang melangkah maju. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai karakter sampingan. Melainkan seseorang yang mulai belajar menentukan nasibnya sendiri.
curang tauuu😒😒