Indonesia
NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Pedang

Reinkarnasi Dewa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 — Rahasia Tetua Bermata Satu

Matahari tenggelam di balik pegunungan saat Lin Mu melangkah menuju Halaman Belakang—bukan lagi sebagai kediamannya sendiri, melainkan sebagai tamu yang memenuhi undangan aneh dari seorang tetua yang selama tujuh belas tahun hidupnya nyaris tak pernah bertukar sepatah kata pun dengannya.

Halaman Belakang jauh lebih sederhana dari kediaman utama—gubuk-gubuk kayu berjajar untuk para pelayan dan anggota klan yang dianggap tak berharga, dikelilingi kebun obat yang setengah terbengkalai. Di tengah kebun itu, di bawah pohon tua yang daunnya mulai menguning, Tetua Qing sudah menunggu, duduk di atas batu besar sambil menyeruput teh dari cangkir kayu sederhana.

"Duduk," katanya, tanpa menoleh.

Lin Mu duduk di batu seberangnya. Angin sore membawa aroma obat herbal dan tanah basah.

"Kau tahu kenapa aku memanggilmu?" Tetua Qing akhirnya menatapnya, mata satunya yang tajam menyipit.

"Tetua merasakan sesuatu yang berbeda dariku," Lin Mu menjawab jujur. Tidak ada gunanya berpura-pura di hadapan seseorang yang sudah cukup peka untuk merasakan hawa qi-nya dari kejauhan. "Dan Tetua penasaran apa itu."

Tetua Qing tertawa pelan, suara serak yang jarang terdengar dari mulutnya. "Berani sekali kau bicara terus terang pada seorang tetua." Ia meletakkan cangkirnya, ekspresinya berubah serius. "Tiga puluh tahun lalu, aku pernah bertemu seorang pengembara tua di puncak Gunung Qingfeng, jauh di luar batas wilayah ini. Ia sekarat, sisa-sisa terakhir umurnya nyaris habis. Sebelum mati, ia menceritakan sebuah kisah yang dilarang diucapkan di dalam klan mana pun—kisah tentang seorang kultivator yang mencapai ambang keabadian sejati, lalu dikhianati oleh saudara seperguruannya sendiri, tiga ratus tahun silam."

Jantung Lin Mu berdegup sekali. Ia menjaga wajahnya tetap datar.

"Pengembara itu bilang," lanjut Tetua Qing, "jiwa kultivator itu tidak musnah. Ia terpecah, terlempar melintasi waktu, mencari tubuh yang cocok untuk ditumpangi kembali. Dan ia bilang tanda-tandanya akan selalu sama—meridian yang tampak 'tersegel' bukan rusak, kebangkitan mendadak di ambang kematian, dan hawa qi yang jauh lebih tua dari usia tubuhnya."

Ia menatap lurus ke mata Lin Mu.

"Kau paham kenapa aku memanggilmu ke sini."

Hening panjang menggantung di antara mereka. Lin Mu bisa saja terus berbohong, tapi melihat cara tetua tua ini bicara—hati-hati, penuh perhitungan, bukan seperti seseorang yang berniat mengungkapnya pada siapa pun—ia memutuskan sesuatu yang jarang ia lakukan bahkan di kehidupan lalunya: memercayai orang lain.

"Namaku, dalam kehidupan itu, adalah Ye Xuan," katanya akhirnya, pelan namun jelas.

Mata satu Tetua Qing melebar sesaat, lalu perlahan berubah jadi sesuatu yang lebih rumit—campuran antara takjub, ngeri, dan rasa hormat lama yang terkubur puluhan tahun.

"Dewa Pedang Sembilan Langit," gumamnya, hampir tak percaya pada suaranya sendiri. "Legenda yang dianggap punah bersama runtuhnya Puncak Pedang tiga abad lalu... duduk di hadapanku, dalam tubuh seorang pemuda yang baru saja diusir klannya sendiri karena dianggap sampah."

"Dunia punya selera humor yang buruk," Lin Mu berkata datar, membuat Tetua Qing terkekeh pelan meski matanya masih berkaca-kaca oleh rasa takjub.

"Kalau begitu," Tetua Qing berkata setelah mengatur napasnya, "biar kuceritakan satu hal lagi yang tidak pernah kuungkapkan pada siapa pun di klan ini selama enam puluh tahun aku mengabdi." Ia menurunkan suaranya hingga nyaris berbisik. "Klan Lin bukan klan biasa. Leluhur pendiri klan ini, lima ratus tahun lalu, pernah menjadi pelayan setia di Puncak Pedang Sembilan Langit—sebelum keruntuhannya. Saat puncak itu hancur dalam malam pengkhianatan, leluhur kami membawa lari satu peninggalan terakhir, menyembunyikannya jauh dari jangkauan siapa pun yang mungkin mencarinya."

Lin Mu menegakkan punggungnya. "Peninggalan apa?"

Tetua Qing bangkit, berjalan ke gubuk kecilnya di sudut kebun, dan kembali membawa sebuah kotak kayu tua yang diikat kain usang, disegel dengan aksara kuno yang bahkan Lin Mu—dengan ingatan tiga ratus tahunnya—butuh waktu sesaat untuk mengenali.

"Aku menyimpannya turun-temurun, menunggu seseorang yang layak," kata Tetua Qing sambil menyerahkan kotak itu. "Aku tidak pernah menyangka akan menyerahkannya pada pemiliknya sendiri."

Tangan Lin Mu gemetar—bukan karena takut, tapi karena mengenali aksara segel itu. Aksara pribadinya sendiri, yang dulu ia ukir di setiap benda berharga miliknya.

Ia membuka kotak itu perlahan.

Di dalamnya, terbungkus kain sutra yang telah pudar warnanya, tergeletak sepotong pecahan pedang—hanya sepertiga dari bilah aslinya, berkarat di beberapa bagian, namun masih memancarkan hawa dingin yang tak salah lagi ia kenali.

"Penakluk Fajar," bisik Lin Mu, suaranya bergetar untuk pertama kalinya sejak ia bangkit kembali. Pedangnya sendiri. Senjata yang telah menemaninya menaklukkan sembilan puluh sembilan pertempuran sebelum malam pengkhianatan itu merenggutnya darinya.

"Hanya sepertiga yang tersisa," Tetua Qing berkata pelan. "Menurut catatan leluhur kami, dua pertiga lainnya hancur berkeping-keping saat malam keruntuhan itu, tersebar entah ke mana di seluruh Sembilan Alam."

Lin Mu menggenggam pecahan pedang itu erat-erat. Meski hanya sepertiga, ia bisa merasakan sisa-sisa kekuatan yang masih tertidur di dalamnya—kekuatan yang jauh melampaui apa pun yang bisa dihasilkan tubuh lemahnya saat ini.

"Aku akan mengajarimu dasar-dasar kultivasi yang kuketahui, secara diam-diam," kata Tetua Qing, "dan aku akan memastikan klan tidak mengganggumu selama masa pemulihanmu di Halaman Belakang ini. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku, Ye Xuan—atau haruskah kupanggil kau Lin Mu sekarang?"

"Lin Mu," jawabnya tegas. "Ye Xuan sudah mati tiga ratus tahun lalu. Biarkan begitu, sampai saatnya tiba untuk mengungkapkannya pada dunia."

Tetua Qing mengangguk setuju. "Baik kalau begitu, Lin Mu. Berjanjilah, apa pun yang terjadi, jangan pernah melupakan bahwa kekuatan sejati bukan datang dari dendam semata, tapi dari apa yang kau lindungi di sepanjang jalan menuju puncak itu."

Lin Mu menggenggam pecahan Penakluk Fajar erat-erat, merasakan hawa dinginnya menyatu perlahan dengan qi tipis yang mengalir di meridiannya yang baru terbuka.

"Aku janji," katanya. "Dan mulai malam ini, dunia yang mengira Dewa Pedang telah musnah akan segera tahu—dendam tiga ratus tahun tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyala kembali."

Di kejauhan, di balik tembok Halaman Belakang, bayangan seseorang yang sejak tadi bersembunyi mendengarkan seluruh percakapan itu mundur perlahan tanpa suara, lalu berlari secepat mungkin menuju kediaman Klan Zhao.

1
Ilham Yono
mulai ada titik terang
semngat thor/Determined/
Ilham Yono
hem ...cukup menegangkan/Determined/
Ilham Yono
👍👍👍👍👍 good
Ilham Yono
langkah cerdik🤯
Ilham Yono
alur cerita bagus ..laut cerita yang runtut, tidaknyerlalu cepat dan tidak lambat juga..nice story
Ilham Yono
nice ude, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Aisyah Suyuti
seru
Ilham Yono
di tunggu Thor lanjutannya
Ilham Yono
ada ancaman tersembunyi
Ilham Yono
fightings
Ilham Yono
good battle
Ilham Yono
finely
Ilham Yono
musuh yang bergerak dibalik bayangan/Grimace//Joyful/
Ilham Yono
hem...aula bayangan... Shadow recruit
Ilham Yono
aula bayangan muncull assassin's mo yin
Ilham Yono
feeling good
Ilham Yono
bahaya mengintai
Ilham Yono
good feeling
Ilham Yono
hem/Facepalm//Determined/
Ilham Yono
hem.....musuh bergerak dalam bayangn/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!