"Aku tidak butuh pernikahan. Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi cinta pertamaku.”
Di usianya yang sudah matang, Arsen Winston, pewaris tunggal Winston Group berada di puncak kejayaan. Namun, tekanan keluarga menuntutnya untuk segera berumah tangga. Menolak menyerah pada pendirian sang putra, Adrian, sang ayah, merancang rencana gila dengan menyewa seorang wanita malam demi mendapatkan keturunan.
Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi. Wanita yang menghabiskan malam dengan Arsen bukanlah wanita sewaan sang ayah, melainkan seorang gadis misterius yang menghilang tanpa jejak.
Lima tahun berlalu…
Di atas kapal pesiar mewah, sebuah insiden mengerikan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan. Arsen bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Arsen seolah berhenti berdetak.
Anak menggemaskan itu memiliki garis wajah yang sangat identik dengannya, bahkan punya alergi sepertinya.
“Hai bocah, kamu tidak suka kacang?”
“Ndak cuka, bikin gatal-gatal badan Lupia. Paman Endut ndak cuka kacang juga?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Bocah Kematian
Di seberang jalan, Luvia baru saja keluar dari toko bersama Mateo. Di tangan anak mungil itu tergenggam erat sebuah permen lolipop raksasa berwarna merah muda. Wajahnya berseri-seri penuh kemenangan, sangat berbeda dengan Mateo yang berjalan lesu sambil melirik isi dompetnya yang kini kosong melompong. Gajinya bulan lalu resmi ludes seketika, semua gara-gara nafsu makan bocah rakus di sebelahnya.
Meskipun begitu, sudut bibir Mateo sedikit terangkat melihat Luvia begitu menikmati permen kapasnya.
Baru mengurus satu anak aja dompetku sudah sekarat begini, batin Mateo ngenes.
Entah bagaimana nasib dua anak bosnya yang lain nanti? Mungkin rekening tabungannya bukan cuma kosong, tapi bisa-bisa minus sampai harus jual ginjal.
Baru saja mereka menginjakkan kaki di lobi utama, sosok Arsen muncul dari arah lift dengan muka merah padam menahan amarah. Pria itu baru saja tiba kembali setelah lelah mengejar Adara yang berhasil kabur dengan jurus langkah seribu.
Mateo yang melihat bosnya datang langsung menyapa, “Ada apa, Bos? Kusut amat muka kayak celana belum disetrika.”
Dengan napas memburu, Arsen menjawab sengit, “Ibu dari anak ini tadi datang kemari, Mateo! Entah apa yang ada di otak wanita gila itu sampai nekat menyamar jadi kurir makanan demi menyusup!”
Mateo mengerjap, lalu berpendapat logis, “Mungkin… ibunya Luvia datang ke sini cuma buat mengambil Luvia kembali, Bos?”
Arsen mendecak keras, rahangnya mengeras. “Jangan harap! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku pastikan semua keturunan Winston harus berada di bawah genggamanku!”
Belum sempat Mateo merespons, Belinda tiba-tiba muncul dari koridor dengan wajah pucat pasi, panik, dan cemas bukan kepalang.
“T-Tuan Arsen! Gawat!” seru Belinda tergagap.
“Tuan Besar Adrian… beliau tadi datang ke kantor, tapi sekarang sudah tidak ada di ruangan CEO! Hanya tongkatnya saja yang tertinggal di lantai!” Belinda mengangkat tongkat mewah milik kakek Adrian dengan tangan gemetar.
Seketika mata Arsen menyipit tajam. Tanpa buang waktu, ia melangkah lebar menuju ruang keamanan gedung, diikuti Mateo dan Belinda.
Begitu pintu terbuka, betapa terkejutnya mereka melihat seluruh petugas keamanan di dalam sudah terkapar tak berdaya di lantai dengan posisi mabuk tidur.
Tentu saja, itu ulah Adara. Sebelum ia berurusan dengan pria bongsor di dekat lift tadi, Adara sempat menyusup ke ruang sekuriti dan menyemprotkan cairan gas bius rahasia yang membuat mereka langsung tertidur pulas seketika.
Namun, Arsen bukanlah pria yang mudah dibodohi. Tanpa membuang waktu, ia mengambil alih kursi kendali dan mengecek rekaman CCTV utama secara mandiri. Di layar monitor besar, detik-detik kejadian terekam jelas, orang yang membawa Tuan Besar Adrian keluar gedung bukanlah komplotan penjahat profesional, melainkan... dua bocah kembar! Sekali lagi, dua bocah kembar!
Luvia, yang sejak tadi ikut mengekor di belakang Belinda, ia tak sengaja mendongak dan melihat gambar kedua kakaknya di layar monitor raksasa. Dengan girang ia melompat-lompat kecil sambil menunjuk layar.
“Paman Meteol, lihat! Itu Bang Lucky sama Bang Lucian!” teriak Luvia polos.
Belinda langsung mengerutkan kening, menatap Luvia penuh selidik. “Nona Moera bicara apa? Sejak kapan dia punya kakak?”
BAM!
Tiba-tiba, Arsen menggebrak meja kendali dengan begitu keras hingga suara dentumannya menggema ke seluruh ruangan. Luvia sontak terperanjat kaget, bibirnya mengerucut hampir menangis karena bingung.
Tentu saja Arsen marah besar. Tapi amarahnya kali ini bukan sekadar tertuju pada si kembar, melainkan pada sosok Adara!
Wanita gila itu benar-benar kelewatan, berani-beraninya memanfaatkan anak-anaknya sendiri untuk menculik Tuan Besar Winston!
Dalam kepala Arsen, amarahnya bergemuruh hebat merangkai kebencian.
Sudah lancang mencuri kesucianku malam itu, berani melahirkan benihku tanpa sepengetahuanku, dan sekarang... wanita itu nekat menculik Ayahku?!
Apa sebenarnya yang kau inginkan, Adara! Mengapa kau terus berulah di belakangku?!
___
Mobil yang dikemudikan Bram akhirnya tiba di halaman rumah mereka dengan selamat. Begitu mesin dimatikan, Bram dan Adara langsung bergerak cepat memindahkan Tuan Besar Adrian yang masih pingsan.
Bram mendudukkan Adrian di sebuah kursi kayu yang kokoh di ruang tengah, lalu melilitkan tali tambang tebal untuk memastikan ikatan pria tua itu benar-benar kuat. Langkah pengamanan ekstra ini wajib dilakukan agar setelah sadar nanti, Adrian tidak mengamuk, menyerang, atau mendadak jantungan.
“Lucky, Lucian, jaga kakek ini baik-baik, ya. Jangan dilepas talinya sebelum Paman suruh,” pesan Bram kepada si kembar. Setelahnya, Bram bergegas keluar sebentar menuju mobil untuk mengambil beberapa barang tertinggal.
Di dalam ruangan, Adara berdiri tegak tepat di hadapan Adrian. Matanya menyipit, mengamati setiap jengkal wajah pria paruh baya yang kini terikat di depannya. Adara mencoba menarik memori masa lalunya, mencocokkan garis rahang dan bentuk wajah itu dengan bayangan pria asing yang berbagi malam panas dengannya lima tahun lalu.
Sialan… Persis banget! Cuma rambutnya saja yang sudah banyak memutih. Dan, dia masih tampan dan gagah!
Tidak ada keraguan lagi. Pria di hadapannya ini adalah cetakan asli dari biang kerok yang mengubah hidupnya lima tahun silam.
Tak lama kemudian, Adrian mulai mengerang pelan. Ia membuka matanya yang terasa berat akibat sisa-sisa pusing dari bau busuk kaos kaki Bram. Begitu kesadarannya pulih dan matanya terbuka sempurna, Adrian sontak tersentak kaget. Di depannya kini bukan lagi dua bocah kematian bermuka malaikat yang tadi mengerjainya, melainkan seorang wanita dewasa berwajah polos.
Dengan tatapan sengit yang memancarkan wibawa seorang penguasa, Adrian langsung mencecar dengan suara bergetar karena emosi.
“Siapa kamu?!” bentak Adrian tajam.
“Mengapa kamu menculik saya?!” lanjutnya dengan nada geram.
Belum sempat Adara menjawab, Adrian melirik ke arah si kembar yang berdiri di samping, lalu kembali menatap Adara dengan kening berkerut dalam. “Dan siapa anak-anak ini?! Mengapa dari tadi mereka terus memanggil saya?!”
Adrian melototkan matanya selebar mungkin, mengerahkan seluruh aura intimidasi yang ia miliki. Sayangnya, gertakan itu sama sekali tidak mempan. Adara bergeming, tidak ada secercah pun rasa takut di wajahnya. Wajar saja, toh pria itu sekarang sedang terikat erat di kursi kayu.
Adara menarik napas dalam-dalam, menstabilkan detak jantungnya, lalu menatap manik mata Adrian lekat-lekat. Dengan nada serius, tenang, namun sukses membuat darah Adrian mendadak berhenti mengalir, ia berucap.
“Om, apa Om sudah lupa pada malam panas lima tahun lalu? Ini aku, Om. Kita pernah 'itu' bersama. Gara-gara malam itu, aku melahirkan anaknya Om!”
Jleb!
Adrian membisu beberapa detik hingga wajahnya perlahan memerah padam.
“Sembarangan! Saya tidak mengenalmu! Saya tidak pernah tidur denganmu. Saya punya istri yang cantik di rumah dan hanya akan selalu setia kepadanya! Sekarang lepaskan sayaaa!”
Karena Ibunya dibentak-bentak, Lucky maju dengan raut muka tidak terima. Lucian mengira adiknya akan memukul kepala Adrian, tetapi justru memasangkan selotip ke mulut Adrian dan meminta hal yang lebih mengejutkan.
“Tinggalkan saja itu Istrinya, Daddy!”
Eh…
Bram yang baru saja masuk terperanjat mendengar permintaan gila bocah itu.
"Tuhan... Anak ini berani sekali membentak Tuan Besar Winston!" Bram bergegas mendekat untuk menjelaskan siapa sebenarnya pria berkuasa itu.
ntah lah, padahal cerita nya sgttt bagus dan kami para pembaca sgttt menikmati dan slalu menunggu update yg byk,,, semoga lancar yea thourr 👍👍👍💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰