Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Satu minggu berlalu dengan sangat cepat.
Sebuah mobil van sewaan berhenti tepat di depan pintu masuk utama Galeri Bintang Langit.
Brak.
Pintu mobil ditutup dengan keras oleh Jiang Ming yang baru saja turun.
Dia dan supir sewaan itu memindahkan sebuah kanvas raksasa yang tertutup kain hitam tebal ke atas troli barang.
"Bawa lukisan ini langsung ke ruang VIP di lantai dua," perintah Su Qingxue yang sudah menunggu di depan pintu masuk.
Wanita cantik itu hari ini mengenakan gaun merah gelap yang membuatnya terlihat sangat elegan namun tetap mengintimidasi.
"Kau terlihat sangat tegang hari ini, Nona Su," sapa Jiang Ming dengan nada santai.
"Bagaimana aku tidak tegang? Ketua Zhao membawa Master Fengshui nomor satu di provinsi ini untuk menilai lukisanmu," balas Su Qingxue dengan suara berbisik pelan.
Jiang Ming hanya tersenyum tipis merespons kekhawatiran wanita itu.
"Tenang saja, Guruku Tuan Wu Ming tidak pernah mengecewakan pelanggannya."
Mereka berdua berjalan mengikuti troli barang itu memasuki lift khusus menuju lantai dua.
Ting.
Pintu lift terbuka dan dua pria berseragam hitam berbadan kekar langsung menghadang jalan mereka.
"Hanya Nona Su dan perantara itu yang boleh masuk," ucap salah satu pengawal dengan suara berat.
Jiang Ming mengambil alih dorongan troli itu dari supir sewaan dan menganggukkan kepalanya pelan.
Kriet.
Pintu kayu mahoni berukir mewah itu didorong terbuka oleh Jiang Ming.
Di dalam ruangan VIP yang luas itu, duduk seorang pria paruh baya yang menghisap cerutu mahal.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu dengan rambut yang disisir rapi ke belakang.
Itu adalah Zhao Tianhua, pemilik tunggal dari perusahaan Grup Tianyu yang menindas lingkungan lama Jiang Ming.
Di sebelahnya, duduk seorang pria tua berjubah tradisional Tiongkok yang memegang sebuah kompas fengshui kayu.
"Ketua Zhao, perkenalkan ini adalah Jiang Ming, perwakilan langsung dari Tuan Wu Ming," ucap Su Qingxue membuka percakapan.
Zhao Tianhua menghembuskan asap cerutunya ke udara sebelum menatap Jiang Ming dengan pandangan meremehkan.
"Jadi kau anak bau kencur yang berani meminta harga sepuluh juta yuan dari kantongku?" sindir Zhao Tianhua terang-terangan.
"Aku hanya penyampai pesan, Ketua Zhao. Harga itu adalah nilai dari proyek perumahanmu," balas Jiang Ming tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kurang ajar! Kau pikir sedang bicara dengan siapa?" bentak Zhao Tianhua menggebrak meja kacanya.
"Sudah, sudah, jangan membuang waktu dengan perdebatan tidak penting ini," sela pria tua berjubah tradisional itu.
Pria tua itu adalah Master Yan, ahli fengshui paling dihormati oleh para konglomerat di Jinhai.
"Anak muda, buka kain hitam itu dan biarkan mata tuaku ini menilai apakah karya gurumu pantas dihargai sepuluh juta yuan," perintah Master Yan dengan nada berwibawa.
Jiang Ming memajukan trolinya ke tengah ruangan dan berdiri tepat di samping kanvas besar tersebut.
"Kalian yang memintanya," gumam Jiang Ming pelan.
Srek.
Jiang Ming menarik kain hitam tebal itu dalam satu hentakan kuat hingga terlepas sepenuhnya.
Udara di dalam ruangan VIP itu mendadak terasa sepuluh derajat lebih dingin.
Mata Zhao Tianhua, Master Yan, dan bahkan Su Qingxue langsung terkunci rapat pada lukisan raksasa di depan mereka.
Di atas kanvas itu, tergambar sesosok naga raksasa yang seolah sedang menembus badai petir merah.
Sisik naga itu berwarna hitam legam yang sangat pekat dan kelam.
Namun, dari sela-sela setiap sisik hitam itu, memancar warna emas yang begitu terang dan hidup.
Lukisan itu terlihat sangat nyata, seolah naga tersebut bisa melompat keluar dari kanvas dan menelan seluruh ruangan ini sepenuhnya.
Brak.
Kompas kayu di tangan Master Yan terjatuh menghantam lantai marmer hingga retak.
Pria tua itu bahkan tidak mempedulikan kompas kesayangannya dan langsung berdiri dengan kedua kaki gemetar.
"Ini... ini mustahil... bagaimana mungkin ada manusia yang bisa melukis aura spiritual sekuat ini?" bisik Master Yan dengan suara serak.
"Bagaimana penilaianmu, Master Yan? Naga hitam ini terlihat sedikit menakutkan bagiku," tanya Zhao Tianhua yang mulai berkeringat dingin melihat tatapan mata naga di lukisan itu.
Master Yan menggelengkan kepalanya dengan kuat, wajah keriputnya memerah karena sangat bersemangat.
"Ketua Zhao, Anda tidak mengerti! Hitam adalah warna elemen air yang melambangkan kekayaan tak terbatas!"
"Dan pancaran emas dari balik sisiknya itu adalah energi Yang murni yang bisa menekan segala bentuk roh jahat di lokasi proyek perumahan Anda!"
Master Yan berjalan mendekati lukisan itu dan nyaris bersujud di depannya.
"Ini adalah mahakarya suci! Sepuluh juta yuan terlalu murah untuk naga penjaga sehebat ini!" teriak Master Yan histeris.
Mendengar penjelasan dari ahli kepercayaannya, keraguan di hati Zhao Tianhua langsung menguap tak berbekas.
"Hahaha! Bagus! Kalau Master Yan sudah bilang begitu, aku tidak akan ragu lagi!" tawa Zhao Tianhua menggelegar bangga.
Jiang Ming yang berdiri di sudut ruangan hanya menatap pemandangan itu dengan wajah datar.
"Bodoh," maki Jiang Ming di dalam hatinya sendiri.
Dia benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan para ahli dunia fana ini.
Mereka semua berhasil ditipu mentah-mentah oleh cahaya emas dari sisik Naga Hitam Penelan Nadi Bumi tersebut.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa begitu lukisan ini digantung di lokasi proyek, naga ini akan mulai menghisap habis seluruh aliran energi baik di tanah itu.
Proyek perumahan Grup Tianyu akan dipenuhi dengan kecelakaan kerja, tanah longsor, dan kebangkrutan beruntun dalam waktu kurang dari sebulan.
Ini adalah bom waktu paling mematikan yang pernah diciptakan oleh Jiang Ming.
"Nona Su, tolong siapkan kontrak pembeliannya sekarang juga," perintah Zhao Tianhua dengan angkuh.
"Aku akan mentransfer uang sepuluh juta yuan itu ke rekening perantara ini secara langsung agar tidak ada potongan lagi."
Su Qingxue menganggukkan kepalanya dengan profesional, meskipun diam-diam dia merasa ada sesuatu yang janggal dari senyum tipis di wajah Jiang Ming.
"Baik, Ketua Zhao. Kontraknya sudah siap di atas meja Anda," ucap Su Qingxue.
Zhao Tianhua menandatangani tumpukan kertas itu dengan cepat dan langsung mengambil ponselnya.
Dia membuka aplikasi perbankan khusus miliarder dan memasukkan nomor rekening yang diberikan oleh Jiang Ming.
Ting.
Sebuah notifikasi langsung berbunyi di ponsel butut milik Jiang Ming tepat beberapa detik kemudian.
[Bank Jinhai: Saldo Anda telah bertambah sebesar 10.000.000 Yuan.]
Jiang Ming menatap deretan angka nol yang sangat panjang di layarnya dengan napas tertahan.
Satu minggu yang lalu, dia adalah seorang pengangguran yang nyaris diusir karena menunggak uang sewa lima ratus yuan.
Hari ini, dia berdiri di ruangan VIP ini sebagai seorang jutawan muda yang baru saja merampok uang musuh besarnya secara legal.
"Transaksi selesai, bocah perantara. Sampaikan rasa terima kasihku pada Tuan Wu Ming," ucap Zhao Tianhua sambil merapikan jasnya.
"Pasti akan kusampaikan, Ketua Zhao. Kuharap proyek perumahan Anda akan sangat... berkesan," balas Jiang Ming dengan nada yang penuh arti ganda.
Jiang Ming memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan keluar dari ruangan VIP itu tanpa menoleh lagi.
Dia tidak ingin berlama-lama berada di satu ruangan dengan orang-orang bodoh yang sedang menggali kuburan mereka sendiri.
Saat Jiang Ming sedang menunggu pintu lift terbuka di lorong, terdengar suara langkah kaki hak tinggi mendekatinya dari belakang.
Tap tap tap.
"Kau terlihat sangat puas hari ini, Jiang Ming," sapa Su Qingxue yang ternyata menyusulnya keluar.
Jiang Ming menoleh dan menatap wajah cantik wanita pemilik galeri tersebut.
"Siapa yang tidak puas setelah mendapatkan sepuluh juta yuan di pagi yang cerah ini, Nona Su?"
"Uang itu memang besar, tapi firasatku mengatakan ada hal lain yang membuatmu tersenyum sejak kain lukisan itu dibuka," selidik Su Qingxue dengan mata menyipit tajam.
Wanita es ini benar-benar memiliki insting yang terlalu tajam untuk ukuran orang biasa.
"Kau terlalu banyak berpikir, Nona Su. Aku hanya senang karena pekerjaanku sudah selesai," elak Jiang Ming santai.
Ting.
Pintu lift terbuka dan Jiang Ming langsung melangkah masuk ke dalam kotak besi tersebut.
"Tunggu dulu, Jiang Ming," panggil Su Qingxue menahan pintu lift dengan sebelah tangannya.
"Ketua Zhao mengundang kita berdua ke acara peletakan batu pertama proyek perumahannya akhir bulan ini. Lukisan itu akan dipamerkan secara publik di sana."
"Pastikan kau datang, karena aku tidak mau menjadi sasaran kemarahan jika sesuatu terjadi pada lukisan mahal itu."
Jiang Ming melepaskan tangan Su Qingxue dari pintu lift secara perlahan dan tersenyum misterius.
"Tentu saja aku akan datang. Aku tidak akan mau melewatkan pertunjukan paling meriah tahun ini."
Pintu lift akhirnya tertutup rapat, meninggalkan Su Qingxue yang masih berdiri sendirian di lorong dengan dahi berkerut.
Di dalam lift yang bergerak turun perlahan, Jiang Ming akhirnya melepaskan tawa dinginnya.
Hahaha.
"Sepuluh juta yuan ini akan menjadi modal awalku untuk membuka batas atas dari sistem Toko Tiga Alam."
"Grup Tianyu, Wang Hao, dan Zhao Tianhua... bersiaplah untuk menangis darah bulan ini."
Skala permainannya kini telah melompat ke tingkat yang jauh lebih tinggi.
Dan Toko Tiga Alam akan memastikan Jiang Ming menjadi pemain tunggal yang memegang seluruh kartu kemenangan di tangannya.