Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Pintu kayu tua paviliun belakang berderit nyaring saat Bian mendorongnya terbuka. Begitu pintu bergeser, engselnya menyeletuk kasar disusul kepulan debu tebal yang melayang ke udara. Bau apek, lembap, dan tumpukan barang bekas rintisan bisnis bertahun-tahun lalu langsung menyengat indra penciuman.
Salma terbatuk-batuk kecil, refleks menutup hidung dan mulutnya dengan saputangan. Kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi tertahan di ambang pintu. Matanya membelalak tak percaya menyaksikan pemandangan di hadapannya: sarang laba-laba menggantung tebal di sudut langit-langit, lantai marmer kusam tertutup lapisan debu tebal, serta beberapa tumpukan kardus dan furnitur tua yang tak terpakai berserakan di mana-mana.
Ini sangat jauh dari bayangan suite hotel bintang lima yang mereka nikmati semalam, bahkan terlampau kontras dari angan-angan Salma yang mengira akan langsung menghuni kamar utama yang sejuk dan harum di bangunan depan.
"Mas... ini..." suara Salma tercekat, napasnya naik turun menahan emosi yang mendadak meluap. "Mas serius mau nyuruh Salma tinggal di tempat rongsokan seperti ini?!"
Bian memijat pelipisnya yang terasa makin pening. Rasa malu akibat penolakan Husna di depan anak-anak tadi masih membakar dadanya, dan kini rengekan Salma justru menambah beban di kepalanya.
"Salma, tolong jangan mulai lagi," keluh Bian dengan nada kelelahan. "Ini cuma sementara. Paviliun ini cuma butuh dibersihkan sedikit dan dirapikan."
"Dibersihkan sedikit kamu bilang, Mas?." Salma melengking tajam, air mata kejengkelan akhirnya pecah mengaliri pipinya. "Ini bekas gudang berdebu, Mas. Banyak sarang laba-laba, baunya apek. Salma ini baru nikah sama Mas, baru semalam kita jadi raja dan ratu di hotel mewah. Kenapa sekarang Salma malah dibuang ke tempat kumuh begini?."
"Jaga bicaramu, Salma! Siapa yang buang kamu?." potong Bian dengan nada tinggi, kehilangan kesabarannya. "Kiri-kanan kamu minta pindah ke rumah ini karena mau dekat sama anak-anak. Mas sudah turuti.Sekarang setelah sampai di sini, kamu mau protes lagi?."
"Tapi tidak begini kondisinya, Mas Bian!" Salma membalas bentakan itu, menyilangkan tangannya di dada dengan raut wajah memerah. "Mbak Husna itu sengaja mau merendahkan aku! Dan Mas cuma diam saja melihat istrinya ditindas. Mana janji Mas yang katanya bakal jadikan aku nyonya di rumah ini?."
Pertengkaran kecil sebagai pengantin baru itu pecah di lorong paviliun yang sepi. Bian menatap Salma dengan raut wajah tak menyangka. Wanita yang selama ini selalu bertutur kata manis, manja, dan serba penurut di depannya, kini menjelma menjadi sosok yang menuntut dan tajam saat kenyataan hidup tak sesuai impian mewahnya.
Namun, mengingat ini masih hari pertama pernikahan mereka dan rasa cintanya pada Salma masih membara, Bian mencoba menekan egonya. Ia menarik napas panjang, melangkah mendekati Salma yang sedang sesenggukan.
Bian merengkuh bahu Salma, mengusap air mata di pipi istri mudanya itu dengan nada lembut yang dipaksakan. "Sudah, Sayang... maafkan Mas. Mas tadi emosi. Kamu jangan menangis lagi, ya?"
Salma sesenggukan, menyandarkan kepalanya di dada Bian. "Salma cuma kaget, Mas... Salma gak terbiasa sama tempat kotor begini..."
"Iya, Mas paham," bisik Bian menenangkan. "Kamu tenang saja. Kamu tidak perlu menyentuh sapu atau mengotori tanganmu. Mas yang bakal urus semuanya."
Sebuah ide melintas di kepala Bian. Di rumah ini kan ada Mbok Nahmasisten rumah tangga seniormdan Pak Joko, tukang kebun yang sudah bekerja bertahun-tahun. Bian merasa sebagai tuan rumah dan suami dari Husna, ia punya wewenang penuh untuk memerintah para pekerja tersebut.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya, Sayang. Mas panggilkan orang buat bersihkan tempat ini," kata Bian mantap seraya tersenyum menenangkan Salma.
Salma mengusap air matanya, mengangguk lega. Angan-angannya sedikit terobati membayangkan para pembantu rumah tangga akan berdatangan melayaninya.
Bian melangkah ke area halaman samping, menghampiri pos belakang tempat Pak Joko sedang merapikan tanaman, dan Mbok Nah yang baru saja selesai menjemur pakaian di area dalam.
"Mbok Nah! Pak Joko!" panggil Bian dengan nada suara yang ditinggikan, mencoba menampilkan wibawa sebagai seorang majikan.
Mbok Nah dan Pak Joko menghentikan aktivitas mereka, membalikkan badan dan memandang Bian dengan raut wajah datar tanpa sedikit pun kesan hormat yang berlebihan.
"Ada apa ya, Pak Bian?" tanya Pak Joko tenang.
"Itu, paviliun belakang mau dipakai sama Salma dan Saya," ujar Bian seraya bersedekap dada. "Kondisinya kotor dan berdebu sekali. Pak Joko tolong keluarkan kardus-kardus tua di dalam, lalu Mbok Nah tolong sapu, pel, dan bersihkan semua sarang laba-laba di langit-langit. Setelah itu angkut koper-koper Salma ke atas. Sekarang ya, jangan lama-lama."
Perintah itu meluncur begitu saja dari mulut Bian, seolah ia sedang menginstruksikan bawahan di kantornya.
Namun, bukannya langsung bergerak mengambil sapu dan alat pembersih, Mbok Nah dan Pak Joko justru saling bertukar pandang. Tidak ada tanda-tanda mereka akan mematuhi perintah tersebut.
Mbok Nah membetulkan letak celemeknya, lalu menatap Bian dengan pandangan lurus. "Maaf sekali, Pak Bian. Kalau untuk membersihkan paviliun belakang buat tempat tinggal Ibu baru, Mbok tidak bisa."
Bian mengerutkan keningnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Maksud Mbok Nah apa tidak bisa? Tinggal bersihkan saja apa susahnya?!"
Pak Joko ikut angkat bicara, menimpali dengan suara yang mantap dan tenang. "Maaf, Pak Bian. Kami berdua di sini digaji penuh oleh Bu Husna. Tugas kami dari dulu sudah jelas mengurus rumah utama, merawat halaman, dan melayani kebutuhan Bu Husna serta Mas Devan dan Mas Deka. Perintah kerja kami murni hanya dari Bu Husna."
"Saya ini suaminya Husna! Saya majikan di rumah ini!" bentak Bian, wajahnya mendadak memerah karena merasa diremehkan oleh pekerja rumah tangga.
"Apa bedanya kalian membersihkan paviliun?! Saya yang minta."
"Beda, Pak," jawab Mbok Nah tanpa rasa gentar sedikit pun. "Tadi sebelum Bu Husna masuk ke rumah utama, Bu Husna sudah berpesan khusus kepada kami berdua. Bu Husna bilang, seluruh fasilitas dan tenaga kerja di rumah ini hanya untuk bangunan utama. Kalau ada urusan di paviliun belakang, itu tanggung jawab Pak Bian dan tamu Pak Bian sendiri."
"Tamu?!" suara Bian meninggi, napasnya memburu. "Salma itu istri sah saya! Bukan tamu!"
"Bagi Bu Husna dan kami, penghuni paviliun belakang bukan bagian dari tugas kami, Pak," timpal Pak Joko tegas namun tetap sopan. "Jadi mohon maaf, kami tidak berani melanggar perintah Bu Husna. Kalau kami nekat bantu-bantu di sana, kami bisa dipecat oleh Bu Husna. Dan yang memberi kami makan serta gaji tiap bulan itu Bu Husna, Pak, bukan Pak Bian."
Skakmat.
Kalimat Pak Joko menghantam telak harga diri Bian hingga berkeping-keping. Katanya majikan, tapi di mata para pekerja rumah tangga pun, posisinya sama sekali tidak memiliki bobot kekuasaan. Mereka tahu betul siapa yang memegang dompet dan kekuasaan tertinggi di rumah megah tersebut.
Pak Joko kembali melanjutkan pekerjaannya memotong rumput, sementara Mbok Nah berbalik arah melangkah menuju dapur utama tanpa memedulikan lagi keberadaan Bian yang berdiri mematung di tengah halaman.
Dari pintu paviliun yang terbuka, Salma menyaksikan seluruh kejadian itu dari kejauhan. Harapan indahnya untuk dilayani bak nyonya besar mendadak menguap berganti rasa malu dan hinaan yang membakar dada.
Bian membalikkan badan dengan langkah berat, melangkah kembali menuju paviliun dengan wajah merah padam menahan rasa malu yang tak tertahankan di depan istri mudanya.
"Gimana, Mas?" tanya Salma lirih, walau ia sudah tahu jawabannya.
Bian tidak menjawab. Ia meraih gagang sapu tua yang tergeletak di sudut dinding paviliun dengan tangan gemetar akibat emosi.
"Ambil kain lap di sana, Salma," ujar Bian dengan suara serak dan berat, tak berani menatap mata istrinya. "Kita bersihkan sendiri."
Melihat itu, Salma langsung melangkah mundur dan menolak mentah-mentah. "Gak mau, Mas! Salma gak mau bersihkan tempat kotor ini, apalagi harus tinggal di sini! Kita sewa kamar hotel aja lagi, Mas. Tinggal di hotel jauh lebih layak daripada di sini."
Bian menghentikan tangannya yang memegang sapu, lalu menatap Salma dengan raut wajah penuh tekanan yang sudah sampai di puncak.
"Tinggal di hotel lagi kamu bilang, Salma?!" potong Bian dengan nada tertahan, matanya menatap tajam istri mudanya. "Kamu sadar gak sih? Siapa yang minta dibuatkan pesta pernikahan luar biasa mewah semalam, Salma?! Kamu yang mau pesta di gedung berbintang, kamu yang minta gaun paling mahal, dan kamu juga yang mau suite room hotel bintang lima. Uangku saat ini sudah tidak cukup kalau harus sewa hotel lagi."
Salma membelalakkan matanya, terkejut mendengar balasan menohok dari Bian. Namun ia masih mencoba membela diri.
"Loh, Mas... kamu kan punya toko swalayan! Swalayan kamu ramai dan sebentar lagi mau buka cabang baru kan?!" seru Salma tidak mau kalah. "Gunakan uang dari swalayan itu dulu dong, Mas!"
Bian terkekeh sinis, rasa pusing di kepalanya makin menjadi-jadi. "Iya, Salma! Aku memang punya swalayan! Tapi tidak mungkin aku ambil uang kas dari swalayan hanya untuk sewa kamar hotel! Kalau nanti barang pasokan dari supplier datang terus kita tidak bisa bayar tunai, bagaimana?! Swalayan bisa langsung bangkrut!"
Salma bungkam seketika. Ia tidak tahu bahwa pesan singkat Husna semalam sudah mengubah seluruh sistem pembayaran swalayan menjadi tunai tanpa potongan. Di mata Salma, bisnis Bian adalah tambang uang yang tak terbatas, namun kini kenyataan pahit mulai menamparnya.
Bian mengembuskan napas kasar, memegang sapu itu makin erat. "Jadi sekarang pilihanmu cuma dua, Salma. Kamu mau bantu Mas bersihkan tempat ini supaya bisa kita tempati, atau kamu mau berdiri saja di sana sambil menangis?"
Salma menatap kain lap kusam di tangannya dengan air mata yang menetes makin deras. Pagi pertama mereka sebagai pengantin baru tidak disambut dengan sarapan mewah di meja makan, melainkan dengan sapu, debu tebal, pertengkaran masalah keuangan, dan kenyataan pahit bahwa di rumah ini, mereka berdua tak lebih dari sekadar numpang di bangunan bekas gudang.
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?