**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Pembangkang Mahal Harganya.
Mahendra melangkah mendekati Haselyn. Dengan langkah yang terasa begitu berat, ia berhenti tepat di hadapan putri bungsunya.
Tanpa diduga, lelaki paruh baya itu perlahan berlutut.
Haselyn membelalak kaget.
"Ayah..." gumamnya lirih.
Mahendra menundukkan kepala. Matanya memerah, dipenuhi air mata yang sedari tadi ia tahan.
"Ayah mohon..." suaranya bergetar. "Maafkan kakakmu, ya. Mungkin dia memang sedang menghadapi kesulitan hingga tesisnya tidak kunjung selesai."
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Tolong... tetap bantu dia menyelesaikan kuliahnya."
Kalimat itu membuat Haselyn terpaku.
"Seandainya Ayah masih sehat dan masih bisa bekerja, Ayah tidak akan pernah meminta bantuanmu. Ayah pasti akan membiayai kuliah Nisrina sendiri."
Suara Mahardika semakin lirih.
"Tapi sekarang... Ayah sudah tidak mampu." Ucapan itu menghantam hati Haselyn.
Tanpa berpikir panjang, ia segera berjongkok dan berusaha mengangkat tubuh sang ayah.
"Ayah... jangan seperti ini," ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ayah, berdiri dulu."
Namun Mahendra tetap bergeming.
Ia masih bertahan dalam posisi berlutut, seolah harga dirinya sebagai seorang ayah telah ia kesampingkan demi masa depan putrinya.
"Ayah hanya ingin kakakmu mendapat kesempatan untuk menyelesaikan kuliahnya," katanya lirih. "Kasihan kalau semua perjuangannya selama bertahun-tahun berakhir sia-sia."
Haselyn perlahan melepaskan genggamannya dari lengan sang ayah.
Dadanya terasa sesak.
Bukan karena ia tak peduli pada Nisrina, melainkan karena untuk kesekian kalinya ia merasa hanya dirinya yang selalu diminta memahami keadaan orang lain.
Sementara tak seorang pun benar-benar mencoba memahami keadaannya.
Haselyn menunduk sesaat, lalu mengembuskan napas panjang sebelum kembali menatap sang ayah.
"Yah..." suaranya terdengar tenang, tetapi menyimpan kelelahan yang selama ini ia pendam.
"Kak Nisrina sudah berusia dua puluh sembilan tahun."
"Di usianya sekarang, seharusnya dia sudah bisa bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Bukan terus bergantung kepadaku."
Ia tersenyum tipis.
Namun senyum itu lebih menyerupai kepasrahan daripada kebahagiaan.
"Kenapa setiap kali Kak Nisrina punya masalah, yang selalu diminta mengalah adalah aku?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Tak ada nada marah dalam suara Haselyn.
Yang terdengar hanyalah kelelahan... seorang anak yang sejak kecil terus diminta berkorban, hingga perlahan mulai mempertanyakan, apakah dirinya benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarga, atau hanya tempat semua orang menggantungkan harapan ketika keadaan menjadi sulit.
"Tapi... kasihan kakakmu, Nak," ujar Mahendra dengan suara yang mulai melemah. "Dia belum pernah bekerja. Bagaimana mungkin dia mencari biaya hidup dan kuliahnya sendiri?"
Haselyn memejamkan mata sesaat.
Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Namun, setiap kalimat yang keluar dari mulut sang ayah justru terasa semakin menyesakkan.
"Jadi..." ucapnya pelan. "Ayah lupa kalau sejak masuk SMP aku sudah membiayai sekolahku sendiri?"
Mahendra terdiam.
Haselyn kembali melanjutkan, kali ini dengan senyum tipis yang menyimpan begitu banyak luka.
"Waktu itu aku juga belum pernah bekerja, Yah."
"Aku juga masih anak-anak."
"Tapi kenapa tidak ada yang mengkhawatirkanku seperti Ayah mengkhawatirkan Kak Nisrina sekarang?" Ruangan kembali sunyi.
Tak seorang pun mampu segera menjawab pertanyaan itu.
Mahendra mengepalkan tangannya. Entah karena gugup atau karena merasa bersalah.
"Nisrina... berbeda denganmu," ucapnya tanpa sadar.
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Namun, begitu terdengar, seluruh ruangan seolah membeku.
Haselyn mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya kosong, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
"...Berbeda?" ulangnya lirih.
"Bedanya apa, Yah?"
Sebelum Mahendra sempat menjawab, suara Faezya terdengar dari samping.
"Iya," sahutnya singkat. "Kakakmu Nisrina memang berbeda darimu."
Ucapan itu terasa seperti sebilah pisau yang kembali menggores luka lama di hati Haselyn.
Bukan karena kalimat itu baru pertama kali ia dengar.
Justru karena sejak kecil, ia telah berkali-kali mendengar alasan yang sama.
Haselyn tersenyum tipis.
Senyum yang pahit.
Senyum seseorang yang sudah terlalu lama berharap diperlakukan sama, tetapi selalu berakhir dengan kekecewaan.
"Kalau begitu..." katanya pelan sambil menatap satu per satu anggota keluarganya.
"Coba jelaskan padaku."
"Bedanya di mana?"
Ia berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke arah Mahardika.
"Bukankah aku juga anak Ayah?"
"Atau... sejak awal memang hanya Kak Faezya dan Kak Nisrina yang dianggap anak, sementara aku hanya seseorang yang kebetulan lahir di keluarga ini?"
Kalimat terakhir itu membuat suasana berubah semakin sunyi.
Tak ada lagi yang berani berbicara.
Sebab untuk pertama kalinya, Haselyn tidak sedang meminta jawaban tentang uang atau pendidikan.
Ia sedang mempertanyakan tempatnya sendiri di dalam keluarga yang selama ini ia bela dengan seluruh tenaga, waktu, dan pengorbanannya.
"Jelas kalian berbeda!" bentak Faezya.
Suaranya yang menggema di seluruh ruangan membuat Haselyn perlahan menoleh. Tatapannya lurus ke arah sang kakak, menunggu penjelasan yang selama ini selalu dijadikan alasan untuk membedakan dirinya.
Faezya menatapnya tanpa sedikit pun mengendurkan amarah.
"Apa kamu sudah lupa?" suaranya meninggi. "Kamu pernah mempermalukan keluarga ini saat membawa pulang Mario!"
Deg.
Jantung Haselyn seolah berhenti berdetak.
Nama itu...
Nama yang selama ini selalu ia lindungi.
Nama yang menjadi alasan ia bertahan hidup meski berkali-kali dihantam kenyataan.
Tubuh Haselyn menegang. Napasnya tercekat. Ia melangkah mundur selangkah demi selangkah, seakan kehilangan pijakan.
"Kak..." suaranya nyaris tak terdengar.
Mata Haselyn mulai berkaca-kaca.
"Harusnya Kakak yang paling tahu..." katanya lirih, sebelum suaranya berubah penuh emosi. "Kenapa aku bisa melahirkan Mario!"
Air mata kembali mengalir di pipinya.
"Aku tidak pernah mempermalukan keluarga ini."
"Aku juga tidak pernah hidup sembarangan."
Haselyn mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Mario lahir bukan karena aku bermain-main dengan laki-laki."
"Bukan karena aku terjerumus ke dalam pergaulan bebas."
Suaranya bergetar hebat.
"Mario lahir karena aku adalah korban."
Kalimat itu membuat ruangan seketika sunyi.
Tak seorang pun menyela.
Namun, Faezya tetap menggeleng pelan. Wajahnya masih dipenuhi kemarahan yang telah lama ia simpan.
"Itu semua terjadi karena keras kepalamu sendiri!" bentaknya.
"Kalau saja waktu itu kamu tidak nekat pergi dari rumah dan menolak mendengarkan kami, semua itu tidak akan pernah terjadi!"
Haselyn terdiam beberapa saat.
Lalu...
Sebuah tawa lirih keluar dari bibirnya.
Tawa yang terdengar begitu pahit.
Tawa seseorang yang sudah terlalu lelah mendengar luka terbesarnya terus dijadikan alasan untuk menyalahkannya.
Ia mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya menyapu satu per satu anggota keluarganya.
"Aneh..." bisiknya pelan.
"Sudah bertahun-tahun berlalu."
"Yang kalian sesalkan bukan orang yang menghancurkan hidupku..."
Haselyn menarik napas panjang. Senyum getir kembali terukir di wajahnya.
"...melainkan keputusan seorang gadis yang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Kali ini, bukan karena tidak ada yang ingin berbicara.
Melainkan karena tak seorang pun memiliki keberanian untuk segera membantah kalimat Haselyn.
"Ah... benar juga."
Haselyn tertawa lirih. Tawa yang terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan.
"Aku memang anak pembangkang."
Ia mengangguk pelan, seolah sedang mengiyakan semua label yang selama ini terus ditempelkan kepadanya.
"Anak yang selalu membantah."
"Anak yang tidak pernah bisa menurut."
"Anak yang selalu dianggap membawa masalah."
Haselyn tersenyum getir.
"Karena itu, sejak SMP aku diminta membayar biaya sekolahku sendiri."
Tatapannya beralih kepada kedua kakaknya.
"Sementara kalian..."
"Kalian bisa bersekolah di tempat terbaik tanpa perlu memikirkan dari mana uangnya berasal."
"Kalian hanya perlu belajar."
"Sedangkan aku harus belajar sambil memikirkan bagaimana caranya tetap bisa sekolah."
Suaranya mulai bergetar.
"Ternyata menjadi anak pembangkang memang mahal harganya."