Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Kebetulan Bertemu

Selama beberapa hari berikutnya, Singapura terasa seperti kota yang tidak mengenal masa lalu mereka.

Laras dan Bram berjalan di citywalk, mengunjungi galeri, serta makan di tempat kecil tanpa ruang privat. Laras perlahan berani melepas topi dan kacamata. Hanya satu penggemar yang mengenalinya sebagai Vesper dan meminta foto.

Pada hari pertama, mereka berjalan berjauhan setiap kali melihat rombongan wisatawan Indonesia. Hari kedua, jarak itu mengecil. Hari ketiga, Bram sudah berani menyerahkan es krim dari sendoknya sendiri selama tidak ada kamera terangkat. Laras memprotes, tetapi tetap mencicipi.

Aturan hubungan gelap masih berlaku. Hanya saja, kota asing membuat batasnya terasa seperti permainan. Mereka bisa masuk museum sebagai dua pengunjung biasa, berdebat tentang lukisan, lalu keluar tanpa seorang pun peduli nama keluarga.

"Saya suka konser Anda," kata gadis itu. Sebelum pergi, matanya sempat mencuri pandang ke arah Bram.

Gadis itu meminta Bram mengambil foto, lalu bertanya apakah ia anggota tim Vesper. Bram menjawab hanya pembawa tas. Laras hampir tertawa melihat lelaki yang biasa memberi perintah kepada direktur dengan santai memegang tiga kantong belanja dan satu botol airnya.

Namun setelah penggemar pergi, Laras melihat ia segera memeriksa apakah wajah Bram masuk ke pantulan kaca foto. Kewaspadaan itu mengingatkan bahwa kebebasan mereka tetap rapuh.

Laras langsung merasa tidak nyaman.

"Kenapa?" tanya Bram.

"Dia melihatmu."

"Mungkin aku tampan."

"Mungkin dia akan mengunggah foto."

Mereka tetap pergi ke Universal Studios hari itu. Di toko tema, Bram membeli topi lucu dan memakainya pada Laras. Setelah satu wahana cepat, kaki Laras melemah begitu turun.

"Katanya berani," ejek Bram sambil menahan pinggangnya.

"Saya berani. Kaki saya yang tidak."

Laras bersandar padanya sampai dunia berhenti berputar. Bram menunduk hendak mencium. Ia memalingkan wajah untuk menghindari kamera pengunjung.

Dan langsung melihat Gilang berdiri di seberang jalan.

Lelaki itu menatap tangan Bram di pinggang Laras, jarak wajah mereka, lalu mata Laras yang membesar panik.

Nana belum memperhatikan pada detik pertama. Ia sibuk memeriksa hasil foto di ponsel. Gilang sempat memindahkan tubuh, mencoba menutup sudut pandangnya, tetapi dorongan Laras justru membuat semua orang menoleh.

"Kalau kamu dorong lebih keras, baru kelihatan mencurigakan," bisik Bram sambil merapikan baju.

"Diam."

"Aku santai."

"Itu masalahnya."

Laras mendorong Bram begitu keras hingga hampir kehilangan keseimbangan lagi.

"Tenang," gumam Bram.

Gilang berjalan mendekat dengan seorang perempuan di sampingnya. "Kebetulan. Kalian juga main ke sini?"

Nada suaranya begitu biasa hingga Laras hampir percaya tidak ada yang terlihat.

"Transit diperpanjang," jawab Bram.

"Kenalkan, ini Nana."

Ia tidak menyebut hubungan mereka. Nana hanya tersenyum, tetapi tatapannya bergerak cepat antara Laras dan Bram.

"Makan siang bersama," ajak Gilang.

"Boleh," Bram menjawab sebelum Laras.

Di restoran taman hiburan, Gilang membicarakan bisnis, cuaca, dan antrean wahana. Ia tidak sekali pun menyebut Radit atau hubungan rahasia yang baru saja dilihat. Ketika Nana pergi menerima telepon, Gilang hanya berkata, "Singapura memang enak. Orang datang untuk liburan, bukan urusan orang lain."

Bram mengangkat gelas sebagai ucapan terima kasih tanpa kata. Gilang membalas gerakan itu.

"Kapan pulang?" tanyanya.

"Belum tahu," jawab Bram.

"Kantor mencari kamu. Yoga bilang kapal Antartika."

"Pemandangannya bagus."

"Aku yakin."

Gilang lalu mengalihkan pembicaraan ke masalah Batam dan mengatakan Radit sedang bekerja keras memulihkan citra. Laras menangkap cara keduanya bertukar informasi tanpa menyebut detail. Gilang mungkin jauh lebih dekat dengan Bram daripada yang terlihat di pesta.

Nana kembali dan bertanya mengapa Laras masih memakai cincin. Laras melihat jari kosongnya sendiri. Perempuan itu rupanya hanya mencari bahan percakapan. Gilang memotong dengan menawarkan makanan penutup, mencegah pertanyaan berikutnya.

Pesannya jelas. Apa yang ia lihat akan disimpan.

Laras akhirnya bisa makan.

Setelah selesai, ia pergi ke toilet. Saat keluar, suara Nana terdengar dari balik tanaman tinggi dekat lorong.

"Iya, pianis itu. Kelihatannya anggun, mainnya liar juga. Mau menikah sama kakaknya, sekarang gandengan sama adiknya."

Laras berhenti.

"Aku lihat sendiri. Bram hampir mencium dia. Pantas akadnya gagal, mungkin dari awal dia juga selingkuh."

"Gilang terlalu takut pada Bram untuk mengaku," lanjut Nana. "Tapi aku punya mata. Kalau berita ini keluar, citra korban Laras habis."

Suara di ujung telepon menjawab sesuatu yang tidak terdengar. Nana tertawa. "Tunggu sampai aku kembali ke Jakarta. Kita bisa jual ke akun gosip dulu, baru media besar ikut."

Laras berjalan mengitari tanaman. Nana masih memegang ponsel ketika melihatnya.

Tamparan Laras mendarat sebelum perempuan itu sempat menutup panggilan.

"Kamu gila?" Nana memegang pipi.

"Anda berani menyebut saya liar di belakang. Kenapa sekarang terkejut?"

"Aku cuma bicara dengan teman."

"Tentang hidup saya, dengan fitnah yang Anda buat sendiri."

"Semua orang tahu kamu kabur dari akad. Sekarang kamu di sini dengan adik Radit. Aku salah di mana?"

"Anda tidak tahu apa yang terjadi sebelum akad. Anda juga tidak tahu hubungan saya hari ini. Tapi Anda sudah memutuskan saya sama kotornya dengan orang yang mengkhianati saya."

Laras tidak menyangkal bahwa dirinya bersama Bram. Penyangkalan itu akan terdengar lemah di depan saksi yang melihat langsung. Ia juga tidak berutang penjelasan kepada Nana tentang kapan hubungan mereka dimulai. Yang ia tolak adalah hak perempuan asing untuk menghapus pengkhianatan Radit dengan menyebut korban sama bersalahnya, lalu menjual fitnah sebagai hiburan.

"Kalau mau bicara fakta, bicaralah di depan saya," lanjut Laras. "Kalau mau menjual kebohongan, pastikan Anda sanggup membayar akibatnya."

Nana mengangkat dagu. "Kamu kira bisa menampar orang kapan saja karena terkenal?"

Laras mengambil tisu basah dari tas dan mengusap telapak tangannya.

"Kalau saya mau menampar Anda, saya perlu memilih hari?"

"Minta maaf."

"Tidak."

"Aku bisa lapor keamanan."

"Silakan. Saya juga akan meminta mereka menyimpan rekaman suara panggilan Anda dan kamera lorong. Kita lihat siapa yang lebih sulit menjelaskan perbuatannya."

Nana melirik kamera kecil di langit-langit. Keberaniannya surut sesaat.

Laras tidak tahu apakah kamera itu merekam suara. Ia hanya perlu membuat Nana ragu cukup lama agar ancaman tidak langsung dikirim.

Ia membuang tisu ke tempat sampah dan berbalik.

Di belakangnya, Nana menggenggam ponsel dengan wajah merah. Ia berjalan cepat kembali menuju meja tempat Gilang duduk bersama Bram, membawa kemarahan dan satu rahasia yang baru saja berjanji disimpan lelaki itu.

Laras mengikuti beberapa langkah di belakang, tenang di luar meski detak jantungnya keras. Ia belum tahu apakah Gilang akan memilih menjaga persahabatan atau membela perempuan yang datang bersamanya pada siang yang mendadak terasa panas dan sempit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!