Indonesia
NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cosplay adalah senjata!

Lengang mulai mengisi keadaan, masih di dalam lorong gang. Belum keluar. Di depan kami sebenarnya jalan raya. Juga tidak terlalu sering kendaraan melintas. Tapi mau tidak mau harus mengurangi terlihat di keramaian.

“Gak ada cara lain” Ila berkata. “Kau benar, kita harus segera menjauh dari kota ini. Dan pasti tidak dengan berjalan kaki”

Aku mencerna kalimatnya. “Naik kendaraan?”

“Pasti”

“Caranya? Kita tidak bisa terus terlihat di manapun” Aku menyangkal.

Gadis di sampingku berjalan keluar gang. “Kita tidak tahu kapan bertemu para petugas itu. Tapi sementara ini, mungkin kita bisa berbuat sesuatu agar mereka tidak mengenal kita lagi” kali ini dia sedikit tersenyum.

Aku langsung konek. Mengangguk.

Kembali beranjak. Di sebrang jalan kebetulan ada toko menjual pakaian. Tidak terlalu besar. Hanya dua lantai. Tapi bagi kami, ini lebih baik dari pada mall karena tidak ada penjagaan ketat. Kita tidak akan terdeteksi.

Menyebrang. Kami menutup kepala dengan tudung masing-masing –aku dan Ila sama-sama menggunakan jaket, hitam dan abu-abu punya Ila.

Sampai di depan toko kami melepas tas. Masuk, kami bergerak cepat. Toko lumayan sepi. Aku segera mencari barang yang ku perlukan. Tidak butuh waktu lama, aku mengambil kaos putih dan celana training hitam. Bergerak lagi di antara puluhan gantungan pakaian.

Menghampiri Ila. “Aku gak bawa uang. Utangin dulu.”

Gadis itu menatap pakaian bawaanku. Matanya sedikit memicing. “Kau yakin hanya Ini?”

Aku mengangguk mantap.

Ila tidak langsung setuju. Terdiam sejenak. Dia belum mendapat satu stel pun pakaian. Berfikir. Aku sesekali menoleh ketika ada pengunjung lain yang memasuki toko. Waspada.

“Ah, aku ada ide keren” Ila akhirnya berkata. Wajahnya cerah.

Dahiku mengkerut. “Apa itu?”

“Hehe”

Beberapa saat. Mungkin ada dua puluh menitan kami berkeliling di dalam toko. Aku masih tidak tahu apa Ide gadis sepantaranku itu, tapi dia menentukan stelan apa yang akan di kenakan. Dan entah kenapa justru aman sekali rasanya. Rasa di buru yang sebelumnya menyeruak sedikit menghilang. Aku sedikit mengeluh. Ini sudah memakan banyak waktu.

Ila selesai. Ke kasir. Sementara aku langsung keluar. Melihat keadaan. Jalanan tidak terlalu ramai, trotoar juga. Entah apa yang tengah dilakukan petugas sebelumnya setelah gagal menangkap kami sebelumnya.

Hari makin panas. Ila akhirnya keluar membawa tas belanja. “Ayo, langsung cari salon”

Dahiku mengernyit. “Mau apa lagi?”

“Ayo. Kita belum selesai selesai” Ila langsung melangkah di atas trotoar.

Aku melihat ke arah sudut bangunan toko. Tas kami di sana. Dia melupakan tas yang sengaja di lepaskan sebelumnya. “Lah tasnya gimana?”

Ila semakin jauh “Kita udah tidak butuh barang-barang itu lagi”

Aku berlari kecil menghampirinya. “Helm yang baru kita beli juga?”

Ila menatapku. “Asal kau tahu. Aku bahkan membuang ponselku”

Aku tersentak. “Mengapa?”

“Benda itu akan membantu para petugas menemukan posisi kita”

Aku berfikir sejenak. Benar juga. Mungkin para petugas dapat menemukan akun kita di dalam internet dan melacak perangkatnya.

“Aku akan menjelaskan keadaan kita saat ini” Ila berkata lagi. “Sebenarnya tidak seburuk yang kau kira. Ada satu fakta yang baru ku sadari.”

“Apa itu”

Kami berjalan cepat di atas trotoar –masih dengan menutup kepala dan wajah. Sambil sesekali menoleh ke kanan. Memerhatikan bangunan-bangunan yang berderet rapi. Papan iklan, toko-toko busana dan banyak lagi. Ila sedang mencari salon. Entah mau apa.

“Aku memang di buron oleh pihak keamanan negara. Tapi mereka tidak mau terus terang di depan publik dengan memburuku secara gegabah seperti mengejar maling. Mungkin mereka sedang melepas intel-intel agar misi pengejaran tidak mengganggu keadaan sekitar. Mereka butuh waktu dan keadaan yang tepat untuk melancarkan oprasinya”

Aku terdiam. Mengangguk faham. “Dari mana kau tahu”

“Lihat saja petugas-petugas sebelumnya. Mereka berhenti mengejar kita” Ila melanjutkan ucapannya.

“Kenapa?”

“Mungkin karena mereka mencukupkan kita di temukan”

“Itu berarti?” Aku menurunkan alis. Berfikir.

“Paling memang tidak ingin mengganggu kenyamanan sekitar. Aku kan kata mereka berbahaya. Jadi mungkin butuh personil berat untuk menangani gadis cantik ini” Ila berkelakar.

“Halah masa iya?” Aku berdecak. “Mungkin ada rencana lain. Aneh sekali jika tadi ada kesempatan bukan justru memaksimalkan oprasinya, malah dibiarkan melarikan diri”

Ila terhening. Jalan raya lengang. Hanya beberapa mobil lewat sepintas. Siang semakin memanas. Kami terus berjalan di trotoar. Sembari terus melihat kesamping. Meniti bangunan-bangunan di pinggir trotoar.

“Itu anehnya. Tapi aku rasa kita lari terlalu cepat tadi. Para petugas terbih dulu tertinggal jauh” Balas Ila.

“Heleh. Hanya perasaanmu” Olokku.

“Lah terus? Kok kita gak ketangkep dari tadi?”

Aku menaikan bahu. “Entah”

Masih berjalan. Kok aneh rasanya. Beberapa menit lalu kami terkepung, dan sekarang justru kami merasa tidak ada suatu apapun yang terjadi.

Beberapa menit kami akhirnya menemukan salon sekaligus penata rias. Aku aslinya enggan, tapi ila memaksaku. Aku menurut.

Dari sini aku mulai memikirkan banyak hal. Terutama dari para petugas barusan. Mengapa mereka melepaskan kami begitu saja. Bukankah pria bertongkat terlihat meyakinkan dengan perawakannya.

Aku dan Ila izin sholat dzuhur terlebih dulu di dalamnya. Penjaga di dalamnya menyediakan mukenah untuk Ila. Aku memberi saran Ila agar menjaga wudhunya untuk sholat ashar nanti.

***

       Berjam-jam melakukan perawatan, dari kepala hingga wajah, memberi makeup, hingga penataan pakaian. Tapi sebentar. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Ila sebelumnya tentang perubahan penampilan agar menjadikan seseorang tidak dikenali lagi. Tapi..

“Kenapa harus cosplay begini” Aku protes. Jelas tidak terima. Ku kira akan jauh lebih baik dari penampilan awalku. Tapi menurutku ini sangat buruk.

Ila cengingisan di sampingku. Dia juga selesai dirias “Kau terlihat lebih menakjubkan”

“Terus kenapa?” Aku berseru ketus.

“Loh, selain mengubah wajah. Kita akan terlihat keren jika tetap terlibat pertarungan nantinya” Ila membalas yakin.

“Kalau ini mah, sekaligus mengubah jati diriku sendiri” Aku menggerutu.

Aku, Ila berdiri di depan cermin besar. Kami berdua di sulap seperti tokoh kartun fantasi. Ya, tentu dengan pakaian yang mencolok –Ila beli banyak hal di toko sebelumnya. Aku di berikan stelan pemanah berwarna hijau lengkap dengan wadah dan anak panah palsu.

Ila stelan penyihir, tampak seperti gamis oversize, dengan tudung penutup kepala, juga berwarna hijau. Dia memegang tongkat –Ila sempat membelinya tadi.

Wajah dan rambut kami juga di rombak habis. Tidak terlihat diriku yang sebelumnya lusuh dan kusam.

Beberapa saat terlewati di depan cermin besar. Aku berhembus. “Ini bakalan jadi pusat perhatian nanti”

“Ya, gapapa lah” Ila menjawab tenang.

“Hadeuh, kau akan memaksaku untuk terbiasa”

Ila terbahak. “Kau pasti bisa”

Selesai di sana. Kami keluar dari gerai salon tersebut. Lagi-lagi Ila yang membayar. Kembali ke trotoar. Jalanan mulai ramai kendaraan hilir mudik. Sepertinya mulai memasuki waktu pulang kerja. Matahari tidak terlalu menyengat kali ini. Sore menyambut.

Aku menatap ke jalan raya. Bersikap tak peduli pada orang-orang di atas trotoar yang mulai memandangi penampilanku. “Oke. Kita terusin kemana?”

“Langsung ke terminal” Ila masih tersenyum. Anak itu justru percaya diri dengan penampilannya di depan umum.

Beranjak. Pergi ke suatu arah. Ila bilang dia tahu terminal terdekat. Aku berhembus. Beberapa meter berjalan menggunakan kostum mencolok ini cukup membuatku muak, perjalanan ini akan terasa panjang. Tidak satu pun orang terlewati, setiap yang berpapasan dengan kami mereka akan sedikit terlihat tersentak. Karena aku juga tahu. Karakter asli dalam tema kostum kami juga terkenal.

Beberapa menit. Keramaian bertambah padat. Aku juga melihat satu dua orang memoto tadi. Namun aku sudah mulai terbiasa. Ila? Dia bahkan menyapa beberapa orang random. Kendaraan di jalan raya juga hilir mudik tanpa henti. Kami tepat di tengah jam usai aktivitas. Banyak orang-orang berseragam sekolah atau pakaian formal di sekitar kami.

Ah aku harus menyampaikan sesuatu pada Ila.

“Hey Ila”

Gadis di sampingku menoleh. “Apa master?”

Mataku balas menatap sinis. Apalah anak ini? “Sejak kapan kau tahu jika sedang di buron keamanan negara”

Masih berjalan. Ila berfikir sejenak. “Tiga tahun yang lalu. Tapi mereka tidak tahu posisiku”

Dahiku mengkerut. “Cerita awalnya bagaimana?”

“Maksudmu?”

“Ya, bagaiman kronologi kamu bisa sampai di buron? Masa dengan kekuatanmu yang masih belum jelas itu mereka langsung membuat sebuah oprasi pencarian gadis berkekuatan super”

Ila terkekeh, juga bingung. “Aku tidak tahu apapun. Adikku yang memberi tahu jika para keamanan negara melakukan oprasi pencarian manusia berkekuatan mutan. Kata adikku, dia juga melihat beberapa orang telah di tangkap”

Aku terdiam sejenak. Sekitar kami riuh suasana pejalan kaki. “Hanya berita dari adikmu?”

Mata Ila menaik. “Aku pernah bertemu dengan orang tidak dikenal saat kecil. Jauh sebelum adikku memberitakan itu. Orang tersebut langsung mencengkram tanganku. Samar-samar dari mulutnya terdengar ‘anak ini?!’Tapi dia langsung berhenti ketika kakakku datang dan mengintimidasi keadaan”

Lengang lagi. “Masa itu petugas?”

Ila menggeleng. “Ku ingat dia tidak pakai seragam”

Aku berdecak. Ini semakin aneh. “Sebenarnya apa figur utama keamanan negara ingin kau di bunuh. Padahal jelas-jelas belum terjadi tragedi apapun yang membuat dirimu menjadi terduga suatu pidana”

Ila mengangkat bahu. “Namanya juga potensi ancaman”

Dahiku mengkerut. Entahlah.

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!