Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Permusuhan

Reynard mengangkat wajah. Mata yang semula redup langsung hidup, tetapi ia tidak segera berdiri.

Keira berhenti beberapa meter darinya. Koper berada di belakang kaki, sementara di antara mereka ada kotak makanan dan paket buku yang masih kering.

"Kamu ngapain duduk di lantai?"

"Nunggu paket Cici."

"Paketnya sudah sampai."

"Orangnya belum."

Jawaban itu membuat semua pembuka percakapan yang disusun Keira di dalam lift runtuh. Reynard berdiri, menepuk celana, lalu mengambil gagang koper tanpa meminta izin.

"Akhirnya pulang juga," katanya ringan.

Namun matanya tidak ringan. Ada kurang tidur, lega, dan sisa pertanyaan yang tidak berani ia ajukan.

Keira memasukkan kode pintu dengan tangan sedikit gemetar. "Kamu bisa taruh koper di sini."

Reynard membawanya sampai ruang tamu. "Aku panaskan makanan."

Saat membuka pintu, Keira menemukan unitnya persis seperti ditinggalkan, hanya lebih bersih. Tanaman dekat jendela sudah disiram. Surat diletakkan berdasarkan tanggal. Sebuah wadah berisi buah potong memenuhi rak kulkas, semuanya masih segar karena pasti diganti beberapa kali selama ia pergi.

"Kamu masuk setiap hari?"

"Cuma siram tanaman dan cek listrik."

"Buahnya?"

"Aku pikir Cici pulang lebih cepat. Waktu sudah nggak segar, kuganti."

Keira menghitung tiga wadah kosong yang sudah dicuci di rak pengering. Berarti Reynard setidaknya tiga kali menyiapkan sesuatu untuk kepulangan yang tidak terjadi.

"Kenapa nggak bilang?"

"Kalau bilang, nanti kedengarannya seperti menyuruh pulang."

Reynard mengucapkannya sambil merapikan gagang koper, tanpa nada menyalahkan. Justru itu yang membuat Keira tidak mampu menatapnya lama.

"Rey."

Ia berhenti.

"Makasih sudah menunggu."

Reynard mengangguk sekali, lalu berjalan ke dapur. Keira tidak tahu apakah itu pengampunan atau cara baru untuk menghindari pembicaraan.

***

Makan malam berlangsung terlalu sunyi. Reynard menaruh sup di depan Keira, duduk di seberang, dan hanya menjawab jika ditanya. Tidak ada lelucon tentang anak bawang. Tidak ada protes saat Keira memberi nilai sembilan untuk masakannya.

Akhirnya Keira meletakkan sendok.

"Kamu marah?"

"Nggak."

"Jawabanmu pendek-pendek."

"Katanya Cici mau fokus UAS. Aku takut mengganggu."

Nada datar itu menusuk tepat pada rasa bersalah Keira.

"Aku sudah selesai UAS."

"Bagus."

"Reynard."

Cowok itu mengangkat mata. "Cici pergi saja nggak bilang-bilang. Cuma kasih kertas waktu aku masih tidur. Aku harus bersikap bagaimana?"

"Aku bilang ada urusan keluarga."

"Dan aku ini apa? Orang yang cukup dekat buat masak dan pegang kartu akses, tapi nggak cukup dekat buat dikasih kabar langsung?"

Keira membuka mulut. Tidak ada alasan yang terdengar masuk akal tanpa mengakui pengakuan malam itu.

"Aku cuma banyak tugas," katanya akhirnya.

Reynard tertawa pendek tanpa humor. "Iya. Banyak tugas."

Ia berdiri membawa mangkuk ke wastafel. Keira ikut berdiri dan menarik ujung kausnya.

"Jangan begitu."

Reynard menatap jari Keira pada kain bajunya. Kemarahan di wajahnya melemah sesaat.

"Begitu bagaimana?"

"Kayak kita musuhan."

"Aku nggak mau musuhan sama Cici."

"Terus?"

"Aku cuma mau tahu kenapa Cici menghindar."

Keira tetap berdiri di belakangnya ketika air mengalir. Reynard menyerahkan piring yang sudah dibilas, dan tanpa bicara ia mengambil kain untuk mengeringkan. Gerakan lama mereka perlahan kembali: mencuci, mengelap, menaruh pada rak. Bahu mereka beberapa kali hampir bersentuhan, lalu sama-sama menjauh.

"Besok sarapan apa?" tanya Keira, mencoba membuka jalan damai.

"Terserah."

"Jawaban paling nggak membantu."

"Bubur ayam?"

"Kebanyakan daun ketumbar."

"Aku minta tanpa daun ketumbar."

Keira menatap profilnya. Meski sedang kesal, Reynard tetap ingat hal yang tidak disukainya. Ia mengambil piring terakhir dari tangan cowok itu dan sengaja membiarkan jari mereka menyentuh.

Reynard menoleh. Ketegangan di rahangnya akhirnya berkurang.

"Bubur ayam boleh," kata Keira.

Itu bukan permintaan maaf yang utuh, tetapi cukup membuat Reynard kembali duduk di meja bersamanya.

Keira melepaskan kausnya. Ingatan tentang telapak tangan di pipi, napas hangat di bibir, dan kata belum kembali menyerbu. Wajahnya memanas.

"Aku memang perlu belajar. Itu saja."

Reynard menunggu. Ketika jawaban lain tidak datang, ia memalingkan wajah dan mencuci mangkuk.

***

Ketegangan mereka sedikit mencair setelah Keira membuka oleh-oleh dari Mama dan memaksa Reynard membawa setengahnya. Mereka duduk lagi di meja, kali ini ditemani kue lapis dan teh.

Ponsel Keira berbunyi.

Jonathan: Besok kelompok belajar jadi ketemu? Aku sudah pesan meja dekat jendela.

Keira belum sempat membalas ketika Reynard, yang sedang menuangkan teh, melihat nama di layar.

"Jonathan siapa?"

"Teman sekelas."

"Yang sering dekat sama Cici waktu UAS?"

Keira mengerutkan kening. "Kamu tahu dari mana?"

"Teman kampus cerita."

"Kamu bahkan belum resmi masuk kuliah. Jaringan informasimu terlalu luas."

"Dia suka Cici?"

"Aku nggak tahu."

"Cici suka dia?"

"Itu bukan urusanmu."

Kalimat tersebut keluar lebih tajam daripada niat Keira. Tangan Reynard berhenti di gagang teko.

"Benar," katanya pelan. "Bukan urusanku."

Keira menyesal seketika. "Maksudku, dia cuma teman belajar. Jangan bikin kesimpulan sendiri."

"Aku nggak menyimpulkan. Aku tanya."

"Nada suaramu seperti mau menginterogasi."

"Karena selama seminggu Cici menghindar dariku, tapi sempat kenal cowok baru."

"Aku nggak menghindar karena Jonathan."

Reynard langsung menangkapnya. "Berarti memang menghindar karena aku."

Keira terdiam.

Cowok itu meletakkan teko. Kali ini tidak ada nada cemburu, hanya kesungguhan yang membuat Keira lebih sulit bernapas.

"Kenapa sih Cici menghindar dariku seminggu ini?"

Pertanyaan yang sama akhirnya tiba tanpa jalan keluar.

Keira menatap wajah Reynard, mencari tanda bahwa ia mengingat lorong malam itu. Namun yang terlihat hanya ketidakpastian. Jika ia benar-benar lupa, mengulang pengakuan itu akan mengubah segalanya. Jika ia pura-pura lupa, berarti Keira sedang dipaksa menjadi orang pertama yang membukanya.

"Aku takut kamu malu kalau tahu apa yang kamu lakukan saat mabuk," katanya setengah jujur.

Alis Reynard terangkat. "Aku melakukan apa?"

"Kamu merepotkan. Berat. Hampir muntah."

"Cuma itu?"

Keira terlalu cepat menjawab. "Cuma itu."

Tatapan Reynard tidak bergeser. Seolah ia tahu ada kalimat yang disembunyikan, tetapi memilih tidak membongkarnya.

"Baik," ujarnya akhirnya. "Kalau Cici belum mau cerita, aku nggak paksa."

Ia mendorong piring kue lebih dekat ke Keira, tindakan damai kecil di tengah perang yang tidak mereka akui.

Keira mengambil satu potong dan membelahnya menjadi dua. Setengahnya ia taruh di piring Reynard.

"Besok jangan tunggu di lantai lagi," katanya.

"Kalau Cici pergi lagi?"

"Aku akan bilang langsung."

"Janji?"

Keira mengangguk. Barulah Reynard mengambil kue itu. Senyum tipis yang muncul tidak benar-benar menghapus pertanyaan di matanya, tetapi setidaknya ia tidak lagi terlihat seperti seseorang yang ditinggalkan tanpa kepastian.

Namun pertanyaan tadi tetap tinggal di atas meja, di antara dua cangkir teh yang perlahan menjadi dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!