Indonesia
NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34. Tuduhan Palsu

Berita itu menyebar seperti api yang tertiup angin — cepat, membakar segalanya, dan sulit dipadamkan.

Pagi itu, saat Naira baru saja membuka ponselnya, namanya sudah ada di mana-mana. Di media sosial, di berita industri mode, di grup obrolan rekan-rekan kerjanya. Semua orang membicarakan satu hal, Naira Alesha mencuri ide desain dari koleksi lama Aura.

Bukti yang dipajang terlihat meyakinkan. Foto-foto sketsa Aura dari beberapa tahun lalu disandingkan dengan desain Naira yang baru saja dipajang di butik.

Secara sekilas memang ada kemiripan, namun itu hanyalah bentuk dasar gaun yang memang umum digunakan. Tapi bagi orang yang sudah ingin percaya pada keburukan, kemiripan itu sudah cukup untuk menjadi "bukti".

Aura dengan tenang memberikan pernyataan kepada media, tidak terlalu emosional, seolah berbicara dengan penuh belas kasih.

 "Aku tidak ingin menuduh siapa pun. Tapi melihat desain yang begitu mirip, sungguh menyedihkan. Semoga ini hanya kesalahpahaman dan dia segera memperbaikinya."

Dan yang lebih menyakitkan, Selena ikut berbicara. Entah dari mana ia mendapatkan informasi, ia menyebarkan cerita bahwa Naira sejak dulu memang suka mengambil apa yang bukan miliknya.

"Ingat bagaimana dia selalu ada di dekat Ravian? Bagaimana dia selalu tahu hal-hal yang seharusnya hanya diketahui oleh pasangannya? Dia terbiasa mengambil dari orang lain. Sekarang dia melakukannya di tempat kerja."

Kata-kata itu beracun. Dua perempuan yang berbeda, satu karena ingin mengembalikan masa lalu, satu karena cemburu pada masa kini.

Mereka bergandengan tangan dalam keheningan untuk menghancurkan satu hati yang tulus.

Dalam sehari, semuanya berubah. Orang-orang yang kemarin tersenyum padanya, hari ini memalingkan wajah saat Naira lewat.

Bisik-bisik terdengar di mana-mana. Itu dia, pencuri ide. Dia tidak seharusnya ada di sini. Mikael pasti menyesal memilihnya.

Manajemen butik memanggil Naira ke ruangan tertutup. Wajah mereka tidak marah, tapi penuh keberatan.

"Kami percaya padamu, Naira. Tapi situasi ini sulit. Untuk sementara waktu, kami memintamu berhenti bekerja dulu sampai masalah ini selesai. Demi nama baik butik."

Naira keluar dari ruangan itu dengan langkah gemetar. Ia tidak dipecat. Tapi ia dikucilkan. Namanya tercemar. Dan di mata orang-orang, ia sudah bersalah sebelum sempat membela diri.

Ia berjalan menyusuri lorong kantor Arsen Group dengan kepala tertunduk dalam. Ia tidak berani menatap siapa pun.

Ia hanya ingin sampai ke ruangan Mikael, mengambil tasnya, dan pulang, menghilang dari pandangan semua orang.

Tapi di tengah jalan, beberapa orang rekan kerja berdiri berkelompok, menatapnya dengan tatapan yang menyakitkan.

"Sayang sekali," bisik seseorang cukup keras. "Bakat yang tidak jujur tidak akan bertahan lama."

"Pantas saja Aura tidak diam. Dia tahu dia dirugikan."

"Mikael pasti sedang menyesal sekarang. Bayangkan, nama besarnya ternoda karena perempuan seperti dia."

Air mata Naira jatuh tanpa suara. Ia mempercepat langkahnya, hampir berlari menuju ruangan Mikael. Ia tidak berani berhenti. Ia tidak berani membela diri. Karena satu pembelaan akan melahirkan sepuluh tuduhan baru.

Saat ia membuka pintu ruangan Mikael, pria itu sedang berdiri di dekat jendela, menunggunya. Seolah ia tahu Naira akan datang dengan hati yang hancur.

Naira tidak bisa menahan lagi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan terisak. "Mikael, aku tidak melakukannya. Kamu tahu aku tidak melakukannya.

Desain itu murni dari pikiranku sendiri. Aku bahkan tidak pernah melihat koleksi lamanya. Kenapa mereka melakukan ini padaku? Kenapa mereka begitu mudah percaya padanya dan tidak padaku?"

Mikael berjalan mendekat dengan cepat, menariknya ke dalam pelukan yang kuat dan melindungi.

Ia membiarkannya Naira menangis di dadanya, membiarkan semua rasa sakit itu keluar, sambil memeluknya erat seolah ingin mentransfer seluruh kekuatannya ke dalam tubuh perempuan itu.

"Aku tahu kamu tidak melakukannya," bisiknya tegas di atas kepala Naira. "Dan itu saja yang penting. Apa yang orang lain pikirkan, itu tidak penting. Yang penting adalah kebenaran. Dan kebenaran ada di antara kita."

Tiba-tiba pintu terbuka. Beberapa direktur utama masuk, diikuti oleh Aura yang berjalan di belakang mereka dengan senyum tipis yang penuh kemenangan.

Selena juga ada di sana, berdiri di sudut ruangan, matanya menyapu Naira dengan kepuasan yang tersembunyi.

"Maaf mengganggu, Mikael," kata salah satu direktur dengan wajah serius. "Tapi ini sudah menyangkut nama baik perusahaan. Kami menerima banyak keluhan. Klien mulai ragu. Situasi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Kami menyarankan, Naira berhenti dulu. Setidaknya sampai masalah ini selesai. Atau lebih baik lagi, dia mundur secara sukarela. Demi kebaikan semua pihak."

Aura melangkah maju sedikit, suaranya terdengar lembut namun tajam. "Mungkin memang yang terbaik adalah dia pergi. Tidak ada yang mau bekerja dengan seseorang yang tidak jujur.

Mikael, kamu bisa mendapatkan siapa saja. Jangan korbankan reputasimu hanya untuk seseorang yang ternoda."

Selena menambahkan pelan, "Aku sudah memperingatkan semua orang. Tapi tidak ada yang mendengarkan. Sekarang lihatlah akibatnya."

Naira gemetar dalam pelukan Mikael. Ia ingin berkata iya, aku pergi. Ia tidak ingin menjadi beban. Ia tidak ingin Mikael kehilangan apa pun karena dirinya.

Ia mulai melepaskan pelukannya, siap untuk berkata bahwa ia akan pergi, bahwa ia tidak akan menyusahkan mereka lagi.

Tapi Mikael menahannya. Ia tidak melepaskan Naira.

Justru sebaliknya, ia melingkarkan lengannya di pinggang Naira, menariknya berdiri tegak di sampingnya, dan menatap semua orang yang ada di ruangan itu dengan tatapan yang begitu tegas dan berwibawa hingga tidak ada satu orang pun yang berani bernapas terlalu keras.

Suaranya rendah, namun bergema di seluruh ruangan, penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Dengar baik-baik apa yang akan kukatakan, dan sampaikan ini kepada siapa pun yang meragukan Naira, siapa pun yang menuduh Naira, berarti menuduhku.

Siapa pun yang meragukan kejujurannya, berarti meragukan kejujuranku. Karena dia adalah bagian dari hidupku.

Dan jika dia pencuri, berarti aku juga pencuri. Jika dia tidak jujur, berarti aku juga tidak jujur. Jika dia tidak pantas berada di sini, maka aku juga tidak pantas."

Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah mereka. Direktur yang terkejut, Aura yang terkejut dan marah, Selena yang membeku di tempat.

"Aku tidak butuh bukti dari pihak mana pun untuk tahu bahwa dia tidak bersalah. Aku tahu siapa Naira.

Aku tahu hatinya. Aku tahu cara dia bekerja. Aku melihatnya menggambar sampai larut malam.

Aku melihatnya memikirkan setiap detail dengan ketulusan. Dan aku tidak akan membiarkan satu pun dari kalian, dengan alasan apa pun, menodai nama baik perempuan yang aku cintai.

Aku percaya padanya. Dan itu sudah cukup. Jika kalian tidak bisa menerimanya, maka masalahnya bukan pada Naira. Masalahnya pada kalian. Dan pada perusahaan ini, jika perusahaan ini tidak bisa membedakan antara kebenaran dan fitnah."

Mikael menatap Aura secara langsung, dan tatapannya begitu dingin hingga Aura secara tidak sadar mundur selangkah.

"Aku tahu siapa di balik semua ini, Aura. Aku tahu dari mana semua tuduhan ini berasal.

 Tapi aku tidak akan membalas dengan cara kotor yang sama. Aku hanya akan berkata sekali lagi, berhenti. Karena semakin kamu berusaha menjatuhkannya, semakin kamu menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya. Dan orang-orang pada akhirnya akan melihat kebenaran. Ingatlah itu."

Kemudian ia menatap Selena. "Dan kamu... aku tidak tahu dendam apa yang kau simpan padanya. Tapi hari ini kamu memilih berdiri di sisi yang salah. Dan suatu hari nanti, kamu akan menyesal telah menyakiti hati yang begitu baik."

Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bergerak. Kata-kata Mikael begitu kuat, begitu penuh keyakinan, sehingga keraguan yang sempat ada di hati para direktur perlahan mulai bergeser.

Bagaimana mungkin seseorang mempertahankan perempuan yang bersalah dengan pengorbanan sebesar ini? Bagaimana jika, memang ada yang tidak beres di sini?

Mikael menatap para direktur sekali lagi dengan tenang.

"Naira tidak akan pergi. Dia akan tetap bekerja seperti biasa. Siapa pun yang tidak nyaman dengan kehadirannya, silakan berbicara kepadaku.

Dan sekarang, jika tidak ada urusan lain, silakan keluar. Kami punya pekerjaan yang lebih penting daripada mendengarkan tuduhan-tuduhan tanpa dasar."

Satu per satu orang keluar, malu, terkejut, dan kalah. Aura pergi dengan wajah merah padam, giginya terkatup rapat menahan amarah. Selena menyusul di belakang, matanya menunduk, merasa kecil dan salah.

Saat pintu tertutup dan mereka berdua sendirian lagi, Mikael melepaskan pelukannya dan menatap Naira. Wajahnya lembut kembali, matanya penuh kasih sayang dan kekaguman.

"Mereka pergi, Sayang. Mereka tidak berhak mengusirmu. Tidak ada yang berhak."

Naira menatapnya dengan mata yang berair namun bersinar. "Kamu... kamu rela mempertaruhkan reputasimu untukku? Bagaimana jika mereka tidak setuju? Bagaimana jika kau yang justru dikritik?"

Mikael tersenyum lembut, mengusap air mata di pipinya dengan ibu jarinya.

"Reputasi bisa dibangun kembali. Tapi kepercayaan pada orang yang aku cintai, jika aku mengkhianatinya sekali saja, aku tidak akan pernah mendapatkannya kembali."

Naira memeluknya erat, menyembunyikan wajah di dadanya, merasakan kekuatan yang mengalir dari pria ini ke seluruh dirinya.

Ia mungkin tidak memiliki kemewahan, ketenaran, atau koneksi seperti Aura.

Tapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga, seseorang yang percaya padanya tanpa syarat, seseorang yang berdiri di sisinya saat seluruh dunia membelakanginya.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!