Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Di pagi hari pertama ujian, Farra terbangun dengan perut yang terasa mual hebat dan kepala yang mendadak berkunang-kunang saat memakai seragamnya. Barra yang khawatir sempat menahannya untuk istirahat, namun Farra menolak halus dan meyakinkan suaminya bahwa ia hanya kelelahan serta terkena masuk angin akibat belajar hingga larut malam.
Suasana koridor sekolah tampak tegang pagi itu. Saat Farra berjalan menuju ruang ujian sambil memegangi perutnya dan sesekali menahan mual, Vanessa yang berdiri tak jauh dari sana memperhatikan gerak-gerik tersebut. Senyum sinis langsung mengembang di wajah Vanessa. Tanpa membuang waktu, Vanessa mulai membisikkan rumor-rumor tak sedap kepada murid-murid lain di sepanjang koridor, menghembuskan gosip bahwa Farra sedang menyembunyikan "masalah besar" akibat pergaulan bebas.
Farra mendengar samar-samar bisikan tersebut, namun ia memilih menyikapinya dengan dingin dan fokus sepenuhnya pada lembar soal ujian di hadapannya.
Setelah berjam-jam berkutat dengan soal-soal rumit, bel tanda berakhirnya ujian pun berbunyi nyaring. Farra melangkah keluar ruangan dengan napas lega, menyambut Gabriella dan Amelia yang sudah menunggunya di selasar kelas.
"Akhirnya selesai juga!" seru Gabriella lega, lalu memeluk Farra erat.
Amelia mendekat dan ikut mengibas-ibaskan kerudungnya. "Iya nih, rasanya otakku mau pecah. Eh Far, kamu kenapa kok pucat banget dari pagi?"
Saat Amelia mendekat untuk merapikan seragam Farra, aroma parfum floral yang menyengat dari tubuh Amelia mendadak menusuk indra penciuman Farra. Perut Farra seketika bergolak hebat.
"Ugh..." Farra mendadak menutup mulutnya, wajahnya memucat pasi sebelum akhirnya berlari ke arah wastafel di sudut koridor dan muntah-muntah hebat.
Gabriella dan Amelia panik setengah mati, buru-buru menyusul dan memijat tengkuk sahabat mereka.
"Farra! Kamu kenapa?!" pekik Amelia panik.
"Mual banget... aroma parfum kamu... ugh," bisik Farra terengah-engah, dadanya naik turun dengan tubuh yang gemetaran lemas.
Amelia dan Gabriella saling melempar pandang. Wajah kedua sahabatnya berubah dari cemas menjadi sarat akan kecurigaan. "Far... kamu cuma masuk angin, atau... ada hal lain yang belum kamu cerita ke kita?" tanya Gabriella pelan dengan tatapan selidik.
Belum sempat Farra merangkai alasan, langkah kaki terburu-buru bergemuruh menepi ke arah mereka. Barra mendadak muncul dengan wajah yang memancarkan kekhawatiran luar biasa, sepenuhnya membuang akting "pacar dingin" di depan murid-murid lain.
Tanpa memedulikan tatapan heran Gabriella dan Amelia, Barra langsung merangkul tubuh lemas Farra, menyangga pinggangnya agar tidak jatuh.
"Barra..." desis Amelia kaget. "Kamu—"
"Aku bawa Farra ke rumah sakit sekarang," potong Barra tegas tanpa memberi ruang perdebatan. Tanpa ragu, Barra mengangkat tubuh Farra ke dalam gendongannya (bridal style) dan membawanya berlari menuju mobil di area parkir, meninggalkan kedua sahabat Farra yang makin dibuat membeku dan penuh tanda tanya besar.
Genggaman Barra di kemudi SUV hitam itu gemetar hebat sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Di sampingnya, Farra terkulai lemas dengan mata setengah terpejam, wajahnya seputih kertas dan peluh dingin membasahi dahinya. Setiap kali Farra meringis pelan memegangi perutnya, dada Barra serasa dihantam beban berat.
Rasa panik yang tak tertahankan akhirnya meruntuhkan pertahanan Barra. Air mata menetes begitu saja membasahi pipi ketua OSIS yang biasanya tangguh dan dingin itu. Barra menangis sesenggukan, sama sekali tak memedulikan citra dirinya lagi. Ketakutan luar biasa bahwa terjadi sesuatu yang buruk pada istri tercintanya benar-benar menguasai pikirannya.
"Farra, bertahan ya, sayang... Tolong jangan kenapa-kenapa," bisik Barra dengan suara serak yang bergetar hebat. Sebelah tangannya tak berenti menggenggam jemari Farra yang dingin, berkali-kali membawanya ke bibir untuk dicium dengan penuh keputusasaan. "Bentar lagi kita sampai di rumah sakit. Tolong tahan sebentar lagi..."
Farra yang mendengar isolasi tangis suaminya perlahan membuka mata, menatap Barra dengan pandangan hangat meski tubuhnya sangat lemah. Ia berusaha menyunggingkan senyum tipis, mengusap lembut punggung tangan Barra menggunakan ibu jarinya. "Barra... jangan menangis. Aku cuma mual dan lemas aja kok, aku nggak apa-apa..."
Namun ucapan Farra tak lantas menenangkan Barra. Tangisnya makin pecah saat mobil akhirnya berhenti tepat di depan UGD Saputra Hospital—rumah sakit milik keluarga Barra sendiri.
Barra langsung melompat keluar, membuka pintu penumpang, dan kembali menggendong Farra erat-erat dalam pelukannya. "Dokter! Suster! Tolong istri saya!" teriak Barra panik di sepanjang lorong UGD dengan air mata yang masih mengalir deras.
Para petugas medis yang mengenali putra pemilik rumah sakit tersebut langsung sigap menyorongkan brankar. Barra terus menggenggam tangan Farra hingga pintu ruang pemeriksaan tertutup, berdiri membeku di luar ruangan dengan napas terengah-engah dan hati yang tak berhenti berdoa demi keselamatan Farra.