Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34 Tamu Tak Diundang
Kompleks Nirwana memiliki sebelas rumah dan lebih banyak petugas keamanan daripada penghuni yang tampak.
"Nomor tujuh milikmu?" tanya Keira ketika mobil melewati rumah bergaya modern dengan jendela tinggi.
"Milik kita."
"Hadiah dari keluargamu lagi?"
"Aku membelinya sebelum menikah. Nomor sebelas milik Ko Marcus. Nomor delapan dan sembilan milik keluarga Tanaya."
"Lalu nomor sepuluh?"
"Orang tua aneh dengan empat anjing besar. Nanti saja."
Keira belum sempat bertanya lebih banyak karena Cindy sudah melambai dari halaman rumah nomor delapan. Meja panjang dipasang di bawah kanopi, dikelilingi lampu-lampu kecil. Dimas berdiri di dekat panggangan dengan celemek yang bertuliskan Koki Terbaik, meski Adrian yang sebenarnya mengurus daging.
"Akhirnya!" Cindy memeluk Keira. "Aku kira Nathan akan membawamu kabur."
"Aku mendengar itu," kata Nathan.
"Memang untuk didengar."
Adrian menyambut mereka dan menunjukkan rumah nomor sembilan yang baru selesai direnovasi. Acara itu semula hanya untuk enam orang. Marcus datang dua puluh menit kemudian membawa dua botol jus anggur tanpa alkohol dan satu baki makanan penutup.
Rumah nomor sembilan dibuat sebagai ruang berkumpul keluarga. Dinding belakang dapat dibuka seluruhnya ke taman, sementara dapurnya memiliki meja panjang untuk kelas memasak yang mungkin tidak pernah terjadi.
"Cindy meminta ruang karaoke," kata Adrian.
"Dan Ko Adrian membuat ruang baca," sahut Cindy. "Lihat, siapa yang lebih egois?"
"Buku tidak mengganggu tetangga sampai pukul dua pagi."
Dimas menyerahkan piring kecil kepada Keira. "Jangan ikut campur. Mereka sudah berdebat sejak desain pertama."
Nathan memperlihatkan jalan setapak yang menghubungkan taman dengan rumah nomor tujuh. Gerbang kecil di antaranya masih terkunci.
"Kalau kita menginap, cukup jalan kaki," katanya.
"Kamu membawa mobil."
"Aku bisa menyuruh sopir memindahkannya."
"Kita pulang malam ini."
"Kantong cadangan itu akan sia-sia."
Keira menatapnya sampai Nathan mengambil tusuk sate dan pura-pura sibuk makan.
Ketika Marcus datang, ia langsung melihat pakaian senada mereka.
"Strategi komunikasi nonverbal?" tanyanya.
Keira menoleh kepada Nathan. "Kamu memberi tahu dia?"
"Ko Marcus menyadap pikiranku sejak kecil."
"Aku hanya mengenal alasan-alasan burukmu," kata Marcus.
Ia lalu memberi Keira salinan final dokumen Calista yang sudah ditandatangani Andreas. Tidak ada pidato serah terima. Hanya satu kalimat bahwa manajemen hotel akan menunggu arahan setelah bulan madu.
Keira menyimpan map itu di dalam rumah sebelum kembali ke taman. Ia menghargai cara Marcus tidak memperlakukan hadiah sebagai pertunjukan.
"Ko Marcus tidak bilang akan datang," ujar Nathan.
"Ko Adrian mengundangku."
"Rumah Ko ada di sebelah sana."
"Aku tahu alamat rumahku sendiri."
Keira duduk bersama Cindy dan membahas menu pernikahan. Dimas sesekali menyela dari panggangan, biasanya untuk membela pilihan makanan pedas. Suasana ringan itu membuatnya lupa pada map, rahasia, dan orang-orang yang mengawasi hidupnya.
Sampai suara mesin mobil meraung di depan gerbang.
Lamborghini kuning berhenti terlalu dekat dengan taman. Kevin turun dari kursi pengemudi sambil mengangkat kedua tangan seolah sudah tahu dirinya akan dimarahi.
"Jangan lihat aku begitu. Aku membawa minuman."
"Aku tidak mengundangmu," kata Adrian.
"Kita keluarga besar. Undangan bersifat spiritual."
Pintu penumpang terbuka. Seorang perempuan muda keluar dengan gaun santai berwarna gading dan rambut yang ditata sempurna.
Nathan mengenalinya dari foto sebelum Cindy menyebut namanya.
"Ini Yovita Gunawan," kata Cindy. "Vita, itu Ci Keira dan suaminya, Nathan. Yang galak di dekat panggangan Ko Adrian."
"Aku bukan yang galak," bantah Adrian.
Yovita tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Keira. "Akhirnya ketemu. Cindy sering cerita tentang ilustrator di Nebula."
Keira menerima jabatannya. "Senang bertemu."
Tidak ada kilatan pengenalan. Tidak ada rasa seperti bertemu keluarga. Hanya satu wajah cantik yang terasa sedikit akrab tanpa alasan jelas.
Nathan berdiri di sampingnya. Di kepalanya, fakta-fakta bergerak terlalu cepat: Fenny, Hendra, tahun kelahiran Yovita, kesepakatan sepuluh tahun, dan rencana Erwin yang belum ia ketahui bentuknya.
"Kamu Nathan?" tanya Yovita. "Kevin bilang pendiri perusahaan AI juga tinggal di kompleks ini."
Kevin berdeham. "Aku bilang orang teknologi. Bukan pendiri."
"Aku bekerja di NARA," jawab Nathan datar.
Ia tidak mengulurkan lebih banyak informasi.
Yovita mengalihkan perhatian kepada Keira. "Kamu menggambar gim, ya? Aku punya galeri. Mungkin kapan-kapan kita bisa membuat pameran digital."
"Boleh kirim proposal ke kantor," jawab Keira. "Dimas yang menilai kerja sama eksternal."
Dimas yang namanya tiba-tiba dipakai mengangkat spatula. "Benar. Semua lewat surel resmi."
Yovita tidak tersinggung. "Tentu. Aku suka perempuan yang profesional."
Cindy menawarkan minuman, lalu menarik Yovita ke sisi meja lain. Sesaat sebelum pergi, mata perempuan itu kembali singgah pada Nathan, menilai, kemudian bergerak ke Marcus.
Nathan menangkap urutannya. Ketertarikan Yovita tampaknya tidak terpusat padanya. Itu tidak membuat situasi aman. Seseorang yang sedang menilai pilihan bisa diarahkan kepada sasaran mana pun jika diberi alasan yang tepat.
Ia mengirim pesan singkat kepada Jerry yang berjaga di luar kompleks: catat plat Lamborghini dan semua kendaraan lain, tanpa mengikuti siapa pun.
Tindakan defensif, bukan serangan. Batas yang telah disepakati bersama Keira tetap dijaga.
Marcus muncul di sisi lain meja. Tatapan Yovita langsung berpindah kepadanya, lebih terang daripada saat melihat Nathan.
"Pak Marcus," sapanya.
"Yovita."
Jawaban Marcus sopan dan dingin. Ia menarik kursi untuk Keira karena pelayan hendak melewatinya, lalu duduk jauh dari Yovita.
Cindy berbisik kepada Keira, "Dia sedang menilai tiga dari Empat Keluarga sekaligus."
"Tiga?"
"Ko Marcus, Nathan, Ko Adrian. Darius sedang di luar negeri. Kevin tidak dihitung karena terlalu suka bicara."
Kevin yang berada dua meter jauhnya menoleh. "Aku masih bisa dengar."
"Bagus."
Yovita bergabung di meja. Ia bertanya tentang tanggal pernikahan, gaun, dan pekerjaan Keira dengan nada ramah. Pertanyaannya belum melewati batas, tetapi datang terlalu teratur seperti daftar yang sudah disiapkan.
Nathan mengisi gelas Keira dengan air sebelum menjawab satu pun pertanyaan tentang dirinya.
"Kami menikah bulan lalu," kata Keira. "Resepsinya pertengahan November."
"Cepat sekali," ujar Yovita. "Pasti romantis."
"Lebih banyak dokumen daripada bunga."
Keira menjawab tanpa memberi detail pribadi. Yovita tersenyum lagi dan beralih memuji cincin ular di tangannya.
Di bawah meja, jari Nathan menyentuh pergelangan Keira sekali. Sebuah pertanyaan diam.
Keira membalik telapak dan menggenggamnya. Aku baik-baik saja.
Pesta kecil itu kini memiliki sebelas orang, dua tamu yang tak direncanakan, dan satu rahasia darah yang hanya diketahui Nathan di antara generasi mereka.
Yovita belum mengenali kakak tirinya.
Keira pun belum tahu bahwa perempuan di depannya memiliki ibu kandung yang sama.
Dan tidak seorang pun di meja itu siap menghadapi akibat ketika kebenaran tersebut terbuka.