Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Tidur Lebih Penting

Seminggu setelah Reynard melempar pertanyaan tentang cemburu, Keira masih belum menemukan jawaban yang aman.

Masalahnya, cowok itu tidak memberinya cukup jarak untuk melupakan.

Pagi hari, kotak sarapan sudah menunggu di meja sebelum Keira berangkat ke BINUS. Siang hari, pesan singkat masuk menanyakan kelasnya selesai pukul berapa. Malam hari, Reynard muncul membawa belanjaan atau sekadar mengetuk pintu untuk memastikan ia sudah makan.

Mereka saling bertukar jadwal kuliah dan jadwal mengajar. Awalnya agar tidak saling menunggu. Dalam tiga hari, Reynard sudah hafal jam Keira pulang, sedangkan Keira tahu kapan ia harus membiarkan unit 8A sunyi karena Reynard sedang mengikuti kelas persiapan daring.

Hubungan mereka tetap disebut tetangga.

Hanya saja, kulkas mereka berbagi isi, kartu akses mereka saling terhubung, dan hampir setiap makan malam berlangsung di unit 8B.

Pada hari Selasa, Keira pulang terlambat dan mendapati semangkuk sup tertutup di depan pintunya. Rabu pagi, ia membalas dengan menaruh kopi dingin di gagang pintu 8A. Reynard mengirim foto gelas kosong disertai pesan singkat: terlalu manis, persis Cici.

Keira membalas dengan stiker marah. Lima menit kemudian, sebuah kotak buah potong muncul di depan unitnya.

Kebiasaan kecil itu terbentuk tanpa dibicarakan. Jika salah satu pintu tertutup terlalu lama, yang lain akan mengetuk. Jika Keira membeli camilan, setengahnya otomatis berpindah ke 8A. Jika Reynard mencoba resep baru, Keira selalu menjadi orang pertama yang mencicipi, meski ia sengaja memberi nilai tujuh agar cowok itu tidak besar kepala.

Suatu malam listrik sempat turun karena dua alat dapur menyala bersamaan. Mereka mencari panel dengan senter ponsel, bertabrakan di lorong sempit, lalu tertawa sampai lampu kembali hidup. Keira baru menyadari betapa sunyinya apartemen itu sebelum Reynard datang setelah suara tawa mereka berhenti.

Kehadiran cowok itu bukan lagi gangguan titipan. Ia sudah berubah menjadi bagian dari ritme rumah.

Pada Kamis dini hari, Keira duduk di depan laptop dengan mata perih. Tugas terjemahan kontrak sepanjang dua belas halaman harus dikumpulkan esok siang. Ia sudah membaca kalimat yang sama lima kali tanpa memahami artinya.

Ketukan pelan terdengar.

Reynard masuk membawa segelas susu hangat. Ia masih mengenakan kaus abu-abu dan celana rumah, rambutnya acak-acakan karena baru bangun.

"Kamu ngapain masih bangun?" tanya Keira.

"Lampu unit Cici kelihatan dari bawah pintu."

"Aku harus menyelesaikan ini."

Reynard menaruh susu di samping laptop, membaca dua baris dokumen, lalu menutup layar dengan satu tangan.

"Hei!"

"Tidur lebih penting. Besok lanjut."

"Besok aku ada kelas pagi."

"Aku bangunkan jam lima. Kita kerjakan satu jam sebelum kelas. Sekarang otak Cici sudah nggak bisa membedakan indemnity sama identity."

Keira menatap kesalahan ketik yang baru disadarinya. "Aku cuma kurang kopi."

"Cici kurang tidur."

Reynard menggeser kursi ke belakang dan mengambil laptop itu. Ketika Keira mencoba merebut, ia mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Kembalikan."

"Minum susunya."

"Reynard."

"Ci Kei."

Wajahnya terlihat sangat tidak berdosa sampai Keira ingin mencubitnya. Namun tubuhnya sendiri mengkhianati. Begitu berdiri, kepalanya berdenyut dan pandangan sempat menggelap.

Tangan Reynard langsung menahan siku Keira. "Nah. Masih mau bilang kuat?"

Keira tidak bisa membantah. Ia minum susu, membiarkan Reynard menyimpan laptop di meja luar kamar, lalu masuk ke ranjang sambil menggerutu.

Pukul lima tepat, alarm berbunyi. Di meja sudah ada roti panggang, catatan bagian dokumen yang perlu diperiksa, dan Reynard yang menguap sambil membuka kamus digital.

Keira menatapnya cukup lama.

"Kenapa?" tanya Reynard.

"Nggak apa-apa."

Ia tidak mengatakan bahwa sudah lama tak ada orang yang ikut bangun hanya karena dirinya punya tenggat.

***

Sore berikutnya, Keira bertemu Tante Ida di dalam lift. Perempuan itu membawa dua kantong belanja dan langsung tersenyum saat Reynard berlari dari ujung lorong untuk menyerahkan payung Keira yang tertinggal.

"Ci, payungnya. Langit gelap."

"Makasih."

Pintu lift hampir menutup. Reynard menahannya, memberikan payung, lalu mundur sambil melambaikan tangan.

Begitu pintu rapat, Tante Ida melirik Keira dari atas ke bawah.

"Itu yang sering keluar masuk unit kamu siapa, ya?"

"Adiknya sahabat saya, Tante. Tinggal di unit seberang sementara."

"Oh." Nada panjang itu memuat lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. "Tante kira sudah tinggal serumah. Tiap pagi dia keluar dari unit kamu, malam juga masih di sana."

Keira menggenggam gagang payung. "Kami tinggal terpisah. Dia sering masak di unit saya karena dapurnya lebih lengkap."

"Tante cuma mengingatkan. Penghuni di sini suka ngomong. Kamu perempuan tinggal sendiri, dia cowok muda. Nanti orang salah paham."

Pintu lift terbuka di lobi. Tante Ida keluar sambil tersenyum seolah barusan hanya membicarakan cuaca.

Malamnya, notifikasi grup penghuni lantai delapan muncul. Tidak ada nama Keira, tetapi pesan tentang anak muda zaman sekarang yang bebas keluar masuk unit lawan jenis terlalu jelas untuk disalahartikan.

Keira menunjukkan layar itu kepada Reynard.

"Aku bilang apa? Mulai sekarang jangan pulang terlalu malam dari unitku."

Reynard membaca pesan, lalu mengembalikan ponsel. "Biar saja. Kita nggak melakukan sesuatu yang salah."

"Bukan soal salah atau benar. Omongan orang bisa sampai ke keluarga."

"Kalau ada yang tanya, aku yang jelaskan."

"Justru kamu jangan ikut. Nanti tambah panjang."

Reynard menatapnya beberapa detik. "Cici malu kelihatan dekat sama aku?"

Pertanyaan itu membuat Keira tercekat. "Bukan begitu."

"Kalau bukan, aku akan jaga batas yang Cici mau. Tapi aku nggak akan membiarkan orang bikin Cici merasa kotor cuma karena aku antar makanan atau memastikan Cici pulang dengan aman."

Nada suaranya tetap tenang. Keira menunduk pada payung yang tadi dibawakan Reynard. Benda murah itu masih menyimpan titik-titik air di lantai, sebuah bukti kecil bahwa kedekatan mereka bukan sesuatu yang memalukan.

Namun sejak malam itu, Keira lebih berhati-hati. Ia mengenakan kardigan setiap keluar ke lorong. Reynard selalu mengetuk walau pintu terbuka. Mereka berhenti bercanda keras setelah pukul sepuluh.

Jarak baru itu tidak mengurangi perhatian Reynard. Hanya membuat setiap perhatian terasa lebih jelas.

***

Sabtu sore, Keira pulang membawa dua kantong sayuran. Surel dari Sanggar Bahasa Cerdas menyatakan laporannya sudah diterima dan Ricky telah diperingatkan agar tak menghubunginya secara pribadi. Seharusnya ia merasa lega.

Ketika mobil daring berhenti di depan Meranti Park, Keira turun sambil memeriksa pesan Reynard yang menawarkan bantuan membawa belanjaan.

Ia baru hendak membalas ketika langkahnya melambat.

Di dekat pintu kaca lobi, seorang pria berdiri dengan ponsel di tangan. Ia melihat ke meja keamanan, lalu ke deretan lift, seolah sedang menunggu kesempatan masuk.

Keira mengenali kemeja kotak-kotak dan postur itu dari tempat kerja.

Ricky.

Kantong plastik di tangannya mendadak terasa licin. Jantungnya menghantam tulang rusuk saat pria itu menoleh tepat ke arahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!