Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Investor Tanpa Modal
BRUMMM!! BRUMMM!
Suara knalpot motor sport merah milik Reno yang nyaringnya mirip kaleng kerupuk raksasa jatuh dari lantai 10—dan sukses merusak ketenangan batin warga Jakarta Barat—akhirnya berhenti tepat di depan lobi megah Gedung Abraham Company.
Reno turun dari jok motor dengan sebuah gerakan slow motion yang dipaksakan. Ia berusaha keras terlihat berwibawa seperti aktor Christian Sugiono, padahal aslinya mukanya lebih mirip orang yang lagi menahan sakit gigi kronis akibat kebanyakan makan permen kaki.
Hari ini, Reno resmi sedang melakukan aksi cosplay menjadi orang kaya raya. Setelan jas formal hitam pilihan Mamanya memang tampak pas membungkus badan jangkungnya. Namun masalahnya, kain dasi hitam di lehernya diikat sekencang tali jemuran baju tetangga, sampai-sampai Reno merasa amandelnya hampir tercekik dan suaranya tersumbat di tenggorokan.
Ia merapikan kerah jas, membusungkan dada bidangnya (yang sebenarnya isinya lebih banyak susunan tulang daripada massa otot), lalu mulai melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis dengan dagu yang sengaja diangkat tinggi-tinggi setinggi plafon lobi.
Gaya jalannya sudah kayak sesosok investor asing kelas kakap yang datang mau membeli seluruh aset gedung tersebut.
Padahal realitasnya, isi di dalam dompet kulit Reno cuma ada selembar kertas struk mesin ATM sisa transaksi dua tahun lalu dan satu kartu member warung nasi rames (warnas) yang masa berlakunya sudah kedaluwarsa.
Baru saja kakinya mau melenggang sok asyik menuju koridor lift, sebuah interupsi vokal mendadak membuyarkan seluruh fantasi indahnya.
"Maaf Mas... eh, maaf Pak. Bapak ini mohon maaf siapa ya? Mau membagikan brosur perumahan atau mau mengajukan proposal minta sumbangan komplek?" tanya seorang staf resepsionis cantik yang pandangan matanya tampak berada di antara rasa kagum sama rasa kasihan melihat penampakan jas Reno.
Reno terpaksa melakukan aksi rem mendadak sampai bagian bawah sepatunya mengeluarkan bunyi mencicit keras, ngit!. Ia berbalik badan, lalu berdehem pelan. "Saya Reno. Sahabat kental, karib, sekaligus penasihat spiritual dari CEO kalian. Ada urusan kenegaraan tingkat tinggi yang harus kami bahas, yang kalau saya jelaskan detailnya di sini, Mbak bisa langsung pingsan di tempat," jawabnya dengan nada suara yang sengaja diberat-beratin sampai mirip pantulan suara knalpot motornya tadi.
Mendengar bualan maut itu, si resepsionis mengernyitkan dahi. "Maksud Bapak... Pak Raditama? Apakah Bapak sudah membuat janji temu sebelumnya?"
"Sudah tentu. Tadi subuh saya sudah mengirimkan huruf 'P' sebanyak tiga kali di WhatsApp beliau dan statusnya sudah centang biru. Secara hukum per-WhatsApp-an internasional, itu artinya pesan saya sudah sah, dibaca, dan sifatnya mengikat," ucap Reno ngawur sekenanya.
Resepsionis itu seketika tersenyum kecut. Di dalam benaknya, ia mungkin sedang membatin kalau pemuda di depannya ini punya wajah yang ganteng beraura idol K-Pop, tapi sayang kabel di dalam otaknya sedang mengalami korsleting.
"Oh, baik kalau begitu, Pak. Pak Radit saat ini kebetulan sedang ada agenda meeting penting sama klien besar yang duitnya nggak berseri. Silakan Bapak langsung tunggu saja di dalam ruang kerja pribadinya."
"Oke, oke. Saya maklumi kesibukannya, dia memang selalu butuh bimbingan dan arahan dari saya," ujar Reno sombong sambil melakukan gerakan putar balik dramatis.
Sialnya, saking semangatnya berputar, ujung kain jas hitamnya malah berkibar hebat dan sukses menampol wajahnya sendiri.
Satu detik... dua detik... Reno mendadak mematung tegak di tengah-tengah lobi. Ia menatap deretan lorong lift yang jumlah pintunya terasa jauh lebih banyak daripada total jumlah mantan pacarnya selama zaman sekolah.
Karena bingung, ia akhirnya terpaksa balik badan lagi berjalan menuju meja resepsionis dengan cengengan lebar yang seketika merusak seluruh martabat jas kondangannya.
"Eh, Mbak... by the way busway... ruang kerjanya Pak Radit itu sebenarnya lewat sebelah mana ya? Maklum, gedungnya agak kegedean buat saya yang terbiasa hidup bebas menyatu dengan alam liar," tanya Reno sambil jemarinya garuk-garuk kepala, membuat tatanan rambut berminyak pomade-nya mendadak berantakan mirip sarang burung emprit.
Staf resepsionis itu sekuat tenaga menahan tawa agar tidak menyembur. "Lantai 31, Pak. Gunakan lift yang berada di ujung sebelah kanan. Tolong jangan coba-coba naik lewat tangga darurat ya Pak, ntar saya takut Bapak sudah pingsan duluan pas baru sampai di lantai 5."
"Lantai 31! Sip. Makasih banyak petunjuknya ya, Mbak cantik!" seru Reno riang. Ia lalu berlari kecil menuju ke arah lift—sebuah gerakan langkah kaki yang membuat kain celana formalnya terasa sangat ketat dan tidak nyaman untuk diajak bergerak aktif.
Ting!
Pintu lift besi di ujung koridor mendadak terbuka. Seorang wanita bertubuh jenjang melangkah keluar dari dalam lift sambil pandangan matanya fokus menatap layar HP.
Aura yang dipancarkan wanita itu dingin banget, kayak penampakan kulkas dua pintu premium yang kabelnya sengaja dicolokin langsung di area kutub utara.
Wanita berambut panjang itu berjalan melewati posisi Reno begitu saja tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun, menyisakan embusan aroma parfum mahal yang seketika membuat sistem kerja otak Reno mendadak mengalami loading lama.
‘Bentar... tunggu dulu... bau wewangian ini... ini kan aroma khas dari singa betina liar yang pernah nyakar muka gue di hutan belantara!’ batin Reno menebak-nebak.
Gaya jalan wanita itu yang tegas dan tegak kayak orang yang mau mengajak tawuran antar warga terasa sangat familiar di ingatannya.
"Hih! Ngaco pikiran gue! Nggak mungkin lah tuh cewek bar-bar tipe amazon bisa kerja di kantor elite begini. Bisa-bisa semua mesin printer kantor dijadiin alat geprek ayam sama dia," gumamnya menenangkan diri sendiri.
"Amit-amit deh jangan sampai ketemu lagi. Jas hitam hasil cicilan gue yang sisa 11 bulan lagi ini bisa-bisa berubah fungsi jadi kain pel kalau sampai kena cakar maut dia lagi."
Reno langsung melompat masuk ke dalam lift, lalu jemari tangannya menekan tombol angka 31 sekuat tenaga seolah-olah tombol bulat itu adalah sosok mantan kekasih yang pernah menyakiti hatinya.
Ting!
Pintu lift terbuka sempurna di lantai 31. Reno melangkah masuk ke dalam ruang kerja CEO Radit yang kondisinya sedang kosong melompong tanpa ada orang. Tanpa rasa malu sedikit pun, ia langsung berjalan menuju meja utama dan menghempaskan pantatnya ke atas kursi kebesaran milik sahabatnya.
"Gila parah... ini kursi empuknya kebangetan beneran! Rasanya nyaman banget, persis kayak lagi dipeluk sama bidadari khayangan tanpa sayap," gumam Reno kegirangan.
Ia mulai memejamkan kedua matanya, menikmati kenyamanan fasilitas duniawi yang mewah tersebut, dan dalam sekejap mata...
zZzZz...
Reno langsung tertidur pulas.
CTAK!
BRUKK!!
"Aduhh!! Sshh... aduh mampus, aset masa depan gue mendadak kegencet!"
Reno mendadak jatuh tersungkur dari atas kursi dan bagian tubuhnya mendarat telak di atas sebuah permukaan yang terasa sangat keras.
Namun, begitu ia membuka kedua kelopak matanya yang masih lengket, pemandangan plafon putih kantor elite tadi kini telah berganti drastis menjadi hamparan langit biru luas yang terasa membara panas.
Di hadapannya kini terbentang luas padang savana Afrika, lengkap dengan semak-semak rumput kering yang rasa gatalnya minta ampun kalau menyentuh kulit.
"Hah?! Gue sekarang lagi terdampar di mana ini?! Perasaan tadi gue di lift nggak ada memencet tombol arah tujuan ke pulau Madagascar deh!"