Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Lelaki yang Tidak Berkhianat
Arka tiba sebelum tengah malam.
Bimo dan Nala berada di mobil kedua, dikawal Yudha. Keduanya masih mengenakan pakaian tidur di balik jaket. Foto ancaman diambil saat mereka turun dari kendaraan sekolah pagi tadi, sehingga Arka tidak mau membawa mereka kembali ke rumah sementara di Jakarta.
"Tidak ada yang mengikuti rombongan," lapor Yudha. "Rute diganti dua kali. Polisi sudah meminta rekaman sekitar sekolah."
Sekar menunggu di teras, menggenggam ponsel berisi ancaman. Rasa bersalah menekan dadanya ketika Nala berlari memeluknya.
"Maaf," kata Sekar kepada Arka. "Mereka mengancam anak-anak karena saya."
"Tidak." Suara Arka tegas. "Mereka mengancam anak-anak karena mereka penjahat. Jangan memindahkan kesalahannya."
"Kalau aku tidak melawan di media..."
Arka berhenti sesaat mendengar perubahan kata ganti, tetapi tidak menyinggungnya.
"Kalau Anda diam, mereka belajar bahwa ancaman berhasil."
Bening memeriksa metadata foto bersama Yudha. Bayangan papan toko pada kaca mobil menunjukkan lokasinya berada satu blok dari sekolah. Waktu pengambilan cocok dengan jadwal penjemputan yang hanya diketahui pengemudi, guru, dan beberapa orang dalam.
"Semua orang di jalur itu diperiksa," kata Arka. "Mulai besok anak-anak belajar dari tempat aman sampai pelaku ditemukan."
"Mereka bisa tinggal di Vila," tawar Pak Djoyo. "Kamar cukup dan pengamanan sudah diperkuat."
Arka menatap Sekar, menunggu persetujuannya.
"Tentu," kata Sekar. "Selama mereka membutuhkan."
Tidak ada keputusan yang diambil di atas kepalanya, bahkan ketika menyangkut anak-anak yang paling Arka lindungi. Hal kecil itu membuat Sekar sadar betapa sering Rendra menyebut keputusan sepihak sebagai perlindungan.
Setelah anak-anak tidur, Arka mengajak Sekar duduk di ruang kerja. Pintu tetap terbuka. Yudha dan Bening bekerja di teras dalam jarak terlihat.
"Ada hal yang perlu Anda tahu kalau anak-anak tinggal di sini," kata Arka.
"Tentang ancaman?"
"Tentang mereka dan tentang saya."
Arka menjelaskan bahwa tugas utamanya berada di Kota Palagan, sebuah kota garnisun di Kalimantan. Ia sering bertugas berbulan-bulan di wilayah perbatasan. Istrinya telah meninggal beberapa tahun lalu. Sejak itu, ia membesarkan Bimo dan Nala bersama Eyang Darmi.
"Mereka bukan anak kandung saya," katanya.
Sekar menatapnya. "Apakah mereka tahu?"
"Mereka tahu bahwa saya ayah yang mengasuh mereka. Detail keluarga asal belum semuanya saya ceritakan. Mereka masih terlalu kecil untuk membawa beban itu."
"Orang tua kandungnya?"
"Sudah meninggal. Mereka sahabat yang mempercayakan anak-anak kepada saya jika sesuatu terjadi. Pengasuhan dan pengangkatan anak sudah dicatat melalui proses pengadilan."
Arka menjelaskan secukupnya. Setelah kedua orang tua anak meninggal dalam peristiwa yang masih menyisakan pertanyaan, keluarga terdekat tidak berada dalam posisi aman untuk mengasuh. Arka menerima perwalian sementara, menjalani pemeriksaan kelayakan, lalu mendapatkan penetapan pengadilan untuk pengangkatan anak. Semua dokumen sipil disimpan dengan identitas yang dilindungi.
"Istri Anda menyetujui?" tanya Sekar hati-hati.
"Dia meninggal sebelum proses itu selesai, tetapi dia mengenal orang tua mereka dan tahu janji saya. Kami sendiri tidak sempat memiliki anak."
Tidak ada rasa malu dalam pengakuannya. Tidak ada usaha membuktikan tubuh siapa yang salah. Arka menyebut kehilangan sebagaimana adanya, lalu menempatkan kebutuhan dua anak di depan harga dirinya.
"Eyang Darmi membantu ketika saya bertugas," lanjutnya. "Saya tidak selalu bisa pulang. Itu bagian yang paling sering membuat saya merasa gagal."
"Anak-anak tidak melihat Anda sebagai orang yang gagal."
"Karena mereka murah hati kepada Ayahnya. Bukan karena Ayahnya sempurna."
Sekar teringat Rendra yang tidak pernah mengakui keterlambatan, apalagi kegagalan. Perbedaan kedua lelaki itu tidak lagi terasa seperti perbandingan yang sengaja ia cari. Perbedaan itu berdiri sendiri di depan matanya.
Arka tidak menyebut nama keluarga asal. Sorot matanya memberi tahu bahwa bagian tersebut bukan rahasia yang boleh dibuka sembarangan.
"Anda masuk ke hujan untuk menyelamatkan anak yang bukan darah Anda," kata Sekar.
"Mengapa darah harus menentukan apakah seorang anak layak diselamatkan?"
Pertanyaan itu sederhana. Namun Sekar teringat Eyang Sri yang mengukur nilai perempuan dari keturunan, Wida yang menerima Kirana karena perutnya, dan Rendra yang membenarkan pengkhianatan atas nama anak biologis.
Di depan Sekar duduk seorang lelaki yang mengambil dua anak tanpa ikatan darah dan mempertaruhkan segalanya agar mereka aman.
"Rendra bahkan tidak bersedia menjalani satu pemeriksaan," katanya tanpa sengaja. "Dia bilang kehamilan Kirana cukup membuktikan segalanya."
Arka tidak bertanya lebih jauh. "Orang yang menolak fakta biasanya paling keras memakai harga diri."
"Dan kalau fakta itu akhirnya menghancurkan harga dirinya?"
"Itu akibat pilihannya, bukan kesalahan Anda."
Hening turun. Dari lantai atas terdengar langkah kecil. Bimo muncul di tangga sambil memeluk bantal.
"Ayah?"
Arka langsung berdiri. "Kenapa belum tidur?"
"Aku mimpi orang itu datang lagi."
Arka berjongkok. "Ayah di sini."
Bimo menatap Sekar. "Mbak Sekar juga di sini?"
"Aku di sini," jawab Sekar.
Anak itu berjalan turun dan duduk di antara mereka. Sekar mengambil selimut, Arka memberinya air. Tidak ada yang menyuruh Bimo berhenti takut. Mereka membiarkan napasnya kembali teratur sebelum mengantar ke kamar.
Keesokan paginya, Nala belajar melalui video bersama gurunya, sedangkan Bimo mengerjakan matematika di ruang kerja Sekar. Arka menerima panggilan militer di teras dan berbicara tentang kepulangannya ke Palagan.
"Anda harus kembali bertugas?" tanya Sekar setelah panggilan berakhir.
"Dalam beberapa hari."
"Lalu anak-anak?"
"Saya belum memutuskan. Ancaman ini membuat semua rencana berubah."
Sekar merasakan kehilangan sebelum lelaki itu benar-benar pergi, perasaan yang segera ia tekan.
Arka memperhatikannya. "Saya tidak meminta Anda memercayai saya hanya karena saya membantu malam itu. Kepercayaan bukan utang."
"Lalu kenapa Anda menceritakan semua ini?"
"Karena Anda berhak tahu siapa yang menempatkan penjaga di depan pintu rumah Anda dan siapa yang menitipkan anak di bawah atap Anda."
Ia menatap Bimo dan Nala yang sedang berdebat pelan soal pensil warna.
"Saya bukan tipe orang yang mengkhianati mereka yang saya percaya," lanjutnya.
Kalimat itu masuk tepat ke bagian diri Sekar yang masih terluka. Ia tidak langsung percaya pada janji. Namun Arka telah berulang kali memberi pilihan, menjelaskan batas, dan berdiri di tempat yang dijanjikannya.
"Saya ingin percaya," kata Sekar pelan.
Arka menoleh. Sesuatu yang hangat melintas di wajahnya.
"Itu sudah cukup untuk sekarang."
Sore hari, mereka berjalan di taman bersama anak-anak. Bimo dan Nala berlari mengumpulkan bunga jatuh. Arka berhenti di bawah pohon delima tua.
"Ada satu hal lagi," katanya.
"Tentang keluarga asal mereka?"
"Ada orang yang sampai sekarang masih mencari mereka. Bukan untuk membawa pulang."
Sekar merasakan angin sore berubah dingin.
Arka menatap Bimo yang sedang membantu Nala bangun setelah tersandung.
"Itulah sebabnya identitas mereka harus tetap tertutup."