Di dunia mafia Italia, putri seorang Capo tidak pernah berhak memilih.
Di hari pernikahannya—dengan pria yang belum pernah ia lihat—Alessia Castelli justru diculik. Bukan oleh perampok jalanan, melainkan oleh Fabiano Conti, Capo La Corona yang paling ditakuti di seluruh negeri. Bagi Fabiano, Alessia hanyalah kartu tawar: satu-satunya cara merebut kembali saudari kembarnya dari tangan kakak Alessia yang kejam.
Tapi ada yang salah dengan penculikan ini.
Pintu kamarnya tak dikunci. Tak ada yang memaksanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri—keputusannya sendiri. Lelaki paling berbahaya yang pernah ia temui ternyata memperlakukannya jauh lebih lembut daripada keluarganya sendiri.
Alessia tahu ia seharusnya membenci penculiknya. Ia tahu ia seharusnya melarikan diri. Jadi kenapa, di wilayah musuh, untuk pertama kalinya ia justru merasa aman?
Namun perang antar-klan tak mengenal cinta. Ketika pertukaran tak terhindarkan dan darah mulai tumpah, Alessia harus memilih antara keluarga tempatnya dilahirkan dan pria yang mengajarinya arti kebebasan—sementara Fabiano bersumpah akan membakar seluruh Italia sebelum membiarkan seorang pun merenggutnya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengganggu Kecilku
Fabiano
Aku berguling di ranjang untuk kelima kalinya. Kukira aku sudah bisa tidur nyenyak. Aku bisa tidur nyenyak dua malam terakhir.
Tapi kurasa aku salah.
Di sini aku tak bisa mendengar napas lembut Alessia.
Juga tak bisa mencium aroma manis itu… seperti buah dan karamel.
Aku tak menyangka Alessia bisa menjadi obat penenang yang baik, tapi ternyata ya.
Para psikiater seharusnya mengemasnya dalam botol. Mereka pasti menghasilkan kekayaan.
Kutendang selimut sebelum kembali berguling dan memejamkan mata.
Sebuah suara di pintu memicu refleksku.
Dalam waktu kurang dari dua detik aku sudah berdiri, mengacungkan senjata sambil menyalakan lampu.
Alessia memucat dengan kedua tangan terangkat.
"Maaf… aku…" ia mulai bicara, tapi terdiam bersamaan dengan pandangannya yang turun.
"Kamu apa?"
"Aku… Wow," serunya tanpa mengalihkan mata dari kejantananku.
"Alessia, fokus," pintaku. "Kamu ngapain di sini?" tanyaku sambil menyimpan senjata. "Ada yang menyerangmu? Salah satu anak buahku membuatmu merasa tak nyaman?"
"Oh, iya," bisiknya dengan pandangan tertuju ke selangkanganku.
"Siapa?"
"Iya," ulangnya. "Iya… Iya."
Kupaksa diriku bernapas lalu mendekatinya. Kutangkup dagunya dan kupaksa ia menatap mataku.
"Siapa?"
"Siapa apa?"
"Siapa yang membuatmu merasa tak nyaman?"
Keningnya berkerut.
"Aku tak paham kamu bicara soal apa."
"Kamu baru saja bilang… Sudahlah. Kamu ngapain di sini?"
Ia mengerucutkan bibir. "Aku tak bisa tidur."
"Aku bukan lagu pengantar tidurmu."
"Aku tahu."
"Kamu tak boleh masuk kamar orang tanpa mengetuk."
"Aku tahu," katanya, dan pandangannya kembali melorot ke kejantananku. "Kamu selalu tidur telanjang?"
"Ya," kataku sambil mencari celana di seluruh penjuru kamar.
"Cuma… Wow," katanya saat aku membelakanginya.
Kupakai celanaku tepat pada waktunya. Tubuhku mulai bereaksi terhadap tatapannya.
"Kamu tak perlu…" bisiknya, "kamu tahu, ini kamarmu. Kalau kamu mau tidur telanjang, bukan aku yang akan melarangmu."
"Kamu jelas mengharapkannya," kataku dengan senyum.
"Oh, iya."
Mataku menyusuri tubuhnya yang terbalut kemeja sutra putih tipis, dan kini akulah yang tak bisa berhenti menatapnya.
Puting payudaranya begitu menegang sampai aku bisa melihat warna dan bentuknya.
"Boleh aku tidur bersamamu?"
"Kurasa itu bukan ide yang bagus."
"Kenapa tidak?" tanyanya sambil mengerucutkan bibir dan melompat-lompat kecil.
Tetes-tetes keringat mengalir di dahiku saat aku melihat gerakan payudara itu.
"Ayo dong, ayo dong," pintanya sambil terus melompat.
Kucengkeram bahunya dan kuhentikan ia.
"Berhenti."
"Ayo dong."
"Bukan ide yang bagus."
"Ayo dong…"
"Alessia…"
"Aku janji tak akan bergerak."
Aku menghela napas.
"Baiklah. Cuma malam ini," kataku. Aku menunggu konfirmasinya, tapi ia tak berkata apa-apa. Ia melompat ke ranjang, ke sisi tempat aku tidur, dan memeluk bantalku. "Alessia?"
"Ya?"
"Cuma malam ini saja, kan?"
"Iya, iya. Terserah kamu," gumamnya sebelum napasnya menjadi lebih dalam.
Aku berbaring di sisi lain dan menyelimutinya sebelum berbaring telentang dan menatap langit-langit.
Kenapa aku tak bisa menolaknya?
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum memejamkan mata.
* * *
Aku terbangun perlahan.
Selama beberapa detik aku tak mengerti kenapa aku bisa tidur begitu nyenyak, sampai aku merasakan sebuah beban hangat di dadaku.
Kutundukkan pandangan.
Alessia.
Ia menempel sepenuhnya padaku.
Kepalanya bersandar di bawah daguku, dan salah satu lengannya melingkari pinggangku seolah ia sudah tidur seperti ini seumur hidupnya.
Napasnya yang hangat menembus kulit dadaku.
Aku tetap diam tak bergerak.
Aku tak mau membangunkannya.
Kerutan kecil muncul di antara alisnya sebelum ia menyusup lebih dekat lagi padaku.
Hidungnya tanpa sadar menyentuh leherku.
Kuembuskan napas pelan-pelan.
Ide buruk.
Ide yang sangat buruk.
Tanpa sengaja pandanganku turun.
Selimut sudah melorot sampai ke betisnya, dan bahan kemejanya yang nyaris tembus pandang tak menyisakan banyak untuk dibayangkan.
Payudaranya mendesak kain itu, menggambarkan lekuknya dengan terlalu jelas.
Kemejanya tersingkap, dan aku bisa melihat celana dalam putihnya, perut bagian bawahnya, serta pusar mungil itu.
Kukatupkan rahangku.
Umurnya delapan belas tahun.
Gadis yang baru mulai mengenal dunia.
Dan yang lebih buruk lagi… ia mempercayaiku.
Aku tak boleh membiarkan kepalaku melupakan salah satu dari dua hal itu.
Aku mencoba menjauh dengan hati-hati.
Ia memprotes dalam tidurnya dengan gumaman kecil yang tak jelas lalu memelukku lagi.
Kali ini bahkan lebih erat.
Kupejamkan mata sesaat.
Sialan.
Tubuhku bereaksi sebelum kesadaranku sempat menahannya.
Tidak.
Tidak.
Dengan sangat hati-hati kulonggarkan lengannya dari pinggangku dan kuselipkan sebuah bantal ke posisiku.
Alessia langsung memeluknya.
Senyum kecil muncul di bibirnya yang tertidur. Seolah bantal itu benar-benar aku.
Aku tak tahu apakah itu menenangkanku atau justru memperburuk keadaan.
Kuusap wajahku dengan tangan.
Aku perlu berpikir jernih.
Dan saat ini tubuhku justru melakukan hal yang sebaliknya.
Alessia bergerak, memperlihatkan bokongnya yang mungil dan berisi.
Dan itu begitu menggoda sialan sampai aku memaksa diriku masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.
Napasku memburu, seakan aku baru berlari maraton kecil.
Dan kejantananku sudah siap untuk beraksi.
Kubuka bilik pancuran dan aku masuk ke dalamnya.
Air sedingin es menghantam punggungku.
Sempurna.
Inilah yang persis kubutuhkan.
Kutumpukan kedua tanganku ke dinding.
"Kendalikan dirimu, Conti," gumamku menatap kejantananku yang berdiri bangga.
Ia memercayaimu, kuingatkan diriku sendiri. Dan sebaiknya ia jangan sampai pernah punya alasan untuk berhenti percaya.
Kejantananku berdenyut menuntut kelegaan, tapi kuabaikan.
Aku bukan lelaki macam itu.
Aku suka seks. Aku suka sekali. Tapi aku tak akan menyerah pada dorongan untuk memuaskan diri dengan bayangan seorang wanita yang belum memberi persetujuan, seperti orang sakit.
Aku menyukai Alessia.
Aku suka kepolosannya, selera humornya, dan yang terpenting, kecerobohannya.
Aku menyukainya, tapi aku tak menginginkannya.
"Kamu tak menginginkannya, Conti," gumamku.
Memang tidak.
Kejantananku terasa nyeri, menjerit padaku bahwa aku salah.
Kuabaikan.
Aku butuh pengalih perhatian.
Aku akan keluar lari pagi.
Aku masuk ke kamarku dengan handuk melilit tubuhku.
Aku berjalan ke walk-in closet dan menjatuhkan handuk sambil mencari baju olahraga.
Aku perlu keluar lari. Sekarang juga.
"Boleh aku pakai…?" Aku berbalik saat mendengar suaranya. Matanya menatap ereksi yang berdiri bangga di antara kakiku. "Wow…" bisiknya sementara wajahnya memerah. "Aku… harus pergi," katanya sebelum berlari keluar dan menghilang.
Kusandarkan punggungku ke dinding dan kulepaskan napas yang selama ini kutahan.
Alessia Castelli baru saja menjelma menjadi pengganggu bagi kesehatan mentalku.
Dan yang namanya pengganggu… selalu berakhir menjadi masalah.