Indonesia
NovelToon NovelToon
Lautan Cinta

Lautan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan Tak Terduga

Rafa menahan napasnya, dadanya berdegup kencang mendengarkan detail penuturan sang polisi.

​"Negosiasi sempat berjalan selama hampir satu jam," lanjut sang perwira. "Namun, ketidakstabilan mentalnya sudah berada di ambang batas tertinggi. Saat salah satu anggota kami mencoba mendekat untuk menyelamatkannya, Zaskia justru tertawa histeris, meneriakkan nama Nona Rafa dengan penuh kebencian, lalu melompat menjatuhkan dirinya dari atas atap setinggi dua puluh meter ke arah beton pelabuhan."

​Suasana di dalam ruangan mendadak sunyi senyap. Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik.

​"Tim medis darurat sempat melarikan nyawanya ke rumah sakit terdekat," tambah sang perwira dengan nada datar. "Namun, luka benturan yang sangat parah di kepala dan bagian tubuh lainnya membuat nyawanya tidak dapat tertolong. Zaskia Mulandari dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan."

​Berita kematian Zaskia menggantung di udara ruangan yang steril itu. Zaskia, wanita yang telah menghalalkan segala cara, merancang fitnah keji, memenjarakan Rafa, hingga mencoba membakar keluarganya hidup-hidup, kini telah tewas oleh kebinasaan dan kebenciannya sendiri.

Tidak ada rasa iba yang muncul di dalam dada Rafa. Yang ada hanyalah rasa lega yang teramat sangat, seolah sebuah beban raksasa yang menghimpit dadanya selama bertahun-tahun akhirnya diangkat seketika. Badai tergelap dalam hidupnya telah benar-benar berlalu. Sumpah serapah dan teror mengerikan itu kini terkubur bersama akhir hidup Zaskia yang tragis.

​Rafa menundukkan kepalanya, memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas panjang. Ia melepaskan beban masa lalu itu dari pundaknya, membiarkan keadilan semesta mengambil jalurnya.

​"Terima kasih atas informasinya, Inspektur," ucap Sean mewakili Rafa. "Kami mengapresiasi kerja keras pihak kepolisian."

Setelah sang perwira polisi meninggalkan ruangan, Sean merengkuh bahu Rafa dengan lembut, mendekatkan wanita itu ke dalam pelukannya. "Semuanya sudah berakhir, Rafa. Kamu sudah aman sekarang. Tidak ada lagi ketakutan."

​Rafa membenamkan wajahnya di dada bidang Sean, mengangguk pelan sambil memejamkan mata, menikmati kehangatan pelukan pria yang telah menyelamatkan hidupnya.

****

Namun, ketenangan itu ternyata tidak berlangsung lama.

​Belum sempat rasa lega sepenuhnya meresap ke dalam hati mereka, suara pintu kamar perawatan kembali terbuka. Kali ini, tidak ada ketukan. Pintu itu terbuka lebar, menampakkan dua sosok paruh baya berwibawa yang melangkah masuk dengan langkah tegap dan sorot mata yang sulit dibaca.

​Rafa dan Sean sontak menoleh ke arah pintu.

​Jantung Sean seolah berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Orang yang berdiri di hadapannya saat ini bukanlah orang asing, melainkan kedua orang tuanya sendiri yang baru saja datang dari Singapura secara diam-diam: Tuan Waisen Lee dan Nyonya Margaret.

Tuan Waisen Lee mengenakan setelan jas bisnis berwarna arang dengan mantel wol mahal tersampir di lengannya. Wajahnya tampak keras, garis-garis ketegasan tercetak jelas di rahangnya, dan matanya yang tajam menatap lurus ke arah ranjang rumah sakit. Di sampingnya, Nyonya Margaret berdiri dengan postur tubuh yang kaku, mengenakan pakaian desainer papan atas yang memancarkan aura kemewahan sekaligus keanggunan seorang wanita dari kalangan elit global.

​Wajah kedua orang tua Sean itu tampak begitu datar. Tidak ada senyuman penyambutan, tidak ada sapaan hangat, namun juga tidak ada kilatan amarah yang meledak-ledak seperti saat mereka berdebat di kantor pusat Singapura beberapa waktu lalu. Ekspresi mereka benar-benar misterius, membuat siapa pun yang melihatnya merasa ciut dan tidak bisa menebak apa yang sedang berputar di dalam kepala mereka.

​Sean segera bangkit berdiri dari kursinya, melangkah beberapa langkah ke depan untuk menghalangi jarak antara kedua orang tuanya dan ranjang Rafa, seolah ingin melindungi wanita yang dicintainya dari tatapan menghakimi sang ibu.

​"Ayah... Ibu...?" ucap Sean dengan nada suara yang meninggi karena terkejut. "Bagaimana bisa kalian... Kenapa kalian ada di Jakarta?"

****

​Margaret menghentikan langkahnya tepat beberapa meter dari ranjang Rafa. Matanya menyapu ruangan VVIP yang bersih itu, lalu beralih menatap Rafa Sasmita yang kini duduk bersandar di atas bantal dengan selang infus di tangannya. Pandangan Margaret sangat tajam, meneliti setiap inci penampilan wanita yang telah menjadi pusat perdebatan sengit di keluarga besar Lee selama beberapa minggu terakhir.

Tuan Waisen Lee tidak langsung menjawab pertanyaan putranya. Ia memasukkan sebelah tangan ke dalam saku celananya, melirik sekilas ke arah meja kecil yang penuh dengan sisa buah apel dan peralatan medis, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kembali kepada Sean dan Rafa.

​"Kami datang ke Jakarta karena kami mendengar banyak hal tentang apa yang terjadi di kota ini," suara Tuan Waisen terdengar berat, tenang, namun penuh wibawa yang mendominasi seluruh ruangan. "Dan kami rasa, sebagai orang tua, sudah kewajiban kami untuk melihat langsung dengan mata kepala sendiri... seperti apa wanita yang telah membuat putra tunggal kami mempertaruhkan segalanya."

Rafa merasakan bulu kuduknya meremang. Ia menarik selimut tipis menutupi tangannya, merasa begitu kecil di hadapan dua raksasa bisnis asal Singapura yang memegang kendali kekayaan internasional tersebut. Meskipun Zaskia sudah tiada, ujian baru yang tidak kalah berat tampaknya kini baru saja dimulai di hadapan pintu kamar perawatannya.

​Sean mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. "Ayah, apa pun yang ingin kalian katakan, katakan padaku di luar. Jangan membuat Rafa tertekan dalam kondisi pemulihannya."

****

Margaret mengangkat sebelah alisnya, menatap putranya dengan senyuman tipis yang tidak mencapai matanya. "Tenanglah, Sean. Kami belum mengatakan apa pun. Kami hanya ingin melihat... apakah wanita di hadapan kami ini benar-benar layak berdiri di samping pewaris keluarga Lee, ataukah dia hanya membawa lebih banyak kehancuran bagi kita semua."

​Suasana di dalam ruangan mendadak menjadi sangat dingin dan menegang. Pertemuan antara keluarga Sasmita yang sederhana dan para penguasa imperium bisnis Lee kini berada di ambang batas ketidakpastian, di mana satu kata saja bisa menentukan apakah masa depan cinta mereka akan menemukan restu, atau justru hancur lebur selamanya.

​Ketegangan yang membeku di dalam ruang VVIP Rumah Sakit Medika Sentral perlahan-lahan mencair, digantikan oleh keheningan yang sarat akan makna. Tuan Waisen Lee masih berdiri dengan postur tubuh yang tegap, sementara Nyonya Margaret menarik napas panjang, melepaskan ekspresi dingin yang sejak tadi menghiasi wajahnya.

Margaret melangkah mendekati sisi ranjang tempat Rafa Sasmita berbaring. Wanita paruh baya berkelas internasional itu menatap lurus ke dalam mata Rafa yang tampak masih menyimpan sisa-sisa kelelahan fisik dan mental. Namun, di balik mata jernih Rafa, Margaret tidak menemukan kepalsuan, ambisi gelap, atau kelicikan seperti yang selama ini digembar-gemborkan oleh laporan-laporan palsu. Yang ada hanyalah ketulusan seorang wanita yang telah bertahan hidup melalui badai paling kejam di dunia.

​"Nona Rafa Sasmita," suara Margaret akhirnya memecah keheningan, terdengar jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Maafkan kedatangan kami yang mendadak, dan maafkan pula jika selama ini pandangan kami terhadapmu dipenuhi oleh prasangka buruk."

1
Ariany Sudjana
puji Tuhan, orang tua shawn sudah menyelidiki kejadian yang sebenarnya dan mereka sudah bisa menerima Rafa sebagai bagian dari keluarga mereka
Ariany Sudjana
terlalu lama dibiarkan si pelacur murahan itu menang, Rafa terlalu lemah
Ariany Sudjana
hah kok ceritanya jadi begini sih? mana Sean lagi di Singapura lagi, ga ada yang tolong Rafa dong
Serena Muna: biar panjang kalo cepet tamat kan sayang🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
kalau kalian masih tidak merestui, berarti kalian percaya dengan semua kebohongan yang disampaikan ervan dan keluarganya
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Rafa sudah bertemu dengan papa dan mamanya, dan orang-orang serakah itu semoga dapat hukuman berat, kalau perlu mati
Ariany Sudjana
skakmat, niat hati mau mengadakan pesta pernikahan meriah, supaya lebih kelihatan seperti orang kaya, ternyata berakhir jadi tahanan kepolisian 🤣🤣😂😂 dasar pelacur murahan kamu itu Zaskia, dan sekarang nikmati kehancuran kalian Zaskia, Nena dan juga Ervan 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
sebaiknya ibu istirahat dulu sampai pulih, ibu tenang dulu. kalau ibu nekat kembali ke jakarta, dengan kesehatan yang belum membaik, bisa repot bu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!