Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Gema jeritan isak tangis Resti masih membekas di udara ruang tengah penthouse mewah tersebut, berpadu dengan sisa-sisa ketegangan yang baru saja tercipta akibat hampir melayangnya sebuah tamparan. Rangga berdiri tegak dengan dada naik-turun menahan amarah, menatap wanita yang dulu sempat dipujanya itu dengan tatapan penuh kejenuhan yang luar biasa.

Resti memeluk kedua bahunya sendiri, air mata membasahi pipinya, namun sorot matanya menyiratkan kobaran kebencian yang mendalam. Ia menudingkan jari telunjuknya dengan gemetar ke arah koridor tempat Rania baru saja menghilang.

"Semua ini salahnya, Rangga!" teriak Resti histeris, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian rumah. "Sejak gadis sialan itu masuk ke dalam rumah ini, kau berubah! Dia telah meracuni pikiranmu! Dia merebut perhatianmu, merusak hubungan kita, dan sekarang kau membentakku demi membela pelacur rumah tangga itu!"

Mendengar tuduhan keji yang dilontarkan Resti tanpa dasar, urat di pelipis Rangga kembali berdenyut menahan geram. Kesabaran sang CEO yang sudah berada di ujung tanduk akhirnya benar-benar meledak.

"Jaga mulutmu, Resti!" bentak Rangga dengan suara menggelegar, membuat wanita itu terperanjat mundur. Rangga melangkah mendekat dengan postur mengintimidasi, matanya menatap tajam penuh tekanan. "Jangan pernah menyamakan Rania dengan dirimu! Dan satu hal yang harus kau ingat: kau sudah lama tahu batasanmu di rumah ini, tapi kau sendiri yang melanggarnya dengan bertindak semena-mena!"

Resti tertegun, napasnya memburu cepat, air matanya semakin deras mengalir karena tidak terima disalahkan. Namun, bukannya mereda, ego Resti justru memicu kecurigaan terbesar yang selama ini mengganjal di dadanya. Wanita itu mendongak, menyeringai sinis di tengah tangisannya, lalu melemparkan tuduhan telak.

"Ah... aku mengerti sekarang," desis Resti tajam, suaranya bergetar penuh kemarahan dan rasa tidak percaya. "Kau membelanya separah ini... karena kau sudah jatuh cinta padanya, kan, Rangga?! Kau sudah jatuh cinta pada Rania!"

Suasana di ruang tengah mendadak membeku seketika.

Kata-kata itu meluncur begitu bebas, menggema di setiap sudut ruangan yang luas. Rangga yang tadinya berniat melanjutkan kalimat tegurannya mendadak terpaku di tempat. Tubuhnya menegang kaku, seolah telah mengetahui isi harta karun one piece.

Jatuh cinta? Pada Rania?

Otak Rangga berputar keras menolak pengakuan itu, namun sekujur tubuhnya justru berkhianat. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, dan tenggorokannya mendadak kelat. Rangga ingin membantah, ia ingin melontarkan kalimat sangkalan dengan nada angkuh seperti biasanya untuk membuktikan bahwa Resti salah besar.

Namun, sialnya... bibir Rangga terkunci rapat. Lidahnya terasa kelu.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Rangga tahu persis bahwa tuduhan itu bukanlah omong kosong. Jawabannya adalah ya. Sisa-sisa keraguan di dadanya runtuh seketika; dia memang telah jatuh cinta pada istrinya sendiri. Dan kenyataan bahwa dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun bantahan membuat Resti terperanjat ngeri, menyadari bahwa dugaannya selama ini sepenuhnya benar.

Sementara pertengkaran hebat dan ketegangan psikologis itu masih membara di dalam ruang tengah, suasana di luar penthouse justru bersiap menyambut sebuah pemandangan yang sama sekali di luar nalar dunia perkantoran elit.

Di balkon taman rooftop privat yang terhubung langsung dengan kamar sudut, Rania berdiri mematung sambil memegang kedua telinganya sejenak, mendengar samar-samar suara teriakan dari ruang tengah. Alih-alih merasa sedih, tersiksa, atau ingin ikut campur dalam drama murahan tersebut, Rania justru menarik napas panjang, menghembuskannya kasar, lalu memutar bola matanya malas.

"Lagi-lagi drama tangis-tangisan. Lama-lama kupingku bisa budeg dengar ratapan mereka berdua," gumam Rania jengah.

Ia merasa sangat bosan dengan segala intrik di dalam rumah ini. Alih-alih meratapi nasib atau berdiam diri di kamar, Rania mendadak memiliki ide brilian yang dijamin akan merusak ketenangan para pencinta drama tersebut.

Beberapa menit kemudian, sebuah perangkat Sound Horeg portabel berukuran raksasa—yang entah kapan dibelinya untuk keperluan senam atau iseng—sudah berdiri kokoh di tengah taman rooftop. Sebuah microphone nirkabel digenggam erat di tangan kanannya. Rania menyambungkan ponselnya ke pengeras suara, memilih daftar putar yang paling spektakuler di malam hari yang cerah ini.

Klik!

Tanpa aba-aba, volume Sound Horeg disetel pada tingkat maksimum. Dentuman bass yang dahsyat langsung menggetarkan kaca-kaca jendela penthouse seketika.

Suara musik dangdut koplo berketukan cepat membahana, menggelegar ke seluruh penjuru penthouse dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan iman para tetangga lantai bawah. Dan dengan penuh percaya diri, Rania mulai mendekatkan mic ke bibirnya, bernyanyi dengan suara melengking penuh penghayatan jiwa:

“Begadang jangan begadang... Kalau tiada artinya... Begadang boleh saja... Kalau ada perlunya...!”

Suara Rania melengking menggelegar menembus dinding kedap suara, merusak perdebatan sengit antara Rangga dan Resti di ruang tengah. Sontak, Rangga dan Resti langsung menghentikan pertengkaran mereka. Keduanya spontan menutup kedua telinga mereka rapat-rapat menggunakan tangan, meringis kesakitan karena gelombang suara yang teramat bising menghantam gendang telinga mereka.

Apa gak budeg kuping orang-orang di dalam rumah?!

Belum sempat Rangga memulihkan keseimbangannya dari terpaan lagu dangdut, Rania di luar balkon mendadak mengubah genre musiknya dalam sekejap mata. Bunyi ketukan jedag-jedug khas K-Pop menggantikan alunan dangdut koplo.

“OH YEAAHHHHHH!” teriak Rania lewat mic dengan suara semangat empat lima, seolah dia sedang konser tunggal di stadion utama Gelora Bung Karno.

“BLACKPINK in your area! Ah yeah, ah yeah! Hit you with that ddu-du ddu-du du!”

Tidak berhenti sampai di situ, Rania mendadak menyelipkan jargon khas dunia maya kesayangannya dengan penuh gaya:

“KICAU! KICAU! KICAU MANIA... Sungguh ter-la-lu!”

Di dalam ruang tengah, Rangga dan Resti saling berpandangan dengan wajah pucat pasi, meringis menahan pusing akibat serangan audio ganda yang dilancarkan oleh sang nyonya rumah.

Merasa penasaran dengan reaksi mereka, Rania melangkah pelan dari balkon menuju pintu kaca transparan yang menghubungkan taman dengan ruang tengah. Dengan gaya berjalan bak model papan atas yang sedang catwalk di Paris Fashion Week, Rania menghentikan musiknya sejenak.

Wanita itu berdiri di ambang pintu kaca, menatap ke arah Rangga dan Resti yang berdiri berdampingan dengan ekspresi wajah datar, kusut, dan setengah tuli.

Dengan gerakan dramatis, Rania mengibaskan rambut panjangnya ke belakang bahu. Tangannya merogoh saku kardigan rajutnya, mengeluarkan sepasang kacamata hitam gaya matrix yang entah dari mana ia dapatkan, lalu mengenakannya di batang hidungnya dengan penuh gaya di bawah temaram lampu malam.

Rania memajukan sedikit bibirnya, memasang ekspresi manja ala princess negeri dongeng, lalu berucap dengan suara yang dilembut-lembutkan secara berlebihan:

"Kenawhy akyu cuantik yaaa...?" ujar Rania dengan nada sok imut yang menggelikan, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Sampai-sampai kalian terpesyona dengankyu... terpesona melihat kecantikan hakiki seorang permaisuri di istana ini, kan? Uhuy!"

Melihat pemandangan di hadapannya itu—bagaimana seorang wanita berpendidikan dan berkelas mendadak bertingkah laku absurd bagaikan monyet lepas kandang yang baru dibebaskan dari kebun binatang—otak Rangga benar-benar berhenti berproses. Ekspresi wajah Rangga berubah drastis dari tegang menjadi sangat datar, melongo tidak percaya melihat kelakuan absurd istrinya.

Sementara Resti di sebelah Rangga sudah memegang perutnya karena enek melihat tingkah tidak tahu malu tersebut.

Di dalam hati kecil Rangga dan Resti secara bersamaan, muncul dorongan refleks yang sama persis: Mereka berdua langsung berbalik arah, membungkuk sedikit, dan pura-pura muntah di sudut ruangan karena tidak sanggup menahan rasa geli dan jijik melihat aksi panggung dadakan ala Rania yang sukses membuat kewarasan seluruh penghuni penthouse hancur berkeping-keping malam itu.

Aku nulisnya sesuai dengan apa yang aku pikirkan jadi maaf kalo agak gak nyambung hehe. Jangan lupa like ya😉

1
Ketoprak Encok
maaf aja nih kak, otak aku emang buntu banget, dari bab 27 makanya aku cepetin aja namatin cerita ini. tapi thanks kak udah luangin waktunya buat baca
Forta Wahyuni
koq kacau balau novelnya thor, alurnya simpang siur n apa jiplakan.
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!