Indonesia
NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 : KEPUTUSAN YANG TAK BISA DIPAKSA

...BAB 34...

...KEPUTUSAN YANG TAK BISA DIPAKSA...

Makan malam berakhir, tapi Reyga makin tidak nyaman. Setelah makan malam, Darmawan dan Armand membicarakan rencana hubungan kedua keluarga secara lebih serius.

“Kalau anak-anak memang cocok, kita tidak perlu terburu-buru. Biarkan mereka saling mengenal.”

Alessia justru sangat bahagia dan menganggap itu sebagai tanda bahwa hubungannya dengan Reyga mendapat restu keluarga. Sementara Reyga hanya bisa terdiam.

****

Pukul 23.00, setelah berpamitan pulang dengan keluarga Alessia. Reyga sudah berjalan keluar duluan menuju mobilnya. Wajahnya masih terlihat tenang, tetapi pikirannya penuh dengan kejengkelan.

Ia baru saja hendak membuka pintu mobil ketika suara Darmawan terdengar dari belakang.

“Reyga.”

Langkah Reyga terhenti. Ia menoleh.

Darmawan berdiri beberapa meter darinya dan di sampingnya Rosa yang memandang sendu pada putra kesayangannya.

“Kamu seharusnya bersyukur,” ucap Darmawan tenang. “Alessia bukan perempuan sembarangan.”

Reyga menatap ayahnya tanpa ekspresi.

“Aku nggak pernah meminta Ayah untuk menjodohkanku.”

Kening Darmawan sedikit berkerut. “Ini bukan sekadar soal perasaan.”

“Memang.” Reyga tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana. “Buat Ayah, semuanya selalu soal bisnis.”

Darmawan terdiam.

“Keluarga Tuan Armand punya perusahaan besar. Dan Ayah ingin hubungan keluarga kita semakin dekat. Itu sebabnya Ayah menyuruhku datang malam ini, kan?”

“Kamu terlalu banyak berpikir.”

“Aku bukan anak kecil lagi, Yah.” Nada suara Reyga tetap rendah, tetapi jelas terdengar menahan emosi.

“Kalau Ayah ingin bekerja sama dengan keluarga Alessia, silakan. Tapi jangan menggunakan aku sebagai bagian dari kesepakatan.”

Darmawan menatap putranya tajam. “Kamu pikir hidupmu hanya tentang apa yang kamu inginkan?”

“Setidaknya tentang siapa yang ingin aku cintai,” angguk Reyga. "Ya..."

Kalimat itu membuat Darmawan terdiam beberapa detik.

Reyga membuka pintu mobil. Namun sebelum masuk, ia kembali menatap ayahnya.

“Dan satu lagi.” ucap Reyga. Darmawan kembali berkerut.

“Jangan mengatur hidupku hanya karena Ayah sudah menghentikan semua fasilitas yang dulu Ayah kasih.”

Raut wajah Darmawan mengeras. “Kalau bukan karena fasilitas itu, apa kamu bisa bertahan?”

Reyga tersenyum hambar. “Aku pasti bisa, dan aku akan selalu cari cara.”

Setelah mengatakan itu, Reyga masuk ke mobil. Pintu tertutup.

Darmawan hanya berdiri memandang mobil putranya yang perlahan meninggalkan halaman. Wajahnya sulit dibaca. Sementara Rosa mengusap air matanya, sedih karena Reyga tidak pernah pulang lagi sejak saat itu.

*****

Reyga pulang larut malam ke apartemen Berry tepatnya tengah malam.

Begitu membuka pintu, ia melihat Amelia tertidur di sofa ruang TV sambil memangku Bintang.

Amelia ternyata menunggu Reyga pulang. Reyga terdiam melihat pemandangan itu.

Bintang tidur di dada Amelia, sedangkan Amelia sendiri tertidur dalam posisi duduk dan kepalanya miring bersandar di kepala sofa.

Reyga pelan-pelan mengambil Bintang dari pelukan Amelia agar Amelia bisa tidur lebih nyaman.

Setelah membaringkan Bintang di tempat tidur kamarnya, tanpa sadar dia mengambil selimut di lemari dan menyelimuti Amelia.

Paginya, Amelia terbangun dengan selimut yang sudah menutupi tubuhnya, dan tersadar kalau Reyga sudah pulang.

Ia terkejut, Reyga sudah duduk di samping Amelia. Lelaki itu sedang menyesap kopi sambil memainkan ponselnya. Tanpa membangunkannya, mungkin sejak tadi pagi.

Wajah lelaki itu terlihat lelah. Mungkin sejak kepulangannya di rumah Alessia semalam dia tidak tidur.

Amelia melihat jam didinding sudah menunjukkan 6 pagi. Ia lekas merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menoleh. “Makan malamnya semalam, menyenangkan?” tanyanya.

Reyga menjawab sambil terus fokus menatap layar ponselnya. “Nggak terlalu.”

Amelia sedikit lega, tetapi pura-pura biasa. "Oh."

Kemudian Reyga berkata sambil menyenderkan kepalanya. “Ternyata makan malamnya bukan cuma makan.”

Amelia kembali menoleh, langsung penasaran. "Maksudnya?"

Reyga meletakkan ponselnya di atas meja. “Ternyata. Orang tua gue sama orang tua Alessia sudah merencanakan semuanya.”

Amelia mengernyit. “Merencanakan apa?”

“Menjodohkan gue sama Alessia.” jawab Reyga terlihat nada kesal dari suaranya.

Amelia sesaat terdiam. Seketika rasa lega yang tadi muncul menghilang. “Oh...” Ia berusaha tersenyum. “Waah, kalau begitu... selamat, ya.”

Reyga langsung mengernyit. “Selamat apanya?”

“Iya.” Amelia mengangguk cepat. “Alessia kan suka sama kamu.”

Reyga menatap Amelia beberapa detik. “Terus?”

Amelia mengangkat bahu. “Ya... bagus dong.”

“Bagus dari mana?”

Amelia terdiam.

Reyga menyandarkan lagi tubuhnya ke sofa. “Gue nggak pernah minta dijodohkan.”

Senyum Amelia perlahan memudar. “Oh.”

“Gue bahkan baru tahu kalau mereka sudah merencanakannya"

Amelia memainkan ujung bajunya. “Terus kamu menolaknya?”

Reyga menatap Amelia. “Menurut lo?”

Amelia tidak menjawab. Entah kenapa, ia takut mendengar jawabannya.

Reyga kemudian berkata pelan. “Gue bilang sama bokap, kalau gue nggak mau hidup gue diatur seperti itu.”

Amelia menatapnya diam-diam. Untuk pertama kalinya pagi itu, senyum kecil muncul di wajahnya. Namun ia segera menunduk agar Reyga tidak melihatnya.

Reyga justru memperhatikan perubahan ekspresi Amelia. “Kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Lo kelihatan senang.”

Amelia langsung menggeleng. “Nggak.”

Reyga menyipitkan mata. “Bohong.”

Amelia buru-buru berdiri. “Aku mau lihat Bintang.”

Namun baru dua langkah, suara Reyga membuatnya berhenti. “Amelia.”

Ia menoleh. Reyga tersenyum tipis. “Gue belum selesai ngomong.”

Amelia menatapnya dengan gugup. “Apa lagi?”

“Gue nggak tahu kenapa, tapi gue merasa lebih tenang setelah cerita sama lo.”

Amelia terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Namun sebelum ia sempat menjawab, dari kamar terdengar suara Bintang mulai mengoceh.

Amelia langsung tersenyum. “Bintang sudah bangun.” Ia buru-buru masuk kamar.

Reyga memperhatikannya pergi. Kemudian tanpa sadar tersenyum kecil. “Kenapa setiap kali gue cerita sama dia... rasanya jadi lebih ringan?” gumamnya.

Di kamar, Amelia menggendong Bintang sambil menahan senyum.

Ia tahu seharusnya dirinya tidak berharap apa-apa. Karena Reyga sudah jelas akan menjadi pusat perhatian keluarga Alessia.

Tetapi pagi itu, untuk pertama kalinya, Amelia merasa sedikit lega.

Setidaknya Reyga tidak menyambut perjodohan itu dengan bahagia. Dan tanpa disadarinya, harapan kecil mulai tumbuh di dalam hatinya.

****

Siang hari setelah mereka sarapan. Reyga baru saja selesai menceritakan soal perjodohan yang sedang direncanakan keluarganya dengan Alessia kepada Berry.

Suasana ruang tengah yang tadinya santai mendadak berubah.

Berry yang sejak tadi mendengarkan sambil ngemil langsung membulatkan mata.

“Wah!”

Reyga menoleh curiga. “Apanya yang wah?”

Berry berdiri dari sofa dengan wajah penuh kegembiraan. “Selamat, untuk calon mantan jomblo!”

Sebuah bantal langsung melayang ke arahnya.

Puk!

Bantal tepat mengenai wajah Berry.

“Diam!” bentak Reyga.

Berry menangkap bantal itu sambil tertawa. “Kenapa gue yang kena? Gue kan cuma memberi ucapan selamat.”

“Ucapan selamat apaan?”

“Ya selamat. Sebentar lagi status lo berubah dari jomblo menjadi calon suami anak orang.”

“Belum tentu gue nikah sama dia!”

Berry mengangguk-angguk sok bijaksana. “Oh, jadi masih tahap pendekatan?”

“Bukan!”

“Tunangan?”

“Bukan!”

“Lamaran?”

“BERRY!”

Berry langsung terkekeh.

Sementara itu Amelia yang duduk di sisi lain sofa hanya diam, berusaha fokus menemani Bintang yang sedang main mainannya.

Sejak Reyga menceritakan perjodohan itu, ekspresinya memang tidak banyak berubah. Namun, entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak.

Berry yang sudah hafal betul kebiasaan sahabatnya itu tiba-tiba melirik Amelia. Kemudian senyumnya berubah jahil. “Tapi…”

Reyga menyipitkan mata. “Apa lagi?”

Berry menunjuk Amelia dengan matanya. “Kalau Reyga nikah sama Alessia, berarti lo kehilangan pekerjaan dong?” sahut Berry pada Amelia.

Amelia langsung terdiam. “Hah?”

Berry mengangkat bahu. “Ya iya. Selama ini siapa yang sering dimintai bantuan jagain Bintang?”

Amelia menatap Bintang. Berry melanjutkan dengan santai. “Kalau Reyga punya istri, nanti istrinya yang jagain Bintang. Lo berarti sudah nggak diperlukan lagi.”

Ucapan sederhana itu justru membuat Amelia terdiam lebih lama.

Reyga yang semula hendak menyemprot Berry ikut memperhatikan Amelia. “Mel…”

Amelia buru-buru tersenyum. “Nggak apa-apa. Itu justru bagus kan...”

Berry menyeringai. “Lihat? Baru gue bilang kehilangan pekerjaan, mukanya langsung berubah.”

“Berry,” tegur Reyga.

“Apa?”

“Jangan cari masalah.”

“Gue cuma ngomong fakta.”

Amelia mencoba tertawa kecil. “Lagipula aku memang cuma bantu karena Bintang butuh orang yang bisa menjaganya. Kalau nanti Reyga menikah, ya tentu saja berbeda.”

Kalimat terakhir itu terdengar ringan. Terlalu ringan. Padahal dalam hati Amelia sendiri, ada sesuatu yang mengganjal. Perih.

Selama beberapa waktu terakhir, ia mulai terbiasa dengan kekacauan kecil di rumah itu.

Terbiasa mendengar suara Reyga yang mengomel ketika Bintang menangis.

Terbiasa melihat Berry panik ketika harus mengganti popok.

Terbiasa melihat Reyga yang sebenarnya sangat perhatian meski selalu berusaha terlihat cuek.

Dan tanpa Amelia sadari, ia juga mulai merasa nyaman berada di dekat mereka.

Bahkan bersama Bintang. Anak kecil itu membuat rumah yang tadinya terasa asing menjadi lebih hangat.

Amelia menunduk sebentar. Mungkin memang sebentar lagi semuanya akan berubah.

Berry tiba-tiba berbisik kepada Reyga.

“Gue curiga.”

“Curiga apa?”

Berry melirik Amelia lagi, lalu kembali menatap Reyga. “Kayaknya ada orang yang nggak suka kalau lo nikah.”

Reyga mengerutkan dahi. “Siapa?”

Berry menunjuk Amelia dengan dagunya.

Amelia langsung menoleh. “Kenapa kalian berdua lihat aku?”

Berry langsung pura-pura sibuk mengambil keripik. “Nggak lihat siapa-siapa.”

Reyga menatapnya tajam. “Berry.”

“Iya?”

“Jangan mulai.”

Berry terkekeh. “Gue belum mulai, gue baru pemanasan.”

Amelia menghela napas. “Kalian berdua memang nggak bisa serius sedikit?”

Berry menjawab cepat. “Bisa.”

“Serius?” tegas Amelia.

“Bisa banget.”

Berry lalu memasang wajah serius. “Kalau Reyga menikah, gue minta jadi pendamping pengantin.”

Reyga melempar bantal lagi. "Berry berhenti!"

Berry tertawa sambil berlari menghindar. “Kenapa?! Gue cocok pasti pakai jas!”

“Sana masuk saja kamarmu!” sungut Reyga.

Amelia akhirnya ikut tertawa. Namun ketika tawanya berhenti, matanya kembali jatuh pada Bintang. Ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan.

Dan untuk pertama kalinya, Amelia menyadari satu hal yang membuatnya takut.

Ia ternyata tidak yakin siap kehilangan semua ini. Jika memang nanti, Reyga benaran akan menikah...

Bersambung...

1
Lisa
Wah Bintang dapat dikenali org³ nih..moga aj g ada yg ngaku sbg ortunya..
Lisa
Alessia akhirnya tau tuh klo Reyga suka sama Amel
Kam1la
apa yang akan terjadi setelahnya...
Kam1la
Alesia kebakaran jenggot
Lisa
Oo jadi Darmawan mengira Bintang adalah anak dr Reyga & Amel..kalian harus lebih berhati²
Lisa
Aneh banget si Darmawan ini..ditanya alasannya menculik Amel dia g mau mengatakannya..
Kam1la
lanjutkan kak...
Kam1la
dobrak aja pintunya...💪
Lisa
Reyga harus menjelaskan pd papanya tentang hubungannya dgn Amel.
Lisa
ya nih ayo Reyga cpt cari Amel
Lisa
Ya tuh pasti papanya Reyga yg nyulik Amel..ayo Reyga cpt temukan Amel.
Kam1la
mulai naik nih tensi ketegangan dalam keluarga. Dermawan semoga sadar ya, dengan pemaksaan justru semakin membuat Reyga menjauhinya
Kam1la
lapor polisi.... ! atau cari tahu lewat CCTV 🤭
Kam1la
mulai deg-degan ini, mau diapain ya Amelia....ini ulah nya papanya Reyga
Kam1la
honey....!! panggilan yang so sweet
Kam1la
seru banget.... sekarang 1 apartemen dihuni banyak orang dan penuh kegembiraan
Mita Paramita
semoga hubungan mereka direstui keluarga masing-masing 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 😈😈😈
Kayla Rane: siaaP ❤️😍
total 1 replies
Lisa
Lanjut donk Kak..makin seru aj nih..😊
Lisa
Ceritanya menarik banget 👍👍
Kayla Rane: terimakasih Kak Lisaaa❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!