Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.
Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.
Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
031
Sebuah sedan hitam mewah beratap rendah meluncur pelan memasuki gerbang besi berukir megah milik Mansion Valerio-Desmon.
Cahaya lampu taman yang temaram menerangi air mancur marmer di halaman depan, menyambut kedatangan Lynzzie dengan keanggunan yang mengintimidasi.
Lynzzie melangkah keluar dari mobil dengan gaun kasual bermotif bunga lembut yang sangat sopan dan tertutup. Tangannya memeluk erat sebuah tas laptop dan tumpukan buku hukum tebal.
Jantungnya berdegup bagaikan genderang perang. Setiap jengkal marmer yang ia pijak di dalam lorong utama mansion terasa seperti jebakan yang siap menelannya hidup-hidup.
Di ruang tengah yang luas, Aurora Desmon tampak sedang duduk santai meminum teh herbalnya. Sementara di sebelahnya, Celestia sedang sibuk mengunyah camilan sembari menonton televisi.
Langkah kaki Draco yang tegap menuntun Lynzzie mendekati area ruang keluarga. Pria muda itu bersikap sangat tenang, seolah tak ada beban sedikit pun di pundaknya.
"Mom, ini Lynzzie," ujar Draco datar, suaranya tenang tanpa ada getaran emosi berlebih. "Dia mentor belajar yang kuundang untuk membantuku memahami beberapa materi perkuliahan malam ini."
Lynzzie membungkuk sopan dengan senyuman canggung yang dipaksakan. "Selamat malam, Tante. Maaf mengganggu waktunya."
Aurora mendongak, matanya yang teduh menatap Lynzzie dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seulas senyum hangat terukir di wajah sang ratu Desmon. "Selamat malam, Sayang. Sama sekali tidak mengganggu. Senang sekali ada Teman kuliah Draco yang mau datang dan belajar bersama di sini."
Celestia, yang semula berniat memamerkan raut wajah menyebalkannya karena menduga gadis yang datang adalah Bianca, mendadak melongo. Matanya membelalak menatap Lynzzie dari atas sampai bawah.
Gadis di hadapannya ini sama sekali tidak memakai riasan tebal. Parasnya sangat alami, cantik, manis, dan memancarkan aura mahasiswi pintar yang sangat bersahaja.
"Wah..." Celestia bergumam tanpa sadar, memajukan tubuhnya. "Kak Lynzzie cantik banget! Kulitnya bersih, gaunnya juga manis banget. Beda banget sama senior yang suka pakai riasan tebal itu!"
Mendengar pujian spontan dari adiknya, sudut bibir Draco terangkat tipis. Tanpa disadari oleh siapa pun—kecuali oleh Aurora yang mengawasinya dengan cermat—kedua pelipis dan daun telinga Draco mendadak memerah halus.
Pria yang biasanya sedingin es itu tampak salah tingkah secara terselubung saat gadis pilihan rahasianya dipuji secara terbuka.
Aurora menyandarkan punggungnya di sofa, menyesap tehnya sembari memperhatikan binar mata Draco.
Pria itu menatap Lynzzie dengan pandangan mata yang sangat dalam, penuh kehangatan yang dipendam rapat, dan kepemilikan yang teramat kental—sebuah tatapan yang belum pernah Aurora lihat dari putranya saat bersama wanita mana pun.
Aurora tersenyum penuh arti di dalam hatinya. Sang mommy tahu persis, anak laki-lakinya sedang jatuh cinta, meski egonya yang setinggi langit menolak mengakuinya.
"Nah, kalau begitu kalian belajar di meja besar sana ya," ujar Aurora lembut. "Celestia, jangan mengganggu mereka."
"Aku ikut belajar, Mom! Mau lihat seberapa pintar Kak Lynzzie!" seru Celestia antusias, langsung menyambar buku tugasnya dan berpindah duduk di meja kayu jati yang panjang.
Lynzzie menarik kursi dan duduk di tengah, diapit oleh Celestia di sisi kirinya dan Draco di sisi kanannya.
Sesi belajar pun dimulai. Lynzzie dengan sangat profesional mulai menjelaskan beberapa poin teori hukum yang terhubung dengan kasus ekonomi bisnis. Suaranya yang merdu dan penjelasannya yang sangat runtut membuat Celestia berulang kali mengangguk terpukau.
Namun, ketenangan Lynzzie sama sekali tidak bertahan lama.
Di bawah meja besar berlapis kain linen tebal itu, jemari tegap Draco mulai bergerak liar. Tangan pria itu secara terang-terangan menyusup ke bawah gaun Lynzzie, mengusap paha mulusnya dengan usapan berani dan berisiko tinggi.
Napas Lynzzie tercekat di tenggorokan.
Wajahnya yang semula memerah karena fokus menjelaskan materi, kini makin membara karena kepanikan yang membakar. Dari balik lipatan kain di atas meja, tangan kiri Lynzzie bergerak cepat turun ke bawah. Dengan sekuat tenaga, jemari lentiknya mencubit pinggang keras Draco dan memelintirnya tanpa ampun.
"Ssshh..." Draco meringis sangat pelan, namun jemarinya justru makin berani meremas lembut kulit paha Lynzzie.
Lynzzie memutar kepalanya sedikit ke arah Draco, menatap pria itu dengan mata membelalak lebar dan gigi yang berkeretak kaku. Ia berbisik sangat pelan dengan nada penuh ancaman, "Nanti dilihat adikmu!"
Bukannya takut atau menghentikan aksinya, Draco justru bertingkah sangat gila. Pria itu menyandarkan punggungnya secara santai, menoleh ke arah adiknya di sebelah kiri tanpa melepaskan tangannya dari bawah gaun Lynzzie.
"Les," panggil Draco dengan suara bass-nya yang santai. "Apa kau melihat sesuatu di bawah meja?"
Celestia yang sedang sibuk mencoret-coret kertas catatannya bahkan tidak mengangkat kepalanya. Gadis itu menyahut dengan nada malas dan menyebalkan, "Tidak! Aku kan buta! Lagipula aku lagi fokus mendengarkan penjelasan Kak Lynzzie, jangan ganggu!"
Lynzzie nyaris menenggelamkan wajahnya ke dalam buku tebal di hadapannya. Rasa malu dan adrenalin yang memacu darahnya membuat tangannya makin kencang mencubit pinggang Draco hingga pria itu akhirnya menarik tangannya sembari terkekeh tanpa suara.
Permainan gila dan kucing-kucingan di bawah meja itu terus berlanjut diiringi canda tawa dan sesekali ejekan konyol dari Celestia. Tanpa terasa, waktu bergulir dengan sangat cepat.
Suasana malam makin larut, hingga jarum jam dinding berdentang pelan menunjukkan tepat jam 11 malam.
Pintu ruang keluarga terbuka pelan. Aurora, yang rupanya sempat tertidur lebih cepat di kamarnya karena lelah, melangkah keluar dengan gaun tidur sutra yang anggun untuk mengambil segelas air hangat.
Namun, langkah sang mommy mendadak terhenti saat melihat lampu ruang belajar masih menyala terang. Ia cukup terkejut mendapati anak-anaknya masih belum tidur, dan mahasiswi cantik itu ternyata belum diantar pulang.
"Astaga, kalian belum tidur?" tanya Aurora terkejut, melangkah mendekati meja belajar.
Lynzzie seketika berdiri tegak dengan canggung, merapikan gaunnya. "Maafkan saya, Tante... kami terlalu asyik belajar sampai lupa waktu. Saya akan segera pamit pulang—"
"Kenapa Lynzzie belum kamu antar pulang, Son?" potong Aurora menatap putra sulungnya dengan alis bertaut. "Ini sudah jam sebelas malam. Sangat berbahaya untuk seorang gadis pulang sendirian jam segini."
Draco bersandar santai di kursinya, merapikan pena mahal di tangannya, lalu menjawab dengan nada keputusan mutlak yang tak bisa dibantah oleh siapa pun:
"Dia akan menginap di kamar Celestia malam ini."
"Menginap?"
Suara Aurora dan Celestia meluncur secara bersamaan, memecah keheningan malam yang mulai mendingin di dalam ruang keluarga tersebut. Celestia membelalakkan matanya dengan napas tertahan, sementara Aurora berdiri mematung di dekat meja, menatap putra sulungnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Draco tidak langsung menjawab.
Pria muda itu perlahan berdiri dari kursinya, menegakkan postur tubuhnya yang jangkung dan tegap. Manik matanya yang pekat bergulir, menatap lurus ke arah sang ibu dengan ketenangan yang luar biasa—ketenangan yang justru menyimpan kebenaran yang selama ini sengaja disembunyikan di balik tirai kegelapan.
"Dia kekasihku, Mom," ucap Draco. Suaranya terdengar begitu rendah, berat, dan tanpa keraguan sedikit pun. "Jadi wajar dia menginap di sini. Aku tidak menyuruhnya tidur di kamarku, jadi tenang saja."
Deg.
Kata-kata itu meluncur bagaikan dentang lonceng tua yang bergema di sudut-sudut Mansion Valerio-Desmon. Kalimat yang singkat, namun sanggup meremukkan ruang keheningan di antara mereka.
Di balik wajah anggunnya yang tenang, dada Aurora bergemuruh hebat. Hatinya seperti dihantam oleh kebenaran yang tak terelakkan.
Sejak awal—sejak detik pertama Lynzzie melangkahkan kaki melewati pintu depan mansion ini— Aurora sudah menebak ada rahasia besar di antara mereka.
Binar mata Draco yang tidak pernah berbohong, kemerahan halus di pelipis putranya saat gadis itu dipuji, serta tatapan kepemilikan yang teramat dalam dan protektif yang dipancarkan oleh iris cokelat gelap milik Draco, semuanya sudah cukup menjadi jawaban bagi naluri seorang ibu.
Namun, mendengar pengakuan secara langsung dari bibir putranya sendiri... rasanya benar-benar berbeda.
Ada kehangatan yang menyeruak di hati Aurora, namun bersamaan dengan itu, ada rasa perih dan keharuan yang menusuk jiwanya.
Selama bertahun-tahun, Aurora menyaksikan bagaimana Draco tumbuh menjadi pribadi yang dingin, keras, dan seolah membentengi dirinya dari kehangatan cinta yang tulus.
Putranya selalu berpura-pura bahagia di tengah kemewahan dan fana-nya kebebasan malam. Namun malam ini, di bawah remang lampu kristal mansion, Aurora melihat putranya mengakui seorang wanita dengan raut wajah yang sungguh-sungguh—sebuah keberanian yang tak pernah Draco tunjukkan untuk wanita mana pun sebelumnya, termasuk untuk Bianca.
‘Putraku... akhirnya kau menemukan tempat di mana hatimu ingin pulang,’ bisik Aurora dalam benaknya yang sunyi. Mata anggun sang ibu perlahan berkaca-kaca, menatap Draco dan Lynzzie bergantian dengan pusaran emosi yang tak terucapkan.
Sementara itu, di samping Draco, Lynzzie mematung sempurna. Tubuhnya kaku bagaikan patung lilin. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan wajahnya pucat pasi bercampur rona merah yang membakar.
Jantung Lynzzie berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengar suaranya sendiri.
Di dalam benaknya yang kacau, rasa takut, keputusasaan, dan getir bercampur menjadi satu. Selama satu tahun ini, ia menganggap dirinya tak lebih dari sekadar tawanan—seorang gadis malang dari latar belakang kotor yang terikat oleh rantai ancaman sang pangeran Desmon. Ia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa Draco hanya memanfaatkannya, menjadikan tubuhnya sebagai tempat pelampiasan rasa bosan dari dunianya yang penuh ekspektasi.
Namun, mengapa kalimat "Dia kekasihku, Mom" yang baru saja diucapkan Draco terdengar begitu nyata?
Mengapa nada suara pria gila itu tidak menyiratkan kebohongan atau main-main?
Lynzzie menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap jemarinya sendiri yang gemetar di atas pangkuan gaun elegannya.
Air mata yang hangat dan tipis tergenang di sudut matanya, menahan rasa sesak yang menghimpit dada. Ia merasa seperti seorang penipu yang tiba-tiba diseret ke tengah-tengah kehangatan keluarga raja yang tidak seharusnya ia sentuh. Ia takut pada kedamaian ini. Ia takut pada senyuman hangat Aurora. Dan yang paling ia takuti adalah... jika suatu saat nanti, kebenaran tentang ayahnya yang Seorang narapidana terungkap, Apa Draco Tetap mengakuinya sebagai seorang kekasih? Atau meremukkan semua kehangatan palsu yang baru saja tercipta malam ini.
Celestia yang semula heboh, kini ikut bungkam.
Gadis muda itu menatap kakak laki-lakinya dan Lynzzie secara bergantian dengan tatapan yang berubah lembut.
Keheningan yang melingkupi ruangan itu bukan lagi tentang amarah atau ejekan konyol, melainkan keheningan pekat yang sarat akan kepasrahan, cinta yang terselubung, dan takdir dua insan dari dunia yang berbeda.
"Baiklah..." bisik Aurora akhirnya, break ketegangan sunyi itu dengan suara parau yang amat lembut. Sang ibu melangkah mendekat, mengusap lelah bahu Draco sebelum menatap Lynzzie dengan binar mata seorang ibu yang menerima penuh ketulusan.
"Kamar tamu di sebelah kamar Celestia sudah siap. Tapi jika kau lebih nyaman tidur di kamar Celestia, menginaplah di sana malam ini, Lynzzie. Di sini... kau aman, Sayang."
Lynzzie mengangkat wajahnya yang bergetar, menatap Aurora yang tersenyum padanya. Di sudut ruangan yang remang, Draco berdiri menatapnya tanpa kata—tatapan dingin yang malam ini menjelma menjadi pelindung tak kasat mata di tengah gelapnya takdir yang menanti mereka di luar sana.