Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan di pagi hari di pulau Dewata
Pagi itu datang dengan lembut, seolah takut mengusik keheningan yang sedang mereka nikmati. Cahaya matahari yang masih muda menyelinap masuk melalui celah tirai kaca, membentuk garis-garis keemasan di atas seprai putih yang berantakan. Di luar, kabut tipis masih menyelimuti lembah, membuat pemandangan di balik jendela tampak seperti lukisan yang belum selesai.
Alina terbangun lebih dulu. Matanya masih semi terpejam ketika ia merasakan berat lengan Devan yang melingkari pinggangnya dari belakang. Napas suaminya teratur dan dalam, dada yang kokoh naik-turun menempel di punggungnya. Kulit mereka masih telanjang, saling menempel setelah malam sebelumnya. Bau tubuh Devan, campuran cendana, keringat tipis, dan sesuatu yang sangat familiar, membuat Alina tersenyum kecil di bantal.
Ia tidak segera bergerak. Sebaliknya, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan itu. Jari-jarinya menyusuri lengan Devan yang berotot, merasakan urat-urat yang menonjol di bawah kulit, lalu naik ke punggung tangan yang sedang tergeletak di perutnya. Semalam terasa seperti mimpi yang terlalu nyata. Ciuman yang dalam, sentuhan yang tidak tergesa-gesa, dan cara Devan menatapnya seolah ia adalah satu-satunya hal yang penting di dunia.
Beberapa menit kemudian, Devan menggerakkan tubuhnya. Ia mengubur wajah lebih dalam di lekuk leher Alina, menghirup aroma rambut istrinya yang masih sedikit basah oleh keringat malam. “Kamu sudah bangun,” gumamnya serak, suaranya masih tebal oleh tidur.
“Baru sebentar,” jawab Alina pelan. “Aku tidak mau mengganggumu.”
Devan tertawa kecil, getarannya terasa di dada Alina. “Kamu tidak pernah mengganggu.” Ia memutar tubuh Alina perlahan hingga mereka saling berhadapan. Mata mereka bertemu. Di pagi yang sepi itu, tidak ada topeng, tidak ada gelar, tidak ada beban perusahaan. Hanya seorang pria dan istrinya yang sedang saling menatap seolah baru saja menemukan satu sama lain.
Devan mengusap pipi Alina dengan ibu jari, gerakan yang sangat lembut. “Tidurmu nyenyak?”
“Lebih nyenyak dari yang pernah kurasakan sejak lama,” akunya. “Kamu?”
“Aku tidak banyak tidur,” jawab Devan jujur. “Aku mengawasimu. Menonton napasmu. Memastikan ini semua nyata.”
Alina merasa dadanya menghangat. Ia meraih tangan Devan, mengecup telapaknya, lalu menaruhnya di pipinya sendiri. “Ini nyata. Aku di sini. Kita di sini.”
Devan tidak menjawab dengan kata. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium Alina. Ciuman pagi itu berbeda dari semalam, lebih lambat, lebih dalam, lebih penuh rasa syukur. Bibir mereka saling menekan, lidah saling menyapa dengan malas, seolah tidak ada yang perlu dikejar. Tangan Devan turun ke pinggang Alina, menarik tubuh istrinya lebih dekat hingga kulit mereka kembali saling menempel sepenuhnya.
Kimono yang sempat mereka pakai semalam sudah lama tergeletak di lantai. Tidak ada kain yang memisahkan. Hanya kehangatan kulit, detak jantung yang semakin cepat, dan napas yang mulai memburu. Devan memiringkan tubuhnya, menindih Alina dengan hati-hati, lalu menurunkan ciumannya ke leher, ke tulang selangka, ke dada. Setiap jilatan dan hisapan dilakukan dengan sangat pelan, seolah ia sedang menghafal ulang peta tubuh istrinya di bawah cahaya pagi.
Alina mengangkat dagu, memberi akses lebih, jari-jarinya mencengkeram rambut Devan. “Devan …” desahnya pelan.
“Aku di sini,” jawabnya di antara kulit. “Hari ini tidak ada yang harus kita kejar. Tidak ada rapat, tidak ada telepon, tidak ada dunia di luar. Hanya aku yang ingin membuatmu merasa dicintai sampai kamu lupa caranya berdiri.”
Ia turun lebih jauh. Bibirnya menelusuri perut Alina, lidahnya menyentuh pusar, lalu turun lagi. Tangannya membuka paha istrinya dengan lembut, menempatkan dirinya di antara keduanya. Ketika mulutnya akhirnya menyentuh inti kehangatan Alina, wanita itu melengkungkan punggung, desahan panjang keluar dari bibirnya. Devan tidak terburu-buru. Ia mengulum, menjilat, menghisap dengan ritme yang sabar dan penuh perhatian, membaca setiap reaksi tubuh Alina seperti buku yang sudah ia hafal di luar kepala.
Alina mencengkeram seprai, lalu rambut Devan, tubuhnya bergetar. Ketika puncak itu datang, ia menahan napas sejenak sebelum melepaskannya dalam desahan yang panjang dan gemetar. Devan naik kembali, mencium bibir istrinya agar Alina bisa merasakan dirinya sendiri di lidah suaminya. Lalu, tanpa banyak kata, ia menyatukan tubuh mereka.
Gerakan pagi itu lambat dan dalam. Setiap hentakan terasa seperti janji yang diucapkan ulang. Alina melingkarkan kaki di pinggang Devan, menariknya lebih dekat, kuku-kukunya meninggalkan jejak samar di punggung suaminya. Mereka saling menatap sepanjang waktu. Tidak ada yang menutup mata. Hanya napas yang saling bertukar, keringat yang mulai membasahi pelipis, dan bisikan nama satu sama lain yang terdengar seperti doa.
Ketika mereka mencapai puncak bersama, Devan menundukkan kepala di leher Alina, tubuhnya menegang, lalu melemas. Ia tetap berada di dalam pelukan istrinya lama setelahnya, merasakan detak jantung yang perlahan kembali normal.
Beberapa saat kemudian, Devan mengangkat kepala. “Lapar?” tanyanya dengan senyum kecil.
Alina tertawa pelan, masih terengah. “Setelah itu? Sedikit.”
Mereka akhirnya bangkit dari tempat tidur. Devan mengambil kimono bersih dari lemari dan memakaikannya ke tubuh Alina dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah sedang membungkus sesuatu yang berharga. Ia sendiri hanya mengenakan celana pendek longgar. Bersama-sama mereka berjalan ke dapur terbuka yang menghadap langsung ke kolam infinity.
Pagi di villa itu terasa seperti dunia yang berbeda. Udara sejuk, aroma kopi yang baru diseduh, dan bunyi air yang jatuh dari tepi kolam ke lembah di bawah. Devan menyiapkan sarapan sederhana, roti panggang, telur orak-arik, buah-buahan segar, dan kopi hitam untuk dirinya serta teh herbal untuk Alina. Mereka makan di meja kayu di teras, kaki telanjang menyentuh lantai yang masih dingin oleh embun.
Alina menatap suaminya yang sedang menuangkan air ke gelas. “Kamu tahu, ini pertama kalinya aku melihatmu memasak sejak kita menikah.”
Devan mengangkat alis. “Aku bisa melakukan lebih dari sekadar menandatangani kontrak.”
“Aku tahu,” jawab Alina sambil tersenyum. “Tapi melihatmu seperti ini … tanpa jas, tanpa jam tangan mahal, hanya celana pendek dan rambut berantakan … rasanya seperti mengenalmu untuk pertama kali.”
Devan meletakkan garpu, menatap istrinya lama. “Mungkin memang begitu. Di Jakarta aku terlalu sering menjadi Dirgantara. Di sini… aku hanya ingin menjadi Devan milikmu.”
Setelah sarapan, mereka tidak langsung melakukan apa-apa. Alina duduk di tepi kolam dengan kaki terendam air, sementara Devan duduk di belakangnya, memeluk pinggangnya dari belakang. Dagu Devan bertumpu di bahu istrinya, napasnya hangat di telinga Alina.
“Ceritakan padaku,” pinta Devan pelan. “Apa yang kamu rasakan semalam di galeri. Benar-benar.”
Alina terdiam sejenak, menatap kabut yang perlahan menguap di lembah. “Aku merasa lega. Tapi juga… sedikit takut. Takut bahwa perdamaian itu terlalu indah untuk bertahan. Takut bahwa suatu hari nanti masa lalu akan kembali mengetuk pintu.”
Devan mengencangkan pelukannya. “Masa lalu sudah ditutup, Alina. Arimbi sudah mengaku. Pin itu ada di jarimu. Dan aku ada di sini. Apa pun yang datang, kita hadapi bersama. Bukan sebagai Dirgantara dan istri yang harus dilindungi, tapi sebagai suami dan istri yang saling menjaga.”
Alina memiringkan kepala, menyandarkan pelipis di kepala Devan. “Aku percaya padamu.”
Mereka duduk seperti itu cukup lama, hanya menikmati keheningan dan kehangatan tubuh satu sama lain. Lalu, tanpa kata, Devan menarik Alina masuk ke dalam air kolam yang hangat. Kimono basah menempel di tubuh Alina, membuat setiap lekuk semakin jelas. Devan berdiri di belakangnya di dalam air, tangan menyusuri pinggang, naik ke dada, memainkan puting yang sudah mengeras karena dingin dan rangsangan.
“Di sini juga?” bisik Alina, meski tubuhnya sudah menekan balik ke arah Devan.
“Di mana saja,” jawab Devan serak. “Aku sudah menahan diri hampir setahun. Sekarang aku ingin merasakanmu di setiap sudut villa ini.”
Ia memutar tubuh Alina, mengangkatnya sedikit agar kaki istrinya melingkar di pinggangnya. Di dalam air yang hangat, mereka bersatu lagi. Gerakan kali ini lebih dalam, lebih basah, lebih penuh tawa kecil di sela desahan. Air bergoyang di sekitar mereka, memantulkan cahaya matahari yang semakin terang. Alina memeluk leher Devan erat, kepala tertunduk di bahunya, sementara Devan menopangnya dengan mudah, menghentak naik-turun dengan ritme yang stabil dan dalam.
Ketika puncak itu datang lagi, Alina menggigit bahu Devan untuk menahan suara. Devan hanya tertawa rendah, memeluknya lebih erat, dan melepaskan dirinya di dalam kehangatan istrinya.
Setelahnya, mereka keluar dari kolam dengan tubuh yang basah dan kaki yang sedikit goyah. Devan mengeringkan Alina dengan handuk besar, gerakan yang sangat lembut, hampir seperti ritual. Ia mengecup setiap bagian tubuh yang dikeringkannya, bahu, lengan, perut, paha, seolah ingin memastikan tidak ada satu pun inci yang terlewat.
Siang itu mereka berbaring di sofa besar di ruang tamu, masih telanjang di bawah selimut tipis. Alina menyandarkan kepala di dada Devan, mendengarkan detak jantung yang stabil. Jari Devan bermain-main di rambut istrinya, sesekali menurunkan kecupan di ubun-ubun.
“Dua minggu ini,” bisik Devan, “aku ingin kita tidak membicarakan kantor sama sekali. Tidak ada Divisi CSR, tidak ada Rekso Foundation, tidak ada saham. Hanya kita. Makan bersama, tidur bersama, membuat love sampai tubuh kita lelah, lalu tidur lagi. Dan bangun hanya untuk saling menatap.”
Alina mengangkat kepala, tersenyum. “Aku setuju. Tapi ada satu syarat.”
“Apa?”
“Kamu harus membiarkanku memasak untukmu setidaknya sekali. Aku ingin melihat wajahmu saat makan makanan buatanku tanpa harus buru-buru ke rapat.”
Devan tertawa, menarik Alina ke atas tubuhnya. “Deal. Tapi malam ini … aku yang memasak. Dan setelahnya, aku yang akan menghabiskanmu lagi di dapur.”
Alina tertawa, lalu menunduk untuk mencium suaminya. Ciuman itu berubah menjadi lebih dalam, lebih lapar. Tangan mulai bergerak lagi di bawah selimut. Di luar, matahari sudah tinggi, tapi di dalam villa yang sepi itu, waktu seolah berhenti hanya untuk mereka berdua.
Mereka menghabiskan sisa siang itu dengan saling mengeksplorasi tubuh satu sama lain di atas sofa, di lantai kayu, bahkan di tangga yang mengarah ke kamar tidur utama. Setiap sentuhan, setiap desahan, setiap orgasme yang datang seperti gelombang, semuanya terasa seperti klaim yang diperbarui. Bahwa setelah sekian lama menikah dalam bayang-bayang bahaya dan tanggung jawab, kini mereka akhirnya bisa menjadi suami dan istri dalam arti yang paling utuh.
Menjelang sore, ketika cahaya keemasan kembali menyelimuti lembah, Alina terlelap di pelukan Devan di atas sofa. Tubuhnya lelah dengan cara yang indah, otot-ototnya masih bergetar samar. Devan menatap wajah istrinya yang tertidur, mengusap lembut garis rahangnya, lalu berbisik pelan meski tahu Alina tidak mendengar.
“Aku tidak akan membiarkan dunia mengambilmu lagi dari pelukanku. Tidak kali ini. Tidak pernah lagi.”
Dan di luar, angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan janji akan malam yang lebih panjang lagi.